Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Generasi anak saya, tampaknya, bakal jadi generasi terakhir yang merasakan mobil berbahan bakar minyak. Anak pertama saya sekarang sudah berusia 12 tahun, dan apabila kelak dia lulus kuliah di usia 21 tahun, momentum punahnya mobil "berbunyi" sudah berlari kencang.

Dan kalau Anda warga negara Inggris, pada momen yang sama tahun 2030 itu, Anda sudah tidak boleh lagi membeli mobil berbahan bakar minyak. Sudah dilarang. Tinggal "menghabiskan" yang sudah telanjur beredar, secara bertahap memaksa mobil-mobil itu hilang dari jalanan.

Saya sudah pernah menulis ini. Pada Happy Wednesday 48 (Baca: Lima Tahun Lagi). Bahwa pada 2025, Norwegia jadi yang pertama menerapkan larangan itu. Praktis hanya empat tahun lagi!

Namun, Norwegia seperti pendahulu yang berani. Karena banyak negara lain, yang besar-besar, baru akan menerapkannya pada 2040. Lalu muncul berita besar pada pertengahan November itu. Bahwa pemerintah Inggris dengan tegas memajukan deadline-nya. Dari 2040 menjadi 2030. Praktis hanya sembilan tahun lagi.

Target pemerintah Inggris juga jelas. Larangan dimulai pada 2030. Dan pada 2035, sudah tidak ada lagi gas buang dihasilkan dari knalpot mobil. Dalam lima tahun harus tuntas.

Komitmen juga jelas. Ada sepuluh poin rencana yang disiapkan, yang diumumkan oleh Perdana Menteri Boris Johnson (green industrial revolution). Sambil menuju 2030 itu, anggaran 1,3 miliar poundsterling sudah disiapkan untuk menyiapkan infrastruktur charging mobil listrik. Ditambah 582 juta poundsterling untuk membantu mengurangi harga mobil listrik dan mendorong penggunaannya. Tidak ketinggalan, 500 juta poundsterling akan disiapkan selama empat tahun ke depan untuk pengembangan dan produksi massal baterai mobil listrik.

Pada 2020 ini, di Inggris, penjualan mobil listrik sudah 10 persen dari total penjualan mobil.

Ya, ini masih di Inggris. Masih jauh di negara antah berantah, kalau dilihat dari kacamata kita. 

Momen pandemi memang digunakan oleh negara-negara maju di Eropa untuk mendorong transportasi hijau tersebut. Subsidi untuk beli sepeda, subsidi untuk servis sepeda, dilakukan beberapa negara Eropa untuk mendorong transportasi aktif. Kabarnya, di London saat ini, lebih dari sepertiga perjalanan orang di dalam kota dilakukan menggunakan sepeda atau berjalan kaki.

Sesuatu yang menurut saya termasuk menakjubkan.

Dan saya masih berusaha menerima kenyataan ini: Generasi anak saya mungkin adalah generasi terakhir yang merasakan mobil bensin. Nah, generasi saya, mungkin termasuk generasi terakhir yang "menikmati" bunyi mesin. 

Apalagi yang doyan balap seperti saya. 

Waktu SMP dulu, saya begitu menyukai bunyi motor yang nyaring. Begitu boleh beli motor, knalpot langsung saya ganti. Supaya bunyinya lebih garang.

Mobil juga begitu. Dan mobil-mobil balap, khususnya Formula 1, bunyinya begitu menggetarkan dada dan emosi. Tentu saja ini F1 sebelum era mesin hybrid sejak 2014 lalu.

Sebagai pengingat bunyi itu, akhir pekan lalu di Abu Dhabi, di sela-sela berlangsungnya grand prix penutup musim 2020, sempat ada demonstrasi mobil lama itu. Fernando Alonso mengendarai mobil Renault R25, yang mengantarkannya jadi juara dunia untuk kali pertama pada 2005 dulu. Lima belas tahun lalu. 

Mobil itu masih menggunakan mesin V10 yang melengking nyaring. Alonso menggebernya secara maksimal, mengundang perhatian total penghuni paddock F1, yang sudah lama tidak dibuat sakit telinganya.

Bahkan sang juara dunia Lewis Hamilton, di tengah-tengah wawancara, tiba-tiba terdiam fokus mendengarkan bunyi mobil Alonso yang lewat. Lalu di depan kamera Hamilton langsung bilang: "Benar-benar bunyi yang indah. Bunyi paling luar biasa."

Bunyi seperti itu, tentu tidak akan pernah kembali lagi. Formula 1 sekarang bunyinya sudah jinak. Tidak lagi menggetarkan hati. Dan dalam mempersiapkan regulasi mesin baru untuk 2025, tentu yang dipikirkan paling utama adalah relevansinya dengan regulasi di jalan. Itu berarti, makin lama makin tidak berbunyi.

Minggu pagi lalu, saat gowes, saya juga berjumpa dengan sekelompok penghobi motor Harley-Davidson. Bunyi mesinnya meraung-raung gagah. Ada yang menganggapnya mengganggu, ada yang mencintainya. Saya bukan orang motor besar, jadi reaksi saya ya normal saja. Tiap orang sukanya beda-beda.

Tapi kalau pun benci, kita mungkin tidak boleh terlalu benci. Karena bisa jadi kelak kita justru akan merindukannya. Ingat, kalau larangan mesin berbunyi itu diberlakukan semakin luas, maka mesin garang Harley-Davidson bukan hanya jadi langka. Bahkan jadi dilarang!

Sekarang saja, perusahaan Amerika itu sudah berkutat dengan positioning untuk masa depan. Sudah mulai membuat motor besar listrik, juga sepeda listrik. Lucu juga kalau ternyata 10-15 tahun lagi, Harley-Davidson justru berevolusi (revolusi?) menjadi perusahaan sepeda listrik!

Dan cucu saya kelak hanya akan bisa mendengar dongeng bunyi mesin F1 dan Harley-Davidson via rekaman video lama, atau di dalam museum!

Catatan khusus: Rencana jangka panjang negara kita apa ya? Wong kota-kotanya saja masih banyak yang bingung menerapkan transportasi massal yang tepat...(Azrul Ananda).

Obrolan santai Azrul Ananda dengan salah satu dari tiga wajah baru orang terkaya di Indonesia versi Forbes: Hermanto Tanoko.

Comments (40)

Catatan Rabuan

Lima Tahun Lagi

Masa depan sudah lebih dekat dari yang kita bayangkan. Lima tahun lagi, kita punya presiden baru. Lima tahun lagi, janga...

Masa Depan Dompet Krek-Krekan

Teman-teman banyak yang menertawai saya. Tepatnya setiap kali saya mengeluarkan dompet. Karena dompet saya tipe “krek-kr...

Ayo Selingkuhi Daging Sapi

Perang teknologi masa depan, mungkin, bukanlah di dunia komputer atau elektronik lain. Perang teknologi masa depan, tamp...

Amerika Marah Mobil Listrik

Norwegia lebih dulu paksakan mobil listrik, memimpin dunia dalam penjualannya secara per kapita. Orang Amerika marah dan...