Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda


Presiden Amerika Serikat Joe Biden bersama istrinya melepas masker begitu sampai di Gedung Putih, 15 Mei 2021. (Foto: AFP)

Salah satu ujian kejujuran terbesar di dunia mulai berlangsung di Amerika. Terkait pandemi yang masih belum berakhir ini. Negara yang dikenal selalu menomorsatukan kebebasan individual itu akan menaruh kepercayaan penuh kepada ratusan juta penduduknya. 

Pada dasarnya, kalau sudah divaksinasi komplet (dua minggu setelah suntikan terakhir), warga Amerika sudah tidak perlu lagi memakai masker. Kecuali pada tempat-tempat tertentu. Misalnya kawasan medis, sekolah, dan sarana transportasi publik. Juga pada tempat-tempat milik swasta/pribadi yang pemiliknya mewajibkan pengunjung pakai masker.

Kalau belum divaksinasi komplet, maka harus selalu memakai masker.

Ini panduan resmi dari pusat CDC (Centers for Disease Control and Prevention), yang bisa dijadikan pegangan oleh seluruh pemerintah daerah di Amerika. Baik tingkat negara bagian maupun kota.

Presiden Biden ikut menegaskan itu. Bahkan, istrinya --seorang akademisi-- ikut mendemonstrasikannya saat turun dari pesawat tanpa menggunakan masker. 

Panduan baru ini membuat banyak pihak terhenyak. Dalam situasi pandemi ini, semua keputusan pasti ada pro dan kontranya. Yang membuat lebih terhenyak lagi: Cara mengawasinya. Karena yang digunakan adalah "honor system." Alias "Aku percaya kamu." Alias tidak ada pengecekan resmi.

Tentu saja, terserah masing-masing pemerintah daerah untuk menyikapi panduan baru ini. Ada yang dengan cepat menuruti, ada yang masih bersikap wait and see. California, salah satu negara bagian terbesar, masih akan mewajibkan pemakaian masker setidaknya sampai 15 Juni mendatang.

Yang menarik justru New York, serta negara bagian tetangganya, New Jersey. Kedua negara bagian ini sama-sama dipimpin oleh Partai Demokrat, seperti California. Partai yang cenderung lebih "keras" dalam menyikapi pandemi ini.

Namun, New York dan New Jersey justru lebih kooperatif dalam menyikapi panduan CDC itu. Keduanya sama-sama mengambil langkah menuju kehidupan lebih normal.

New Jersey sudah bertekad sekolah harus kembali masuk normal mulai September. Tidak ada lagi opsi belajar di rumah. New York secara bertahap tapi pasti akan "menghidupkan" lagi segala aspek kehidupan.

Mulai pekan ini, sistem subway New York yang kondang itu kembali aktif 24 jam. Setelah lebih dari setahun tutup di malam hari, untuk memberi waktu petugas melakukan pembersihan. Sejak subway itu diresmikan pada 1904, baru kali ini ada pembatasan jam dalam kurun waktu begitu lama!

Even-even olahraga dan entertainment juga mulai dinormalkan.

Dua tim NBA di kawasan itu, New York Knicks dan Brooklyn Nets, sama-sama akan menjadi tuan rumah laga playoff dalam beberapa pekan ke depan. Penonton sudah boleh masuk. Separo jatah tiket hanya untuk mereka yang sudah divaksin. Sisanya, yang belum divaksin, harus duduk terpisah-pisah di bagian khusus (dan selalu pakai masker).

New York City Marathon, pada bulan November, akan dinyatakan jalan. Dengan kapasitas peserta hingga 60 persen. Itu angkanya 33 ribu pelari! 

Festival Film Tribeca juga akan berlangsung Juni nanti. Acara puncaknya di Radio City Music Hall, dengan penonton kapasitas penuh. Dengan syarat, tentunya, semua harus sudah divaksin.

Para pemilik usaha, besar maupun kecil, diberi kebebasan. Boleh punya kebijakan sendiri-sendiri soal masker. "Mereka boleh mengecek, mereka boleh bertanya di pintu masuk, mereka boleh bertanya saat Anda duduk di meja. Terserah mereka," kata Gubernur New York Andrew Cuomo.

Banyak negara bagian lain tentu lebih longgar lagi. Menyambut panduan baru CDC ini dengan suka cita. Bulan depan, saya dijadwalkan ikut even balap sepeda gravel terbesar dunia, Unbound Gravel (Dirty Kanza), di Emporia, negara bagian Kansas.

Ini negara bagian "merah," dipimpin oleh Partai Republik.

Beberapa hari lalu, begitu panduan CDC keluar, saya langsung dapat email dari panitia penyelenggara. Isinya adalah menyampaikan adanya kelonggaran aturan tersebut. Panitia tidak bisa memaksakan pemakaian masker kepada para peserta, di saat "berkeliaran bebas" di kawasan Emporia dan sekitar.

Tapi, panitia tetap akan mewajibkan peserta mengenakan masker saat berada di kawasan resmi panitia lomba. Khususnya yang indoor. Seperti di tempat mengambil race pack atau kantor panitia dan lain-lain. Saat lomba, saat menunggu start dan berkumpul banyak orang, semua diminta mengenakan masker atau buff/bandana. 

Intinya, peserta (total 3.000-an orang) diminta untuk tetap saling menghargai dan menjaga.

Amerika memang sudah begitu agresif dalam pelaksanaan vaksinasi. Sekarang saja sudah mulai melakukannya pada remaja. Saat tulisan ini dibuat, data menyebut 48 persen warga berusia di atas 18 tahun yang sudah divaksinasi minimal sekali suntikan. Total 37 persen sudah fully vaccinated.

New York lebih tinggi dari angka nasional. Total 52 persen warga New York sudah sedikitnya disuntik sekali (43 persen sudah komplet).

Tentu lebih banyak warga yang belum. Secara keseluruhan, pandemi masih belum berakhir. Pelonggaran aturan masker ini, sepertinya, juga merupakan bentuk untuk terus mempercepat proses vaksinasi seluruh warga.

Karena ini seperti "ancaman halus," yang bunyinya: Kalau kamu tidak ingin bermasker, maka kamu harus secepatnya menuntaskan vaksinasi!

Satu hal yang saya anggap menarik, panduan baru CDC ini seolah menjadi pemersatu lagi warga Amerika. Setelah era Donald Trump dan pemilihan presiden 2020 yang begitu kubu-kubuan, Presiden Biden tampaknya sudah menemukan cara untuk memersatukan lagi warganya. Seolah bilang, "Ayo lepas masker bersama. Asalkan kita semua divaksin."

Kembali soal honor system. Bagi yang familiar dengan kehidupan di Amerika, saling percaya memang menjadi salah satu kekuatan utama masyarakat di sana. Paling tidak, waktu tujuh tahun hidup di sana dulu, itu salah satu poin utama yang saya dapatkan.

Paling gampang adalah nonton bioskop. Saat beli tiket, tidak ada memilih kursi. Tidak ada yang memeriksa di pintu ruang pertunjukan. Begitu masuk, pemilik teater percaya kita akan menonton film yang kita beli tiketnya.

Mempercayai, tentu bukan berarti dihargai.

Berkali-kali saya menonton film yang sangat populer, dan orang yang masuk ruang lebih banyak dari kursi yang disediakan. Mungkin banyak yang beli tiket film lain, lalu masuk ke ruang film itu.

Saya, terus terang, pernah juga melakukan itu. Ketika tiket film yang saya mau habis, saya beli tiket film lain. Lalu masuk ke gedung yang berbeda. Kadang, petugas akan berteriak dan meminta pemegang tiket salah untuk keluar. Kadang juga tidak. Kadang tidak ada petugasnya, karena membayar orang di sana mahal.

Ada lagi trik lain. Membeli tiket satu film, lalu stay di kompleks bioskop itu siang sampai malam menonton banyak film. Pindah-pindah dari satu ruang ke yang lain. Toh tidak ada yang memeriksa.

Saya, terus terang, juga pernah melakukan itu. Biasanya bersama teman-teman Indonesia lain. Biasanya saat hari itu memang sedang bengong, mencari kegiatan tanpa mengeluarkan banyak uang.

Nah, kalau bioskop saja seperti itu, bagaimana harus saling percaya soal virus yang berpotensi fatal?

Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, sepertinya yang suka menyiasati tiket bioskop itu ya saya dan orang-orang Indonesia lain. Kayaknya teman-teman bule saya tidak ada yang seperti itu. Kalaupun ada, saya tidak kenal mereka.

Waduh, jangan-jangan, yang tidak boleh dipercaya menggunakan "honor system" ya orang-orang Indonesia seperti saya! (Azrul Ananda)

Comments (33)

Catatan Rabuan

Masker Akal Sehat

Hidup tanpa masker. Bukan mimpi. Saya sudah merasakannya selama hampir tiga pekan di Amerika. Hebatnya, saya merasa aman...

Anti-Masker 100 Tahun

Kita sudah berbulan-bulan hidup dalam pandemi. Ujungnya masih belum kelihatan jelas, walau mulai muncul optimisme-optimi...

Schadenfreude Anda Level Apa?

Belakangan saya merasa kekurangan asupan. Bukan makanan, melainkan “asupan intelektual.” Gara-gara sudah sangat jarang b...

Vaksin untuk Ayah

Ada perasaan lega saya rasakan pada Sabtu, 26 Desember lalu. Hari itu, saya sekeluarga bisa video call dengan ayah dan i...