-1.jpg)
Pada Agustus 2026, saya seperti kembali masuk kuliah. Padahal yang masuk kuliah anak pertama saya, Ayrton.
Selama dua minggu saya dan istri bersama Ayrton di Lawrence, Kansas. Menjalani orientasi, baik untuk anak maupun orang tua. Lalu menjalani kehebohan kecil menyiapkan segala tetek bengek kebutuhannya.
Rasanya seperti saya sendiri yang akan masuk University of Kansas. Kampus yang sebenarnya telah menerima saya pada 1997, namun terpaksa batal karena krisis moneter.
Sekarang, hampir 30 tahun kemudian, Ayrton resmi jadi seorang "Jayhawk". Dan yang membuat saya salut, dan ibunya terharu, Ayrton diterima dengan status beasiswa (dari sana, bukan dari sini).
Padahal, waktu mendaftar, kami sama sekali tidak mengajukan permohonan beasiswa. Asal bisa diterima saja sudah bahagia. Ketika surat konfirmasi itu tiba, bunyinya justru menyebut bahwa Ayrton juga qualified untuk menerima scholarship dari universitas.
Alhamdulillah.
***
Ketika Ayrton masih SMA, sebenarnya mau kuliah di mana masih mengambang. Ivo, istri saya, tidak ingin dia ke Amerika. Ivo khawatir dengan situasi pemberitaan di Negeri Paman Sam belakangan ini. Khususnya terkait politik presidennya.
Sebagai alumnus Amerika, saya tentu senang kalau Ayrton ke sana. Tapi semua terserah Ayrton juga. Saya juga bilang, Amerika itu besar sekali. Setiap negara bagian beda-beda ceritanya. Politik pemerintahnya juga belum tentu sejalan dengan masyarakatnya. Dan masyarakatnya kemungkinan juga geregetan dengan presidennya sendiri.
Tapi, saya juga bilang begini: Kalau memang Ayrton ke Amerika, maka sebaiknya di kawasan Midwest. Di tengah-tengah. Karena di sana lebih tenang, lebih jauh dari segala kehebohan. Saya keberatan Ayrton di pantai barat maupun pantai timur. Walau saya dulu kuliahnya di pantai barat, di California.
Tahun lalu, Ayrton juga sempat diajak lihat-lihat sejumlah kampus di Australia. Tapi begitu kaik-nya (kakek) tahu, sang kaik langsung keberatan. "Ke Amerika saja!" katanya tegas.
Nah, kebetulan, Oktober/November 2025 lalu, Ayrton bersama adik bungsunya Andretti ikut lomba di Universitas Yale, di Amerika. Mereka lolos ronde tertinggi World's Scholars Cup, setelah sebelumnya ikut ronde Indonesia dan ronde global di Kuala Lumpur. Yang dilombakan debat, menulis, dan tantangan akademik lain. Saya dan istri memutuskan bahwa kunjungan itu sekaligus jadi momen lihat-lihat sekolah.
Targetnya masih di kawasan Midwest. Salah satunya --dan yang dilihat pertama-- adalah kampus impian saya dulu: University of Kansas (KU, baca: key-yu).
Kampus itu lokasinya di Lawrence, sekitar 45 menit naik mobil dari Bandara Kansas City. Kunjungan ke sana juga sekaligus mengunjungi bapak-ibu angkat saya waktu jadi siswa pertukaran SMA dulu: John dan Chris Mohn. Selama sekitar sepuluh tahun terakhir, John dan Chris memang tinggal di Lawrence.
.jpg)
Mereka berdua sama-sama sudah pensiun jadi pengajar. Selama 30 tahun terakhir mereka sudah pindah-pindah. Chris sempat tinggal di Madrid, Spanyol, untuk mendapatkan gelar S3 bahasa Spanyol. John sudah belasan kali ke Indonesia, membantu Abah saya mengajar jurnalistik di ratusan media dari Aceh sampai Papua.
John dan Chris sempat pula tinggal di Evansville, Indiana, ketika Chris jadi dosen di sana. Sekitar sepuluh tahun lalu, mereka pulang kampung ke Kansas. Menetap di Lawrence. Chris mengajar Bahasa Spanyol di beberapa universitas, secara langsung maupun secara online.
John memang pensiun duluan. Lahir tahun 1939, Desember 2025 lalu dia merayakan ulang tahun ke-86. Chris sendiri kini berusia 73 tahun.
Di Lawrence, mereka bisa tinggal dekat dengan keluarga putri bungsu mereka, Andrea. Suami Andrea bekerja di KU. John dan Chris membantu Andrea dan suaminya mengasuh dan membesarkan tiga putra mereka.
John juga alumnus KU. Jadi dia sangat bersemangat ketika mendengar Ayrton punya opsi kuliah di KU. Apalagi mengingat saya dulu batal masuk KU. "You were accepted! (Kamu dulu sudah diterima!)" tegasnya.
Chris ikut menyemangati, sekaligus memberi alasan kuat tambahan. "Dengan situasi Amerika sekarang, mungkin memang lebih baik bila Ayrton kuliah di sini. Kalau ada apa-apa, kalian bisa lebih tenang. Karena kalian punya keluarga di sini", ucap Chris.
Catatan: John dan Chris anti banget sama presidennya sekarang. Beberapa bulan lalu mereka bahkan ikut demo di jalan. Wkwkwk...
.jpg)
***
John dengan penuh semangat mengantarkan Ayrton (dan kami) keliling kampus. Dia mengaturkan tur khusus di dua fakultas: Journalism dan Business. Ayrton termasuk anak kreatif, maniak theme park dan hal-hal berbau produksi kreatif. Untuk kesukaan itu bisa terpenuhinya di bawah School of Journalism, di jurusan Media Arts.
Saya juga mendorong dia untuk mengambil jurusan yang mengajarkan skill. Kalau hanya belajar ilmu bisnis, bisa ditunjang dari keluarga dan lingkungan. Kalau mau sekolah bisnis, ambil saja sebagai minor. Major-nya tetap yang mengajarkan skill.
Kampus KU dibangun di tanah tertinggi di Lawrence. Jadi kampusnya di tempat yang berbukit. Dari satu gedung ke yang lain harus naik turun. Karena itulah, anak-anak KU dikenal punya kaki yang kuat.
"Kamu bisa membedakan cewek KU dengan cewek-cewek kampus lain dengan mudah. Cewek KU kakinya toned dan kuat", kata John lantas tersenyum.
Fakultas Bisnis letaknya di bawah bukit. Berseberangan dengan Allen Fieldhouse, gedung basket legendaris Amerika. Kansas dikenal sebagai salah satu kampus dengan tim basket terkuat di Amerika. Sejarah basket sangat kental di negara bagian ini.
Pencipta olahraga basket, John Naismith, memang kali pertama memperkenalkannya saat masih di Springfield, Massachussetts. Tapi dia lantas mematangkan dan menghabiskan masa hidupnya sebagai dosen dan pelatih di KU. Dia juga dimakamkan di Lawrence.
Patung Naismith dibuat tak jauh dari gedung basket. Aturan orisinal bola basket, yang tertulis dalam dua lembar kertas, dengan bangga disimpan dan dipamerkan di kampus KU. Nilainya jutaan dollar, atau bahkan tak ternilai. Salah satu olahraga terbesar dunia dimulai dari dua lembar kertas itu!
Di sisi lain, fakultas Journalism letaknya di atas bukit. Dekat dengan gedung rektorat dan Student Union. Rute kami hari itu: Dari parkiran, ke gedung Journalism, lalu ke gedung Bisnis, lalu kembali ke parkiran. Butuh banyak langkah kaki.
Saat tur berakhir, Ivo dan Ayrton melihat smartwatch masing-masing. Kami telah melangkah lebih dari 10.500 langkah siang itu!
John tampak mulai melamban. Saya pun bilang ke dia: "John, Anda dan Ivo tunggu saja di sini. Saya dan Ayrton yang jalan ke gedung parkir untuk mengambil mobil".
"Terima kasih", kata John. "Tampaknya inilah batas kemampuan badan saya yang sudah tua ini", tambahnya.
Saya menengok ke Ivo, dan kami geleng-geleng kepala. Di usia lebih dari 85 tahun, John masih begitu semangat jalan kaki hingga lebih dari 10.500 langkah. Dan itu naik turun bukit!

***
Ayrton tampaknya sangat terpikat dengan Fakultas Jurnalistik KU. Karena suasananya tidak seperti tempat kuliah. Lebih mirip tempat kerja. Lebih banyak praktek, bukan pelajaran di kelas. Mau komputer editing model apa saja ada. Mau pinjam kamera untuk syuting apa saja ada. Kalau mau, bisa bikin film layar lebar.
Fakultas ini tidak lagi sekadar mengajarkan orang jadi wartawan. Dunia sudah berubah. Sekarang langsung ke arah media production, dalam bentuk apa pun, serta beririsan langsung dengan Fakultas Bisnis seperti Advertising.
Fakultas ini setiap hari punya tayangan TV. Mulai dari News sampai tayangan olahraga dan lain-lain. Semua dikerjakan oleh siswanya. Itu yang bikin Ayrton senang.
%20Large.jpg)
Kalau yang bikin saya takjub: Ada tempat co-working space di mana media-media lokal dikerjakan. Jadi, banyak media-media (koran maupun online) dari kota-kota kecil Kansas yang dikerjakan di KU. Media-media itu, seperti halnya media kota kecil lain di dunia, sedang mengalami masalah eksistensi.
Dengan berkumpul di KU, mereka bisa menghemat banyak biaya operasional. Di sisi lain, siswa KU bisa dapat kesempatan meraih penghasilan tambahan sambil praktek kerja!
Ayrton, yang punya hobi dan kemampuan fotografi, bisa dibutuhkan di situ. "Kami tak pernah henti membutuhkan fotografer", kata pemandu kami.
Bukan hanya itu, KU merupakan salah satu kampus olahraga terbesar di Amerika. Basket yang utama, tapi American Football-nya juga besar. Stadionnya sedang direnovasi besar-besaran. Sekarang kapasitas hanya 32 ribu. Ketika tahun depan selesai akan jadi hampir 45 ribu.
College sports merupakan industri besar di Amerika. Channel-channel televisi terbesar selalu meliput di KU, selalu tayangan langsung di KU. Bahkan sampai ada yang buka kantor cabang di KU. Untuk menunjang kebutuhan produksinya, banyak kesempatan diberikan kepada pelajar KU. Memberi opportunity pengalaman tambahan untuk Ayrton nanti.
%20Large.jpg)
***
Begitu pulang, Ayrton pun mendaftar ke KU. Major di jurusan Media Arts, School of Journalism. Nantinya bisa ada opsi jurusan Bisnis sebagai Minor. Alhamdullilah, nilai SMA-nya oke. Prestasi non-akademik level internasional juga punya. Kemampuan fotografi dan content creation juga mumpuni, tertolong perusahaan tempat ayahnya berkarya.
Awal tahun ini, kabar bahagia itu tiba. Ayrton diterima dengan bonus scholarship. Timing yang istimewa dan sangat membantu kedua orang tuanya. Karena di saat yang sama nilai tukar dollar naik tinggi.
Begitu diterima, Ayrton (dan yang terheboh ibunya) fokus ke persiapan dan pindahan.
Saya sendiri tentu ikut excited. Saya seperti merasakan apa yang tidak bisa saya rasakan pada 1997 lalu, saat krisis moneter membuat saya batal masuk KU. Saya memang tidak pernah jadi Jayhawk. Selama puluhan tahun saya hanya bisa menjadi fans Jayhawks. Tapi sekarang saya jadi ayah seorang Jayhawk. (azrul ananda/bersambung)