Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Waktu masih mengelola media dulu, saya selalu menekankan kepada para wartawan pentingnya "manajemen momentum." Sebuah peristiwa besar bisa terjadi, kemudian beritanya menjadi begitu besar. Nah, setelah itu, kita harus mampu "me-manage" supaya berita itu bisa "soft landing." Tidak tiba-tiba hilang. Tidak juga terus dibesar-besarkan.

Pada suatu momen, akan ada peristiwa terkait yang membuat berita itu besar lagi. Setelah itu, harus menerapkan lagi manajemen momentum. Pokoknya tidak boleh tiba-tiba hilang, tidak boleh dibesar-besarkan semaunya.

Feeling harus pas. Tidak boleh "melengse" (meleset).

Tidak terasa, pandemi ini sudah berlangsung hampir dua tahun. Banyak orang sudah babak belur menunggu momen pandemi ini benar-benar berakhir. Yang dilakukan pihak-pihak berwenang ya seperti yang saya minta para wartawan lakukan. Manajemen momentum.

Masalah akan meledak, mereda. Meledak, mereda. Meningkat, mereda. Meningkat pelan, mereda. Kemudian jadi biasa-biasa saja.

Tentu yang jadi pertanyaan semua pihak, kapan pandemi ini resmi jadi biasa-biasa saja. Sama seperti seratus tahun lalu, ketika Flu Spanyol berevolusi jadi flu yang tidak berisiko tinggi dan orang-orang sudah tahan semua.

Saya yakin, di seluruh dunia, sehebat apa pun pakarnya, belum punya jawabannya yang pasti dan mantap.

Akan ada yang duluan menyatakan merdeka dari pandemi. Merdeka karena menang, atau merdeka karena sudah cuek. Akan ada yang tertatih-tatih keluar dari pandemi. Akan ada yang bingung, kapan kembali membuka diri. Akan ada yang terlambat sekali.

Sama seperti pesan profesor kelas ekonomi saya saat kuliah. Dalam hidup ini, selalu akan ada 5 persen yang sukses, 90 persen biasa-biasa saja, dan 5 persen gagal total.

Ayo menebak-nebak, siapa duluan merdeka.

Bagi yang tidak suka saya menulis tentang Amerika, mungkin silakan berhenti membaca. Hak Anda untuk tidak suka dan tidak membaca. Hak saya untuk terus menulis. Gak usah pusing.

Terus terang, saya terus salut dengan betapa "biasa-biasa"-nya kebijakan pemerintah federal (pusat) Amerika tentang pandemi sekarang. Tanya saja semua orang yang baru saja dari sana. Rasanya sudah sangat merdeka. Tidak perlu pakai masker. Tidak banyak basa-basi. Tidak banyak keribetan dan birokrasi.

Even-even sudah full gas. Penonton pertandingan basket sudah penuh. Begitu pula olahraga terbesar di sana, American football. Ya, 70 persen penduduknya sudah vaksinasi penuh. Banyak sekali yang sudah booster.

Tapi yang paling saya salut, adalah kebijakan tentang protokol apabila terdeteksi positif virus ini.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), yang memberi panduan umum bagi seluruh masyarakat Amerika, protokolnya sekarang seperti ini:

Pada umumnya, CDC merekomendasikan orang yang dinyatakan positif untuk isolasi hanya lima hari. Setelah lima hari, kalau tidak ada gejala atau gejalanya membaik, mereka boleh meninggalkan isolasi dengan bebas. Tidak perlu dites lagi sama sekali! Yang penting terus mengenakan masker apabila bertemu dengan orang lain.

Orang yang baru saja divaksinasi, atau telah mendapatkan booster, bahkan tidak perlu isolasi apabila terekspose dengan virus ini. Yang penting terus mengenakan masker selama sepuluh hari.

Sedangkan mereka yang belum divaksinasi, atau kali terakhir divaksinasi mRNA (Pfizer, Moderna) lebih dari enam bulan lalu (dua bulan kalau divaksin Johnson & Johnson), kalau terekspose virus harus isolasi selama lima hari. Kemudian seperti di atas, terus mengenakan masker lima hari setelah itu.

Catatan penting: Tidak perlu tes antigen atau PCR sama sekali setelah lima hari. Pokoknya tidak ada gejala atau gejalanya membaik, silakan keluar rumah! Dalam hal ini, CDC mengandalkan common sense berbasiskan sains, bahwa setelah lima hari itu risiko untuk dirinya dan orang lain sudah berkurang. Apalagi kalau banyak orang sudah memiliki ketahanan, baik dari vaksin maupun pernah terkena virus ini.

Panduan kebijakan ini memang tidak harus diterapkan di semua negara bagian. Ada yang menerapkan sesuai sama, ada yang membuat tetap lebih ketat (tapi tidak jauh lebih ketat). Kemudian, setiap pemilik atau pengelola usaha/bisnis/organisasi boleh menerapkan aturan sendiri sesuai kenyamanan masing-masing.

Pemerintah federal memberikan panduan. Pemerintah negara bagian dan kota boleh improvisasi. Masyarakat diberi kepercayaan untuk menjaga diri dan lingkungan masing-masing.

Ya, kasus di Amerika baru saja naik lagi karena varian Omicron. Tapi tidak pernah ada kehebohan. Dan sekarang sudah mereda lagi. Prediksinya, gelombangnya akan terus naik turun, tapi terus mengecil. Dan mereka tidak menunggu sampai gelombang kecil. Sekarang sudah tancap gas hidup normal.

Untuk protokol event dan olahraga, seperti disebut di atas, setiap pengelola/penyelenggara boleh menerapkan kebijakan sendiri-sendiri berbasiskan panduan CDC tersebut.

Dua liga terbesar di Amerika, NFL dan NBA, dalam beberapa pekan terakhir memang sempat terganggu dengan kasus pemain yang positif. Bahkan ada beberapa pertandingan tertunda. Namun, tidak ada kehebohan ekstra.

Sama seperti pemerintahnya, NFL dan NBA berani melonggarkan protokol di tengah meningkatnya kasus varian Omicron.

Tidak ada lagi tes harian. Hanya tes harian bagi mereka yang tidak divaksin. Sedangkan bagi mereka yang positif, dalam enam hari sudah boleh kembali lagi ke lapangan kalau tidak ada gejala (atau gejala membaik). Sebelumnya, isolasinya adalah sepuluh hari.

Saya menangkap, ada dorongan --bahkan political will-- untuk menyikapi masalah virus ini menjadi lebih biasa-biasa saja. Toh, tidak ada gelombang kematian atau sakit parah seperti awal pandemi lalu.

Di sisi lain, saya melihat negara seperti Australia. Terus terang, ini negara yang sangat saya suka kunjungi. Dan saya dalam hal ilmu manajemen olahraga banyak dapat ilmu di sana.

Entah kapan saya bisa ke sana lagi. Padahal pengin ke sana lagi nonton balap sepeda WorldTour di Adelaide, nonton Formula 1 di Melbourne. Atau, bertemu teman-teman dan rekanan di industri olahraga di sana. Bahkan, mengirim lagi pemain-pemain muda Persebaya untuk TC dan belajar di sana, seperti pada 2019 lalu (hasilnya termasuk yang sekarang masuk timnas).

Bagaimana mau ke sana. Karantinanya ketat sekali, harus 14 hari di hotel. Saya melihat cerita seorang wartawan Formula 1 senior asal Australia. Bagaimana dia hampir setahun penuh terpaksa tidak bisa pulang. Begitu musim F1 2021 lalu berakhir, dia akhirnya pulang bertemu keluarga, tapi harus lebih dulu karantina di hotel selama 14 hari secara ketat.

Positifnya, hidup di Aussie memang termasuk enak. Tidak perlu pakai masker karena relatif steril. Praktis tidak pernah merasakan gelombang besar seperti banyak negara lain.

Khawatirnya, apakah terlalu steril? Sehingga kelak ketika dunia sudah banyak terbuka, Australia masih kesulitan membuka diri. Dan ketika membuka diri, mereka mungkin harus merasakan dulu gelombang besarnya. Jadi yang lain sudah memerdekakan diri, jangan-jangan Australia masih harus berkutat lagi.

Tapi mungkin saya salah. Semoga saya salah, supaya semua bisa kembali normal dalam waktu tidak berjauhan. Waktu yang nanti akan menunjukkan.

Sebenarnya, saya juga ingin bicara tentang kondisi negeri kita sendiri. Tapi mending tidak usah lah. Yang penting kita semua maunya sama: Segera memproklamasikan kemerdekaan dari pandemi.(azrul ananda)

Comments (18)

Catatan Rabuan

Pandemi Bagi yang Belum Divaksin

Di saat banyak negara sudah punya road map, kita masih terus berkutat dengan debat kusir.

Solusi Pencitraan

Saya khawatir, semua solusi krisis adalah solusi pencitraan. Bukan solusi praktis cepat yang efektif, jelas, dan tegas.

Negatif Menang Probabilitas

Saya tidak punya trik apa-apa untuk mengalahkannya. Tidak ada resep khusus. Tidak ada obat khusus. Tidak ada perjuangan...

Saya Positif

Walaupun setelah divaksinasi orang tetap bisa terinfeksi, saya tetap melihat itu sebagai jalannya. Dan saya tetap menuli...