Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Hank adalah seorang polisi di Los Angeles. Kulit putih. Hari itu dia sebenarnya sedang berduka. Rekan kerjanya barusan tewas tertembak saat mencoba menghentikan sebuah pembobolan gudang. Hari itu dia sempat diminta tidak bekerja, tapi dia memilih terus bekerja untuk melupakan kepedihan.

Hank sendirian di mobil patroli. Sambil menyimpan ambisi untuk mengungkap kasus penembakan rekannya tersebut.

Sementara itu, Earl adalah seorang pengangguran di Los Angeles. Kulit hitam. Dia punya cita-cita jadi polisi, tapi ditolak karena dianggap bermulut besar dan sulit mengikuti perintah atau bekerja sama.

Siang itu, Earl sedang membeli makanan. Berjalan ke arah mobilnya yang diparkir di pinggir jalan. Ketika sampai di samping mobil, Earl merasa sebal. Dia tidak bisa membuka pintu karena lupa mencabut kunci dari dalam mobil.

Beruntung jendelanya sedikit dibuka. Sesuatu yang normal di kota seperti Los Angeles. Apalagi di musim panas. Untuk membantu sirkulasi udara di dalam mobil.

Earl pun berupaya dengan segala cara untuk membuka pintu, dengan mengakali celah lubang jendela.

Mobil patroli yang dikemudikan Hank lewat. Sebagai polisi, tentu kelakuan Earl itu perlu dicurigai. Sekilas, dia seperti pencuri mobil. Hank pun turun dari mobil. Menyapa Earl.

"Butuh bantuan?" sapa Hank sang polisi.

Melihat seorang polisi kulit putih, Earl langsung nyeletuk: "Kamu bertanya apakah saya butuh bantuan, atau apakah saya sedang mencuri mobil ini?".

"Oke, baik. Apakah kamu sedang berusaha mencuri mobil ini?"

"Apakah saya terlihat seperti sedang mencuri mobil ini?"

"Sedikit kelihatan seperti itu."

"Kenapa? Karena saya kulit hitam?"

Kemudian, Earl terus nyerocos. Menyebut kalau dia kulit putih, maka dia tidak akan ditanyai apa-apa.

Merasa bertele-tele, Hank pun menanyakan SIM dan STNK. Tapi Earl terus nyerocos. "Saya tidak akan menunjukkan apa-apa padamu, Nazi!" katanya keras, memanggil Hank dengan sebutan rasis itu.

"Maaf?" tanya Hank lagi.

Earl benar-benar sudah tidak bisa direm mulutnya. Justru makin ketus. "Hey, Man! Ini mobil saya. Saya tidak melakukan kesalahan apa-apa. Justru saya melihat, kamulah yang harus minta maaf!"

Tak sabar menahan emosi, Hank menyampaikan ancaman halus. "Kamu sedang melakukan sesuatu yang berbahaya. Hati-hati dengan ucapanmu yang berikutnya," kata sang polisi.

"Kamu ingin dengar omongan saya berikutnya? Kamu adalah BABI!" begitu ucap Earl, semakin ketus lagi.

Hank pun bertindak tegas. Mengeluarkan tongkatnya, lalu berusaha memepet Earl ke samping mobil. "Kamu saya tahan!" ujarnya.

"Tidak! Justru saya yang menahan kamu. Warga yang menahan kamu karena kamu menahan orang yang salah!" balas Earl.

Hank pun memepet Earl ke samping mobil, menahan kedua tangannya. Menyebut Earl bisa ditindak karena dianggap melawan penahanan.

Earl benar-benar tidak bisa mengerem mulutnya. "Ini kebrutalan polisi!" teriaknya.

Tapi tiba-tiba, Earl terhenyak. Melihat seekor lebah berseliweran di sekitarnya. Dia mengingatkan Hank bahwa ada seekor lebah besar di belakangnya. "Saya alergi! Kalau saya disengat, saya bisa mati kaku!" ujar Earl dengan wajah ketakutan.

Hank mencoba menenangkan. Bilang kalau Earl diam saja, lebah itu tidak akan menyerang. Bukannya tenang, Earl makin panik. Lebah pun mencoba menyerangnya. Earl sampai tersungkur di jalan, di sebelah roda depan kiri mobilnya. Hank mencoba menolong, mengayun-ayunkan tongkatnya untuk mengusir lebah itu. Ketika kena, Hank mencoba menginjak-injak lebah itu di jalan.

Teriakan heboh Hank dan Earl ini mengundang perhatian orang-orang yang sedang bersantai di taman, di sebelah jalan tempat mobil parkir. Seorang pria mencoba merekam kelakukan Hank dan Earl. Dari sudut pandang kamera itu, tepatnya dari sisi kanan mobil, yang terlihat hanya Earl seolah terbaring di jalan. Lalu di atasnya, Hank mengayun-ayunkan tongkat dan menginjak-injakkan kakinya.

Karena lebahnya tidak kelihatan, seolah Hank yang memukuli dan menginjak-injak Earl.

Rekaman video itu lantas menjadi viral di berita-berita. Seolah-olah ada polisi kulit putih melakukan tindakan brutal terhadap seorang kulit hitam. Suasana kota jadi mencekam. Orang-orang mengancam akan melakukan demonstrasi.

Pihak kepolisian dan yang terkait harus membuat sikap.

Hank, yang memang tidak banyak omong dan tidak pintar ngomong, hanya bisa membela diri dengan menyatakan bahwa yang menyerang itu lebah. Bukan dia. Earl yang sempat terekam berwajah bengap, sebenarnya sudah mengakui kalau dia bengap karena disengat lebah. Tapi dia tetap menuntut Hank minta maaf. Tentu Hank tidak mau.

Hank pun disidang. Khawatir tekanan publik yang kuat, dan dengan dewan juri persidangan yang didominasi kulit hitam, Hank pun masuk penjara enam bulan. Dipecat dari barisan polisi...

Enam bulan kemudian, Hank bebas. Dia hanya bisa mendapat pekerjaan sebagai petugas keamanan (satpam). Alangkah ironisnya, Earl juga bekerja sebagai satpam di situ!

Walau jadi satpam, Hank tetap ingin menuntaskan kasus kematian partner polisinya dulu. Kejadian demi kejadian berlalu, dia mau tak mau harus berpasangan dengan Earl menuntaskan kasus itu. Dan ternyata, kemampuan keduanya saling melengkapi.

Kegigihan Hank klop dengan kecerdikan (dan mulut manis) Earl.

Earl pun bertemu dengan mantan kekasih Hank. Yang mendepak Hank begitu dia dimasukkan penjara.

Tahukah Anda, ternyata kekasih Hank itu perempuan kulit hitam!

Benar-benar tidak adil nasibnya. Sudah disebut rasis dan menyakiti kulit hitam, padahal dia sebenarnya sama sekali tidak rasis. Bahkan punya pacar kulit hitam! Masalahnya, Hank tidak pintar bicara. Tidak pintar membela diri. Plus terjepit situasi yang unik.

Apa yang terjadi kemudian? Saya tidak mau menulis lebih lanjut. Bukan karena ingin membuat tulisan bersambung, tapi karena cerita di atas sudah ada film lengkapnya.

He he he. Cerita di atas adalah penggalan besar dari film komedi berjudul National Security (Keamanan Nasional), yang keluar di bioskop pada 2003 lalu. Film lumayan besar, menampilkan bintang kulit hitam yang sedang naik daun saat itu. Seorang bintang kocak bernama Martin Lawrence. Dia memerankan Earl.

Sedangkan Hank diperankan oleh Steve Zahn, yang juga banyak muncul di film-film kondang Hollywood.

Saya jadi ingat film itu gara-gara kehebohan George Floyd, tragedi yang menimpanya, serta dampak sosial yang dihasilkan. Untung ini era streaming. Dan film itu dengan mudah saya temukan di Netflix. Langsung saja saya tonton ulang. Maklum, sudah belasan tahun tidak menontonnya.

Di satu sisi, film itu sangat relevan. Isu kebrutalan polisi terhadap kulit hitam ini bukan sesuatu yang baru. Sudah puluhan tahun. Tapi pada 2003 itu, isu ini masih bisa dijadikan bahan film komedi. Apalagi komedi yang menunjukkan kalau kadang yang kulit hitam juga berulah berlebihan.

Dan jangan salah. Ini film kulit hitam. Martin Lawrence adalah bintang utamanya. Dan film-film Martin Lawrence selalu "kulit hitam" banget.

Apa yang terjadi pada Floyd tentu tidak bisa dijadikan bahan komedi. Saya yakin akan terjadi reformasi besar terhadap bagaimana polisi boleh bertindak, dan bagaimana polisi akan ditindak ketika berbuat kesalahan serius. Efeknya bukan hanya di Amerika, bisa-bisa merembet ke negara-negara lain di dunia.

Tapi, film National Security ini bisa dijadikan bahan renungan. Dan bukan untuk tertawa. Bahwa yang namanya manusia itu pasti ada titik bawahnya. Yang membuat dia bisa berbuat sesuatu yang tidak pernah terbayangkan.

Karena itulah, perkembangan kasus Derek Chauvin dan George Floyd ini akan terus mendapat perhatian besar. Sampai mendetail. Karena masih ada begitu banyak pertanyaan yang muncul. Apakah Floyd sengaja menggunakan uang palsu, atau tidak sengaja. Lalu rekan satu mobilnya itu perannya apa? Serta apa yang diucapkan Floyd sehingga bisa membuat Chauvin gelap mata?

Apakah Chauvin itu benar-benar rasis? Ingat, istrinya orang Asia (Hmong/Laos). Sudah menikah sepuluh tahun. Salah satu polisi yang ikut ditahan karena dianggap ikut mengakibatkan kematian Floyd juga orang Hmong.

Segala video rekaman yang muncul, dari berbagai sudut dan sumber, tetap masih hanya memberikan sebagian gambaran. Belum seutuhnya. Perjalanan penyelidikan dan persidangan akan membantu menjawab segala pertanyaan itu.

Jangan salah, bukan berarti ini membela Chauvin. Bagaimana pun, apa yang dia lakukan itu sangat tidak manusiawi. Andai pun Floyd berbuat salah, tidak semestinya Chauvin berbuat demikian.

Harus ada sanksi dan hukuman yang pantas. Serta, berdasarkan tuntutan masyarakat di sana, harus ada reformasi yang tegas di bidang kepolisian.

Kalau tidak, hal-hal seperti ini masih bisa terus terjadi. Alangkah mengerikannya bila hal buruk ini kembali terjadi karena disengaja. Juga, tidak kalah mengerikannya kalau hal buruk ini terjadi karena tidak disengaja alias salah paham!

Seluruh dunia akan terus mencermati dan mempelajari kabar buruk di Minneapolis tersebut. Karena di zaman sekarang ini, kabar buruk tidak bisa lagi ditutup-tutupi lalu dilupakan begitu saja.

Dan saya rasa, kabar buruk tetap tidak akan menjadi baik walau dibacakan oleh seseorang yang sangat cantik! (azrul ananda)

Comments (37)

Catatan Rabuan

Welcome To Happy Wednesday 2.0

Sudah lebih dari setahun saya tidak menulis Happy Wednesday, sebuah kolom hari Rabu di mana saya bisa menulis sesuka hat...

Love Story 1970

Dan malam itu saya dan istri dapat tontonan escapisme. Ketika buka Netflix, ternyata muncul opsi film yang sudah begitu...

Frozen II untuk Bapak-Bapak

Banyak bapak-bapak pergi ke bioskop sekarang ini. Mungkin akan terus banyak hingga Desember atau bahkan Januari. Mereka...

Untuk Ibu Paling Tangguh

Hari Ibu segera tiba. Tanggal 22 Desember. Saya tidak tahu, apakah ini masih jadi hari penting di Indonesia. Dan apakah...