Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Di mana ada krisis, di situ ada kesempatan. Ucapan itu mendapat tantangan ekstra kebenarannya di tahun 2020 ini. Dunia (modern) belum pernah menghadapi yang seperti ini.

Kalau gempa bumi, hanya beberapa bagian kena. Begitu pula perang. Kalau kerusuhan, masih bisa pindah ke daerah/negara lain. Lha ini, sudah musuhnya tidak kelihatan, semua manusia di semua penjuru bumi terkena imbasnya.

Mungkin. Mungkin. Lebih parah dari Perang Dunia.

Dunia olahraga, yang seharusnya menjadi penghibur di tengah kesedihan dan kegalauan, termasuk yang paling merasakan. Bahkan yang terbesar di dunia pun tergeser atau ter-cancel. Apalagi yang tanggung-tanggung!

Beberapa pekan ini, saya mencoba memperhatikan "pergerakan" berbagai arena olahraga. Karena tidak semua olahraga sama, pengelolaan dan upaya-upaya bertahannya pun beda-beda.

Bayangkan. Bukan hanya tidak ada kegiatan olahraga. Saluran-saluran televisi (bahkan streaming) pun sekarang bingung mau menayangkan apa. Hampir semua sekarang menayangkan event-event atau laga-laga "klasik." Tapi tetap saja itu hanya pengisi waktu, bukan penghibur baru.

Beberapa mencoba semakin mendorong sisi eSport-nya. Tapi, tidak semua bisa sama. Sebagai penggemar balap, ada dua yang sekarang saya perhatikan: NASCAR di Amerika, serta cycling.

Demi mengisi kekosongan, NASCAR sebulan terakhir mendorong eNASCAR lebih serius lagi. Namun pesertanya bukan "atlet eSport," melainkan pembalap-pembalap aslinya. Dari rumah/kantor masing-masing.

Balapannya lantas ditayangkan secara live di televisi (Fox Sports). Lengkap dengan komentator asli. Bahkan ada selebriti bertindak sebagai grand marshall, lewat video call melakukan aba-aba untuk "menyalakan mesin." Lalu ada selebriti secara streaming juga menyanyikan lagu kebangsaan (misalnya pasangan Rita Wilson dan Tom Hanks, yang juga sempat terjangkit virus itu).

Tayangannya cukup inovatif. Anggota keluarga pembalap disuruh merekam kehebohan di rumah. Juga menayangkan streaming langsung gerakan dan ekspresi sang pembalap saat memainkan simulator masing-masing (modelnya macam-macam).

Balapannya? Memang cukup seru. Para pembalap pun mengaku cukup senang. Selain tidak adanya sensasi G-force dan risiko, gerakan-gerakan dan lain-lainnya dianggap hampir sama.

Tapi, sekali lagi, tetap saja tidak sama. Walau jumlah penonton tayangan disebut bagus (Nielsen menyebut menyentuh angka 1 juta), merayakan kemenangan di rumah sangat beda dengan menerima trofi di podium, di hadapan ratusan ribu penonton di sirkuit.

Denny Hamlin, pembalap Toyota yang memenangi salah satu seri eNASCAR di Sirkuit (virtual) Homestead-Miami Florida, mengaku untuk saat ini memang tidak ada pilihan lagi. Dan ironisnya, kepada New York Times Hamlin mengaku selama ini tidak suka main video game. Bahkan waktu kecil pun dia memilih utak-atik go-kart dan mobil daripada main game.

"(Virtual reality) adalah sesuatu yang belum pernah saya (jalani). Dan semoga ke depan saya tidak harus menjalaninya lagi. Tapi, paling tidak untuk sekarang, kita harus memaksimalkan segala yang ada," ucapnya.

Sebagai pembanding, saya juga mencoba memperhatikan yang dilakukan Formula 1, yang seharusnya jadi ajang olahraga terbesar/termahal/termewah di dunia. Selama ini, F1 juga sudah punya seri eSport sendiri. Tapi, belakangan, mereka mencoba melibatkan pembalap-pembalap asli, baik yang sedang berkiprah maupun yang sudah keluar/pensiun dari F1.

Sayang, kemasan dan aksinya tidak sehebat eNASCAR.

Sementara dari cabang lain, cycling juga mencoba melakukan hal sama. Bahkan, dari semua olahraga, ini mungkin yang bisa paling mendekati olahraga aslinya. Karena pembalap tetap harus duduk di atas sepeda, mengayuh secepat mungkin sekuat mungkin. Menggunakan teknologi smart trainer (yang sekarang sangat massal), mereka balapan melawan pembalap lain secara virtual. Avatarnya yang saling salip-menyalip di layar.

Minggu kemarin (5 April), ada balapan Virtual Tour of Flanders, di arena virtual di Belgia. Juga ditayangkan secara streaming, dengan komentator dan kamera menampilkan aksi pembalap WorldTour di rumah/fasilitas masing-masing. Total 13 pembalap dunia ikut event itu, mencoba menaklukkan rute 30,9 km, melewati tanjakan-tanjakan berbatu kondang Belgia.

Lombanya jauh lebih pendek dari aslinya (250 km), tapi ini membuat semua harus tancap gas, gas pol, dari awal sampai akhir. Tampil sebagai juara adalah Greg Van Avermaet dari Belgia, yang sebelumnya kondang sebagai pemenang medali emas road race di Olimpiade Rio.


Greg Van Avermaet ketika mengikuti Virtual Tour of Flanders.

Sebagai penggemar cycling, balapan virtual itu bagi saya cukup unik ditonton. Apalagi kita bisa melihat data para pembalap. Berapa watt daya (power) yang mereka keluarkan untuk memenangi event itu.

Kebetulan saya juga hobi sepeda, dan belakangan sering "balapan virtual" melawan teman-teman di berbagai kota di Indonesia (juga luar negeri) menggunakan platform smart trainer dan aplikasi.

Memang seru juga, dan kagum melihat betapa dalam 43 menit lomba Van Avermaet bisa mengeluarkan daya rata-rata sampai 435 watt. Sedangkan saya sudah "hancur lebur" balapan 45 menit dengan teman-teman dengan rata-rata daya tak sampai 200 watt.

Jadi, walau tidak nonton balapan sepeda beneran, saya dapat ilmu. Semakin kagum dengan perbedaan antara atlet kelas dunia dengan "manusia biasa."

Tapi sekali lagi, ini tetap tidak sama dengan balapan beneran. "Ini ide yang sangat baik. Semua orang cinta Tour of Flanders. (Versi virtual) ini tidak setara dengan yang asli, tapi paling tidak kami bisa sedikit menghibur penggemar," kata Van Avermaet usai balapan virtual itu.

Ya memang tidak sama. Apalagi olahraga lain. Menonton Stephen Curry main NBA Live tentu beda sekali dengan melihat aksi aslinya menembak di lapangan. Nonton bintang sepak bola main FIFA pasti beda dengan melihat aksi aslinya mengocek bola di lapangan.

Dan semua upaya/inovasi itu sifatnya sejauh ini baru pengisi waktu, pengganjal suasana. Karena tetap tidak bisa menggantikan aslinya. Dan itu berarti, dampak ekonominya tetap akan dirasakan. Nah, ini yang paling mengerikan...

Kalau yang terbesar di dunia bisa terdampak besar, apalagi yang tanggung-tanggung di negara-negara tanggung! (azrul ananda/bersambung besok)

Comments (14)

Catatan Rabuan

Anti-Masker 100 Tahun

Kita sudah berbulan-bulan hidup dalam pandemi. Ujungnya masih belum kelihatan jelas, walau mulai muncul optimisme-optimi...

Masa Depan Jabat Tangan

Dunia akan berubah. Secepat apa pun krisis virus ini berhenti, dunia akan berubah. Karena ini sesuatu yang benar-benar b...

Corona Olahraga (Seri 2) - Terbesar pun Terancam

Bisnis olahraga itu unik. Banyak yang memuja, banyak yang memimpikan. Tapi tidak banyak yang mampu melakukan. Lebih-lebi...

Bumi Bersih-Bersih

Masjid dan gereja non-aktif. Rumah-rumah hiburan dan judi non-aktif. Ada gurauan: Ketika surga dan neraka sama-sama berh...