
PADA Minggu, 4 Oktober 2026, Indonesia akhirnya benar-benar kenalan dengan "gravel" yang sebenarnya. Event Nggravel Glenmore di Banyuwangi mengenalkan cyclist Indonesia dengan rute yang karakternya menjadi inspirasi kelahiran kategori "sepeda gravel".
Kategori sepeda offroad dengan drop bar itu "lahir" dari para penghobi di Amerika. Negara yang memiliki begitu banyak jalan lebar tak beraspal, sebagai penghubung kawasan-kawasan peternakan dan perkebunan. Jalan lebar yang harus bisa dilewati mobil-mobil besar.
Lomba-lomba gravel di Amerika menginspirasi industri sepeda untuk membuat sepeda khusus untuk itu. Bisa melewati jalanan kasar seperti MTB, tapi bisa melaju lebih cepat seperti road bike. Lahirlah "gravel bike".
Pada perkembangannya, gravel bike jadi bercabang-cabang. Ada yang ekstrem mengarah lebih dekat ke MTB, ada yang lebih dekat ke road. Suka yang mana? Terserah pembuat dan pemakainya. Wdnsdy Bike yang saya dirikan bersama John Boemihardjo filosofinya lebih dekat ke arah road. Brand lain lebih ke MTB. Tapi sama-sama "gravel".
Saking luas dan variatifnya, kalau Anda memasang drop bar pada sepeda MTB Anda, maka sepeda itu langsung bisa dibilang sebagai "gravel bike".

Azrul Ananda (kanan) dan para peserta sudah disambut pemandangan kaki Gunung Raung saat menuju ke start gravel. Cuaca sangat bersahabat.
Lomba-lomba gravel terbesar Amerika juga diselenggarakan di kawasan perkebunan dan peternakan. Areanya luas, rutenya bisa ratusan kilometer, dan minimal gangguan atau mengganggu jalanan umum. Gravel bike bisa berkeliaran bebas dengan cepat, masyarakat umum tidak terganggu.
Unbound Gravel (dulunya Dirty Kanza) di Kansas adalah pionir balapan gravel, dan sekarang jadi balapan terbesar dunia. Balapan besar lain adalah Big Sugar, yang melewati kawasan perkebunan tebu di Bentonville, Arkansas.
Saya, John Boemihardjo, dan Johnny Ray pernah merasakan rute keduanya. Vlog-nya bisa Anda cari di koleksi video Mainsepeda.
Balapan gravel lantas meledak di dunia. Australia punya jalanan mirip Amerika, jadi mereka bisa bikin banyak lomba menarik. Tempat-tempat lain lebih mengadopsi rute MTB lalu beradaptasi dengan rute MTB. Atau mencampur-campurnya dengan berbagai jenis jalan, menjadikannya "Allroad".
Sebelum Glenmore, event gravel di Indonesia pun lebih masuk kategori Allroad tersebut. Ketika saya pergi ke berbagai daerah, teman-teman selalu mengajak saya main gravel di rute yang mengadopsi rute MTB. Banyak single track-nya, banyak bibir jurangnya, dan lain sebagainya.
Seru dan asyik. Kita semua bisa menikmatinya. Event kami di Blitar juga punya rute yang istimewa seperti main rollercoaster di Disneyland. Tapi tetap banyak elemen "MTB", bukan "gravel" seperti makna kelahiran aslinya.

Jalur tanah dan kerikil yang lebar memungkinkan para peserta menggeber kecepatan di sektor itu. Tampak Bart Vreugdenhil dan Noka Wibisono adu sprint mendekati end gravel.
Ketika kali pertama menjajal Glenmore, kami di Mainsepeda langsung punya feeling bahwa inilah "gravel" yang sebenarnya. Setelah kami senggol-senggol rutenya untuk event ultra East Java Journey (EJJ), sudah waktunya Glenmore dijadikan event sendiri.
Setelah kami cek rutenya berulang-ulang, semakin mantap saya merasakan bahwa inilah "Unbound Gravel"-nya Indonesia. Tidak perlu ke Amerika, tidak perlu ke Kansas. Cukup ke Banyuwangi kalau ingin tahu apa itu rute gravel yang "sebenarnya".
Berkali-kali kami sampaikan itu, orang tetap tidak akan bisa memahaminya kalau belum merasakannya sendiri.
Minggu, 4 Oktober lalu, hampir 400 orang akhirnya merasakan apa yang kami maksud selama ini. Rute gravel yang cepat dengan pemandangan yang begitu menakjubkan. Jalanan lebar dengan angin kencang ala Kansas, melewati perkebunan tebu ala Big Sugar. Karakter batu kerikil dan tanahnya tidak jauh dari keduanya.
Partner podcast saya, Johnny Ray, nyeletuk kalau Nggravel Glenmore punya kemiripan lain dengan Unbound di Kansas: Orang harus rela menginap di hotel yang jauh untuk ikut serta. Karena kapasitas penginapan di Glenmore yang terbatas.
Tapi justru itu akan jadi ciri kuat Glenmore: Orang rela menginap jauh demi merasakan rute gravelnya yang menakjubkan! Sama seperti Unbound di Kansas!
Saya suka sekali rangkuman penilaian dari Berry Perdana Putra, salah satu cyclist kuat yang sedang naik daun media sosialnya. Dia menilai Glenmore: "Rute 10/10, Pemandangan 100/10".

Berry Perdana Putra melintasi jalanan yang membelah perkebunan tebu di Glenmore. Ia beri rating view Nggravel Glenmore 2026 100/10.
Nyawa sebuah event, penghargaan dari sebuah pengalaman, esensi dari olahraga bersepeda, memang eksplorasi rute dan pemandangannya! Anda tidak bisa mendapatkan itu kalau gowesnya hanya putar-putar dalam kota.
Nggravel Glenmore, seperti Big Sugar, juga menggunakan kawasan perkebunan tebu. Nggravel Glenmore, seperti Unbound, juga menggunakan jalan-jalan lebar untuk kebutuhan transportasi perkebunan.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Kabupaten Banyuwangi dan masyarakatnya, yang selalu welcome dan proaktif mendukung berbagai event di wilayahnya. Kabupaten itu sudah sangat terbiasa dengan event sepeda, dan masyarakatnya begitu antusias menyambut para peserta berseliweran. Teman-teman peserta pasti merasakannya saat event kemarin.
Kota ini sudah punya balapan UCI, sudah punya event menanjak, sudah punya event downhill. Dan sekarang, Banyuwangi punya balapan gravel yang mungkin bakal jadi yang terbaik di Indonesia.
Terima kasih juga PG Glenmore. Terima kasih mengizinkan teman-teman sepeda Indonesia bermain-main di wilayahnya. Manajemen PG Glenmore punya ide bagus Minggu kemarin. Kalau tahun depan ada lagi, sehari sebelumnya mereka mengusulkan ada gowes yang lebih wisata, bisa melihat dan belajar langsung segala proses produksi di sana. Ide yang menarik sekali!
Bagi saya pribadi, Nggravel Glenmore kemarin memberi kebahagiaan ekstra. Sekitar sepuluh bulan setelah operasi total knee replacement (ganti lutut, baca di sini), akhirnya saya bisa bersepeda dengan "proper" kembali.

Tak hanya perkebunan, peserta juga diajak membelah hutan yang rindang menuju CP2. Dengan medan berbatu, segmen itu disukai karena menantang.
Akhirnya saya bisa menuntaskan rute 100 km praktis nonstop, dan bisa menyelesaikannya jauh lebih cepat dari harapan sendiri. Saya berharap bisa finish lima jam, ternyata bisa finish 4 jam dan 27 menit. Peringkat 39 overall, peringkat 7 di kategori gravel bike usia 45+.
Saya memakai Wdnsdy Journey Titanium EVO, dengan ban 45 mm. Sepanjang rute saya menghabiskan lima gel Strive, satu bidon isi minuman karbo, dan tas hydration berisi air 1,5 liter. Saya hanya minum satu botol Mizone di check point kedua di km 65. Perut saya yang super sensitif memang kembung (wkwkwk), tapi saya tidak bonking sama sekali.
Rute luar biasa, cuaca sangat mendukung, teman-teman yang tampak enjoy semakin menambah semangat. Badan saya juga mulai "beroperasi" kembali seperti sebelum ganti lutut. Alangkah bahagianya!

Azrul Ananda menunjukkan kondisi lutut kanannya yang baru dioperasi 10 bulan yang lalu.
Selama 15 tahun menjalani hobi sepeda, tantangan terbesar adalah ketika harus fight mengembalikan kondisi setelah sakit, cedera, atau liburan panjang. Semua cyclist serius tahu ini. Pernah merasakan ini.
Kita baru akan tahu kondisi kita sudah kembali atau tidak saat diberi tantangan besar. Alhamdulillah, tanda positif itu saya rasakan di Glenmore. Di Banyuwangi, salah satu kota favorit saya untuk bersepeda (selain Manado).
Semoga teman-teman yang ikut Glenmore juga merasakan kebahagiaan. Setiap orang kebahagiannya bakal beda-beda. Tapi semoga semua jenis kebahagiaan itu mengarah ke hasil yang sama: Semakin bersemangat lebih menekuni hobi yang luar biasa ini!
Terima kasih semua, terima kasih Glenmore! (azrul ananda)