Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Sepuluh menit. Itu panjang lagu All Too Well, lagu lama yang direkam dan dirilis ulang oleh Taylor Swift. Sepuluh menit yang luar biasa, sepuluh menit yang penuh dengan lirik bertutur emosional, yang beberapa hari terakhir terus saya putar ulang.

Itu memang bukan sepuluh menit biasa. Sepuluh menit itu, beserta album rilis ulang Red yang membungkusnya, merupakan tembakan ganda Taylor Alison Swift. Satu untuk pria yang dikeluhkan di dalam lagu, satu lagi untuk label lamanya (dan bisnis musik secara keseluruhan).

Terus terang, saya bukan penggemar berat Taylor Swift. Saya tidak ingat, apalagi hafal, lagu-lagunya. Kalaupun ada satu lagu favorit dari penyanyi 31 tahun itu, maka lagu itu adalah The Last Time, berduet dengan Gary Lightbody.

Meski hanya suka satu lagu itu, saya mengakui kalau penyanyi satu ini memang complete package. Cantik, tinggi-langsing, bersuara mezzo-soprano keren, sangat fashionable, dan -yang paling saya kagumi- seorang penulis lagu dan lirik yang luar biasa.

Lirik-liriknya khas turunan penyanyi country: Bertutur sekaligus bermakna. Berbasiskan kehidupan sehari-hari yang bisa "dirasakan" oleh semua yang mendengarkannya.

Ada satu kutipan Swift yang sering saya pakai dalam menulis: "All the haters gonna hate hate hate" dari lagu Shake It Off. Bahwa kita tak perlu pusing menanggapi apa pun komentar orang tentang kita. Tak perlu menghabiskan banyak energi mencoba membuat semua orang menyukai kita. Akan selalu ada orang yang tidak suka, apa pun yang kita lakukan.

Kembali ke peluru ganda Swift. Yang pertama soal kisah cinta, yang kedua adalah pelajaran bisnis bagi mereka yang ingin membangun karir di industri musik (atau entertainment secara umum).

Album Red kali pertama dirilis pada 2012, sembilan tahun lalu, saat Swift masih berusia 22 tahun. Seperti banyak lagu Swift lain, lagu All Too Well ini menceritakan babak kehidupan cinta sang penyanyi.

Dulu, lagu ini tidak pernah direncanakan sebagai unggulan. Tidak pernah dibuatkan videonya. Namun, oleh penggemar Swift, ini termasuk lagu paling dicintai. Mungkin karena banyak orang bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Swift dalam lagu ini.

Swift bercerita, dia membuat lagu ini saat sedang sangat sedih, habis ditinggal kekasih yang sembilan tahun lebih tua. Untuk menenangkan diri, dia memainkannya. Semua lirik dan nada keluar begitu saja. Lagu ini panjang. Sepuluh menit.

Karena label tak mungkin merilis lagu sepuluh menit, dia pun memangkasinya. "Saya terpaksa membuang bagian-bagian favorit saya," ungkapnya dalam wawancara di talk show-nya Seth Meyer.

Sekarang, sembilan tahun kemudian, tahun 2021 (angka-angkanya!), Swift merekam ulang lagu ini. Dengan suara yang lebih dewasa, dengan pengalaman hidup yang lebih komplet. Lagu ini seutuhnya. Sepuluh menit.

Wow! Seperti membaca diary. Tapi isinya makin emosional, makin penuh kejengkelan, makin penuh makna, sekaligus makin "kejam."

Wajar. Karena ini lagu adalah luapan amarahnya terhadap mantan kekasih. Seorang aktor kondang yang sembilan tahun lebih tua. Rasanya sudah bukan rahasia, aktor itu adalah Jake Gyllenhaal. Tapi, Swift tak pernah menyebut nama dan tak pernah mau mengakui itu siapa. Kalau ditanya media, maka jawabannya bagus sekali: "Lagu ini sudah menjadi milik orang banyak. Orang yang dimaksud akan berbeda-beda tergantung siapa yang memaknainya."

Silakan cari liriknya. Tajam. Bagaimana sang pria rela bertemu dengan ayahnya, tapi kemudian "lupa" hadir di ulang tahun ke-21 Swift. Dan sang cowok berkali-kali mengingatkan perbedaan usia sebagai kendala. Tapi, itu hanya ucapan belaka.

"Dan saya tak pernah pintar menyampaikan lelucon. Tapi punchline-nya seperti ini. Usia saya terus bertambah, tapi kekasihmu selalu sama dengan usia saya..." Begitu bunyi lirik kunci All Too Well versi sepuluh menit.

Resminya, ini adalah All Too Well (Taylor's Version). Dan ini penting sekali bagi Swift (dan yang lain di industri musik). Karena ini adalah cara Taylor Swift "merebut" kembali lagu-lagu miliknya.

Rasanya banyak yang tahu, kalau penyanyi atau band yang sukses rata-rata "tidak jadi pemilik" karya-karya mereka sendiri. Label yang memilikinya dan menjualnya, dengan pembagian kepada artis lebih sedikit. Ini cerita lama, berlangsung sampai sekarang.

Tidak mudah, dan tidak murah, bagi sang artis untuk memilikinya kembali. Kalau memang label ingin menjual karya asli itu (master recording), maka sang artis harus ikut lelang melawan peminat lain (label lain atau investor lain).

Enam album pertama Swift berada di bawah naungan Big Machine Records. Yang mengontraknya selama 13 tahun, berakhir pada 2017 lalu. Baru tiga album setelahnya dirilis di bawah kendali Swift sendiri (label milik sendiri, Republic Records). Dengan demikian, berarti 66 persen lebih (dua pertiga) karya Swift berada di kendali pihak luar.

Swift lantas marah besar ketika Big Machine Records menjual master recording lamanya ke pihak lain. Dia pun bertindak. Dan ada jalan untuk "merebut kembali" lagu-lagu lamanya. Karena sejak November 2020, klausal larangan merekam ulang sudah berakhir, maka Swift pun merekam ulang satu per satu album lamanya!

Walau master recording, atau hasil akhir, lagu-lagu lama itu adalah milik Big Label Machine (dan kemudian dijual), tapi komposisi lagunya masih milik Swift. Jadi, Swift bisa merekam ulang lagu-lagu itu, merilisnya dalam versi baru (Taylor's Version), dan otomatis memiliki master recording yang baru.

Lagu-lagu itu digarap ulang, termasuk duet-duetnya dengan bintang-bintang lain. Dengan sentuhan baru, dengan memasukkan elemen-elemen penting yang dulu terbuang. Seperti lima menit tambahan pada All Too Well. Plus hal-hal lain yang selama ini tersimpan, tidak terpakai. Memberi insentif bagi penggemarnya untuk membeli ulang album-album dan lagu-lagu lama itu.

Jadi, kesimpulannya, pada akhirnya, ujung-ujungnya, ini adalah business decision. Ini industri. Ini bisnis. Taylor Swift di usia 30-an kini bisa menceritakan, dan mengenang, lebih luas tentang kehidupannya di usia remaja hingga 20-an. Sambil terus meraup penghasilan.

Di sisi lain, dia juga memberi angle baru perselisihan artis dengan label. Karena apa yang dilakukan Swift ini bisa baik, atau buruk, bagi kontrak-kontrak artis ke depan. Kalau "menang" nego, artis bisa minta hak-hak lebih besar terhadap karya-karyanya. Kalau "kalah" nego, label bisa melindungi lebih ketat lagi investasinya, semakin membatasi sang artis.

Yang menang telak hanya Taylor Swift. Labelnya kalah, mantan-mantannya juga kalah...(Azrul Ananda)

Comments (16)

Catatan Rabuan

Welcome To Happy Wednesday 2.0

Sudah lebih dari setahun saya tidak menulis Happy Wednesday, sebuah kolom hari Rabu di mana saya bisa menulis sesuka hat...

Maaf Lahir Batin, Ayo Lanjut Do Show

Timing Happy Wednesday #19 ini luar biasa. Pas hari Rabu, 5 Juni. Pas saat Hari Raya Idul Fitri. Karena itu, kepada semu...

Masker Akal Sehat

Hidup tanpa masker. Bukan mimpi. Saya sudah merasakannya selama hampir tiga pekan di Amerika. Hebatnya, saya merasa aman...

Komedi Haiyaa Produk Pandemi

Lewat tulisan ini, saya ingin memperkenalkan satu lagi comedian favorit saya.