Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda


Menikmati pemandangan Gunung Klabat yang tertutup awan.

Saya telah menemukan tempat paling indah se-Indonesia. Paling tidak, tempat paling indah yang pernah saya kunjungi secara pribadi, dengan cara bersepeda. Letaknya di dekat Manado. Tepatnya Tetetana Hill (Bukit Tetetana), di Tomohon. Saya harus berterima kasih kepada teman-teman Manado Cycling Mania (MCM), karena menunjukkan tempat begitu menakjubkan di ujung tanjakan yang cukup menyiksa itu.

Selama ini, saya kurang menikmati alam Indonesia. Saya sangat sering keliling Indonesia, tapi lebih untuk rapat, rapat, dan rapat. Atau, mengurusi basket DBL. Landing, datang ke acara, tidur, besok pagi-pagi sudah balik atau menuju tempat selanjutnya. Kuliner saja jarang.

Sejak hobi sepeda, saya jadi lebih suka pegunungan. Apalagi dengan hobi ini saya jadi punya banyak teman baru di mana-mana, yang siap mengantarkan dan menemani gowes ke tempat-tempat seru. Ke tempat-tempat yang rasanya tidak akan dikunjungi turis biasa. Dan rasanya kurang bisa dinikmati kalau dilalui menggunakan mobil.

Desember lalu, saat menghadiri final Honda DBL seri Sulawesi Utara dan bertemu dengan pimpinan daerah, keesokan harinya saya menyempatkan diri gowes bersama teman-teman MCM. Kebetulan beberapa sudah kenal lama, namun karena pandemi sudah lama tidak bertemu. Apalagi gowes bareng.

Ini tentu bukan gowes pertama saya di Manado dan sekitar. Pada 2017, saya dibantu teman-teman di Manado sempat menyelenggarakan even gran fondo di sana. Dengan rute melingkar 160 km, dari Manado, melewati Minahasa Selatan, naik ke Danau Tondano, lalu balik ke Manado.

Terus terang, sampai hari ini, itu merupakan salah satu even terbaik yang pernah saya selenggarakan. Menawarkan rute dan tantangan komplet. Ada kota, ada pantai, ada sawah-sawah, ada pegunungan, dan ada danau di atas pegunungan.

Sambutan masyarakatnya juga begitu ramah dan heboh. Warga ramai menonton di pinggir jalan, menawarkan minuman dan makanan bagi 500-an peserta yang ikutan.

"Sebelum ini, warga di sini belum pernah melihat kelompok sepeda lebih dari sepuluh orang," ungkap Royke Hendra, salah satu motivator gowes utama di Manado, yang waktu itu membantu menyiapkan rute dan jadi road captain.

Sekarang, setelah pandemi, hobi sepeda tentu sudah booming di mana-mana. Di Manado pun sudah ada begitu banyak komunitas. Dulu, kami harus membawa banyak mekanik dan perlengkapan dari Jawa. Sekarang, sudah ada bike shop yang mumpuni di sana. Salah satunya Central Bike Manado, yang mengirimkan mekaniknya ke hotel kami. Untuk menyiapkan sepeda saya dan istri, yang kami bawa dari Surabaya.

Jumat pagi itu, kami diajak rute dengan jarak relatif pendek. Hanya sekitar 60 km. Semula saya sempat minta agak jauh. Tapi kemudian saya sadar, kalau di Manado tanjakannya sangat banyak, dan 60 km itu tantangannya bisa setara 100 km lebih kalau di sekitar Surabaya.

Benar saja, tidak jauh dari kota, jalan langsung merambat naik. Karena hari itu santai, kami menikmati tanjakan itu. Tidak semua teman-teman Manado ikut sampai ke atas, karena beberapa harus segera kembali untuk bekerja.

Rute hari itu melewati Desa Koka, Kembes, Rumengkor. Kami berhenti dulu untuk minum kopi. Di Nuansa Alam Ranosaut yang indah sekali. Sambil nyemil, menunggu semua berkumpul. Karena dari situ langsung ada tanjakan curam beberapa kilometer, menuju tempat yang yang mereka sebut sangat indah itu.

Setelah itu, tanjakannya memang tidak mudah. Hampir selalu di atas 10 persen, berkali-kali di atas 15 persen. Tapi, hadiah pemandangannya mampu membalas segalanya.

Kami sampai di Tetetana Hill. Sampai atas, dengan cepat, saya berseru: "Ini tempat gowes terindah yang pernah saya kunjungi di Indonesia!"

Bagaimana tidak. Berdiri di atas bukit rumput itu, ke sebelah kiri kita melihat seluruh kota Manado dan lautnya. Lalu Minahasa Utara juga kelihatan. Gunung Klabat jadi pemandangan di sebelah kanan. Bahkan, kota Bitung juga kelihatan. Tidak ada foto kamera yang bisa menggambarkan keindahan itu. Bahkan kamera 360 derajat pun sulit. Anda harus ada di atas sana. Melihat dengan mata kepala sendiri.

Saya, istri, langsung foto-foto dari berbagai sudut. Teman-teman ikut berfoto bersama. Kami benar-benar terima kasih kepada Om Royke, Andry Setio, Nini Limanauw, Cheris Mumek, Viana Tangkowit, Herry Piter, Hanny Lumesar, Kenny Wongso, Ferry Palar, Edwin Koilam, Felix, dan Fadjar, serta yang lain yang tidak bisa saya sebut lagi satu per satu!

Benar-benar pengalaman gowes yang indah!

Istri saya dan beberapa cyclist perempuan turun ke bawah, ke taman bunganya. Saya dan teman-teman lain duduk-duduk ngobrol di atas.

Sayang, restoran di atas itu belum buka. Kami terlalu pagi (gowesnya terlalu cepat?). Jadi kami hanya sempat makan pisang goreng dengan sambal. Tidak apa-apa. Pemandangan indah itu membuat saya lupa lapar.

Sorenya, kami diajak Om Royke naik kapal, menikmati sunset di Bunaken. Kata Royke, kami beruntung. Laut siang itu ombaknya tinggi, tapi tenang di sore hari. Gunung pagi itu cerah saat kami gowes, tapi sore itu kelihatan kalau awan gelap menyelimuti kawasan pegunungan. Benar saja, ketika kami kembali ke darat. Baru saja melangkah masuk restoran, hujan lebat turun. Kata Om Royke, cuacanya seperti mengakomodasi semua keinginan kami hari itu. Wkwkwk...

Sabtu itu, saya seharusnya balik dengan pesawat jam 12 siang. Kata Royke, paginya harus menyempatkan diri gowes singkat dulu ke tempat baru. Kebetulan, dia ikut mengerjakannya. Dia menyebut namanya "Manado Skyline." Hanya 30 km gowes PP dari hotel di Manado. Jam 8 sudah balik hotel, beres-beres dan ke bandara.

Jalan itu jalan private. Tidak terbuka untuk umum. Inspirasi jalannya dari tanjakan Alpe du Zwift, dari aplikasi gowes virtual Zwift, yang merupakan replika dari Alpe d'Huez, tanjakan kondang Tour de France di Prancis. Bedanya, tanjakan Alpe adalah 12 km menanjak sekitar 1.000 meter. Di Manado, walau profil keloknya mirip, tapi hanya sekitar 4,5 km menanjak lebih dari 500 meter. Jadi lebih curam! Benar saja, tanjakannya terus di atas 15 persen!

Walau tidak tinggi, dan tidak jauh, kami kembali ditunjukkan pemandangan spektakuler. Manado kelihatan dari atas, puncak gunung Manado Tua jadi backdrop yang spektakuler.

Dua hari itu, kami memang gowes tak sampai 100 km. Tapi mendapatkan pemandangan yang begitu spektakuler.


Azrul Ananda bersama istri saat diajak gowes Royke Hendra ke "Manado Skyline".

Beberapa kali ini ke Manado, baru kali ini saya benar-benar takjub. Saya bilang ke teman-teman di sana, Manado (dan Sulut) ini benar-benar diberkati. Punya gunung, punya laut, punya segalanya yang indah. Masyarakatnya pun ramah dan damai. Semoga semua itu bisa terjaga. Dan tidak sabar rasanya kembali ke sana! (azrul ananda)

Comments (23)

Catatan Rabuan

Harapan Telaga Sarangan

Tahun ini, sudah tiga kali saya ke Telaga Sarangan. Sekali bersama keluarga, dua kali bersama teman-teman bersepeda.

Ilmu Presenter Memancing Ikan

Memancing ikan atau presenter? Ya, tulisan ini memang akan mengawinkan dua topik yang jauh berbeda. Di satu sisi soal...

New Year Asyik Nggak Ngapa-Ngapain

Liburan pergantian tahun 2019 ke 2020 ini memang kami --saya dan keluarga-- niati untuk tidak ngapa-ngapain. Mencari tem...

Ayo Selingkuhi Daging Sapi

Perang teknologi masa depan, mungkin, bukanlah di dunia komputer atau elektronik lain. Perang teknologi masa depan, tamp...