Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Saya begitu menikmati dua lomba pertama musim Formula 1 2020. Sudah lama rasanya tidak merasa se-happy ini. Faktor utamanya: Kebangkitan baru tim McLaren dan pembalapnya yang super menghibur, Lando Norris. Tim ini benar-benar telah bertransformasi. Dari tim paling rapi menjadi tim paling entertaining!

Setelah dua lomba itu, saya seolah "diingatkan" kalau McLaren adalah tim favorit saya di F1. Dulu, ini memang tim kecintaan pertama saya. Mungkin gara-gara faktor Ayrton Senna, yang membela McLaren antara 1988-1993, memenangi puluhan lomba dan tiga gelar juara dunia di sana.

Saking sukanya, di zaman belum internet itu, saya pernah bergabung dengan fans club internasional McLaren. Saya lihat iklannya di sebuah majalah Inggris, lalu mengirimkan cek internasional ke Inggris senilai 100 poundsterling.

Delapan minggu kemudian, saya mendapatkan kiriman paket dari McLaren. Paket yang begitu menyenangkan. Isinya sebuah kaus polo putih polos, dengan tulisan sederhana "McLaren" di dada kiri. Lalu ada kartu-kartu, serta sebuah "surat" dari Ron Dennis, bos McLaren waktu itu.

Surat itu saya simpan seperti surat berharga. Padahal, Ron Dennis tidak menandatanganinya langsung. Tanda tangannya sudah tercetak di situ. Semua dapat surat yang sama, hanya ada nama saya saja terketik di atas.

Bukan masalah, itu surat yang paling berharga buat saya waktu itu. Dan kausnya saya pakai terus sampai mengkerut, bolong-bolong, dan tidak bisa diselamatkan lagi.

Kesukaan terhadap McLaren ini berlanjut hingga era Mika Hakkinen. Juga saat era Lewis Hamilton. Namun mungkin sudah bukan tahap "cinta." Hanya suka saja.

Seiring waktu berlalu, dan semakin tinggi kemampuan saya dalam memahami manajemen, kesukaan saya agak bergeser. Bukan dari pembalapnya, melainkan dari cara tim itu beroperasi.


McLaren Technology Centre.

Ron Dennis, di antara semua bos tim, mungkin termasuk yang paling OCD alias obsessive compulsive disorder. Segalanya harus super rapi, tertata dengan cara tertentu. Tidak boleh ada toleransi sedikitpun.

Lihat saja bagaimana "penampilan" tim tersebut di bawah kepemimpinan Dennis. Selalu paling corporate. Paling rapi seragamnya. Paling anggun dengan warna minimalis. Motorhome atau fasilitas tim di sirkuit juga paling elegan. Pembalap-pembalapnya juga selalu punya potongan rambut rapi, dengan cara berpakaian yang sangat diatur.

Kabarnya, dalam kehidupan pribadinya, Dennis lebih "sinting" lagi. Lemari bajunya diatur sedemikian rupa, sehingga semua pakaiannya tertata rapi sesuai warna. Kemudian, ketika ada perubahan warna, baju-baju itu ditata sehingga urutan warnanya membentuk gradasi. Misalnya dari putih ke hitam. Tidak langsung mendadak dari putih ke hitam. Ada berbagai jenis abu-abu di tengah-tengahnya!

Pada akhirnya, Dennis memang tidak lagi memimpin McLaren. Dia sempat berupaya melakukan transisi. Namun tidak smooth. Akhirnya terjadi pergulatan di tingkat pemilik, yang berbuntut Dennis harus terdepak. Ini seiring dengan semakin menurunnya performa McLaren sejak 2012 (hingga 2018).

Ron Dennis mengorbitkan Lewis Hamilton sejak masih anak kecil.

McLaren, saat ditinggal Dennis, memang bukan lagi sebuah tim F1 biasa. Sudah berevolusi dan membesar jadi sebuah perusahaan otomotif dan teknologi yang lebih besar. Di satu sisi, mungkin ini pula yang mengakibatkan performa tim menurun. Karena fokus manajemennya terpecah ke berbagai arena bisnis.

Dalam beberapa tahun terakhir, tim ini benar-benar berubah manajemennya. Pemilik utamanya adalah perusahaan investasi di Bahrain. Manajemennya dipimpin oleh orang Amerika, Zak Brown, yang punya latar belakang marketing sponsorship di F1.

"Keanggunan" McLaren sempat hilang. Saya benci banget melihat corak mobil McLaren pada 2017. Kombinasi hitam dan oranyenya terkesan seperti tim papan bawah.

Lalu, mulai 2018, tim ini tidak lagi malu-malu memakai warna dominan oranye. Tepatnya "papaya orange." Warna "asli" McLaren saat didirikan oleh Bruce McLaren puluhan tahun lalu. Ada kombinasi birunya, dan evolusi coraknya terus "membaik" (menurut saya) hingga 2020 ini.

Manajemen tim ini terus dirombak. Benar-benar meninggalkan pola Dennis, di mana tidak boleh ada satu sosok dominan di sisi teknis. Sebagai CEO, Brown menunjuk Andreas Seidl --insinyur Jerman yang sukses di arena balap lain bersama Porsche-- sebagai pimpinan tim. Struktur tim pun jadi lebih ramping, khas tim-tim balap pada umumnya.

Dengan mesin Renault, pada 2019, tim ini melonjak lagi ke urutan empat konstruktor. Dan bersiap mempertahankannya atau mendekat ke tiga besar pada 2020 ini.

Kemudian pandemi terjadi. McLaren termasuk pemicu dibatalkannya lomba pembuka orisinal di Australia, Maret lalu. Gara-gara salah satu personel McLaren yang tiba di Negeri Kanguru positif terinfeksi Covid-19.

Pandemi ini berefek lebih besar lagi. McLaren, seperti beberapa tim lain, terkena imbas ekonominya. Secara grup, McLaren harus mem-PHK sekitar 1.200 karyawan. Brown dan tim harus kerja keras mengamankan dana untuk bertahan hidup. Bantuan mereka dapatkan dari jalur "pemilik" di Bahrain.

Gara-gara pandemi, McLaren sekarang kembali fokus ke bisnis utama mereka. Yaitu balapan di F1. Hasilnya tidak mengecewakan.

Pada dua lomba pertama, McLaren mampu meraih podium dan menjadi salah satu atraksi utama. Pembalap "senior" mereka yang masih berusia 25 tahun, Carlos Sainz, mampu konsisten mengamankan poin. Pembalap muda mereka, Lando Norris yang baru berusia 20 tahun, jadi sensasi baru di F1.

Norris mampu naik podium di race pertama, lalu secara spektakuler meraih posisi kelima pada race kedua (menyalip tiga mobil pada dua lap terakhir).

Sukses Norris ini membuat McLaren semakin disoroti. Orang akhirnya melihat lagi perjalanan transformasi tim dalam tiga tahun terakhir. Dan semakin sadar, kalau McLaren yang sekarang ini sudah begitu jauh dari era Ron Dennis.

Ini bukan lagi tim yang kaku dan harus serba rapi. Bahkan, ini tim yang mencoba jadi paling menghibur di antara semua tim. Lando Norris merupakan faktor besar. Dia adalah bintang media sosial, yang begitu usil dan kocak namun sangat natural (tidak seperti bintang medsos kebanyakan).

Sainz, yang semula dikira kaku, ternyata jadi seperti "kakak" yang baik untuk Norris. Aksi keduanya begitu menghibur di media sosial. Cek saja sendiri. Kapan lagi ada dua pembalap F1 saling ledek, bahkan berani pukul kepala temannya!

Di zaman Ron Dennis dulu, ini pasti tidak akan diizinkan terjadi!

Sekarang, kerjaan saya kalau bosan kadang mencari aksi lucu Norris di dunia maya. Ini anak yang benar-benar lucu. Dan sekarang dia juga menunjukkan kalau dia pun dahsyat di lintasan.

Tahun 2020 ini, McLaren-Renault memang masih belum ada di level Mercedes atau Red Bull. Mungkin masih bisa mencuri beberapa podium, namun tetap jauh dari kemenangan. Tapi, secara performa, tim ini sudah berada di jalur yang benar.

Sayangnya, Sainz tahun depan sudah pasti akan pindah ke Ferrari. Norris masih akan di McLaren, dan akan ditemani oleh pembalap yang lebih senior tapi juga sangat berkelas: Daniel Ricciardo asal Perth, Australia Barat.

Bagi yang mengikuti F1 dalam beberapa tahun terakhir, tentu melihat potensi pasangan yang kuat untuk tahun depan. Apalagi McLaren akan pindah memakai mesin Mercedes, mesin terbaik di F1 era hybrid ini.

Lebih dari itu, pasangan ini juga punya potensi menghibur lebih gila-gilaan lagi. Sebelum Norris, pembalap paling lucu di F1 adalah Daniel Ricciardo. Tapi dulu Ricciardo seperti terpaksa lucu sendirian, karena pembalap-pembalap lain masih bergaya "standar" dan cenderung kaku.

Sekarang, bersama Norris, rasanya tidak sabar menunggu tingkah kocak apa yang akan mereka hasilkan di luar lintasan! McLaren benar-benar akan mendapat perhatian besar di dalam dan luar lintasan!

Oh ya, ada potensi pula gaya baru McLaren ini akan menular ke tim lain. Sainz di Ferrari akan berpasangan dengan Charles Leclerc, pembalap 22 tahun asal Monaco yang sebenarnya juga punya potensi usil seperti Norris. Ferrari mungkin akan membutuhkan kelucuan pembalapnya untuk menutupi suasana internal yang seolah ditakdirkan untuk selalu "panas."

Tim-tim lain? Kalau melihat McLaren punya potensi meraih eksposure (dan pemasukan tambahan) dari "kelucuan" pembalapnya, tentu mereka akan mencoba melonggarkan pula "aturan perilaku" yang kaku.

Jadi, teman-teman semua khususnya penggemar F1, kesimpulannya adalah ini: Masa depan Formula 1 mungkin adalah LUCU.(azrul ananda)

Foto-Foto: Website/Instagram McLaren dan Lando Norris

Ikuti berita-berita lanjutan NBA yang ada di "gelembung" di kompleks Walt Disney World, Orlando, hanya di Mainbasket.com

 

Comments (19)

Catatan Rabuan

Lando Lucu

Dan... Spektakuler! Lando Norris mencatatkan fastest lap lomba pada putaran terakhir itu.

Lewis Penanda Tua

Lewis Hamilton itu seperti penanda usia bagi saya. Dari semua superstar Formula 1, pembalap Inggris itu mungkin adalah y...

Tuhan Adil, Pierre Gasly

Saya benar-benar harus menulis tentang Pierre Gasly. Juara kejutan Grand Prix Italia di Sirkuit Monza, Minggu lalu (6 Se...

Formula 1 Tidak Asal Jalan

Akhirnya, tontonan yang paling saya tunggu-tunggu segera dimulai. Akhir pekan ini (3-5 Juli), musim Formula 1 2020 resmi...