Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Survival of the fittest. Yang mampu akan tetap mampu. Yang kurang mampu bisa semakin terpuruk. Yang tengah jadi terjepit, mau ikuti nafsu mengejar yang mampu, dengan risiko terjerumus masuk lubang ikut yang tidak mampu.

Teman-teman semua, ini dunia olahraga profesional.

Tidak peduli kelas lokal, nasional, regional, atau internasional. Tidak peduli itu sepak bola, basket, bahkan sampai balap mobil Formula 1.

Ini adalah tantangan untuk pengelola klub/tim, supaya bisa bertahan hidup, berkembang, atau untuk menjadi kekuatan dominan di sebuah kompetisi.

Ini adalah tantangan untuk pengelola liga dan regulator, yang harus bisa memastikan kompetisinya berlangsung sehat, kompetitif, dan bermasa depan panjang.

Di dunia Eropa, yang "berkembang" ke banyak negara Asia atau kawasan lain, pihak klub atau tim tidak jarang lebih "berkuasa" daripada pengelola kompetisi atau regulator. Mereka begitu kuat sehingga sangat sulit bagi regulator untuk menerapkan sistem yang lebih mengutamakan kesetaraan peluang.

Tak heran, dalam kurun waktu begitu lama, yang merajai ya "itu-itu saja." Di Spanyol selalu klub itu, di Inggris yang itu, dan lain sebagainya.

Bukan hanya sepak bola. Di Formula 1 --yang Eropa banget-- juga sama. Ferrari selalu di atas. Mercedes sudah bertahun-tahun di puncak. Sedangkan tim-tim lain kebanyakan hanya berharap bisa tetap hidup atau bertahan.

Setiap kali ada usulan pembatasan budget, rata-rata bilang setuju demi masa depan. Tapi ketika dipaksa menerapkan, tim-tim yang besar lantas mengerahkan segala upaya untuk melawan dan menjaga keunggulan.

Yang di atas akan selalu bisa mengambil personel termahal. Dan akan selalu punya opsi lebih baik dari mereka yang di bawah.

Ini berbalik dengan sistem di Amerika. Yang mengutamakan kesetaraan peluang. Baik itu NBA, NFL, atau liga olahraga lain, selalu diregulasi dengan begitu ketat untuk menjaga "kesehatan bersama jangka panjang."

Hasil penjualan jersey dibagi untuk semua. Tidak ada satu tim atau pemain yang bisa menguasai semua penghasilan. Hasil hak siar dan sponsor liga juga tersalurkan untuk semua.

Tentu tidak murni merata. Ada dasar prestasinya juga. Yang juara atau di barisan atas tetap akan dapat lebih. Tapi yang di bawah tetap terjaga.

Namun, dengan sistem ini, yang di atas tidak bisa semena-mena memborong personel terbaik. Bahkan, lebih sering yang di bawah justru dapat opsi duluan memilih personel terbaik.

Pemain pun tidak bisa serta-merta langsung dapat gaji terbesar. Harus mau ikut "gaji pembinaan" selama minimal empat tahun (rookie kontrak) sebelum masuk pasar bebas (yang juga penuh regulasi).

Ini bukan berarti sistem Amerika lebih baik lho! Karena sistem Amerika tidak mengizinkan adanya promosi dan degradasi, mempersulit hadirnya pelaku/investor baru untuk bergabung.

Hanya saja, sistem inilah yang dianggap paling cocok di sana. Memastikan tim-tim peserta berasal dari kota/market yang ideal untuk pertumbuhan liga. Bukan memaksakan tim peserta dari kota/market yang sebenarnya tidak mampu untuk menyokong sebuah institusi olahraga profesional.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Saya tidak akan sok tahu. Saya juga tidak merasa paling pintar. Saya masih baru di arena sepak bola. Walau sejak kecil sudah ada dalam keluarga yang basah kuyub di dunia bola, saya baru benar-benar pegang klub sejak 2017.

Pengalaman saya bersinggungan dengan industri olahraga Amerika dan Eropa, serta pengalaman saya mengelola liga olahraga lain, saya coba gunakan untuk menyusun balok demi balok masa depan klub yang sustainable dan kemudian berjaya. Juga pelajaran-pelajaran yang dulu didapatkan atau dirasakan orang tua saya ketika puluhan tahun nyemplung di dunia ini.

Sekarang, di awal 2020 ini, saya jadi ingin urun rembug. Bukan hanya dengan sesama pengelola, tapi dengan seluruh publik. Berkaitan dengan visi ke depan liga sepak bola Indonesia.

Bahwa prinsip survival of the fittest itu pasti tidak terelakkan. Kalau liganya konsisten (tidak harus lebih baik, tapi konsisten diselenggarakan), maka pemisahan kasta di dalamnya akan terus terjadi.

Sekarang saya sudah mulai melihat tanda-tanda awalnya.

Yang mampu akan terus menjadi mampu. Yang kurang mampu bisa semakin terpuruk. Yang tengah akan terjepit. Yang tengah, kalau tidak disipilin, bisa goyang mengikuti nafsu mengejar yang mampu, lalu terjerembab ikut yang kurang mampu.

Ketika yang mampu-mampu itu semakin memisahkan diri, maka akan terjadi persaingan terpisah dengan kelompok tengah atau bawah. Yang mampu-mampu akan melakukan "arms race" alias jor-joran alias "how high can you go." Sederhananya: Akan terbentuk sejumlah superteam, bersaing sendiri di barisan atas.

Apakah ini buruk? Belum tentu. Wong tim-tim itu mampu.

Apalagi kalau secara equity tim-tim itu memenuhi syarat. Yaitu prinsip fan equity (kemauan dan kemampuan penggemar dalam membeli tiket dan merchandise asli), social equity (keaktifan dan daya tarik di dunia media, khususnya media sosial), dan away equity (tim itu punya daya tarik bukan hanya di kandang sendiri, tapi juga di kandang lawan-lawannya).

Ini tidak harus punya pemilik superkaya. Tapi berada di lingkungan yang marketnya besar dan mendukung untuk memberi pemasukan besar.

Malahan, percuma punya pemilik superkaya kalau equity-nya tidak memenuhi syarat. Karena itu bisa seperti bom waktu.

Sebaliknya, apakah ini baik? Juga belum tentu! Karena bisa membuat liga tidak kompetitif dan tidak sehat. Sebuah liga atau kompetisi tetap akan punya value lebih besar bila semua anggotanya sehat dan kuat. Liga yang punya 18 klub sehat dan kuat akan bisa mendatangkan lebih banyak revenue daripada liga yang hanya punya empat atau lima klub sehat dan kuat.

Semakin banyak revenue, semakin banyak yang bisa dibagikan. Semakin sehat semuanya. Walau yang mampu akan tetap lebih mampu. Paling tidak, yang di bawah tetap punya kans untuk bersaing, membangun balok demi balok untuk berharap bisa ikut bersaing di atas.

Saat ini, revenue yang didapatkan klub sepak bola di Indonesia dari liga belum bisa menjadi balok-balok yang kokoh. Bahkan untuk menggaji dua superstar selama semusim saja tidak cukup. Bagi yang mampu, bisa dibilang pemasukan dari liga itu sama sekali tidak dianggap. Bagi yang tengah dan kurang mampu, akan sangat bahaya kalau hidupnya mengandalkan pemasukan dari liga itu.

Namun, jangan salahkan pembagian revenue-nya. Karena model bisnis dan skala ekonominya memang belum benar-benar bisa untuk itu. Dan jangan sampai klub-klub hidupnya mengandalkan itu, karena bisa membuat mereka mengabaikan tugas-tugas profesional untuk membangun klub. Ingat, klub profesional adalah PT alias perusahaan, yang tujuan pendiriannya untuk mencari penghasilan dan keuntungan untuk kelangsungan dan perkembangan masa depannya. Klub profesional harus punya dua kaki kokoh. Kaki tim yang tangguh dan kaki komersial yang kuat.

Sebenarnya, saya melihat "arah" tujuan liga kita sudah menghadap jalan yang benar. Misalnya, revenue pernah tidak murni dibagi merata. Melainkan berdasarkan rating dan ranking. Ini membantu memacu klub untuk mengejar prestasi dan memasarkan diri di marketnya (dan market lain). Jumlah yang dibagi belum signifikan, tapi arahnya sudah ke sana.

Tinggal bagaimana melangkah yang baik dan menjaga konsistensinya, dan menegaskan visi ke depannya. Sebelum arms race benar-benar terbentuk dan mengkristal. Sebelum masalah-masalah masa depan overall muncul karena terjadinya pemisahan kasta secara signifikan di dalamnya.

Liga kita mungkin masih belum ideal, penggemar di level apa pun mungkin bisa menilai itu. Tapi saya melihat masih ada cahaya terang di ujung terowongan. Jangan sampai gelap gulita. (azrul ananda)

 

PS: Konsekuensi lain terjadinya arms race? Klub-klub yang berbasis pembinaan bisa tergoda untuk mengalihkan prioritas. Buat apa menghabiskan begitu banyak biaya untuk pembinaan --yang butuh dedikasi, waktu, dan kesabaran-- kalau lebih "murah" dan "gampang" jor-joran belanja?

Comments (20)

Catatan Rabuan

Kebaikan Lucky

Saya tidak ingin sering menulis seperti ini. Tribut untuk seorang sahabat yang baru saja pergi. Tapi ada begitu banyak i...

Olahraga (Industri) yang Sehat

Olahraga bisa bikin badan kita sehat. Jiwa kita juga kuat. Jadi pengurus olahraga di Indonesia mungkin bisa punya efek b...

Formula 1 Tidak Selamanya?

Sudah lebih dari 25 tahun ini, bulan Maret membuat saya berdebar-debar dan berbahagia. Karena bulan inilah sesuatu yang...

Obrigado Ayrton Senna, 25 Tahun Kemudian

Tepat 1 Mei, 25 tahun lalu, salah satu peristiwa terbesar dalam hidup saya terjadi. Peristiwa yang sampai hari ini masih...