Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda
#HAPPYWEDNESDAY 72

Hati Alesi

Azrul Ananda


Aza bersama Jean Alesi (kanan) dan Gerhard Berger. Pasangan Ferrari dan Benetton-Renault 1993-1997

Saya termasuk orang yang kurang memedulikan ulang tahun. Namun 11 Juni selalu membuat saya ingat sesuatu. Itu ulang tahun Jean Alesi, salah satu pembalap favorit saya sepanjang masa. Seorang pembalap yang sebenarnya memberi lebih banyak perasaan patah hati, namun pada saat yang sama kepuasan emosi.

Juga seseorang yang menginspirasi saya untuk menamai anak kedua saya Alesi. Lengkapnya Alesi Maxine Ananda.

Bukan, Alesi bukan juara dunia. Seperti Ayrton Senna (inspirasi nama anak pertama saya), atau Mario Andretti (inspirasi nama anak bungsu saya). Alesi merupakan salah satu nama paling populer di masanya, dan punya catatan-catatan yang akan membuatnya akan terus dikenang. Namun, secara prestasi, bisa dibilang Alesi itu sebuah anomali.

Seorang pembalap yang begitu populer --di dalam dan di luar lintasan-- tapi dalam karirnya hanya pernah memenangi satu balapan. Seorang pembalap yang berkarir di Formula 1 antara 1989 hingga 2001, dan naik podium total 32 kali, hanya pernah menang sekali!

Ada begitu banyak juara dunia belum pernah menginjakkan kaki di podium sebanyak Alesi. Sebut saja Jacques Villeneuve, Damon Hill, dan beberapa lain. Semua pernah menang lebih banyak dari Alesi, tapi total naik podiumnya tidak sampai 32 kali!

Hebatnya, ratusan kemenangan para juara dunia mungkin tidak se-memorable satu kemenangan Alesi. Sebuah kemenangan yang disebut-sebut sebagai salah satu yang terheboh. Sampai ada mainan/replika yang merekam momen khusus dari kemenangan itu.

Kejadiannya di Sirkuit Gilles Villeneuve, Montreal, Kanada, tahun 1995. Mengemudikan Ferrari, Alesi menjalani lombanya yang ke-91. Hingga babak akhir lomba, seolah dia harus bersiap naik podium lagi, tapi tidak jadi juara.

Tiba-tiba saja, 11 putaran sebelum finis, Michael Schumacher yang mendominasi lomba mengalami masalah. Mobil Benetton-Renault-nya ngadat, harus masuk pit untuk di-reset elektroniknya.

Alesi pun memimpin. Puluhan ribu penonton bersorak. Tentu sambil agak menahan napas, karena khawatir nasib buruk kembali menimpa Alesi. Bahkan Alesi sendiri mengaku tak kuat menahan perasaan. Alesi secara kondang pernah bilang, pada putaran-putaran akhir itu dia menangis. Sampai-sampai saat mengerem keras, air matanya menghantam visor helm, menghalangi pandangan.

Pada akhirnya, Alesi memang menang. Saking hebohnya sambutan, ribuan penonton membobol pagar pengaman, membanjiri lintasan. Padahal, mobil-mobil lain masih belum menuntaskan lomba! Situasi yang menakjubkan sekaligus begitu membahayakan.

Mobil Alesi lantas mogok saat perjalanan kembali ke pit lane. Bensinnya habis. Secara mengagumkan, Schumacher berhenti di sebelahnya. Lalu mengajak Alesi duduk di atas mobil, mengantarkannya ke arah podium. Alesi duduk, berdiri, lalu duduk lagi, sambil terus mengepalkan tinju ke arah para penonton. Yang menyambutnya dengan begitu heboh.

Alesi akhirnya menang.

Istimewanya, kemenangan di Kanada itu terjadi pada 11 Juni 1995.

Tepat pada perayaan ulang tahun ke-31 seorang Jean Alesi!

Ya, satu-satunya kemenangan dalam karir Alesi diraih di hari ulang tahunnya sendiri. Cerita fiksi pun mungkin tidak bisa sedramatis ini.

Saya ingat betul betapa bahagianya saya hari itu (12 Juni dini hari WIB). Waktu itu saya sedang di Indonesia, liburan kuliah. Jingkrak-jingkrak menyambut kemenangan pertama Alesi. Dialah idola utama saya setelah Ayrton Senna meninggal pada 1994.

Dan ternyata, itulah satu-satunya kesempatan saya bahagia lihat Alesi menang. Karena setelah itu dia tidak pernah menang lagi. Hampir menang berkali-kali, tapi tidak pernah menang lagi. Gila ya, 32 kali naik podium tapi hanya menang sekali.

Patah hatinya memang banyak.

Pada 1994, dia meraih pole position secara meyakinkan di Grand Prix Italia, di kandang Ferrari. Mobilnya lantas rusak di awal lomba.

Pada 1995 pun masih ada beberapa patah hati. Lagi-lagi di Italia, saat memimpin, mobilnya mengalami kerusakan. Lalu di Sirkuit Nurburgring, Jerman, dalam kondisi lintasan basah mengering, dia memimpin tapi tak mampu membendung gempuran Michael Schumacher.

Tahun 1996 dan 1997, dia tukar kursi dengan Schumi, pindah ke Benetton. Nasib oh nasib. Pada GP Monaco 1996, dia punya kans menang di saat semua jagoan membuat kesalahan atau mengalami kerusakan. Kali ini, suspensi mobilnya rusak saat memimpin, hanya beberapa putaran dari finis.

Setelah 1997, dia tak lagi naik mobil kompetitif. Kans menang semakin sulit. Walau dia masih mampu meraih posisi podium saat bersama Sauber.

Karirnya berakhir pada 2001, bersama Tim Jordan. Tim itulah yang pada 1989 mengantarkannya jadi juara F3000 Internasional (sekarang GP2), membuka jalannya masuk F1.

Orang dengan mudah bisa bilang Alesi itu tidak beruntung. Salah satu pembalap paling apes dalam sejarah. Di sisi lain, ada Michael Schumacher yang bilang kalau tidak ada keberuntungan di F1. Kata sang juara dunia tujuh kali: Kita menciptakan sendiri keberuntungan untuk kita.

Mana yang benar, entahlah.

Alesi sendiri mengawali karir di F1 dengan begitu gemilang. Bergabung di Tyrrell-Ford di tengah musim 1989, dia diturunkan di GP Prancis. Dahsyat, dia langsung finis keempat, meraih sejumlah poin di lomba pertamanya.

Kegemilangan itu lantas disusul dengan (mungkin) keputusan terburuknya pada 1990. Tahun itu, dia menjalani musim penuh pertamanya di F1, masih bersama Tyrrell. Naik mobil "biasa," Alesi spektakuler. Finis runner-up, bahkan sempat memimpin GP Amerika Serikat di jalanan Phoenix sebanyak 25 putaran. Saat itu, dia tidak takut bertarung langsung dengan Ayrton Senna. Bergantian salip menyalip memimpin lomba, secara spektakuler.

Lomba itulah yang menandai hadirnya Alesi sebagai superstar.

Tim-tim besar berebut kontraknya untuk 1991.

Tyrrell ingin mempertahankannya. Williams bahkan sudah mendapatkan tanda tangannya. Tapi Alesi lantas mengikuti kata hati. Dia meminta kontraknya dengan Williams dibatalkan, supaya bisa memenuhi pinangan Ferrari.

Alesi memang berpaspor Prancis dan lahir di situ. Tapi secara jiwa, dia Italia. Ayahnya imigran dari Sicilia. Nama lahirnya sebenarnya adalah Giovanni, sebelum "di-Prancis-kan" menjadi Jean. Semua tahu, bagi orang Italia, membalap untuk Ferrari adalah mimpi jadi kenyataan.

Betapa salahnya keputusan itu.

Pada 1991, Williams-Renault bangkit sebagai superpower di F1, kemudian meraih empat gelar juara dunia antara 1992 hingga 1997.

Sebaliknya, Ferrari terus melorot. Era 1991 hingga 1993 termasuk era terburuk Ferrari. Internalnya pecah, sangat politis di level manajemen. Alhasil, kekacauan manajemen itu menghasilkan mobil-mobil yang tidak jelas kemampuannya. Baru pada 1994-1995 Ferrari membaik. Sangat terlambat bagi Alesi, yang saat itu sudah melewati usia 30.

Bayangkan bila Alesi tetap membalap untuk Williams. Mungkin dia sudah jadi juara dunia. Paling tidak menang lebih dari satu lomba.

Tapi itulah Alesi. Yang mengikuti kata hati. Dan walau tidak mampu meraih sukses besar di Ferrari, dia mampu merebut hati para tifosi. Pembawaannya, gaya membalapnya, sangat enak dilihat. Dia jadi idola.

Silakan cari cuplikan aksinya di YouTube. Anda akan melihat gaya yang sekarang sudah langka. Tangannya di setir pada posisi tinggi, jam 10 dan 2. Ketika menikung, kepalanya selalu miring sekali mengikuti arah mobil. Dan gaya mengemudinya kelihatan seru. Mobil selalu terlihat sliding dan agresif.

Dalam sejarah Ferrari, yang punya gaya seperti itu sangat dicintai. Sebelum Alesi, yang seperti itu adalah Gilles Villeneuve. Ingat, Alesi meraih satu-satunya kemenangan dalam hidupnya di sirkuit bernama Gilles Villeneuve.

Oh ya, saat menang itu, Alesi memakai nomor mobil legendaris Ferrari. Nomor 27. Itu nomor yang sama dengan yang dipakai Villeneuve.

Di luar lintasan, sosok Alesi ini juga punya daya tarik tersendiri.

Di masa emasnya (muda), dia termasuk pembalap dengan penggemar perempuan paling banyak. Good looking dan stylish. Dia menikah dengan aktris kondang Jepang era 1990-an, Kumiko Goto. Sampai hari ini mereka masih menikah, total hampir 27 tahun sebagai suami-istri. Mereka tinggal di kota asal Alesi di Avignon, Prancis. Punya empat anak. Yang satu, Helena, jadi model. Yang laki-laki, Giuliano, sekarang sedang meniti karir menuju F1.


Kumiko Goto dan Jean Alesi

Pasangan Alesi dan Kumiko dulu termasuk media darling di F1. Pasangan paling eksotis di paddock F1. Anda mungkin pernah tahu Kumiko Goto. Dia pernah main film City Hunter bareng Jackie Chan.

Sekarang, Alesi masih aktif di sekitar dunia balap. Di layar televisi, sebagai ambassador, dan lain-lain. Tentu sambil berupaya membantu anaknya meniti jalan ke level tertinggi.

Dalam sebuah interviu di Portugal, Alesi mengungkapkan harapan untuk sang anak itu. Dia bilang, sebagai orang tua, dia pasti ingin melihat anaknya berhasil. Tapi itu bukan berarti dia akan sengaja mempermudah jalan sang anak. Karena bagaimana pun, sang anak pasti akan menjalani masa-masa sulit sebelum mencapai level tertinggi.

Perjalanan menuju F1, kata dia, mungkin lebih sulit daripada ketika sudah sampai F1.

"Saya membawa dia ke rumah neneknya. Yang menyimpan semua dokumentasi karir saya sejak awal. Saya tunjukkan ke dia. Lihat, tahun pertama, saya hanya finis di urutan segini, segini, dan segini. Tahun kedua, mulai ada finis kedua. Tahun ketiga, baru ada menangnya. Tahun keempat banyak menangnya, lalu Formula 1," tuturnya.

Kata Alesi, jangan pedulikan apa kata orang di level tahapan tersebut. Fokus pada diri sendiri, fokus pada pengembangan diri sendiri. Alesi menyebut, orang-orang yang dulu finis di depannya pada tahun pertama, tidak satu pun menjadi pembalap sukses. Padahal, mereka itu dulu sangat dia kagumi dan takuti.

Alesi lantas melanjutkan nasihatnya untuk Giuliano. "Pada tiga tahun pertama, kamu akan banyak sengsara. Tapi itu bukan berarti kamu tidak hebat. Kamu harus terus bekerja keras. Saya kira dia paham itu. Bahwa kehidupan nyata itu keras," ucapnya.


Giuliano Alesi (Ferrari)

Apakah kelak Giuliano bisa menyusul langkah Jean Alesi masuk F1? Kita masih harus menunggu. Apakah Giuliano bisa menjalani karir lebih baik dari sang ayah? Kita juga harus menunggu.

Kalau iya, maka nama Alesi akan makin bersinar di arena balap dunia.

Kalau tidak, Jean Alesi tetap akan menjadi salah satu legendanya. Cerita Alesi akan terus menjadi catatan sejarah F1. Selalu masuk daftar debutan paling spektakuler, serta peraih satu kemenangan paling mengesankan.

Seorang legenda abadi, walau hanya pernah menang sekali... (azrul ananda)

Comments (11)

Catatan Rabuan

Welcome To Happy Wednesday 2.0

Sudah lebih dari setahun saya tidak menulis Happy Wednesday, sebuah kolom hari Rabu di mana saya bisa menulis sesuka hat...

Terima Kasih, Bu Moer Ku Sayang...

Kamis pagi, 20-02-2020, seperti biasa alarm saya berbunyi pukul 03.55 pagi. Seperti biasa, langsung minum air putih sa...

Tribute untuk Ayah Penghibur

Tulisan tentang Hari Ayah ini mungkin seharusnya ditayangkan Selasa, 12 November 2019 lalu. Tapi tidak apa-apa lah, lagi...

Frozen II untuk Bapak-Bapak

Banyak bapak-bapak pergi ke bioskop sekarang ini. Mungkin akan terus banyak hingga Desember atau bahkan Januari. Mereka...