Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Ngapain ke Darwin? Di sana kan nggak bisa ngapa-ngapain?

Justru itu!

Memang niatnya untuk tidak ngapa-ngapain.

Walau sebenarnya "ngapa-ngapain" itu istilah yang terbuka definisinya. Beda untuk setiap orang. "Nggak ngapa-ngapain"-nya seseorang bisa jadi adalah kesibukan luar biasa untuk orang lain.

Tapi, liburan pergantian tahun 2019 ke 2020 ini memang kami --saya dan keluarga-- niati untuk tidak ngapa-ngapain. Mencari tempat yang santai, tidak hectic, supaya bisa benar-benar quality time bersama keluarga.

Awalnya, hanya niatan keluarga kecil saya sendiri. Saya, istri, dan tiga anak. Kemudian "menular" ke keluarga adik saya, beserta suami dan tiga anaknya. Kemudian "menular" lagi ke Abah dan Ibu saya. Alhasil, kami ber-12 pun menghabiskan masa pergantian tahun di Darwin, Northern Territory, Australia.

Kenapa Darwin? Terus terang tidak ada niatan khusus. Ketika mencari ide tempat yang tidak terlalu jauh, tidak terlalu sibuk, tapi bisa quality time, tiba-tiba saja nama kota ini muncul di kepala saya.

Kebetulan, sepuluh tahun lalu saya pernah ke Darwin. Waktu itu bersama Donny Rahardian (sekarang wakil direktur DBL Indonesia), sebagai undangan khusus pemerintah Australia. Kebetulan juga, waktu itu ada turnamen pramusim liga basket nasional Australia di Darwin.

Waktu itu memang sepi sekali. Tidak banyak manusia. Banyak buaya. Dua tempat yang kami kunjungi sebagai turis adalah Crocodylus Park dan Crocosaurus Cove, dua-duanya "taman buaya."

Pusat kotanya satu putaran jalan kaki selesai. Waktu hari Minggu, ke mal (pusat perbelanjaan terbesar) tidak bisa lama-lama. Karena memang bukanya hanya jam 10 pagi sampai 14 siang! Serius, malnya hari Minggu hanya buka empat jam!

Saya bilang ke istri, kayaknya ini tempat yang cocok untuk akhir tahun. Liburannya kebetulan tidak lama. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya 2,5 jam penerbangan dari Bali. Dan benar-benar bisa "nyepi" dengan keluarga.

Singapore terlalu hectic, dan di sana ketemu orang-orang itu juga (wkwkwkwkwk). Kuala Lumpur terlalu sama dengan Indonesia. Kota lain terlalu jauh. Liburan di Indonesia, terlalu dekat dengan orang-orang (atau pekerjaan) yang akan menghubungi dan "mengganggu" (wkwkwkwk lagi).

Mumpung anak-anak juga masih SD semua. Kalau sudah besar sedikit, sudah susah diajak ke tempat-tempat quality family time seperti ini. Toh hanya beberapa hari saja.

Salah satu inspirasinya adalah seorang teman. Yang kalau pergi ke luar negeri selalu memilih untuk tidak ngapa-ngapain. Menenangkan diri dengan ke kafe atau taman, lalu duduk membaca buku!

Ketika adik dan orang tua bertanya liburan ke mana, dan saya jawab ke Darwin, mereka lantas mau ikutan. Ternyata tawaran "tidak ngapa-ngapain" itu benar-benar menarik buat keluarga kami!

Bagi yang kenal keluarga kami, ini adalah keluarga aneh. Selama belasan, bahkan puluhan tahun, kami praktis tak pernah liburan bersama. Jangankan liburan, bersama-sama saja jarang. Antara kesibukan orang tua dulu, atau kesibukan masing-masing sekarang, menjadi penghalang.

Ketika punya rencana, selalu saja ada penghalang. Antara pekerjaan tidak bisa ditinggal, tidak bisa dihindari, atau ada yang terkena masalah kesehatan serius...

Akhirnya, jadilah kami ke Darwin. Kota di ujung atas Australia, yang terpisah dengan kota-kota lainnya. Lebih dekat ke Kupang atau Dili daripada ke kota besar Australia yang lain. Tapi ini masih Australia, masih "turunan pembangunan gaya Inggris," jadi masih kota yang nyaman.

Dan sekarang, Darwin ternyata sudah beda jauh dengan Darwin yang saya kunjungi sepuluh tahun lalu. Penduduknya sudah bertambah sekitar 50 persen. Dulu tak jauh dari 100 ribu orang, sekarang menjadi total hampir 150 ribu orang.

Kotanya juga lebih "lengkap." Lebih terasa "hidup." Malnya juga buka lebih lama, sampai pukul 6 sore setiap hari.

Keluarga kami menyewa apartemen simple di tengah kota. Sehingga ke mana-mana cukup berjalan kaki. Dekat supermarket, karena keluarga lebih suka memasak sendiri di apartemen.

Abah yang setiap hari selalu ingin ke supermarket, penasaran dengan isinya yang begitu lengkap, sangat mirip dengan supermarket di Amerika. Khususnya bagian makanan plant based (vegan), yang secara global memang semakin ngetren.

Tapi cukup dekat juga ke gerai fast food seperti McDonald's atau Subway, bagi yang doyan makanan begituan seperti saya he he he...

Setiap hari, kami jalan kaki bersama ke mana-mana. Ke supermarket, ke tempat makan (kalau pas makan di luar), ke taman, ke kawasan Waterfront untuk renang dan rekreasi. Semua jalan kaki.

Entah kapan kali terakhir kami ber-12 jalan kaki bersama! Dan entah kapan lagi bisa begini. Karena cucu pertama (keponakan saya), tahun 2020 sudah akan masuk SMA dan tinggal di tempat terpisah.

Kami hanya naik kendaraan kalau ke tempat wisata utama. Seperti Crocodylus Park (taman buaya). Atau kalau ingin ke mal, yang memang di luar pusat kota. Lainnya jalan kaki semua!

Karena lokasinya dekat Indonesia, cuacanya sama persis. Panas dan lembabnya sama persis. Hujannya sama. Cuman ya kotanya sangat bersih dan rapi, jadi jalan kaki tetap asyik dan nyaman.

Yang seru perbedaan waktunya dengan Surabaya atau WIB. Selisihnya 2,5 jam. Darwin lebih dulu. Kapan lagi anak-anak merasakan tempat yang selisih waktunya dengan rumah ada setengah jamnya!

Walau kota sangat kecil, acara malam Tahun Baru-nya sudah disiapkan dengan baik. Ada pesta kota di kawasan Waterfront, lengkap dengan bazaar, konser, dan pesta kembang api. "Bintang tamu"-nya sangat ramah untuk anak-anak, yaitu SpongeBob SquarePants dari Nickelodeon.

Satu hal yang saya kagumi dari kawasan Darwin ini, saya dapatkan waktu berkunjung dan bertemu menteri-menterinya pada 2009 lalu. Di negara bagian Northern Territory ini ada departemen pemerintahan khusus bernama "Major Events." Tugasnya adalah menyelenggarakan even-even besar, mendatangkan bintang-bintang besar, ke Darwin.

Saya ingat betul waktu itu, bahwa tugas departemen ini adalah memastikan warganya senang dan tidak bosan! Mereka pun mendatangkan bintang-bintang seperti Elton John, atau menggelar balapan Supercar kelas internasional.

Jadi, walau ini kota kecil dan tenang, pesta Tahun Baru-nya tetap serius untuk menghibur warganya.

Ketika tulisan ini dibuat, pesta itu belum dimulai. Kami pasti ada di sana. Dan saya yakin anak-anak bakal senang luar biasa. Karena memang masih "umurnya."

Bagi saya, Tahun Baru ini minimal jadi momen langka lagi bagi seluruh keluarga untuk berkumpul bersama. Quality time, tidak ada gangguan. Sesuatu yang lebih mahal dari apa pun bagi keluarga aneh seperti keluarga kami.

Anak-anak mungkin belum memahami mahalnya momen seperti ini di keluarga kami. Tapi biarlah. Anggap saja mereka itu manusia salju Olaf di Frozen II. Yang masih tidak paham dengan segala hal yang terjadi di sekeliling mereka.

Kemudian, mereka bisa menyanyikan lagu When I Am Older dari Frozen II. Yang penggalan liriknya berbunyi:        

         This will all make sense when I am older

         Someday I will see that this makes sense...

Semoga Tahun Baru Anda juga bermakna. Tidak harus ke mana-mana, tidak harus menghindari kehebohan seperti kami. Tapi yang penting bermakna.

Happy Wednesday, dan Happy New Year untuk semua! Semoga 2020 bakal jadi tahun yang tidak terlalu gaduh dan mengkhawatirkan! Wkwkwkwk... (azrul ananda)

 

PS: Usulan Kalau Penasaran dan Ke Darwin

Crocodylus Park

Taman Buaya sekitar 15 menit naik mobil dari pusat kota. Tidak besar, tapi bisa melihat langsung konservasi buaya, serta show memberi makannya cukup seru. Pengin lihat buaya besar lompat vertikal menjemput makanan? Ini tempatnya.

 

Crocosaurus Cove

Taman Buaya juga, tapi di tengah pusat kota. Ada yang panjangnya hampir 6 meter. Bisa renang dekat buaya. Bisa juga masuk silinder lalu dicemplungkan ke kolam buaya superbesar.

 

Waterfront

Main air gratis di "pantai" buatan. Makan di restoran-restorannya. Asyik buat jalan dan jogging. Bayar sedikit ada Wave Pool bagi yang suka kolam renang berombak.

 

Tempat-Tempat Lain

Silakan Gugel sendiri, jangan jadi orang ketinggalan zaman! (*)

 

Comments (37)

Catatan Rabuan

Paspor Biologis

Saking sebalnya lihat berita, buat saya berita terbaik pekan ini adalah dibuka kembalinya Shanghai Disneyland di Tiongko...

The Big Bang Theory: Memperbaiki Keturunan dan Mentoleransi Teman

Resmi sudah. Mulai Mei 2019 ini, saya sudah kehabisan serial komedi favorit. The Big Bang Theory, sitkom favorit terakhi...

Akhirnya Nonton Gundala Lagi

Setelah puluhan tahun, akhirnya saya nonton film Gundala lagi. Segala nostalgia masa kecil langsung kembali. Perasaan ya...

Sepatu Merdeka

Waktu masih kecil, keluarga saya belum punya banyak uang. Saat SD, ibu saya hanya mau membelikan sepatu harga di bawah R...