
Penjualan barang momen masuk kuliah bisa mengalahkan penjualan masa Natal. Seluruh kota penuh dengan pengunjung dan pengantar, sehingga butuh manajemen khusus untuk mengatur alur kendaraan.
Begitulah sebuah college town di Amerika. Khususnya di Lawrence, negara bagian Kansas. Tempat berdirinya University of Kansas (KU) sejak 1865. Penduduknya tercatat 95 ribu orang. Sebanyak 31 ribu di antaranya adalah siswa KU.
***
Saya dulu kuliah di kota besar. Di ibu kota California. Bukan kota yang benar-benar "besar", tapi kota besar. Jadi, kehebohan momen masuk kuliah hanyalah "riak" di antara kesibukan harian kota.
Beda sekali dengan Lawrence. Kota yang jantung hidupnya adalah KU (baca: key-yu). Sepertiga warganya adalah siswa KU. Mayoritas pekerjaan warganya terdampak langsung dari KU. Baik itu bekerja di kampus dan afiliasinya, atau bekerja di usaha-usaha yang nasibnya bergantung pada kehidupan kampus.
Istri dan saya merasakan hectic itu pertengahan Agustus lalu, saat mengantarkan putra pertama saya, Ayrton, masuk kuliah di KU.
Segala proses administrasi sudah beres. Walau di Lawrence ada John dan Chris Mohn, yang bisa dibilang sebagai "grandpa dan grandma", Ayrton dianjurkan tinggal di kampus. Di dormitory (dorm).
"Supaya dia bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan kampus sekaligus mendapatkan teman sebanyak mungkin", kata John dulu.
Karena statusnya freshman (maba), Ayrton tidak bisa mendapatkan dorm impiannya. Kalah urutan memilih, para freshman rata-rata mendapatkan dorm yang "sisa". Bagi kami orang tua, itu artinya dorm yang lebih murah, alias lebih baik. Satu kamar isi dua orang, kamar mandi communal alias berbagi di lantai yang sama.
Kami sebagai orang tua hepi-hepi saja. Hemat uang lebih banyak lagi. Setahun lagi Ayrton baru boleh memilih dorm baru.
Pemilihan roomate pun unik. Para siswa di-matching-matching-kan secara sistem, lalu harus chat sendiri-sendiri untuk menemukan kecocokan. Ayrton dapat roomate unik, tapi klop. Roomate Ayrton ini bapaknya bule New York, ibunya Melayu Kuala Lumpur dan berjilbab. Tapi mereka tinggal di Australia. Benar-benar kehidupan global citizen!
.jpg)
Roomate Ayrton juga muslim, agak melegakan istri saya. Mereka bisa janjian salat Jumat bareng di Islamic Center, yang letaknya tinggal jalan kaki menyeberang dari gedung basket dan/atau gedung bisnis KU.
Ketika keluarga saling bertemu sebelum masuk ke dorm, pertanyaan kami sama: Kenapa memilih masuk KU.
Kalau saya, karena saya dulu SMA di Kansas dan ada bapak ibu angkat saya di Lawrence, plus KU punya jurusan Media Arts yang bagus, yang sangat diminati Ayrton.
Kalau mereka, karena KU dianggap sangat memperhatikan putranya saat segala proses pendaftaran. Lebih dari kampus-kampus lain.
.jpg)
***
Dua minggu sebelum masuk kuliah, masa orientasi diselenggarakan. Seminggu pertama untuk siswa-siswa internasional. Baru seminggu kemudian seluruh siswa baru.
Saat proses itu saya melihat pemandangan yang tidak familiar. Dari 300 lebih siswa internasional baru, sedikit yang dari Asia. Kontras dengan kalau sekolah di pantai timur, apalagi di pantai barat.
Para orang tua/pengantar siswa internasional juga diberikan orientasi sehari. Di situ saya menyadari kalau kebanyakan datang dari Eropa atau Amerika Latin.
Di KU saat ini, total hanya ada lima pelajar dari Indonesia. Untuk angkatan yang masuk Fall (musim gugur) 2026 ini, hanya Ayrton satu-satunya dari Indonesia. Dalam hati saya berkata: "Bagus!".
Ayrton (dan semua pelajar KU) baru boleh masuk dorm beberapa hari sebelum kuliah hari pertama. Jadi selama dua pekan orientasi itu, Lawrence ramai luar biasa. Manusianya bertambah drastis, karena ada banyak orang tua/keluarga pengantar ikut berada di sana.
Semua harus menyiapkan segala kebutuhan. Mulai dari mendaftar rekening bank, hingga membeli segala tetek-bengek kebutuhan sehari-hari. Tempat-tempat perbelanjaan serba ada seperti Wal-Mart dan Target ramai luar biasa. Isinya keluarga pelajar belanja kebutuhan kamar. Dari sprei sampai kulkas mini dan microwave.
Saking ramainya, Target sampai menyediakan musik dan DJ untuk menghibur para shopper. Dengan tulisan di depan meja DJ: Selamat datang pelajar KU!
Siapa cepat dia dapat. Ketika kami kembali ke Wal-Mart dan Target hanya dua hari sebelum pindahan, banyak barang sudah kosong! Ratusan kulkas mini yang sebelumnya menempel di dinding besar dekat kasir Target hanya tersisa empat atau lima biji!
"Bagi kami, masa masuk kuliah ini lebih ramai daripada masa belanja untuk Natal", kata seorang petugas di Target yang kami kunjungi.
Pihak KU memang memiliki regulasi ketat tentang barang yang boleh dibawa ke dalam dorm. Jenis elektronik, ukuran perabot, semua ada regulasinya. Barang-barang sesuai regulasi itulah yang disiapkan oleh toko-toko besar seperti Wal-Mart dan Target.
Keluarga saya dan roomate Ayrton berbagi belanja. Kami beli A, mereka beli B. Toh dipakai bersama.
Pengalaman belanja itu benar-benar asyik. Kapan lagi belanja ditemani musik dari DJ!
.jpg)
***
Manajemen pindahan pelajar benar-benar matang di KU. Ketika ribuan pelajar kembali masuk tinggal di kampus, manajemennya harus benar-benar jago untuk mengatur flow kendaraan dan barang-barang.
Ada beberapa gedung dorm di kampus. Setiap gedung punya jadwal sendiri. Setiap warga gedung dipisahkan jam pindahannya. Jadi tidak ada kemacetan dan kericuhan.
Gedung Ayrton dapat jatah hari Sabtu (Senin masuk kuliah). Mobil kami harus menaruh kertas bertuliskan kode yang harus kami print sendiri. Mobil lantas tidak boleh langsung menuju gedung dorm. Harus ke parkiran luas gedung pertunjukan, sekitar 1,5 km dari kampus.
Di sana sudah dibuatkan alur antrean mobil. Gedung A baris di jalur A, Gedung B baris di jalur B. Ada banyak volunteer, terdiri atas staf atau pelajar KU, yang kemudian mengarahkan mobil-mobil itu ke jalurnya. Polisi hanya perlu menjaga perempatan jalan utama. Sisanya diatur warga kampus sendiri.
Kalau antrean mobil panjang, para volunteer itu mendatangi mobil satu-satu dan menawarkan air minum. Sambil small talk ramah khas Kansas.
Tiba waktu mobil kami menuju gedung dorm. Sampai di depan lobi, sejumlah volunteer sudah siap menyambut dengan gerobak-gerobak besar. Mereka membuka bagasi mobil, mengeluarkan segala isi barang dengan gercep, lalu membantu Ayrton dan istri saya naik ke lantai tempat kamar Ayrton berada.
.jpg)
Saya tidak boleh turun. Saya harus langsung memindahkan mobil ke parkiran. Baru saya boleh kembali ke gedung untuk membantu.
Total, tidak sampai dua menit saya berhenti di depan lobi. Padahal isi mobil kami ada banyak barang besar! Anak-anak bule ini memang gercep kalau disuruh kerja! Ayrton sampai bingung mau angkat apa, karena barang-barang sudah mereka angkat semua.
Saya kemudian sempat khawatir harus jalan jauh. Karena parkir mobil memang "dibuang" ke kawasan terjauh. Saya paham maksudnya, supaya tidak menciptakan kemacetan dan keramaian di kompleks kampus.
Tapi ternyata KU sudah memikirkan para bapak yang harus jalan kaki kembali ke dorm. Di kawasan parkir itu ada sejumlah tenda. Di sana kita disuguhi minuman dan makanan ringan. Termasuk favorit saya: Glazed donut. Juga dibagikan suvenir-suvenir kecil gratis. Seperti botol minum berlogo KU, lanyard, tas laundry, pulpen, dan lain-lain.
Saya juga tidak perlu jalan kaki kembali ke dorm. Yang bukan hanya relatif jauh, tapi juga menanjak bukit. Di sana, KU sudah menyiapkan bus-bus kampus untuk mengantar kami kembali ke kompleks kampus, turun di dekat kawasan dorm yang kami tuju.
Dalam hati, saya sangat takjub. "Ini namanya manajemen. Kalau anak-anak ini sudah bisa diajarkan manajemen dan mengeksekusi sebaik ini saat kuliah, mereka pasti akan mudah sekali menunjukkan kemampuan saat kelak bekerja", begitu ucap saya dalam hati.
Mohon maaf, di Indonesia, walau banyak kampus besar bernama besar, tapi penataan keindahan dan kerapiannya jauh dari "cakep". Padahal, kampus adalah tempat pelajar untuk mendapatkan sesuatu yang bisa mereka terapkan ketika kerja nanti. Kampusnya kotor, kerjanya bisa ikut kebiasaan kotor juga.
Ada pelajaran dari rumah, ada pula pelajaran dari sekolah bukan?
Anyway, hanya setengah hari, semua barang sudah masuk kamar dorm. Bahkan, semua perabot dan pakaian sudah ditata rapi. Selesai. Lebih cepat dari yang kami perkirakan. Paling tinggal beli barang kecil satu-dua, gampang.
Saya sebenarnya tidak terlalu pusing. Ayrton bisa beresin sendiri segala kebutuhannya. Tapi seperti biasa, ibunya yang lebih heboh. He he he...
***
Tiba waktunya bagi saya dan istri untuk pulang ke Indonesia. Istri saya sampai menangis (tentu saja!). Tapi memang sudah waktunya.
Ayrton sekarang akan menjalani babak baru hidupnya.
.jpg)
Mau ke depan jadi apa, saya tidak menargetkan atau membebani apa-apa. Abah saya di Surabaya, alias kaik (kakek) Ayrton, juga tidak memberi wejangan apa-apa. "Ayrton sudah dewasa. Ayrton tahu harus berbuat apa saja", begitu kata sang kaik sebelum cucu laki-laki pertamanya itu berangkat.
Saya hanya mengingatkan apa yang selama ini diajarkan Abah saya/kaik Ayrton. Kalau mengerjakan sesuatu, lakukan sepenuh hati. Lakukan dengan total. Lakukan sampai mentok. Hasil akan datang sendiri.

Masa depan kita tidak tahu akan bagaimana. Setiap orang punya masa dan tantangan yang berbeda. Yang penting kita menaruh titik-titik baik (dots) yang diharapkan bakal menyambung indah ke depan. Ayrton is a smart boy. He knows what to do.
Sebagai penutup, saya ingin mengutip ucapan Superman (bocah Kansas) dari film Superman Returns. Ucapan yang dia sampaikan kepada anaknya di akhir film tersebut. Bunyinya:
"Kamu akan jadi orang yang berbeda. Kadang kamu akan merasa seperti orang yang tersisihkan. Tapi kamu tidak akan pernah sendirian. Kamu akan menjadikan kekuatanku sebagai kekuatanmu. Kamu akan melihat hidupku dari matamu, seperti aku melihat hidupmu dari mataku. Anak menjadi ayah dan ayah menjadi anak". (azrul ananda/habis)
