Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Masa-masa "liburan" pandemi ini benar-benar membuat orang banyak berpikir. Mulai yang sederhana, seperti hari ini mau ngapain, sampai yang berat, seperti bakal seperti apa dunia dan ekonomi kalau semua ini terus berlanjut.

Tidak ada tontonan olahraga. Tidak ada tontonan bioskop. Sebanyak apa pun pilihan di TV dan saluran streaming, tetap tidak seasyik nonton bersama orang banyak di layar superlebar dan makan camilan yang harganya berlipat-lipat.

Apalagi yang punya anak-anak usia superaktif seperti saya. Istri sampai bingung tiap hari mau bikin kesibukan apa. Padahal tetap membayar "jasa penitipan anak" bernama sekolah.

Baca berita pun makin malas. Terus dibombardir ketidakpastian dan ketidakjelasan dan ketidaktegasan. Saking sebalnya lihat berita, buat saya berita terbaik pekan ini adalah dibuka kembalinya Shanghai Disneyland di Tiongkok. Lengkap dengan video instruksi bagaimana prosedur baru masuk ke sana, prosedur antrean, prosedur makan, prosedur naik wahana, dan lain-lain.

Gara-gara pandemi ini, setelah pandemi ini, dunia benar-benar akan berbeda. Dan jangan-jangan, prosedur di Shanghai Disneyland itu kemungkinan akan jadi prototipe kehidupan nyata di segala bidang.

Bayangkan, untuk bersenang-senang saja, rentetan prosedurnya makin panjang. Tiket masuk Disneyland Shanghai harus pakai reservasi online. Pengunjung juga harus menggunakan tanda pengenal dan app yang dirilis oleh pemerintah Shanghai, yang bisa menunjukkan dia "hijau" alias tidak mengancam orang lain.

Mengurus app itu saja pasti ribet. Harus tes kalau dia sehat, mungkin harus menunjukkan catatan keseharian. Pergi ke mana saja, ketemu siapa saja.

Lalu, ketika tiba di Shanghai Disneyland, berbagai prosedur kesehatan dilakukan. Cek temperatur. Wajib pakai masker. Tidak ada transaksi pakai uang tunai. Restoran dibuat sangat renggang. Antrean dibuat sangat renggang. Lalu wahana pun dibuat renggang-renggang duduknya. Kalau tidak saling kenal, tidak boleh bersama.

Atraksi tontonan panggung indoor ditiadakan. Pawai yang biasanya padat ditiadakan. Tidak bisa lagi berfoto dan berpelukan dengan Mickey, Minnie, Pluto, dan lain-lain. Fotonya dari jauh.

Di balik semua keribetan itu, pasti ada serunya. Lebih mudah naik wahana-wahana yang biasanya berjubel dan butuh antre berjam-jam. Karena kapasitas pengunjungnya dibatasi, tak sampai sepertiga dari kemampuan maksimal. Kalau biasanya bisa 90 ribu orang, sekarang tak boleh lebih dari 24 ribu.

Tetap saja tiketnya laris manis. Hari pertama dibuka, 11 Mei lalu, tiketnya ludes dalam hitungan jam. Orang tampaknya memang sudah sumpek di rumah tanpa hiburan. Mereka rela menjalani segala prosedur demi bisa masuk lagi Shanghai Disneyland.

"Ini pagi yang emosional. Ada cahaya di ujung terowongan," kata Joe Schott, president and general manager Shanghai Disney Resort, dalam wawancara dengan New York Times, saat pagi pertama pembukaan.

Ya, ini memberi pertanda baik bagi seluruh dunia. Kalau Disney bisa, berarti yang lain bisa. Disney memang harus berpikir keras bagaimana bisa segera kembali eksis. Gara-gara pandemi, ratusan ribu orang mereka rumahkan. Di Disney World Florida saja mereka merumahkan 43 ribu karyawan!

Dan saya selalu bilang, Disney itu seperti negara sendiri. Bahkan lebih pintar dari banyak negara. Kalau Shanghai Disney bisa, berarti semua bandara bisa, semua pemerintahan bisa.

Ya, untuk menikmati dunia kita semua akan jauh lebih repot. Kalau mau masuk Shanghai Disneyland saja harus punya bukti sehat, apalagi mau traveling melintasi batas negara.

Dan ini mungkin awal dari punahnya paspor cetak. Untuk bisa traveling, untuk bisa naik pesawat (atau yang lain) ke kota atau negara yang berbeda, kita mungkin akan butuh biological passport atau paspor biologis.

Kita harus melakukan tes kesehatan rutin, yang datanya digunakan untuk boleh/tidaknya kita bepergian dan beraktivitas.

Kuning? Tidak boleh ngapa-ngapain sekian waktu. Merah? Anda tidak boleh ke mana-mana! Paspor biologis ini berlaku di bandara, di tempat kerja, di bioskop, lalu dituntut untuk mendaftar kerja, untuk mendapatkan surat nikah, dan lain sebagainya.

Toh sekarang sudah dilakukan di Tiongkok! Dan sudah diterapkan oleh perusahaan raksasa Disney!

Dan sebenarnya, ini juga bukan hal baru. Para pembalap sepeda kelas dunia (atau atlet endurance kelas dunia), sudah menjalani program biological passport ini selama bertahun-tahun.

Mereka harus menjalani tes darah atau tes urin rutin, untuk meminimalisasi kemungkinan melanggar aturan doping. Kalau tercatat sebagai pembalap profesional di level WorldTour/dunia, mereka harus ikut program itu. Harus selalu menyediakan informasi "whereabouts." Alias selalu bilang kalau pergi ke mana, tinggal di hotel mana.

Lalu, tesnya pun bisa dadakan. Bisa saja pembalap Amerika ini sedang di Spanyol, lalu mendadak Rabu pagi ada yang mengetuk pintu kamar hotel untuk melakukan tes urin.

Dalam dunia nyata setelah pandemi, mungkin tidak ada tes dadakan. Tapi akan ada tes rutin. Biological passport untuk semua.

Ribet? Ya. Semakin mengganggu privasi? Ya. Mengekang kebebasan? Ya. Tapi jangan-jangan inilah yang akan terjadi.

Toh, di masa depan, pandemi seperti ini akan kembali ada. Sejarah adalah buktinya. Bumi selalu berusaha membersihkan diri, dan manusia selalu berusaha bertahan hidup.

Dan positifnya: Kalau memang ada biologial passport, kita semua akan dituntut untuk hidup lebih sehat! (azrul ananda)

Comments (22)

Catatan Rabuan

New Year Asyik Nggak Ngapa-Ngapain

Liburan pergantian tahun 2019 ke 2020 ini memang kami --saya dan keluarga-- niati untuk tidak ngapa-ngapain. Mencari tem...

Rasisme Itu Senyap

Rupanya orang capek juga bicara soal virus. Kemudian bicara soal kerusuhan. Kemudian menyinggung soal rasisme. Ada yang...