Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda


 Menteri Transportasi Pete Buttigieg pulang kerja bersepeda di Washington DC.

Lima sampai sepuluh tahun ke depan kita akan menjadi saksi revolusi transportasi dunia. Bagaimana mobil listrik melangkah jadi yang dominan. Walau mungkin jadi penonton dulu, karena entah seperti apa visi transportasi di ibu pertiwi.

Sebuah revolusi akan melahirkan banyak konsekuensi. Karena itu, negara-negara yang berpikir ke depan sudah mulai menyiapkan konsekuensi-konsekuensi itu. Mulai dari infrastruktur meluas, seperti fasilitas charging di mana-mana, sampai dampak habit secara mikro, seperti bagaimana orang pergi bekerja yang jaraknya tidak jauh.

Dalam hal mobil listrik ini, Amerika sebenarnya termasuk ketinggalan. Sebagai negara yang perputaran hidupnya dirancang bergantung mobil, rasanya baru pada masa Joe Biden ini mereka punya visi tegas soal transportasi masa depan.

Sekarang, Amerika bukan hanya akan mencoba mengejar ketinggalan. Mereka juga memikirkan "what's next"-nya. Setelah mobil listrik. Bagi pemerintahan Biden, mobil listrik seolah sudah tidak terhindarkan. Tantangannya adalah menyikapi konsekuensi selanjutnya.

Visi transportasi Joe Biden menyebutkan untuk mempercepat adopsi skuter elektrik dan program bike-share, yang sekarang sudah populer di kota-kota terbesar dunia. Kemudian, memastikan semuanya harmonis dengan tantangan terbesar transportasi ke depan. Pemerintahan Biden mengatakan: Disruption terbesar ke depan adalah self-driving cars alias autonomus vehicle alias mobil tanpa pengemudi.


Joe dan Jill Biden melewati sebuah jalur sepeda di Delaware tak lama setelah dinyatakan sebagai pemenang pemilihan Presiden AS.

Sistem lalu lintas --jalan dan perangkatnya-- harus dirancang sedemikian rupa, sehingga ke depannya mobil tanpa pengemudi ini tidak bermasalah dengan semakin maraknya --dan semakin didorongnya pemakaian-- skuter listrik dan sepeda angin!

Untuk menghadapi tantangan transportasi masa depan ini, Biden menunjuk menteri transportasi yang akan menjadi bagian dari masa depan itu pula. Dia adalah Pete Buttigieg, mantan wali kota South Bend, Indiana, yang juga sempat mencalonkan diri sebagai presiden AS. Dia milenial, baru berusia 38 tahun, dan dianggap sebagai salah satu calon pemimpin masa depan AS.


Pete Buttigieg menggunakan layanan bike sharing LimeBike, ketika masih menjadi wali kota South Bend.

Ada yang bilang, ini penunjukan yang ideal. Sebagai mantan wali kota, Buttigieg (baca: bu-ti-jej) punya pengalaman langsung menata sistem di tingkat perkotaan. Seorang menteri yang bisa berpikir secara lokal.

Salah satu program besarnya memang berkaitan dengan mobil listrik. Yaitu menyiapkan lebih dari 500 ribu fasilitas charging di jaringan jalan tol Amerika yang begitu masif.

Namun, secara "lokal," dia tampaknya akan banyak fokus mengkampanyekan penggunaan sepeda sebagai sarana transportasi aktif di perkotaan. Bahkan, dia sekarang termasuk viral karena kerap bike to work alias pergi ke kantor naik sepeda di Washington DC!

Dengan begitu, dia mungkin bisa lebih menjiwai bagaimana menyiapkan infrastruktur sepeda yang benar-benar aman dan efektif! Dan data pemerintah menyebutkan, hampir 60 persen perjalanan seluruh penduduk Amerika adalah jarak pendek, kurang dari 6 mil atau 10 km. Jarak yang seharusnya sangat mudah ditempuh tanpa harus menggunakan mobil.

Baru-baru ini, Buttigieg berbicara dalam National Bike Summit, alias musyawarah sepeda nasional. Di situ, dia menegaskan ingin membangun "budaya sepeda" yang baik.

"Saya datang dari bagian negeri yang dikenal sebagai pembuat mobil. Dan saya bangga dengan itu. Tapi, kita sangat bisa menjadi negara yang lebih bersepeda," ucapnya.

Menurut Buttigieg, tidak perlu penambahan banyak untuk menjadikan sepeda sebagai elemen penting masa depan. Misalnya, andai hanya 2 persen saja penduduk memutuskan bekerja naik sepeda, maka itu sudah cukup untuk memberi dampak lebih luas. Khususnya dalam hal keselamatan. Jumlah "kecil" itu sudah cukup untuk membuat pemakai kendaraan lain untuk menganggap bahwa pesepeda adalah sesuatu yang normal.

"Anda semua akan melihat banyak energi dari kementrian saya untuk mendorong kemajuan ini. Semakin banyak orang memiliki opsi untuk bersepeda dengan aman, maka negara ini akan menjadi negara yang lebih bersih dan hijau," pungkasnya.

Dengan kebijakan pemerintah seperti itu, entah seperti apa rancangan lalu lintas masa depan di Amrik. Dan yang saya maksud masa depan ini mungkin sudah akan terwujud dalam sepuluh tahun! Mobil-mobil (listrik) berseliweran tanpa pengemudi sekarang sudah ada, dan nantinya akan jadi sangat umum.

Di sisi lain, ada begitu banyak orang menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi utama. Bagaimana membagi jalannya? Bagaimana tingkah laku berlalu lintasnya?

Itu bakal jadi revolusi kehidupan!

Di Amerika sendiri sebenarnya beberapa negara bagian sudah menyiapkan infrastruktur sepeda ini. Di beberapa tempat seperti Colorado, sudah ada "jalan tol" khusus sepeda yang menyambung satu kota ke yang lain, dengan panjang ratusan kilometer. Dengan kebijakan pemerintah federal, infrastruktur seperti itu seharusnya akan lebih diprioritaskan lagi.

Sementara di perkotaan, saya bisa membayangkan dengan semakin banyaknya mobil listrik, orang juga semakin tidak keberatan naik sepeda.

Semakin banyak mobil listrik, semakin menurun tingkat polusi di jalan, suhu bisa semakin turun di saat panas. Dan, itu berbuntut semakin banyak orang jalan kaki dan bersepeda. Ujungnya orang makin sehat dan kualitas hidup membaik.

Sekali lagi, itu semua mungkin sudah akan terwujud dalam sepuluh tahun lagi!

Terus terang, saat menulis ini, saya tidak ingin membanding-bandingkan. Tapi mungkin saya perlu mengajak pembaca semua membayangkan visi transportasi masing-masing. Sepuluh tahun lagi, kita seperti apa? Jangan sampai, butuh sampai sepuluh tahun hanya untuk menyadarkan pemerintahnya, level nasional hingga lokal.

Karena saya ini pesepeda, rasanya ingin mengajak atau mendorong para bupati dan wali kota untuk gowes ke luar negeri. Dan jangan naik mobil saja. Melihat dan merasakan bagaimana Jembatan Golden Gate yang legendaris di San Francisco menyediakan jalur khusus untuk pesepeda. Sementara Jembatan Suramadu melarang sepeda lewat walau pun di jalur roda dua.

Dan angin bukan alasan keamanan, karena angin di San Francisco jauuuuuh lebih kencang dan dingiiiin! (Azrul Ananda) 


Penulis dan teman-teman bersepeda melintasi Jembatan Golden Gate, di San Francisco.

Comments (24)

Catatan Rabuan

Welcome To Happy Wednesday 2.0

Sudah lebih dari setahun saya tidak menulis Happy Wednesday, sebuah kolom hari Rabu di mana saya bisa menulis sesuka hat...

Umur Panjang Nenek Barbeque

Kali ini, cerita "menyejukkan" itu datang dari sebuah seri tentang kuliner.

Tiket Termurah Rp 120 Juta

Harga tiket termurah? Per lembar USD 8.550 atau sekitar Rp 120,5 juta. Itu untuk duduk di pojok ujung atas. Itu harga PA...

Promosi Menyumbang

Anyway, di tengah pandemi yang seolah entah sampai kapan ini, berbagai bencana menerpa negara kita. Terima kasih kepada...