Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Inggris sudah mulai suntik vaksin Covid-19. Amerika sudah mulai suntik vaksin. Bagian dunia lain, termasuk Indonesia, seharusnya dalam beberapa pekan lagi sudah mulai ikutan juga. Yang jadi pertanyaan: Apakah Anda juga tergesa-gesa pengin? Survei singkat saya kepada orang-orang yang saya kenal jawabannya macam-macam.

Ada yang bilang mau, bahkan kalau perlu suntik semua vaksin. Biar aman ke semua negara katanya. Ada yang tanya ke kanan dan ke kiri, "enak" vaksin yang mana. Dua-duanya, tentu jawaban orang-orang yang "mampu." Orang-orang yang hidupnya lebih punya opsi.

Lalu ada jawaban ketiga: Memilih menunggu yang lain divaksin dulu. Pengin melihat apakah ada dampak samping yang harus ditakuti. "Kalau nanti tiba-tiba 'adik kita tidak bisa berdiri' bagaimana?" ujarnya lantas tertawa.

Saya bukan pakar medis. Saya tidak akan memberi anjuran apa-apa di tulisan ini. Kita sebaiknya selalu menanyakan ini kepada yang lebih mengerti. Jangan mudah terlalu percaya kepada hal-hal yang tertulis di internet.

Tapi, percakapan di sekeliling saya sekarang sudah mulai didominasi oleh urusan vaksin. Kapan bisa? Apakah benar bisa ke Singapura "wisata vaksin"? Bisa nggak beli duluan, tidak peduli biayanya berapa?

Seorang sahabat saya tertawa dengan hasrat ingin cepat itu. Khususnya kalau yang menyampaikan yang tergolong punya duit. "Orang kalau sudah punya duit pasti takut mati bro," ucapnya, disambut tawa kita semua.

Bagaimana dengan saya? Well, yang rajin membaca tulisan saya, dan kenal saya yang sebenarnya, mungkin sudah paham kalau saya ini orangnya sebenarnya "tengah" banget. Berusaha tetap menginjakkan kaki di bumi.

Saya sudah kenal orang yang katanya sudah suntik vaksin duluan, bayar puluhan juta untuk itu. Entah itu vaksin beneran atau tidak. Pokoknya suntik duluan. Saya juga masih bertemu dengan orang yang cuek dengan pandemi ini. Tetap menganggapnya sebagai penyakit palsu.

Tentu saya ingin vaksin itu segera disuntikkan ke sebanyak mungkin manusia. Supaya dunia kembali lebih normal, kita semua bisa kembali berseliweran lebih bebas.

Tentu saya juga mau divaksin, begitu ada kesempatan tiba.

Tapi, saya tidak ingin "memotong antrean" begitu saja. Bagaimana pun, ada jauh lebih banyak orang lebih harus diutamakan dari saya. Dan mungkin, sikap orang-orang harus seperti itu. Memprioritaskan mereka yang lebih membutuhkan.

Para pekerja medis harus yang utama. Abah dan Ibu saya misalnya, jauh lebih penting didulukan daripada saya dan anak-anak saya. Dan para pengajar di sekolah jauh lebih penting daripada saya.


Margaret Keenan, 90, penerima vaksin Covid-19 pertama dari Pfizer/BioNtech. (AFP)

Dan kita semua harus sadar, bahwa adanya vaksin bukan berarti hidup kembali normal di bulan Januari, Februari, atau bahkan Maret. Tetaplah menginjak bumi. Bahkan Amerika pun kabarnya baru akan melangkah menuju normal beneran setelah September 2021!

Salah satu alat ukurnya adalah event olahraga. Dr Anthony Fauci, orang paling dipercaya dalam hal pandemi ini di Amerika, menyebut stadion-stadion baru boleh dipenuhi manusia paling cepat September. Ketika vaksin sudah mencakup sekitar separo populasi.

Sekarang, event olahraga di Amerika memang berjalan. Dengan aturan beda-beda, tergantung negara bagiannya. California masih tanpa penonton, bahkan ada kota yang melarang sama sekali, mengakibatkan timnya harus tanding di luar negara bagian. Ada yang memperbolehkan penonton hingga 25 persen, seperti di Florida.

Menjelang vaksin mulai disuntikkan di Amerika pertengahan Desember ini, saya langsung memantau liga-liga utama di sana. Sikap mereka bagaimana. Apakah akan memaksakan pemainnya divaksin duluan, supaya liganya bisa berlangsung lebih normal. Karena ada selentingan, di Indonesia pemain bola harus disuntik vaksin duluan supaya liganya bisa jalan lagi.

Ternyata, di Amerika, liga-liga terbesar itu bersikap seperti saya. Tidak, mereka tidak akan "memotong antrean." Dua yang utama sudah menegaskan itu. Yaitu liga basket NBA, dan liga olahraga terbesar di dunia (dalam hal perputaran uang), NFL (American Football).

Keduanya menyatakan siap terus berkutat dengan konsekuensi pandemi mengganggu jadwal pertandingan. Tapi keduanya tidak mau memotong antrean.

"Tidak perlu dipertanyakan lagi. Kami sama sekali tidak akan memotong antrean," tegas Adam Silver, commissioner NBA, dalam jumpa pers resmi menjelang dimulainya musim 2021-2022. "Kami akan menunggu giliran kami untuk mendapatkan vaksin. "Alasan utamanya, karena pemain-pemain kami masih muda dan sehat, tanpa risiko komorbid. Mereka bukanlah prioritas utama untuk mendapatkan vaksin. Memang ada anggota-anggota kami yang lebih senior, merekalah yang lebih diprioritaskan untuk mendapatkan vaksin," jelasnya.

Silver menambahkan, NBA akan terlibat dalam upaya mempromosikan upaya vaksinasi ini. Tapi tidak akan memaksakan diri memotong antrean.

Sebelum NBA, NFL sudah lebih dulu menegaskan ini. Dan di Amerika, ini jauh lebih "bergema," karena NFL jauh lebih besar dari NBA. Gampangnya begini, NFL di Amerika itu mungkin lebih besar dari sepak bola di Indonesia.

Saat ini, musim NFL 2020 sudah memasuki babak akhir. Puncaknya adalah Super Bowl, alias laga final, Februari mendatang. Dalam beberapa bulan ini, NFL sudah diuji habis-habisan oleh Covid-19.

Beberapa pertandingan sudah ditunda. Beberapa tim sempat harus bertanding tampa banyak pemain kunci. Tapi, liga mampu berjalan relatif normal. Berkat ketegasan liga dalam menerapkan protokol, menjatuhkan denda bagi klub-klub yang melanggar.

Commissioner NFL, Roger Goodell, lebih dulu menegaskan pihaknya tidak akan memotong antrean vaksin itu. Walau risikonya mengancam Super Bowl --event olahraga terbesar di Amerika-- Februari mendatang.

"Kami tidak berencana meminta divaksin sebelum Super Bowl. Keputusan itu dibuat di tingkatan yang lebih tinggi, dan tentu saja harus diprioritaskan kepada pekerja medis dan mereka yang paling berisiko. Kami tidak jatuh dalam kategori-kategori tersebut. Jadi kami tidak berencana (mendapatkan vaksin) duluan," paparnya.

Sikap NFL ini didukung oleh asosiasi pemainnya. Sama seperti NBA, mereka akan mendukung upaya mempromosikan gerakan vaksinasi tersebut.

Anyway, vaksin memang sudah mulai disuntikkan. Cahaya sudah mulai kelihatan di ujung terowongan. Tapi terowongannya masih agak panjang. Masih harus sabar sedikit lagi. Mari utamakan mereka yang memang harus diutamakan... (Azrul Ananda)

Ngobrol asyik dengan orang yang baru saja dinobatkan sebagai salah satu yang terkaya di Indonesia.

PART 1



PART 2

Comments (21)

Catatan Rabuan

Anti-Masker 100 Tahun

Kita sudah berbulan-bulan hidup dalam pandemi. Ujungnya masih belum kelihatan jelas, walau mulai muncul optimisme-optimi...

Masa Depan Jabat Tangan

Dunia akan berubah. Secepat apa pun krisis virus ini berhenti, dunia akan berubah. Karena ini sesuatu yang benar-benar b...

Corona Olahraga (Seri 1) - Kreatif Hadapi Krisis

Beberapa mencoba semakin mendorong sisi eSport-nya. Tapi, tidak semua bisa sama. Sebagai penggemar balap, ada dua yang s...

Corona Olahraga (Seri 2) - Terbesar pun Terancam

Bisnis olahraga itu unik. Banyak yang memuja, banyak yang memimpikan. Tapi tidak banyak yang mampu melakukan. Lebih-lebi...