Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Power of nostalgia! Baru-baru ini saya dikirimi link video menarik dari teman seangkatan. Sebuah trailer serial baru untuk 2021. Judulnya: Voltes V Legacy.

Ya. Voltes V. Di sini lebih dikenal dengan sebutan "Voltus V." Serial kartun robot Jepang yang sangat melekat di anak-anak generasi saya, yang sekolah dasarnya di era 1980-an. Serial Jepang 40 seri yang orisinalnya pertama muncul pada 4 Juni 1977. Satu bulan sebelum saya lahir.

Saya langsung membagikan link itu ke teman-teman lain. Langsung ada yang menyahut: "Kok jadi merinding ya dengar lagunya."

Ah... The power of nostalgia!

Tentu saja, kami semangat luar biasa begitu mengetahui lebih lanjut tentang Voltes V Legacy untuk 2021 itu. Ini akan jadi serial live action, menggunakan pemeran orang beneran. Robot dan segala aksinya tentu akan animasi dan CGI. Trailer-nya, terus terang, begitu bagus. Lagu dan bentuk robotnya tetap konsisten dengan orisinal.

Bagi yang cinta Voltus V seperti saya dan beberapa teman, memang merinding mendengar lagunya yang menggebu itu. Lantas merinding lagi saat mendengar teriakan "Let's Volt in!". Dan tentunya saat melihat pedang panjang keluar dari dada sang robot. Ah... Rasanya jadi anak-anak lagi!

Tapi, kami juga terhenyak.

Serial baru ini resmi. Bekerja sama resmi dengan Toei Jepang, pemilik hak aslinya. Hanya saja, ini bukan lagi serial Jepang. Bukan juga Amerika. Ini akan jadi serial Filipina. Bintang-bintangnya Filipina semua, rata-rata Idol-nya negeri tetangga kita itu. Nama-nama lakonnya akan mengikuti versi Inggrisnya dulu. Misalnya. Kenichi Go akan jadi Steve Armstrong.

Karena saya membahas ini dengan teman-teman laki-laki lain, tentu dengan cepat muncul hasil gugelan bintang-bintang perempuannya. Cantik-cantik dan seksi-seksi tentunya!

Di era digital ini, cara halal atau haram, mendapatkan copy serial itu kelak bukanlah suatu halangan. Tapi, kami jadi bingung apakah akan bisa menikmatinya. Karena serial Voltes V Legacy ini akan dibuat dalam bahasa Tagalog! Lokasi cerita sepertinya masih fictional Tokyo, namun pemeran dan bahasanya Filipina semua.

Terus terang, 30 tahun lebih mengenal Voltus V, saya tidak menduga Filipina bisa "Voltus banget." Dan di Filipina ternyata antisipasi menanti serial ini termasuk heboh.

Mungkin, penggemar serial Jepang yang lebih serius akan lebih paham ini daripada saya. Tapi terus terang saya baru mudeng sekarang. Di Filipina, Voltus V ternyata juga sangat heboh. Bahkan mungkin lebih heboh daripada di Indonesia. Bahkan, di sana, sempat ada kontroversinya. Karena di era pemerintahan Ferdinand Marcos, penayangan Voltus V sempat dihentikan, karena dianggap mengajarkan anak-anak "yang tidak-tidak."

Bukan. Bukan hal porno. Melainkan hal-hal yang berbaru sosial politik! Menyukai Voltus V, ternyata, bisa digolongkan sebagai membahayakan bagi negara!

Tentu saja, hal-hal dilarang justru akan menjadi lebih populer. Voltus V pun menjadi sesuatu yang penting bagi satu generasi anak (dan anak muda) di Filipina. Lebih mendalam bagi mereka daripada kita-kita di Indonesia.

Saya pun mencoba mengingat-ngingat semaksimal mungkin, mengapa Voltus V bisa dianggap ancaman politik. Dan sekarang saya jadi lebih melek! Kemudian saya baca-baca lagi. Kemudian saya menonton lagi beberapa episodenya yang saya anggap penting (ya, saya punya rekaman lengkapnya di rumah). Atau, lihat cuplikan-cuplikan adegan pentingnya di YouTube.

Setelah beberapa hari, saya punya kesimpulan. Anak-anak kita harus ikut menonton film ini! Bahkan, tingkat perguruan tinggi pun perlu menonton lagi serial keluaran 1977 ini! Bahkan perlu ada diskusi dan ujian membuat resensinya!

Ini alasan saya:

Secara permukaan. Voltus V memang film robot segala umur. Lima anak muda jagoan mengendalikan sebuah robot untuk menjaga bumi dari serangan musuh dari Planet Boazan. Di hampir setiap episode, ada saja raksasa baru dari Boazan untuk mengalahkan Voltus V. Setiap episode mereka tarung, dan jagoan menang terakhir.

Menggali lebih dalam. Ini drama keluarga (dan cinta keluarga) yang begitu luar biasa. Sepanjang 40 episode, Go bersaudara (Kenichi, Daijiro, Hiyoshi) harus belajar tentang siapa orang tua mereka. Khususnya sang ayah. Semula dikira sudah tiada. Kemudian mencari tahu keberadaanya. Kemudian mendapati twist ending tentang sang ayah, juga tentang Prince Heinel yang selalu dianggap sebagai "musuh" utama.

Dua lakon utama lain, Ippei dan Megumi, juga punya kisah drama keluarga masing-masing.

Lebih dalam lagi. Cinta butuh pengorbanan. Menjadi orang hebat butuh pengorbanan. Kelima lakon itu tidak langsung hebat. Sebelum benar-benar menguasai robot Voltus V, mereka harus belajar dengan cara paling menyakitkan. Ibu Go bersaudara harus berkorban. Profesor Hamaguchi harus berkorban. Jenderal Oka, ayah Megumi, harus berkorban. Bahkan, saat Ippei masih kecil, ibunya juga harus berkorban supaya sang anak selamat.

Saya ingat dulu berkali-kali menangis menonton Voltus V. Bahkan beberapa hari menonton lagi itu tak terasa air mata kembali menetes. Untuk serial segala umur, Voltus V ini termasuk "dark" dan sedih!

Saya jadi merasa ikut marah, saat Voltus V mengamuk menghantam raksasa lawan setelah sang ibu mati berkorban di episode kedua. Rasanya jadi ingin ikutan memukuli sesuatu!

Kemudian lapisan lebih dalam lagi masuk ranah sosial politik. Voltus V bukan sekadar soal satu planet menyerang planet lain. Boazan ternyata planet yang punya sejarah diskriminasi, tak jauh dengan banyak negara di bumi. Bangsa bertanduk dianggap berkasta lebih tinggi, sementara yang tidak bertanduk adalah budak.

Wow. Alangkah relevannya itu dengan isu dunia sekarang!

Perjuangan melawan diskriminasi itu "tumpah" ke bumi. Makanya sampai ada serangan ke bumi, yang kemudian berbuntut serangan dari bumi ke Boazan.

Lebih jauh lagi. Di balik pemerintahan yang diskriminatif, ternyata ada permainan politik. Ada keserakahan dan hasut menghasut. Yang benar-benar "jahat" ternyata bersembunyi dan pengecut.

Heinel, walau terkesan jahat, ternyata bisa diartikan sebagai seorang patriot. Seseorang yang setia dan rela mengorbankan apa saja untuk bangsanya. Bahwa dia yang dikirim untuk menyerang bumi, ternyata juga bentuk dari manuver politik. Untuk menjauhkan atau melemahkan sebuah pihak yang bisa dianggap sebagai ancaman kekuasaan!

Saya tidak akan menceritakan ending-nya. Ini serial sudah berusia hampir sama dengan saya, hampir 44 tahun. Gampang mencarinya sendiri. Dan seperti kebanyakan kisah hebat, ending-nya bukan sekadar happy ending. Saya tetap kembali menitikkan air mata begitu menonton kembali twist ending-nya, dan mengetahui apa yang terjadi pada lakon-lakon utamanya.

Ah, the power of nostalgia!

Saya pun memutuskan, anak-anak saya minimal harus tahu tentang serial Voltus V. Setiap hari, saat makan malam, saya putar satu episode. Ternyata dua putri saya meresponsnya lumayan. Walau sudah 40-an tahun, cerita dan animasinya masih panjang umur. Saya lantas memberi sedikit background cerita tentang episode hari itu. Sekaligus membuat penasaran mereka tentang apa yang akan terjadi kemudian.

Entah, apakah mereka akan bisa menontonnya sampai tuntas. Kalau bisa, baguslah. Rasanya menonton Voltus V bisa lebih bermanfaat, lebih emotionally engaging, daripada kebanyakan kelas online di era pandemi ini!

Andai tidak bisa menonton semua episode, minimal anak-anak saya bisa paham intisari cerita overall dari Voltus V. Tentang cinta, keluarga, pengorbanan, dan tentu aspek sosial politik yang digambarkan.

Oh ya, sekaligus untuk menegaskan kepada mereka, bahwa hal-hal terbaik selalu lahir pada 1977. Misalnya Voltus V, Star Wars, dan yang lain! (Azrul Ananda)

Comments (21)

Catatan Rabuan

Polisi Brutal Lebah

Segala video rekaman yang muncul, dari berbagai sudut dan sumber, tetap masih hanya memberikan sebagian gambaran. Belum...

Seinfeld Rp 7 Triliun

Bagaimana bisa sesuatu yang dibuat pada 1990-an hari ini masih bisa mendapatkan duit Rp 7 triliun.

Politik dan Komedi Borat

Akhir Oktober ini, mulai Jumat, 23 Oktober lalu. Sekuel film Borat beredar. Empat belas tahun setelah seri pertama! Judu...

Umur Panjang Nenek Barbeque

Kali ini, cerita "menyejukkan" itu datang dari sebuah seri tentang kuliner.