Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda


Max Verstappen melakukan selebrasi di atas mobilnya setelah memenangkan GP Abu Dhabi.

Selamat untuk Max Verstappen! Seheboh dan sekontroversial apa pun ending musim Formula 1 2021 di Abu Dhabi, tidak ada yang menyangkal kalau pembalap Belanda itu sangat layak jadi seorang juara dunia.

Tahun 2021 benar-benar tahun yang legendaris. Setelah 22 lomba (terbanyak dalam sejarah F1), gelar juara dunia benar-benar ditentukan pada lap ke-1297 alias lap terakhir di lomba terakhir! Di saat Verstappen, dengan ban soft segar, menyalip Lewis Hamilton, yang memakai ban hard yang sudah berusia puluhan lap.

Ya, ada kontroversi menjelang putaran nomor 1297 tersebut. Terkait prosedur-prosedur yang diterapkan, di saat lomba ditahan di belakang safety car gara-gara kecelakaan Nicholas Latifi lima lap menjelang finish.

Yang utama: Keputusan para pengawas lomba, khususnya race director (semacam wasit utama), untuk membiarkan hanya lima dari delapan mobil yang sudah di-overlap untuk melaju dan tidak mengganggu persaingan di depan. Sehingga tidak ada "pengganggu" yang memisahkan Hamilton, yang masih memimpin lomba, dengan Verstappen di belakangnya.

Sementara tiga mobil lain yang sudah di-overlap, yang masih berada di belakang Verstappen, tetap diminta berada di posisi yang sama.

Keputusan ini memastikan terjadinya one lap shootout, di mana Hamilton dan Verstappen berduel menuju garis finis hanya dalam satu putaran. Dan ini bukan duel yang "seimbang," mengingat Verstappen memakai ban yang jauh lebih cepat dan segar. Hasil dari keputusan Red Bull-Honda mengganti bannya di saat prosedur safety car berlangsung.

Di sisi lain, Mercedes tidak berani mengganti ban Hamilton. Karena kalau mereka melakukan itu, maka Red Bull akan "doing the opposite," melakukan strategi yang sebaliknya dan mengambil alih pimpinan lomba di belakang safety car.

Lebih detailnya, mungkin bisa ikut Mainbalap Podcast Show saya bersama Dewo Pratomo, yang tayang di YouTube (klik di sini atau tonton di akhir tulisan).

Usai Grand Prix Abu Dhabi itu, F1 benar-benar jadi perbincangan dunia. Setelah sekian lama praktis tanpa persaingan (Mercedes mendominasi sejak era mesin hybrid dimulai pada 2014), musim 2021 menyuguhkan persaingan dua pembalap dari dua tim pertama yang begitu ketat.

Saking ketatnya, memasuki lomba di Abu Dhabi, Verstappen dan Hamilton punya jumlah total poin sama.

Siapa pun juara dunianya, dia sangat layak mendapatkannya. Verstappen jadi yang pertama asal Belanda, dan mewakili generasi baru pembalap (dan penggemar) F1. Di usia 24 tahun, dia masih punya potensi meraih lebih banyak lagi gelar.

Di sisi lain, seandainya jadi champion, Hamilton akan menjadi yang terbaik secara statistik dalam sejarah. Dia sekarang sudah punya tujuh gelar, setara dengan Michael Schumacher. Timnya sendiri, Mercedes, tetap menjadi juara dunia konstruktor tahun ini. Memegang rekor juara konstruktor delapan tahun berturut-turut.

Usai GP Abu Dhabi, begitu seru melihat reaksi-reaksi penggemar di seluruh dunia. Mungkin karena "bosan" dengan dominasi Mercedes, melihat pendukung Verstappen di berbagai negara seperti melihat dunia "dimerdekakan" dari penguasa yang begitu kuat.

Paling lucu melihat rekaman penggemar Verstappen (dan mungkin Honda) di YouTube. Sampai menangis di depan TV begitu Verstappen melintasi garis finis! 

Tapi, segala kehebohan itu masih memiliki catatan khusus. Syarat dan ketentuan masih berlaku. Karena secara legal, gelar Verstappen masih terancam di ruang sidang.

Entah sadar akan ada kontroversi atau tidak, Mercedes sudah datang membawa pengacara di Abu Dhabi. Usai lomba, mereka langsung mengajukan dua protes untuk mengubah hasil lomba.

Yang pertama, terkait perilaku Verstappen sebelum restart di lap terakhir. Saat dia terus menjajari Hamilton, bahkan hidung mobilnya sempat beberapa cm di depan. Walau di aturan dilarang, tapi berbasiskan preseden yang telah terjadi "jutaan kali," protes ini dengan cepat ditolak. Karena yang utama adalah: Saat melintasi garis start tanda lap terakhir dimulai, Verstappen ada di belakang Hamilton.

Yang kedua lebih complicated. Karena terkait prosedur safety car. Saya akan berusaha tidak terlalu teknis dan baku, tapi Mercedes memperdebatkan bagaimana pengawas lomba tidak sepenuhnya menerapkan aturan resmi. Kenapa hanya lima dari delapan mobil yang sudah di-overlap diperbolehkan lewat. Kenapa tidak semua. Atau, kenapa tidak sekalian melarang semua mobil yang di-overlap untuk lewat. Semua atau tidak sama sekali.

Dan andai semua boleh lewat, maka seharusnya lomba tidak langsung dimulai lagi, karena butuh satu putaran lagi untuk mendapatkan formasi mobil yang sempurna. Dengan demikian, tidak ada lap terakhir. Lomba diakhiri di belakang safety car. Dalam semua skenario itu, tentu saja, Lewis Hamilton yang menang lomba dan jadi juara dunia.

Protes kedua ini pada akhirnya juga ditolak. Dengan alasan yang mungkin masih bisa diperdebatkan. Pertama, poin aturan yang mengatur formasi mobil di belakang safety car (artikel 48.12 di Sporting Regulation), langsung tidak berlaku ketika pengawas lomba sudah menerapkan artikel selanjutnya (48.13, yaitu perintah supaya safety car meninggalkan lintasan). Kasarnya, tidak bisa diprotes karena sudah "kasep."

Dan yang paling utama adalah artikel 15.3, bahwa race director alias wasit utama punya "overriding authority" alias hak dan diskresi penuh dalam hal menggunakan safety car, dengan berbagai pertimbangan.

Pada kejadian di Abu Dhabi, race director menegaskan kalau dia berusaha sebisa mungkin supaya lomba berakhir dalam kondisi green (hijau) alias balapan. Bukan di belakang safety car. Dalam hal ini, tidak satu pun tim bisa menyalahkannya, karena semua sepakat kalau dalam kondisi apa pun, sebisa mungkin lomba harus berakhir sebagai "lomba." Ini sudah perjanjian lama.

Bahwa keputusan ini kemudian menguntungkan Verstappen dan Red Bull, ya itu konsekuensinya. Dan apa pun keputusannya, pasti ada pihak yang protes. Karena kalau lomba berakhir di belakang safety car, pasti Red Bull yang protes.

Secara resmi, protes Mercedes memang sudah ditolak. Tapi mereka sudah mengajukan niatan untuk banding. Dan mereka punya waktu 96 jam (atau hingga Kamis, 16 Desember) untuk memutuskan lanjut banding atau tidak. Kalau lanjut banding, maka mungkin kepastian gelar Verstappen --atau dialihkan ke Hamilton-- baru bisa ditegaskan paling cepat sebulan. Kalau tidak lanjut banding, ya musim 2021 resmi berakhir. Seperti seorang teman saya bilang: Sekarang ada grand prix lanjutan di ruang pengacara.

Setelah situasi agak dingin, memang ada yang menyebut kenapa lomba tidak dibuat red flag saja, lalu dilanjutkan dengan restart normal sebagai shootout resmi yang lebih "adil." Dengan demikian Verstappen dan Hamilton sama-sama bisa ganti ban, dan pasti start bersamaan. Presedennya ada.

Tapi, disebut pula kalau kita tentu dengan mudah bisa bilang seperti itu sekarang. Lebih mudah ngomong sekarang daripada saat lima lap terakhir yang penuh dengan keputusan-keputusan cepat yang harus dibuat.

Tidak lama setelah lomba, berbagai hujatan memang ditujukan kepada FIA dan pengawas lomba. Khususnya Michael Masi, sang race director asal Australia. Apalagi ini era media sosial, yang bisa begitu toxic. Di mana orang-orang tanpa pengetahuan dan pemahaman bisa berulah pakai jempol dan ngomong seenak ujung jempolnya.


Michael Masi (depan dua dari kanan) memeriksa kerbing di sirkuit Monza bersama orang-orang dari FIA.

Yang menarik, pengamat-pengamat papan atas, termasuk yang dari Inggris, justru lebih simpatis terhadap Masi. Menegaskan kalau tugas Masi itu begitu berat. Beda dengan pendahulunya, Charlie Whiting, yang meninggal pada 2019.

Dulu Whiting punya otoritas jauh lebih luas, termasuk urusan teknis. Dengan tim pendukung yang juga sangat senior. Masi, di sisi lain, hanya punya otoritas sebagai race director. Dia dulu bagian dari timnya Whiting, dan punya reputasi sangat baik di mata begitu banyak pihak. Karena itu dialah penerus Whiting. Namun, dalam banyak hal, khususnya teknis, Masi tidak seberkuasa Whiting (tugas itu dibagi-bagi).

Dan yang paling beda: Di era Whiting, F1 dijauhkan dari media sosial. Lalu, rekaman segala percakapan antara FIA dengan bos-bos tim dijaga dalam kerahasiaan. Tidak diumbar secara live kepada jutaan pemirsa di seluruh dunia.

Saya paling suka komentar Peter Windsor, salah satu jurnalis F1 favorit saya yang juga pernah bekerja puluhan tahun di tim-tim F1. Dia bilang, Masi ini berada di bawah tekanan luar biasa, dan memiliki tim support yang jauh lebih kecil daripada tim-tim besar F1. Khususnya Mercedes dan Red Bull. Di saat tim-tim itu punya pasukan untuk melakukan analisis, Masi hanya punya segelintir staf. Seperti David melawan banyak Goliath.

Dan di saat harus membuat keputusan besar dan cepat, para bos tim itu terus meneriakkan pesan-pesan ke telinganya. Beberapa pesan itu pun bersifat politis, belum tentu berdasarkan aturan atau data yang akurat. Pendukung yang menonton dan mendengarnya di tayangan akan mudah terpengaruh oleh ucapan bos-bos tim idolanya. Benar maupun salah. Sementara Masi tetap harus menjaga segala keputusan seobyektif mungkin.

Hal ini ditegaskan oleh David Croft, analis di Sky Sports Inggris. Dia bilang harus ada perubahan. Masi harus mendapatkan dukungan lebih banyak. Dalam hal pendanaan dari FIA dan infrastruktur/staf pendukung. Apalagi akhir tahun ini akan ada Presiden FIA baru menggantikan Jean Todt, jadi sang pengganti itu bisa fokus pada membuat struktur Masi lebih kuat. Karena F1 adalah suguhan terbesar balap mobil dunia.

Lebih lanjut lagi, harus ada perubahan dalam cara F1 menyuguhkan tontonan. Jangan kaget kalau mulai musim depan, tidak ada lagi bocoran komunikasi antara tim dengan FIA. Akan kembali dibuat privat seperti sebelumnya. Dengan alasan itu tadi: Supaya bos-bos tim tidak bisa mengumbar "propaganda" yang bisa mengecoh penggemar awam. Ross Brawn, direktur F1 urusan teknis, sudah menyampaikan kemungkinan ini.

Luar biasa memang urusan wasit di dunia olahraga ini. Termasuk di F1, di mana wasitnya punya perlengkapan jauh lebih hebat dan canggih daripada sekadar VAR. Pelajaran dari F1: Dukungan harus terus diberikan kepada mereka agar bisa membuat keputusan terbaik, atau sebaik mungkin, di setiap kejadian. Tidak mungkin sempurna, tidak mungkin 100 persen adil. Tapi sebaik mungkin. Nawaitu-nya begitu.

Seperti dalam segala hal di dunia: Kualitas hidup bergantung pada pengadil/penegakan hukum yang baik. (Azrul Ananda)

Foto-Foto: Bobby Arifin dan Motorsports

Comments (23)

Catatan Rabuan

Rivalry Era Medsos

Persaingan hanya dua kandidat ternyata memang seru. Apalagi kalau ada kontroversinya. Bisa membuat sesuatu jauh lebih he...

Wajib Nonton Formula 1 Lagi

Sulit menggambarkan betapa terhiburnya saya menonton Grand Prix Bahrain 2021, lomba pembuka musim baru Formula 1. Sudah...

Lando Lucu

Dan... Spektakuler! Lando Norris mencatatkan fastest lap lomba pada putaran terakhir itu.

Rest In Peace Suara Inspirasi

Ada satu suara yang menjadi inspirasi saya sekaligus jutaan orang di berbagai penjuru dunia. Yaitu suara seorang Murray...