
Awal November 2026 ini, pendulum politik Amerika Serikat kembali berayun keras. Hasil Midterm Elections (Pemilu Sela) menunjukkan kalau warga Amerika menginginkan perubahan besar, memberikan kemenangan besar untuk Partai Demokrat. Tapi apakah ini akan jadi ayunan yang terlalu keras, atau ayunan "pas" yang akhirnya membawa masyarakatnya kembali bersama di "tengah yang besar"?
Dalam sepuluh tahun terakhir, melihat ayunan pemilu di Amerika itu seperti melihat pertandingan tenis saat rally panjang. Kalau duduk di samping lapangan, kepala kita menoleh ekstrem ke kanan, ke kiri, ke kanan, dan sekarang bersiap ke kiri lagi.
Saat Donald Trump dan Partai Republik menang 2016, bola jauh di kanan. Banyak tidak puas, Joe Biden dan Demokrat menang pada 2020. Bola jauh di kiri. Banyak merasa bablas ke kiri, Donald Trump dan Republik menang lagi pada 2024.
Tanda-tandanya, pada pemilihan 2028 nanti ayunan kembali ke kiri. Dan itu bisa jadi ayunan yang maut. Hanya waktu yang akan kembali menunjukkan, apakah ayunan ini terlalu jauh ke kiri atau cukup menjadi smash keras mematikan tapi tidak jauh dari net.
Apalagi faktor yang "menyatukan" kanan dan kiri kali ini sangat kuat: Masalah ekonomi. Biaya BBM yang begitu tinggi. Biaya belanja makanan begitu tinggi. Biaya tempat tinggal yang semakin melambung. Plus biaya kesehatan yang semakin ajaib.
Memang, pendulum mengayun sudah biasa terjadi. Ronald Reagan dan George Bush itu Republik, penggantinya Bill Clinton itu Demokrat. Kemudian George W. Bush itu Republik, digantikan Barack Obama yang Demokrat. Baru kemudian Trump-Biden-Trump.
Namun, sebelum Trump-Biden-Trump, semua pada dasarnya masih di "tengah". Argumen dan perdebatan selalu ada, cara agak berbeda, punya kepentingan sendiri-sendiri, tapi pada dasarnya masih mengejar tujuan yang sama.
Misalnya dalam hal politik identitas. Saya sekolah di sana di era Bill Clinton. Kemudian sering bolak-balik saat era George W. Bush (dan sebenarnya setiap tahun sampai sekarang).
Di zaman sekolah dulu, siswa selalu diajarkan kalau Amerika itu seperti "a bowl of salad" alias semangkuk salad. Bukan "melting pot" atau kuali peleburan. Kenapa semangkuk salad lebih pas, karena dalam mangkuk itu setiap komponen sayur tidak berubah wujud. Selada tetap selada, wortel tetap wortel, tomat tetap tomat. Tapi bersama bisa memberi rasa dan manfaat luar biasa. Tidak seperti "melting pot", yang berarti semua harus dilebur menjadi sesuatu yang seragam.
Silakan jadi Muslim, silakan jadi Yahudi, silakan jadi LGBT. Tapi saling toleransi dan jangan saling mengganggu satu sama lain. Pada era Bill Clinton bahkan ada ungkapan menarik untuk menyebut boleh tidaknya LGBT masuk militer: "Don't ask, don't tell". Jangan ditanya, jangan mengaku. Biasa saja.
Saat zaman Bush setelahnya, juga tidak ada perubahan signifikan.
Zaman Clinton ramai soal dia selingkuh, zaman Bush soal perang untuk menyikapi serangan 11 September 2001.
Kemudian Obama menang, dan Amerika masih di tengah. Pidato kemenangan Obama jelas: Presiden untuk semua. Zaman dia, yang paling ribut adalah soal akte kelahirannya asli atau palsu. Karena menurut undang-undang, presiden Amerika harus lahir di tanah Amerika.
Lalu Trump menang pada 2016. Dengan janji-janji ekonomi. Membuat Amerika hebat lagi, makmur lagi. Janji mengedepankan Amerika ini termasuk mengetati imigrasi, serta lebih transaksional dalam hal perdagangan internasional.
Merasa Trump terlalu ekstrem, Biden yang menang 2020. Dengan janji "menyembuhkan Amerika". Namun, di era Biden, politik identitas menjadi hal yang meresahkan banyak orang di sana. Apalagi gender politics. Yang kiri menjadi terasa terlalu kiri. Ketika ekonomi dianggap oke, banyak orang resah dengan perdebatan tentang ada berapa banyak gender, tentang mengajarkan LGBT di sekolah, dan lain-lain.
Pendulum kembali mengayun. Trump menang 2024, salah satu faktor besar, karena gender politics tersebut. Partai Republik memang latar belakangnya lebih konservatif, dengan dukungan kuat gereja-gereja. Waktu itu, lebih baik memilih Trump daripada urusan gender makin tidak karuan.
Karena itu, salah satu hal yang ditegaskan Trump setelah dilantik adalah: Hanya ada dua gender, laki-laki dan perempuan.
Tahun ini, hanya dua tahun kemudian, pendulum mengayun keras lagi. Kebanyakan warga Amerika gerah lagi dengan kebijakan-kebijakan Trump. Problem ekonomi lah yang bisa menyatukan semua.
Saat Midterm Election, Trump dan orang-orangnya kembali mencoba menggunakan strategi 2020 dan 2024. Menakut-nakuti tentang isu ancaman warga pendatang dan lain-lain. Tapi rupanya tidak mempan lagi.
Demokrat menang telak di Pemilu Sela.
Di Amerika, Pemilu Sela sangatlah penting. Berlangsung di tengah-tengah pemerintahan seorang presiden. Yang dipilih sangat penting, menunjukkan arah pemilihan presiden berikutnya.
Di Pemilu Sela, 435 kursi House of Representatives (DPR) ditentukan. Di Pemilu Sela, sepertiga kursi (33 atau 34 dari 100) kursi Senate (Senator, DPD) ditentukan. Di Amerika, Senator sangat berpengaruh, ikut punya wewenang membuat undang-undang. Senator di Amerika masa kerjanya enam tahun, jadi pemilihannya bertahap bergantian.
Bukan hanya itu, Pemilu Sela juga memilih 36 gubernur dari total 50 negara bagian.
Demokrat berhasil menguasai DPR dan DPD pada Midterm Election 3 November lalu. Demokrat bahkan berhasil meraih hasil bersejarah. Merebut negara bagian-negara bagian yang dalam sejarahnya dikuasai Republik.
Misalnya di Kansas. Lewat Adam Hamilton, Demokrat merebut kursi Senat yang sudah dikuasai Republik selama 94 tahun!
Yang paling dahsyat di Texas. Gina Hinojosa menjadi gubernur Texas pertama yang berdarah Latin, mengalahkan incumbent Greg Abbott. Ini adalah kali pertama Demokrat meraih kursi gubernur Texas sejak 1990!
James Talarico juga menjadi senator Demokrat pertama mewakili Texas sejak 1988!
Dan, yang mungkin paling viral di Indonesia atau negara-negara mayoritas Muslim: Abdul El-Sayed, seorang dokter, menjadi senator Muslim pertama dalam sejarah Amerika. Dia menang di negara bagian Michigan.
Asal tahu saja, Michigan sekarang punya dua senator. Abdul El-Sayed baru dipilih, dan sebelumnya sudah terpilih Elissa Slotkin. Jadi, Michigan sekarang punya duet senator Muslim dan Yahudi, yang harus berjuang bersama mewakili dan memajukan daerahnya! (Catatan: Trump menang di Michigan pada 2016 dan 2024).
Hasil Midterm Election ini menunjukkan kalau negara bagian seperti Texas dan Kansas mau bergeser ke tengah. Pemilihan presiden 2028 tampaknya akan menjauhi lagi ke-ekstrem-an yang sejauh ini dilakukan Trump.
Yang menjadi pertanyaan, apakah nanti pendulumnya kembali mengayun terlalu jauh ke kiri. Ketika isu utama adalah ekonomi, apakah kecenderungan politik Demokrat untuk lebih "sosialis" bisa benar-benar diterima?
Ataukah segala sesuatu di dunia ini sudah begitu terpolarisasi, sehingga sudah tidak ada lagi yang namanya "bersama di tengah"? (azrul ananda)