Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Perang teknologi masa depan, mungkin, bukanlah di dunia komputer atau elektronik lain. Perang teknologi masa depan, tampaknya, ada di dunia makanan. Di masa depan, daging tidak harus didapatkan dari binatang ternak. Di masa depan, daging bisa dibuat dari tanaman.

Dan masa depan itu sudah dimulai sekarang. Lebih tepatnya, sejak 2016 lalu. Ketika perusahaan bernama Impossible Foods muncul dari pusat perkembangan teknologi dunia: Silicon Valley, di kawasan utara California.

Perusahaan itu telah menghadirkan “Impossible Burger.” Daging burger yang terlihat seperti daging, berbau seperti daging, “berdarah” seperti daging, tapi 100 persen dibuat dari tanaman (plant based).

Mereka telah meredefinisikan apa itu “daging.” Dan menurut mereka, “daging” tidak harus didapatkan dari binatang ternak. Karena di masa depan, bumi ini tidak akan sanggup memenuhi kebutuhan “daging” kalau harus menggunakan metode peternakan.

Mission statement (pernyataan misi) perusahaan itu menyebutkan: “Peternakan menghabiskan hampir separo tanah di muka bumi, mengkonsumsi seperempat air tawar, dan merusak ekosistem. Jadi kami berbuat sesuatu untuk mengatasinya. Kami membuat daging menggunakan tanaman, supaya kita tidak perlu lagi menggunakan binatang.”

Keren? Keren!

Sebelum kita membahas lebih detail apa itu “Impossible Burger,” saya harus meng-updatedulu perkembangannya sekarang. Di Amerika Serikat, “daging yang bukan daging” ini sudah mulai masuk mainstream.

Sekarang ada sekitar 7.000 restoran menyajikan menu burger menggunakan “daging yang bukan daging” ini. Bahkan, pada 2019 ini, salah satu franchise paling top, Burger King, sudah mulai menyajikan Impossible Whopper di beberapa kota. Dimulai dari St. Louis, di negara bagian Missouri, lalu berkembang ke kota lain.

Rencananya, begitu menu ini semakin diterima dan kemampuan supply sudah mumpuni, Burger King akan menyajikannya di seluruh negeri.

Franchise populer lain yang sudah menyajikan menu serupa: Umami Burger, Fatburger, dan White Castle.

Bagi yang ingin masak di rumah, Impossible Burger juga akan dijual “mentah”-nya di berbagai supermarket.

Tahun ini pula, Impossible Foods sudah mulai menyebarkan produk ini ke negara-negara lain. Yang paling dekat dari kita: Hongkong dan Singapura.

***

Kebetulan saya berada di Amerika liburan bersama keluarga. Di kota-kota yang kami kunjungi, Burger King-nya belum menyediakan Impossible Whopper. Saya kali pertama merasakan langsung Impossible Burger itu saat makan siang di Pasadena, tak jauh dari Los Angeles.

Tepatnya di Umami Burger, waralaba burger trendy yang pada menunya memberi sentuhan-sentuhan Asia. Restoran ini termasuk pengadopsi pertama produk Impossible Foods. Dan mempromosikannya sebagai opsi menu vegan.

Di jendela depannya, sudah ada ajakan untuk mencoba Impossible Burger. Ada tulisan besar: “Cheat on Beef.” Artinya: “Ayo Selingkuhi Daging Sapi.”

Pada daftar menunya, ada empat pilihan hidangan menggunakan “daging” Impossible. Saya memesan “The Original Impossible Burger,” karena menurut mereka itu yang paling populer.

Pada dasarnya ini adalah double cheeseburger standar. Menggunakan dua lapis “daging,” lapisan keju, lettuce, tomat, bawang, pickle, dan saus. Kebetulan, paginya saya makan double cheeseburger“normal” yang populer dari In-N-Out di Los Angeles. Jadi ini pembanding langsung.

Kesan pertama? Wow! Kalau tidak tahu itu bukan daging, kita mungkin tak bisa membedakan. Teksturnya, rasanya, baunya, seperti daging burger sapi biasa.

Lucunya, kita memang bisa mengira kalau Impossible Burger adalah daging sapi biasa bernama keren. Siang itu, saya kontakan dengan seorang sahabat, Erwin Suganda, salah satu bos perusahaan emas UBS yang juga sedang liburan keluarga di Orlando, Florida.

Saya kabari kalau saya sedang makan Impossible Burger. Dia membalas kalau baru saja makan siang Impossible Burger juga, di sebuah restoran di dalam Universal Studios di Orlando.

Ternyata, dia baru tahu kalau Impossible Burger itu bukan daging. Dia pikir itu hanya namanya saja. Dan namanya memang keren! Dia sama sekali tidak mengira.

“Ada-ada saja. Bener-bener gak berasa sama sekali kalau itu dari tanaman. Teksturnya sudah mirip daging. Cuma enaknya, terasa light, ringan. Pantesan kok mikir ini enak gak eneg,” cerita Erwin via WA.

***

Mengapa Impossible Burger bisa begitu berkembang? Harus ditegaskan lagi, ini bukan daging imitasi biasa seperti yang selama ini kita kenal untuk menu vegetarian dan vegan. “Daging-daging imitasi” itu banyak yang menggunakan kedelai sebagai bahan utama. Impossible Burger ini lebih high tech. Mereka sampai melakukan rekayasa genetik untuk menjadikan “daging” ini benar-benar seperti daging.

Sekali lagi, tujuan utama perusahaan bukanlah untuk memenuhi kebutuhan para vegetarian dan vegan. Misi utama perusahaan adalah merevolusi industri makanan, menantang peternakan di seluruh dunia, untuk memenuhi kebutuhan daging di masa depan.

Untuk melakukan itu, tim inti Impossible Foods memiliki tim yang terdiri atas lebih dari 100 ilmuwan, insinyur, dan peneliti makanan. Mereka harus menemukan, mengapa “daging” adalah “daging.” Dan bagaimana membuat “daging” tanpa harus menggunakan binatang.

Daging burger, yang umumnya terbuat dari daging sapi yang digiling, merupakan proyek pertama.

Untuk proteinnya, Impossible masih menggunakan kedelai (soy), sehingga “daging” ini juga gluten-free, sesuai tuntutan konsumen modern. Untuk pengganti lemak, Impossible menggunakan bahan dari kelapa dan sunflower oil. Sehingga, ketika dimasak, daging ini “mendidih” dan juicy.

Itu saja tidak cukup. Mereka lantas menggunakan teknologi rekayasa genetik untuk menambahkan bahan paling kunci. Bahan yang membuat Impossible “berdarah” seperti daging, berbau seperti daging, dan terasa seperti daging.

Bahan kunci itu adalah heme, molekul yang mengandung zat besi. Kita bisa menemukan hemepada hemoglobin di darah dan myoglobin di otot. Inilah yang membuat darah jadi merah dan membantu mengantarkan oksigen di dalam tubuh binatang (dan manusia). Bahan ini pula yang membuat daging terasa seperti daging.

Dan ternyata, bahan ini bisa didapatkan dari tanaman!

Impossible menemukan bahwa akar kedelai memiliki kompon bernama leghemoglobin, yang juga memiliki heme. Mereka pun membuat “daging” dengan leghemolobin dari kedelai ini.

Masalahnya, sulit mendapatkan jumlah yang dibutuhkan dengan cara bercocok tanam. Dan kalau harus menanam begitu banyak kedelai, maka perusahaan ini pun “melanggar” misinya sendiri, yaitu untuk tidak merusak bumi.

Untuk bisa menghasilkan “heme kedelai” dalam jumlah yang dibutuhkan (dan terus berkembang), mereka pun melakukan rekayasa genetik!

“Kami membuat heme menggunakan yeast (ragi) yang direkayasa dengan gen untuk leghemoglobin kedelai. Pertama-tama, kami menumbuhkan ragi dengan fermentasi. Lalu, kami mengisolasi leghemoglobin kedelai (yang mengandung heme) dari ragi tersebut. Kemudian kami menambahkannya pada Impossible Burger, yang saat digabungkan dengan bahan lain menghasilkan rasa daging yang enak.” Begitu penjelasan tertulis perusahaan.

Berdasarkan pengalaman langsung, Impossible Burger memang enak seperti daging. Bahkan para pakar makanan pun geleng-geleng kepala.

Yang jadi pertanyaan selanjutnya: Apakah Impossible Burger lebih sehat? Ini pembahasan dan argumen yang terpisah. Silakan meng-Google sendiri perdebatan soal sehat atau tidaknya.

Ada plusnya, ada minusnya. Belum tentu lebih baik dari daging, tidak juga lebih buruk dari daging. Kadar proteinnya begini-lah, kadar lemaknya begitu-lah, dan lain sebagainya.

Untuk yang satu ini, orang harus selalu ingat tujuan dibuatnya Impossible Burger. Bukan untuk memenuhi kebutuhan vegetarian dan vegan, melainkan untuk menantang industri daging beneran!

Impossible Foods sendiri terus menantang diri untuk membuat “daging-daging” lain menggunakan teknologi yang mereka kembangkan. Nantinya akan ada “daging ayam” yang bukan dari ayam. Mungkin “daging ikan” yang bukan dari ikan. Dan mungkin saja, “daging babi” yang bukan dari babi.

Nah, kalau sudah begitu, apakah “daging babi” buatan Impossible Foods (atau perusahaan lain) nanti bisa menjadi daging babi yang halal? Karena elemen-elemennya akan mirip seperti daging babi, tapi seratus persen didapatkan dari tanaman!

Seru bukan? Masa depan benar-benar interesting! (azrul ananda)

 

FYI*

2019 Impossible Burger Ingredients:
Water, Soy Protein Concentrate, Coconut Oil, Sunflower Oil, Natural Flavors, 2 percent or less of: Potato Protein, Methylcellulose, Yeast Extract, Cultured Dextrose, Food Starch Modified, Soy Leghemoglobin, Salt, Soy Protein Isolate, Mixed Tocopherols (Vitamin E), Zinc Gluconate, Thiamine Hydrochloride (Vitamin B1), Sodium Ascorbate (Vitamin C), Niacin, Pyridoxine Hydrochloride (Vitamin B6), Riboflavin (Vitamin B2), Vitamin B12.

Comments (30)

Catatan Rabuan

Masa Depan Dompet Krek-Krekan

Teman-teman banyak yang menertawai saya. Tepatnya setiap kali saya mengeluarkan dompet. Karena dompet saya tipe “krek-kr...

Welcome To Happy Wednesday 2.0

Sudah lebih dari setahun saya tidak menulis Happy Wednesday, sebuah kolom hari Rabu di mana saya bisa menulis sesuka hat...

Menunggu Kesehatan Menjaga Kita

Sekarang makin sering menemui teman yang mengalami masalah kesehatan serius. Rasanya baru kemarin saya dan teman-teman l...

20 Tahun Cinta Namie Amuro

Entah ini tulisan sudah terlambat 20 tahun, atau mungkin hanya terlambat setengah tahun. Yang jelas ini dekat dengan mom...