Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

 

 

Sudah pernah saya tulis. Pada akhir Juni lalu, saya positif Covid-19. Alhamdulillah, berlalu tanpa gejala sama sekali. Hanya perang melawan bosan karena isolasi mandiri di kamar. Dalam sembilan hari, pada 4 Juli, saya sudah negatif lagi. 

Ternyata, kita memang tidak boleh terlalu gembira dalam segala hal. Sekarang, lebih dari dua bulan kemudian, saya masih merasakan efek lanjutannya. Yang kondang dengan sebutan "long covid."

Awalnya saya mengalami yang disebut reactive arthritis. Kemudian, hingga sekarang, saya masih merasakan yang kata dokter disebut post-exertional malaise. Ada berbagai symptom yang saya rasakan kalau habis beraktivitas fisik lebih.

Sesuai anjuran banyak pihak, dokter maupun keluarga, tidak lama setelah negatif saya mengecek darah total. Tepatnya, sepuluh hari setelah negatif itu. Hasilnya? "Leh... Apik semua... Wkwkwkwk. Tidak ada sakitnya," begitu kutipan resmi sahabat saya, dr Theri Effendi Sp.OT (K) Hand Jspd (yang belakang itu "jagoan sepeda").

Semua indikator darah memang normal, bahkan sehat. Yang paling kelihatan buat saya sih angka hemoglobin (hb) yang 14,3. Normal, bagus. Tapi sebelum Covid angka saya selalu di atas 15, bahkan sering menyentuh angka 16. Saya pikir, mungkin karena olahraga berkurang banyak selama isolasi mandiri...

Angka D-Dimer juga masih oke, 261. Walau itu pun naik dari sebelum Covid, yang angkanya hanya 113. Jauh lebih baik dari teman-teman saya yang kena di saat bersamaan.

Saya pun mencoba kembali ke kehidupan normal saya. Olahraga saya, gowes, saya coba naikkan lagi intensitasnya. Menuju rata-rata 400 km per minggu. Bisa dibagi empat hingga lima kali gowes dalam seminggu. Itu sudah turun dari beberapa tahun lalu, yang bisa rata-rata 500 km seminggu.

Kemudian, saya mulai merasa ada yang tidak beres.

Pertama, saya gampang lelah. Tapi saya merasa wajar, karena mencoba mengaktifkan lagi badan seperti dulu.

Kedua, mulai muncul nyeri-nyeri pada sendi dan otot. Ada yang bilang, jangan-jangan itu asam urat. Saya langsung membantah. Karena hasil tes darah saya tidak menunjukkan itu, dan karena alhamdulillah seumur hidup saya belum pernah merasakan asam urat itu seperti apa.

Paling menonjol pada bahu kiri. Pagi dini hari, sekitar pukul 02.00, saya terbangun kesakitan. Saat itu tidur miring ke kiri, dan bahu saya terasa "nyuuuut" sakit sekali.

Ini enaknya mengelola klub sepak bola. Saya bisa minta tolong ahli fisio tim untuk membantu mengecek dan mengatasi rasa sakit itu. Dani Maulana Nugraha, A. Md.Ftr namanya. Dia terakhir membantu saya recovery dari operasi tulang bahu kanan, setelah ditabrak motor beberapa tahun lalu.

Sebagai catatan, bahu kanan saya itu sudah tiga kali dibongkar. Pertama saat operasi rotator yang putus pada 2015, kedua oleh Theri saat memasang pelat pada tulang, ketiga oleh Theri lagi saat melepas pelat.

Bahu kiri saya ini bahu pasif, seumur hidup tidak pernah sakit. Jadi saya khawatir, jangan-jangan bakal seperti yang kanan, harus dibongkar lagi oleh Theri.

Kata Dani aman, seharusnya tidak ada otot putus. Beberapa kali dia melakukan fisio, rasa sakit mereda. Tapi, sendi-sendi lain bergantian terasa sakit. Mulai engkel kanan dan kiri, lutut kanan dan kiri, siku, pergelangan lengan. Dan kalau gowes, jari-jari saya seperti gampang kesemutan.

Saya konsultasi ke Theri. Selain ahli tulang belulang dan pernah bolak-balik membongkar tubuh saya, dia juga seorang cyclist beneran. Pernah juara menanjak lomba antar dokter, dan salah satu "musuh" saya kalau gowes jauh dan menanjak.


dr Theri dan Azrul Ananda.

Yang saya rasakan ini, rasanya ya reactive arthritis itu. Menyerang sendi-sendi, juga otot. Kalau sakit lutut kanan --selain bahu kanan-- saya sudah biasa. Lutut kanan saya pernah putus total (ACL) saat main sepak bola pada 2006. Hasil cek terakhir, oleh Theri disarankan dibedah lagi untuk mengecek dan membersihkan, juga mungkin melakukan koreksi lagi. Dan sudah ada tanda-tanda osteoarthritis (OA).

Nah ini yang sakit semua sendi-sendi. Tidur tidak enak. Gerak mendadak bisa sakit sekali.

Oleh Theri, saya diberi beberapa obat untuk membantu meredakan siksaannya. Ada Arcoxia 90 mg, obat anti inflamasi non steroid. Ada Medixon 8 mg untuk anti inflamasi golongan kortikosteroid, lalu ada Pantoprazole sebagai obat maag untuk efek samping (iritasi lambung) obat-obat di atas. 

Jujur, saya tidak mau percaya 100 persen dengan Theri (wkwkwkw), mungkin dia punya modus supaya saya tidak bisa mengalahkan dia lagi di tanjakan (wkwkwkwk). Jadi, semua saran dia selalu saya crosscheck-kan ke dokter tim Persebaya, dr Pratama Wicaksana Wijaya. Dokter muda ini punya passion di dunia olahraga, pelari maraton pula, jadi saya benar-benar bangga dia jadi dokter di Persebaya.

Dokter Tommy --sapaannya-- bilang aman. Theri memang seniornya, tapi saya tetap ingin yang muda juga ikut belajar dari kondisi saya. Siapa tahu berguna untuk Persebaya dan orang-orang lain yang membutuhkan bantuannya.

Syukurlah, semuanya sangat menolong. Minimal saya tidak kesakitan. Setelah sepuluh hari, saat obat habis, pelan-pelan rasa sakit kembali. Oleh Theri ditambahi lagi satu ronde. Kembali tertolong.

Sekarang, sudah tidak lagi nyeri-nyeri menyiksa. Semoga tidak lagi kembali. Kata Theri, ada pasiennya yang setelah Covid (atau vaksin) merasakan keluhan sama hingga tiga bulan atau lebih.

Tapi sekarang, saya masih belum bisa "normal" beneran. Secara aktivitas sehari-hari sudah tidak lagi terganggu berat, dan saya bisa kembali dengan pergi ke sana-ke mari dan mencoba kembali olahraga lebih berat.

Nah, masalahnya, badan ini masih belum bisa di-push lebih keras. Kalau olahraga lebih keras, badan recovery-nya lambat. Sebelum Covid, saya bisa dua hari berturut-turut gowes menanjak PP total 100 km. Pagi pukul 05.00 hingga 09.00. 

Sekarang, kalau habis gowes jauh, bisa butuh dua hari untuk mengembalikan kondisi. Otot-otot sakit lebih lama, nyeri lebih lama. Padahal pasca olahraga saya punya ritual normal, minum susu protein recovery. Biasanya itu cukup. Sekarang, masih kurang.

Kata Theri, sekarang ini saya mengalami post exertional malaise (PEM). Saya tidak mau dikasih obat-obatan lagi yang keras. Jadi, Theri menawarkan beberapa vitamin dan suplemen. Misalnya Vitamin B12 murni (saya tidak mau B kompleks biasa karena menambah nafsu makan bikin gemuk hehehe). Lalu juga Coenzyn Q10, antioxidan untuk jantung. Plus minum probiotik.

Saya belum bisa bilang efeknya seperti apa. Tapi saya akan menunggu sampai awal Oktober nanti, pas tiga bulan setelah saya negatif. Semoga kondisi badan saya sudah menjadi lebih normal, bisa beraktivitas lebih total seperti sebelumnya. Dan mengalahkan Theri lagi di semua tanjakan.

Bagi teman-teman sesama penyintas, semoga Anda semua benar-benar pulih total tanpa efek jangka panjang. Saya bersyukur tidak mengalami gejala saat positif, dan tetap bersyukur long covid-nya tidak menghalangi aktivitas pekerjaan. Hanya menghalangi aktivitas "ekstrakurikuler."

Kalau Anda merasakan apa yang saya rasakan, mungkin bisa bantu juga tulis di kolom komentar, memberikan berbagai tips yang bisa membantu orang lain.

Bagi yang lain, virus ini memang tidak pernah boleh kita remehkan. Ini seperti virus "pintar." Seolah-olah aktif mencari kelemahan kita yang bisa diserang. Semoga semua selalu diberi kesehatan, dan dunia bisa segera normal dan saya bisa gowes normal lagi setiap hari, dan makin sering mempermalukan Theri di tanjakan...(Azrul Ananda)

Comments (28)

Catatan Rabuan

Saya Positif

Walaupun setelah divaksinasi orang tetap bisa terinfeksi, saya tetap melihat itu sebagai jalannya. Dan saya tetap menuli...

Negatif Menang Probabilitas

Saya tidak punya trik apa-apa untuk mengalahkannya. Tidak ada resep khusus. Tidak ada obat khusus. Tidak ada perjuangan...

Pandemi Bagi yang Belum Divaksin

Di saat banyak negara sudah punya road map, kita masih terus berkutat dengan debat kusir.

Abah Superman

Saya lalu menjabarkannya: Menurut saya, "berkah" utama dari Yang di Atas untuk Abah saya bukanlah kecerdasannya. Kekuata...