Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Setelah sembilan tahun, saya akhirnya kembali meliput Formula 1. Bersama Mas Dewo Pratomo, kami berduet lagi sebagai jurnalis-fotografer di Grand Prix Singapura 2026, yang berlangsung 9-11 Oktober lalu.

Kami terakhir kali berduet dan meliput secara resmi di Malaysia tahun 2017. Sejak saat itu tentu pernah hadir dan nonton langsung di balapan lain, tapi sebagai peliput resmi kali terakhir memang sembilan tahun lalu!

Benar-benar nostalgia yang khas liputan F1 serius: Asyik sekaligus sangat melelahkan. Yang istimewa lagi: Mas Dewo merayakan ulang tahun ke-61 pas hari lomba. Sebuah kesenangan dan kebanggaan ekstra bisa bareng partner liputan terlucu ini selama lebih dari 25 tahun!

Tulisan ini akan saya dedikasikan ke Mas Dewo. Betapa dia yang selama puluhan tahun menjaga api kesukaan saya terhadap F1, salah satu yang menghibur saat saya benar-benar butuh hiburan!

***

Kita flashback dulu.

Entah berapa puluh grand prix Formula 1 sudah saya hadiri, sejak kali pertama berangkat sendirian nonton di Kanada tahun 1997. Mayoritas tentu saja sebagai peliput untuk media cetak yang dulu saya handle.

Kalau niat dan serius, liputan F1 itu capeknya minta ampun. Berhari-hari, pagi sampai malam, berkutat di sirkuit berburu cerita dan foto untuk disampaikan. Panas, banyak jalan kaki, dan siap makan hati kalau planning berantakan.

Walau capek, saya menganggapnya sebagai healing. Liputan F1, walau notabene masih "bekerja", adalah "liburan" saya dari kesibukan pekerjaan yang utama. Juga "liburan" dari keluarga, he he he...

Selama akhir pekan F1, saya benar-benar bisa fokus pada sesuatu yang begitu saya sukai sejak masih SMP. Sejak kali pertama nonton tayangan langsung Grand Prix Monaco 1992 di layar TV.

Saya pertama kali resmi meliput F1 (dengan akreditasi dari FIA) pada 2001. Di periode yang sama, saya juga mulai rutin jadi komentator tayangan F1 di televisi. Kalau jadi penulis F1 adalah impian saya sejak kecil, dan mungkin bakat turunan dari orang tua, maka kalau jadi komentator F1 tidak lepas dari adanya seorang Dewo Pratomo.

Ceritanya begini.

Tahun 2000, saya pulang ke Indonesia. Mas Dewo ternyata rutin membaca tulisan dan analisis saya, dan dia rajin menyelenggarakan acara nonton bareng F1 di Surabaya bersama radio tempat dia bekerja waktu itu.

Itu zaman F1 sedang booming juga, saat seru-serunya Ferrari versus McLaren, Michael Schumacher versus Mika Hakkinen.

Pada acara nonton bareng tahun itu, Mas Dewo mengundang saya ke acaranya. Diminta memberi penjelasan analisis dan berbincang dengan teman-teman F1 Mania yang hadir. Zaman itu internet belum seperti sekarang, mencari informasi tentang F1 masih butuh komitmen mencari.

Kebetulan, waktu itu harus nonton bareng via saluran parabola. Dari Hongkong. Dan ternyata, audio English-nya error. Jadi tayangannya "bahasa kungfu". Mas Dewo mengambil inisiatif cepat, mengambil mic dan mengajak saya terus ngobrol sepanjang lomba, menjadi komentator untuk ratusan teman F1 mania yang hadir.

Jadilah kami berdua duet presenter dan komentator dadakan. Di acara nonton bareng.

Ternyata, orang cocok dengan gaya kami. Satu serius, satu celetukannya selalu out of the box, out of this planet. Acara nonton bareng kami selalu ramai, bahkan kami diundang ke kota-kota lain.

Mas Dewo juga punya acara Saturday Morning Show di radionya. Sabtu sebelum lomba F1, selalu ada acara membahas F1. Saya hadir, lalu bicara F1 dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pendengar. Skill broadcasting saya terlatih di acara tersebut. Apalagi Mas Dewo ini asli celetukannya bisa bikin mobil mengerem mendadak. Bukan karena sopirnya tertawa. Tapi karena mobilnya ikut tertawa!

Kami lantas bersahabat lagi dengan almarhum Ekies, yang lewat Lily Tour-nya menyelenggarakan nonton bareng ke sirkuit. Malaysia, Tiongkok, Bahrain, Hungaria, dan lain-lain. Kami bertiga pun sering pergi bareng. Saya sekalian meliput, Ekies meng-organize perjalanan, dan Mas Dewo bagian menghibur.


Beberapa momen bersama almarhum Ekies 'Lily Tour'.

Waktu itu, saya sebenarnya sudah satu dua kali diundang jadi komentator di TV. Namun masih dianggap anak ingusan he he he... Banyak yang lebih tua lebih rutin mengisi.

Nah, inilah ucapan "usaha tidak mengkhianati hasil" kembali terbukti. Juga ucapan Abah saya: "Kalau suka sesuatu lakukan maksimal. Hasil akan datang sendiri".

Dalam acara nonton F1 yang diatur Ekies, ternyata ada direktur marketing sebuah perusahaan otomotif yang ikutan. Dan dia rupanya suka dengan gaya saya menjelaskan tentang F1. Mas Dewo juga terus membantu mengompori, hingga akhirnya jalan permanen ke TV terbuka.

Brand mobil itu jadi sponsor utama tayangan F1 di TPI. Dan mereka meminta supaya saya yang jadi komentatornya. Sejak saat itu, saya sangat rutin jadi komentator di TV. Khususnya berpasangan dengan Feni Rose sebagai presenter.

Tidak terasa, saya terus menjadi komentator F1 di TV hingga 2012. Setelah itu saya selalu menolak. Sudah tidak ada waktu lagi.

Padahal, waktu itu channel internasional yang menayangkan F1 di Asia Tenggara juga meminta saya jadi analis/komentator. Dalam bahasa Inggris. Saya juga tolak, karena saya tidak mungkin bisa ke studio di Singapura setiap Jumat sampai Senin.

Selama aktif di TV itu, saya juga berkali-kali menolak tawaran jadi komentator MotoGP. Sesekali saya memang liputan dan menulis MotoGP, jadi waktu itu sebenarnya masih lumayan kuat di dua bidang.

Saya menolak MotoGP karena saya ingin jadi orang yang fokus. Saya ingin tetap di jalur F1 saja. Toh saya juga belum tentu punya waktu untuk dua-duanya. Yang saya tahu, waktu itu ada orang Italia yang kemudian mengisi jadi komentator.

***

Walau tidak lagi aktif di TV, saya tetap berusaha meluangkan waktu untuk liputan F1 di sirkuit minimal setahun 1-2 kali. Khususnya kalau lombanya dekat seperti Australia dan Malaysia. Sesekali ke Eropa atau Amerika, kalau pas jadwal dengan acara lain.

Seperti saya sebut di atas, liputan F1 adalah healing saya.

Nah, selama puluhan kali liputan itu, saya sering mengajak Mas Dewo. Awalnya beliau jadi penonton, karena saya bersama fotografer lain. Tapi pada akhirnya sering mengajak Mas Dewo sebagai partner liputan.

Mas Dewo sendiri sebenarnya hobi motret. Awal-awal pergi ke F1 dia lebih bertugas mengabadikan momen-momen atau hal-hal di luar area teknis. Seperti di kawasan penonton. Mas Dewo juga sebenarnya punya skill lumayan (bagus). Tapi yang mahal itu "mata usil"-nya. Selalu saja menemukan hal-hal unik yang out of the box.

Plus Mas Dewo punya nilai tambah yang tidak punya pesaing: Orangnya selalu menghibur! Kalau liputan sama Mas Dewo pasti tidak bosan. Ada aja tingkah dan kelakuannya yang membuat segala rasa lelah hilang!

Liputan F1 jadi benar-benar seperti healing yang menghibur, walau lelahnya luar biasa! Kalau mau ditulis, tingkah Mas Dewo itu bisa dibuat berseri seperti cerita Harry Potter!

Pada 2017, kami seharusnya liputan bersama terakhir di Sepang. Momennya bagus. Waktu itu adalah "GP Malaysia" yang terakhir, karena pemerintah Malaysia sudah tidak mau lagi membayar hak mahal untuk menggelar F1.

Selain itu, pada 2017 itu saya mulai beralih fokus ke perusahaan sendiri, DBL Indonesia, sekaligus klub sepak bola Persebaya. Fase media sudah berakhir, berlanjut ke fase berikutnya.

Tapi karena memang dasarnya "F1 freak", pada akhirnya kembali lagi...


Bersama Mas Dewo liputan terakhir di GP Malaysia, saat itu sempat bertemu Sebastian Vettel.

***

Antara 2018-2026, saya sebenarnya sesekali ke sirkuit F1. Tapi sebagai penonton atau memenuhi undangan tertentu. Seperti di Australia awal 2026 ini, nonton F1 sekaligus menghadiri konferensi olahraga pemerintah Victoria.

Mulai 2021, saya juga memulai podcast Mainbalap. Awalnya iseng, karena waktu itu kita semua pada bengong dampak pandemi. Kebetulan perusahaan saya punya kemampuan bermedia yang kuat, jadi daripada menganggur kami membuat beberapa podcast.

Karena saya bukan orang lucu, partner saya harus lucu. Siapa lagi kalau bukan Mas Dewo! Kalau dulu dia yang mengajak saya siaran di radio, sekarang saya yang mengajak dia syuting podcast. Dengan gaya yang sama seperti di radio tahun 2000 dulu.

Tidak terasa, lima tahun sudah podcast mingguan kami hadir. Konsisten. Sesuka kami. Tidak FOMO-FOMO-an. Kami menampilkan F1 dengan gaya "tradisional" kami, yang secara natural juga menjaga nilai-nilai standar jurnalistik.

Alhamdulillah, podcast kami juga konsisten audiens-nya. Banyak penawaran-penawaran komersial datang, tapi kami tidak bisa memenuhi. Karena ini memang podcast hobi, yang hanya kami isi ketika ada waktu senggang. Menurut guyonan Mas Dewo: "Wong saya sudah menganggur".

Kemudian muncul undangan dari Singapore Tourism Board (STB). Agar kami hadir di GP Singapura 2026. Saya pun bilang, kalau ke sana, saya ingin meliput lagi. Tapi saya hanya mau meliput kalau bersama Mas Dewo!

Alhamdulillah, weekend kemarin (9-11 Oktober) saya dan Mas Dewo kembali turun gunung. Untung FIA dan F1 masih ingat kami, jadi masih bisa mendapatkan akreditasi media resmi. Kali ini lewat media Disway.

Mas Dewo ini belakangan orangnya lebih waswas soal jantung. Istrinya juga super careful. Jadi sebelum berangkat, Mas Dewo beli smartwatch untuk memantau detak jantungnya saat liputan. Wkwkwk... Kalau mencapai angka tertentu, jam akan bergetar dan dia harus rehat sejenak.

Antusiasme dan kelincahan Mas Dewo sekarang ada remnya.

Jadi saya sampaikan ke Mas Dewo, jangan terlalu ter-pressure untuk mendapatkan semua momen di liputan kali ini. Lebih enjoy saja. Lebih taktis dalam memilih lokasi dan momen foto. Toh kita dari dulu tidak mungkin bisa mengalahkan kantor berita yang seolah punya fotografer di semua tikungan.

Kita enjoy liputan ini semaksimal mungkin.

Toh kita sudah tidak perlu pengakuan dan eksistensi. Tidak perlu pamer kalau kita di paddock. Tidak perlu soksokan kalau kita ada di dalam F1. Kita di sini untuk menyampaikan GP Singapura dan tetek bengeknya. Bukan untuk pamer kalau "Ini lho kita di sini!" seperti kebanyakan "influencer/content creator".

Apalagi kali ini, kita menyampaikannya tidak murni lewat tulisan dan foto saja. Ada vlog dan podcast pula. Kita bisa menceritakan F1 dan GP Singapura dengan cara yang lebih komplet. Bukan menceritakan kenapa kita di F1 dan di Singapura.

Buat yang punya minat di dunia media, pikirkan baik-baik perbedaan itu. Media yang sebenarnya adalah yang mengangkat pihak lain, bukan mengangkat dirinya sendiri. Kalau kita mengangkat pihak lain, maka kita secara otomatis juga ikut terangkat bersama mereka...

***

Senang rasanya bisa kembali meliput resmi F1. Dan menjadi paling menyenangkan karena kembali melakukannya bersama Mas Dewo.

Pada Minggu, 11 Oktober, pas saat lomba, Mas Dewo merayakan ulang tahunnya ke-61. Sebuah ulang tahun yang istimewa.

Ending liputan pun istimewa. Selama liputan, kami sama sekali tidak berpikir untuk mengejar foto bareng atau minta tanda tangan. Koleksi kami sudah begitu banyak dari belasan tahun meliput F1 dulu.


Di Melbourne 2015, saat itu debut Max Verstappen di F1.

Dasar rezeki anak soleh. Menjelang tengah malam, saat berjalan meninggalkan paddock, ada Fernando Alonso berjalan ke luar di saat bersamaan.

Karena sudah di luar paddock, Mas Dewo pun kembali ke "fans mode". Dia membuka buku catatannya, mengejar Alonso. Ternyata dia minta tanda tangan pada doodle (gambar lucu-lucuan) di bukunya. Alonso bersedia menandatanganinya. "Ini kado ulang tahun", kata Mas Dewo.

Ulang tahun ke-61 dapat tanda tangan Alonso.

Mas Dewo dan saya pertama kali pergi nonton F1 bareng tahun 2001.

Fernando Alonso memulai debutnya di F1 tahun 2001.

Siapa yang tua? (azrul ananda)

 

 

Comments (0)

Catatan Rabuan

Mental Champion Hamilton

Sebagai penggemar Formula 1, saya benar-benar bahagia dengan dua lomba pertama musim 2021. Sejauh ini berlangsung sesuai...

Welcome To Happy Wednesday 2.0

Sudah lebih dari setahun saya tidak menulis Happy Wednesday, sebuah kolom hari Rabu di mana saya bisa menulis sesuka hat...

20 Tahun Cinta Namie Amuro

Entah ini tulisan sudah terlambat 20 tahun, atau mungkin hanya terlambat setengah tahun. Yang jelas ini dekat dengan mom...

Shazam dan Tom Hanks

Maklum, sudah lama tidak pacaran. Sabtu malam lalu (30 Maret), istri saya seret pergi ke bioskop. Nonton Midnight. Tapi,...