Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Entah berapa tulisan yang lalu, tapi saya pernah menulis betapa kangennya saya nonton bioskop. Sulit dipercaya, bisa berbulan-bulan-bulan sama sekali tidak ke bioskop selama pandemi ini. Sebulan terakhir, akhirnya saya nonton dua kali. Eh, tepatnya tiga kali. Sekali nonton Ghostbusters: Afterlife, dua kali nonton Spider-Man: No Way Home.

Pengakuan: Saya sama-sama menitikkan air mata saat menonton dua film itu. Yang satu dua kali menitikkan air mata. Ini menunjukkan umur saya. Kalau dua-duanya mewakili masa lalu yang indah, saat masih belum memikirkan keluarga, pekerjaan, dan problema real dunia (wkwkwkwk...).

Spider-Man: No Way Home saya bahas belakangan saja. Karena film ini masih fresh banget, masih banyak yang belum sempat menonton. Bahkan ada seorang teman saya yang menghindari bertemu saya dan chatting dengan saya, gara-gara takut kena spoiler isi film yang dibintangi Tobey Maguire, eh, Andrew Garfield, eh, Tom Holland tersebut.

Spoiler alert! Yang belum nonton mungkin bisa menunda dulu membaca tulisan ini. Supaya tidak kebocoran informasi bahwa ada tiga Spider-Man tampil mewakili tiga generasi di film tersebut...

Ghostbusters: Afterlife dulu. Saya benar-benar tidak menyangka kalau film ini tergolong emosional. Ini bukan sekadar film baru. Benar kata sejumlah pengamat dunia, ini adalah "surat cinta" untuk dua film Ghostbusters orisinal, yang beredar puluhan tahun lalu. Tepatnya 1984 dan 1989.

Hanya mereka yang sudah "berumur" (sialan!) yang ingat betul film-film itu. Yang bisa merasakan sentuhan emosional dari film terbaru ini, untuk mengenang dan menghormati dua film lawas itu. Film Ghostbusters versi perempuan yang beredar 2016 tidak perlu dihitung, dan saya sudah melupakannya.

Secara genetik, Ghostbusters: Afterlife memang turunan dari orisinalnya. Film aslinya dulu dibesut oleh sutradara Ivan Reitman. Film terbaru ini buatan anaknya, Jason Reitman. Selama pembuatan, Ivan ikut terus menemani.

Ceritanya sekarang beralih dari hiruk pikuk New York ke ketenangan kawasan Midwest Amerika, dalam hal ini Oklahoma. Ceritanya tentang anak-cucu dari Egon Spengler, anggota orisinal Ghostbusters yang diperankan oleh mendiang Harold Ramis.

Saya tidak mau cerita lebih detail. Tapi bagaimana film ini menghormati Ramis, bagaimana film ini memasukkan sang mendiang pada bagian awal dan akhir, benar-benar membuat saya merinding. Khususnya di akhir. Ketika dia membantu anak-cucunya mengalahkan raja setan yang jahat itu.

Menggambarkan bagaimana orang tua, kakek-nenek, dan moyang kita tetap bisa memberi peran besar kepada kita, walau mereka telah tiada.

Anak-anak saya tentu tidak mudeng dengan Ghostbusters orisinal. Tapi mereka tetap bisa tertawa terbahak-bahak dan tersentuh oleh cerita baru ini. Apalagi dua bintang kecilnya yang brilian, yaitu Phoebe Spengler (McKenna Grace) dan Podcast (Logan Kim). Keduanya luar biasa!

Sekarang soal Spider-Man: No Way Home. Ya Tuhan, ini film menunjukkan betapa luar biasanya kekuatan cinema walau di tengah pandemi yang seharusnya sudah mendekati akhir (tapi masih mengancam) ini.

Siapa menduga, walau di tengah batasan menonton di seluruh dunia, termasuk di Amerika, film ini mampu meraup pemasukan weekend pertama yang tergolong terbaik dalam sejarah. Dua atau tiga besar tersukses dalam sejarah. Mengalahkan film-film Star Wars (yang belakangan memang mengecewakan banyak fans berat, termasuk saya). Hanya kalah dari dua film Avengers yang epik: Infinity War dan Endgame.

Dan film ini, di satu sisi, juga merupakan surat cinta bagi penggemar lama Spider-Man. Saya geleng-geleng kepala, bagaimana satu film ini bisa merangkum dengan baik tiga serial Spider-Man yang berbeda. Merangkum kisah Spider-Man karya Sam Raimi yang beredar 2002 hingga 2007, juga memberi lanjutan manis untuk kisah The Amazing Spider-Man yang muncul pada 2012-2014. Plus, tentu saja, merangkum Spider-Man versi Tom Holland yang sekarang superpopuler itu.

Bukan sekadar merangkum, No Way Home juga membuka peluang bagi ketiga serial itu untuk berlanjut sendiri-sendiri atau saling "bersenggolan."

Dan ada satu hal yang saya sangat suka di bagian akhir dari No Way Home. Yaitu bagaimana Spider-Man kembali menjadi "Spider-Man yang sebenarnya." Spider-Man yang selama ini tergambarkan di dalam komik-komik asli lamanya.

Yaitu Spider-Man yang hidupnya selalu susah, selalu tidak enak, selalu harus mengalah demi kebaikan orang banyak.

Selama ini, Spider-Man-nya Tom Holland itu agak "melenceng." Hidupnya memang tidak kaya, tapi mendapatkan banyak dukungan dari Tony Stark (Iron Man) dan perusahaannya.

Di akhir No Way Home, Spider-Man versi Tom Holland ini kembali mirip dengan yang sebenarnya. Tinggal di apartemen jelek, tidak punya uang, cintanya tak bisa tersampaikan, dan berbagai "kesusahan" lain sebagai konsekuensi menjadi seorang superhero.

Menjadi Spider-Man yang susah hidupnya "bisa dirasakan" oleh orang banyak. Status hidup susah dan apesnya itulah yang selama ini menjadikannya salah satu superhero paling populer dalam sejarah.

Kabarnya, Sony dan Marvel (dua perusahaan raksasa yang kongsian membuat film Spider-Man) sudah sepakat untuk melanjutkan petualangan Spider-Man versi Tom Holland ini untuk tiga seri lagi (trilogy baru).

Semoga saja tidak seperti Star Wars. Semoga saja trilogy baru itu tetap memberi cerita indah. Sekaligus sambil menunggu kabar, seperti apa nasib Spider-Man versi Maguire dan Garfield setelah ini. Siapa tahu ada lagi kelanjutan kisah Spider-Man tua (Maguire, usia 40-an) dan Spider-Man menuju tua (Garfield, usia 30-an).

Sebagai rangkuman, Spider-Man: No Way Home menunjukkan betapa pintarnya Disney (pemilik Marvel) bersama Sony untuk terus mengeruk triliun. Bisa dapat uang banyak dari banyak generasi, dan terus bisa mendapat banyak uang dari generasi berumur sekaligus generasi masa depan.

Ini namanya bukan sekadar pintar cari duit. Ini juga pintar memposisikan diri sehingga saat berada di perempatan, belok ke mana saja tetap akan dapat banyak duit! (azrul ananda)

Comments (19)

Catatan Rabuan

Polisi Brutal Lebah

Segala video rekaman yang muncul, dari berbagai sudut dan sumber, tetap masih hanya memberikan sebagian gambaran. Belum...

Politik dan Komedi Borat

Akhir Oktober ini, mulai Jumat, 23 Oktober lalu. Sekuel film Borat beredar. Empat belas tahun setelah seri pertama! Judu...

Cinta, Pengorbanan, dan Manuver Politik Voltus V

Power of nostalgia! Baru-baru ini saya dikirimi link video menarik dari teman seangkatan. Sebuah trailer serial baru unt...

Seinfeld Rp 7 Triliun

Bagaimana bisa sesuatu yang dibuat pada 1990-an hari ini masih bisa mendapatkan duit Rp 7 triliun.