Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Saya selalu menyimpan kekaguman pada orang-orang "ultra cycling". Khususnya yang mereka bersifat kompetitif. Mencoba menuntaskan sebuah tantangan rute secara mandiri, nyaris tanpa tidur atau tidur di mana saja. Rutenya jauh banget. Bukan "gampang" seperti 200 atau 300 km. Melainkan di atas 400 km, bahkan ribuan kilometer. Medannya pun tidak mudah.

Sudah dua tahun ini Mainsepeda yang saya prakarsai menyelenggarakan event ultra cycling lumayan ekstrem. Bernama East Java Journey (EJJ). Tahun lalu 600 dan 1.200 km. Tahun ini lebih berat lagi, yang 600-nya sebenarnya 675 km, sedangkan yang panjang jadi 1.500 km. Menanjaknya jauh lebih berat, rute gravel-nya (offroad) juga lebih banyak dan ekstrem.

Para bintang ultra cycling Indonesia ikut serta. Apalagi yang 1.500 km adalah race. Berlomba jadi yang duluan menuntaskan rute dari Surabaya, keliling Jawa Timur, kembali ke Surabaya.

Para juara mampu menuntaskannya dalam waktu tak sampai empat hari! Nyaris tanpa tidur. Mungkin hanya sederetan power nap. Kalau pun tidur tidak sampai dua jam. Pagi, siang, malam mereka mengayuh sepeda.

Hujan, panas, banjir, lumpur, semua dilahap.

Jujur, semua peserta 1.500 km lebih hebat dari saya. Termasuk Koh Hai (Go Suhartono), cyclist "pusaka Surabaya" yang tahun ini sukes menuntaskan 1.500 km sesuai jadwal. Batas waktunya 160 jam, dia dan pasangannya --pengawalnya dari Mainsepeda, Muslik Arman Aditya-- finis 4 jam sebelumnya.

Koh Hai ketika melintasi Patung Merlion di kawasan Citraland Surabaya, sebelum mencapai finis Wdnsdy Cafe di Surabaya Town Square (Sutos).

Untuk memastikan rute seru dan --paling utama-- aman, saya dan tim menguji sendiri rute itu naik sepeda. Yang 600 km kami lahap, lalu kami revisi, dan revisinya kami coba lagi. Yang 1.500 sebagian besar saya lewati, tapi ada tim yang terus mencobanya secara utuh. Seminggu sebelum event (26 Februari-3 Maret) seluruh rute itu difinalisasi dan disampaikan ke peserta.

Yang 1.500 km memang start Senin, dibatasi finis hari Minggu. Sedangkan yang 600 km start Jumat pagi, dibatasi finis juga hari Minggu.

Tahun lalu, saya dan istri ikut yang 600 km (totalnya 631 km). Tahun ini ikut lagi yang 600 km (totalnya 675 km). Tapi, kami punya plan agak beda. Tahun ini kami ingin merasakan benar-benar jadi "anak ultra".

Semua peserta punya plan sendiri-sendiri. Ada yang membagi rute berdasarkan kota, lalu menentukan di kota mana mereka akan istirahat. Kalau bisa di penginapan, kalau tidak ya di masjid, pos polisi, atau pos kamling.

Saya, istri saya Ivo, dan kelompok saya pun bikin plan. Tahun lalu rute 600 km kami bagi tiga. Menginap dua kali, di hotel semua. Walau hotelnya seketemunya di rute, dindingnya bolong tidak masalah.

Tahun ini, rute 600 km kami coba hanya bagi dua. Kami coba tanpa tidur di penginapan. Opsi A kalau ada penginapan, opsi B kalau tidak ketemu penginapan di rute saat malam tiba.

Hari pertama, start pukul 05.00 WIB, kami lewat tanjakan Nogosari (Tirtowening) di Trawas, lalu tanjakan Nongkojajar, tanjakan Watu Pecah, menuju Malang. Lanjut ke check point pertama di Istana Gebang, Blitar. Tempat bersejarah, rumah pertama Bung Karno.

Blitar itu kilometer 240, tapi untuk menuju ke sana total menanjaknya sudah 2.800 meter. Sekitar 1,5 kali menanjak event Bromo KOM. Kami membuat kesepakatan. Kalau sampai Blitar paling lambat pukul 16.00, maka kami akan lanjut sampai minimal km 300 di kawasan Boyolangu, Tulungagung, di mana ada opsi penginapan selanjutnya.

Tidak mungkin berhenti di tengah-tengahnya, karena setelah itu rutenya lewat Blitar Selatan, melintasi rute-rute offroad yang jalannya rusak dan minim pemukiman, apalagi penginapan.

Rute setelah Blitar ini merupakan bagian terberat EJJ 2024. Baik untuk 600 km maupun 1.500 km (semua lewat situ). Siapapun yang komitmen lanjut dari Blitar, harus siap lanjut terus minimal 60 km sebelum bertemu opsi istirahat di wilayah perbatasan Tulungagung. Dan jarak 60 km itu memiliki tanjakan naik turun total hingga 1.100 meter.

Asem, karena ada macet proyek jalan di Malang, kami baru sampai Blitar pukul 17.00. Keputusannya jadi fifty-fifty. Mau menginap di Blitar tanggung, mau lanjut risiko lewat offroad gelap-gelapan.

Kami pun memutuskan lanjut. Gelap-gelapan oke, nanjak naik turun oke, asal kita tidak ngebut. Khususnya istri saya, yang kemampuan handling jalan rusaknya masih belum meyakinkan.

Kami makan soto dulu di warung pinggir jalan di Blitar. Mengisi semua suplai di Blitar. Supaya tidak lapar saat menempuh rute terberat. Perlahan tapi pasti, kami melanjutkan rute. Hebatnya event EJJ ini, banyak penggemar sepeda yang mengikuti dan ikut membantu menjaga peserta di sepanjang perjalanan. Entah berapa banyak orang menyapa di jalan, ada pula yang rela ikut membantu mengawal dan membantu menerangi jalan dengan lampu motornya.

Handika, juara 1.500 km kategori usia 40+, bahkan mengaku disapa oleh sopir-sopir truk di jalan. Juga oleh keluarga yang sedang menyelenggarakan acara pernikahan!

Alhamdulillah, atas petunjuk teman-teman di Tulungagung, di km 297 (di akhir tanjakan) ada sebuah rumah "setengah jadi" yang bisa kami gunakan untuk istirahat. Sampai di situ hampir pukul 23.00, kami bisa istirahat. Kami bisa "agak mandi" karena ada keran air di depannya. Ada ember, kami isi air, lalu gantian siram-siram badan. Sikat giginya pakai botol minum. Sekitar pukul 01.00 kami sudah istirahat.

Pagi sekitar pukul 04.00 kami bangun. Siap-siap. Sebelum pukul 05.00 sudah lanjut lagi. Target hari itu adalah mencapai checkpoint kedua di pusat kota Madiun, kilometer 479. Sebelumnya harus menanjak dulu dari Trenggalek ke Ponorogo, lalu menanjak lagi dari Ponorogo ke Magetan lewat Parang Hill. Plan utama, sampai di Madiun pukul 15.00-16.00. Setelah itu membuat keputusan, dipaksa lanjut sampai finis di Surabaya atau mencari tempat istirahat di tengah.

Alhamdulillah, kami sampai Madiun sebelum pukul 16.00. Di check point itu ada fasilitas servis sepeda, fisioterapi, dan pengisian suplai. Setelah istirahat sekitar 1,5 jam dan bertemu Wali Kota Madiun, Pak Maidi, kami lanjut.

Catatan: Ini wali kota luar biasa. Tengah kota Madiun sekarang jadi tempat wisata yang supermenarik. Disulap jadi wisata berbagai negara. Yang terbaru di situ adalah replika Patung Liberty. Sebelumnya sudah ada Patung Merlion, replika Kabah, Menara Eifel, dan lain-lain.

Bersama Wali Kota Madiun Maidi (tiga dari kanan) di depan replika Patung Liberty.

Sisa rute hampir 200 km menuju Surabaya lagi sebenarnya "paling mudah" dibanding dua etape sebelumnya. Total menanjaknya di kisaran 1.200 meter. Mayoritas setelah Bendungan Semantuk menuju Bojonegoro.

Masalahnya, peserta 600 km sudah menempuh 479 km sebelum melewatinya. Peserta 1.500 km bahkan sudah menempuh 1.150 km sebelum melewatinya!

Dari Madiun itu, kelompok kami memutuskan untuk menjaga irama dan kecepatan. Tidak boleh memaksa, sebisa mungkin finis di Surabaya tidak lama setelah tengah malam.

Rencana boleh dibuat, eksekusi dan realita di jalan bisa berbeda. Sepeda istri mengalami ban bocor terkena lubang besar di jalan. Karena fatigue, kami juga tidak bisa melaju secepat yang kami harapkan. Apalagi istirahat malam sebelumnya juga "maksa".

Dalam hati, saya merevisi target finis sebelum 48 jam. Artinya, sampai di Surabaya sebelum pukul 05.00 pagi.

Itu pun ternyata sulit dicapai. Menjelang tengah malam, Ivo termasuk mulai minta istirahat. Ada pula yang mulai bermasalah perutnya, harus mencari tempat untuk membereskannya.

Masalahnya, kami sudah telanjur terus gowes melewati Bendungan Semantuk, terus masuk kawasan hutan menuju arah Nganjuk. Sudah sangat malam, warung-warung sudah tutup. Kami tidak ingin seperti Ismail, peserta 1.500 km kocak dari Jakarta, yang sampai mengetuk-ngetuk pintu rumah warga untuk minta makan (dapat nasi bebek bekas!).

Kami mulai mencari opsi balai desa, kantor polisi, pos kamling, atau masjid. Ternyata juga tidak semudah itu. Saya terus memaksa lanjut sampai pas tengah malam, saat rute tersisa tak sampai 100 km. Tepatnya saat rute kurang 97 km kami menemukan sebuah masjid. Ada toiletnya, dan kami bisa numpang tiduran di pelatarannya. Ivo menggulung badannya pakai emergency blanket yang diberikan untuk semua peserta. Saya tidak bawa, jadi saya ya tidur begitu saja di lantai.

Rencananya, pukul 02.30 kami sudah bangun dan lanjut ke Surabaya.

Eh, walau alarm sempat bunyi, kami bablas tidur sampai lewat jam 03.00. Praktis, setelah bersiap-siap menata lagi sepeda, kami baru berangkat sekitar pukul 03.45. Hanya sisa 97 km, tapi botol air sudah minim isinya. Harus mencari warung atau toko yang buka untuk suplai.

Saat baru berangkat itu kami baru sadar kalau kami berada di Kedung Adem, Bojonegoro. Melihat tulisan papan sebuah sekolah di dekat masjid tempat kami menumpang tidur.

Karena masih terlalu pagi, kami baru ketemu warung di Jombang, sekitar 30 km kemudian. Kami pun berhenti. Minum teh panas, kopi panas, juga mie kuah. Botol diisi air. Baru kemudian kami berangkat lagi menuju finis.

Akhirnya, setelah melawan kantuk luar biasa, Minggu pagi sekitar pukul 08.00 kami menyeret diri sampai finis. Di depan Wdnsdy Cafe di Surabaya Town Square. Total gowes 675 km kami tempuh dalam waktu 51 jam lewat sedikit.

Istri saya merasa seperti ikan asin. Tidak mandi proper dua hari, kena panas, hujan, panas lagi. Tapi dia bangga sekali. Bisa jadi "anak ultra beneran". Finis rute jauh sebelum cut off time (COT), dan menuntaskannya tanpa menginap di hotel (atau penginapan apa pun) sama sekali. Benar-benar jadi "anak mbolang".

Sebagai bonus, kelompok kami finis di barisan sepuluh besar. Ivo jadi perempuan finisher pertama.

Hari Minggu itu (3 Maret) kami pun menyambut para finisher selanjutnya. Dan memberi aplaus luar biasa bagi mereka yang terus berjuang sampai finis. Baik itu yang 600 maupun 1.500 km. Bahkan memberi aplaus ekstra bagi mereka yang mau terus melanjutkan rute walau sudah melewati COT pukul 21.00.

Ada dua yang melakukan itu. Di kategori 600 ada I Nengah Wijaya Utama. Ia finis 21.48 WIB. Sementara di 1.500 ada Brigjen (Purn) Ardiansyah Triono. Mantan prajurit Komando Pasukan Khusus yang kini berusia 63 tahun itu finis 22.38 WIB. 

Asal tahu saja, walau acara sudah bubar hari Minggu malam, sampai Selasa malamnya (5 Maret) masih ada peserta yang gowes mandiri ke arah finis. Ia tetap ingin menuntaskan tantangan. Namanya Arbelly Noor dari Jakarta. Walau event sudah resmi berakhir, dan saya sebagai penyelenggara bahkan sudah mendarat di Taipei untuk acara lain. Itu adalah sebuah komitmen luar biasa! 


Arbelly Noor, peserta asal Jakarta masih melanjutkan perjalanan sampai Selasa malam. Foto diambil ketika ia sampai kawasan Citraland, Surabaya, sekitar pukul 10.00. 

Kepada seluruh peserta, kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Kepada teman-teman panitia di Mainsepeda (unit DBL Indonesia), selamat sudah membuat acara yang begitu berkesan luar dalam. Kepada semua yang rajin mengikuti Mainsepeda dan event EJJ, terima kasih atas segala dukungannya.

Tidak sabar segera menyiapkan lagi rute dan tantangan untuk tahun depan. Serta berdoa, semoga istri tahun depan tidak minta ditemani ikut rute yang 1.500 km! (azrul ananda)

Comments (17)

Catatan Rabuan

Olahraga (Industri) yang Sehat

Olahraga bisa bikin badan kita sehat. Jiwa kita juga kuat. Jadi pengurus olahraga di Indonesia mungkin bisa punya efek b...

Formula 1 Tidak Selamanya?

Sudah lebih dari 25 tahun ini, bulan Maret membuat saya berdebar-debar dan berbahagia. Karena bulan inilah sesuatu yang...

Kebaikan Lucky

Saya tidak ingin sering menulis seperti ini. Tribut untuk seorang sahabat yang baru saja pergi. Tapi ada begitu banyak i...

Obrigado Ayrton Senna, 25 Tahun Kemudian

Tepat 1 Mei, 25 tahun lalu, salah satu peristiwa terbesar dalam hidup saya terjadi. Peristiwa yang sampai hari ini masih...