Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Bulan Juli sudah menuju akhir. Bagi penggemar film seperti saya, seharusnya dua bulan terakhir selalu penuh dengan selingan ke bioskop. "Summer season," istilah keren Hollywood-nya. Di mana antara Mei hingga Agustus film-film blockbuster selalu nongol, mengisi masa liburan sekolah dan musim panas.

Seharusnya, sekarang ini kita sudah melihat Wonder Woman 1984, sekuel dari Wonder Woman (2017) yang sukses besar itu. Melihat lagi kecantikan dan kelincahan Gal Gadot dalam menghajar dan melaso lawan-lawannya.

Seharusnya, sekarang ini kita sudah melihat aksi Black Widow, yang mungkin adalah penampakan terakhir Scarlett Johansson di Marvel Universe. Film itu juga sekaligus memberi petunjuk, ke mana arah jaringan kompleks superhero Marvel tersebut.

Seharusnya, sekarang ini kita juga sudah melihat versi terbaru Mulan dari Disney. Menampilkan versi live action dengan bintang utama Liu Yifei. Film Disney yang seharusnya membuka tradisi baru, menampilkan bintang-bintang Asia secara keseluruhan.

Lho, kok tiga contoh film yang paling saya ingat lakonnya perempuan semua ya? Hebat juga berarti. Ini berarti film-film yang menampilkan lakon utama perempuan sudah mampu menjadi "jualan utama" Hollywood.

Apalagi tiga-tiganya juga disutradarai oleh perempuan pula. Wonder Woman 1984 oleh Patty Jenkins, Black Widow oleh Cate Shortland, dan Mulan oleh Niki Caro.

Andai tidak ada pandemi, ini benar-benar tahunnya perempuan di sinema!

Kapan kita bisa balik ke bioskop? Kalau segalanya terkendali, di Amerika jadwalnya mulai digong dengan pemutaran film baru Christopher Nolan, Tenet, pada 12 Agustus mendatang. Film itu sudah mundur jadwalnya, dan tampaknya tetap akan dijadikan acuan utama bagi semua studio.

Kalau Tenet lancar, maka yang lain siap menyusul di belakangnya.

Itu di negeri asalnya film-film Hollywood.

Dan sebenarnya, di Negeri Paman Sam beberapa negara bagian sudah mengizinkan beberapa bioskop buka. Dengan pembatasan-pembatasan khusus, misalnya maksimum kapasitas 50 persen dan pengaturan tempat duduk.

Tapi, tetap saja bukan film baru yang diputar. Studio-studio tidak mau mengorbankan film-film besar mereka untuk pemutaran terbatas. Lebih baik menunggu sampai benar-benar buka semua.

Karena itu, ada statistik aneh di awal Juli ini. Pengelola bioskop mau tidak mau harus memutar film-film "kuat" lama. Salah satunya, Star Wars: Episode V - The Empire Strikes Back, yang versi orisinalnya diputar pada 1980.

Pada weekend 10-12 Juli, film yang dianggap sebagai film Star Wars terbaik itu mampu meraup penghasilan sekitar 2,5 juta USD. Menempatkannya di ranking pertama box office, kembali ke puncak sejak puluhan tahun lalu! Jadi, film ini sudah tiga kali berjaya di bioskop. Ketika kali pertama dirilis, ketika dirilis ulang pada 1997, lalu ketika era pandemi 2020!

Benar-benar film yang abadi.

Sekarang, kita tinggal menunggu, apakah situasi Covid-19 ini bisa membaik di Amerika. Atau mereka tak kuasa lagi menunggu, dan benar-benar membiarkan bioskop buka secara meluas Agustus nanti.

Membaca persiapan-persiapan bioskop di sana itu membuat saya sedikit tersenyum. Karena bioskop-bioskop di Indonesia mungkin akan lebih siap menerapkan protokol baru.

Yang paling utama: Sistem booking tempat duduk. Untuk memastikan duduknya masih menerapkan physical distancing.

Kok kita bisa lebih unggul? Karena di Amerika, pada umumnya, bioskop-bioskop tidak menerapkan pemilihan tempat duduk. Rata-rata adalah free seating alias first come first serve. Maksudnya, siapa masuk duluan bisa memilih tempat duduk semaunya. Tidak akan ada usher yang memeriksa karcis, apalagi mengantarkan ke tempat duduk.

Sistem ini merupakan "permainan" saya dan teman-teman waktu masih sekolah dulu. Ketika bengong saat weekend, kami bisa betah siang sampai malam di bioskop.

Cukup bayar satu tiket film, lalu begitu masuk bisa nonton tiga film berturut-turut. Begitu film satu berakhir, pindah ke gedung lain untuk menonton film yang lain. Kemudian begitu lagi.

Satu tiket three-in-one.

Tentu saja secara tidak resmi. Toh tidak ada yang memeriksa. Toh bioskop belum tentu penuh.

Pernah sih sekali, ketika menyelinap masuk nonton There's Something About Mary, kami bertiga sempat salah tingkah. Ternyata filmnya laris luar biasa. Bioskop penuh-nuh. Kami sudah telanjur duduk, sementara masih ada banyak orang belum kebagian tempat duduk.

Ya, bukan hanya kami bertiga yang nyelonong ke situ.

Daripada ketahuan dan malu, kami memutuskan "mengalah." Keluar saja sebelum ada petugas menanyai siapa tidak pegang tiket film tersebut! Wkwkwkwk...

Anyway, tak terasa, sudah beberapa bulan saya tidak ke bioskop. Padahal istri dan anak-anak juga suka. Sudah bosan nonton film-film di saluran kabel, Netflix, atau YouTube.

Baru sekarang saya menyadari, betapa nikmatnya hidup di era normal dulu. Menonton di bioskop benar-benar sebuah eskapisme.

Semoga pandemi ini segera berlalu. Semoga kita semua segera kembali normal. Ayo semua berpartisipasi supaya segera normal. Pakai masker, rajin cuci tangan, dan selalu jaga jarak! Sekitar 80 persen perlawanan terhadap virus ini ada pada pencegahan, dan itu ada di tangan kita semua. Bukan di rumah sakit! (azrul ananda)

CATATAN: Setelah tulisan ini dibuat, muncul berita bahwa pemutaran Tenet pun ditunda sampai waktu belum ditentukan. Jadi, masih belum jelas apakah film-film lain ikut mundur atau akan mendahului Tenet.

 

Comments (16)

Catatan Rabuan

Welcome To Happy Wednesday 2.0

Sudah lebih dari setahun saya tidak menulis Happy Wednesday, sebuah kolom hari Rabu di mana saya bisa menulis sesuka hat...

Film "Corona" Sembilan Tahun Lalu

Penduduk seluruh dunia benar-benar ditantang. Untuk lebih saling menjaga, untuk meredam penyebaran virus Covid-19. Berdi...

Untuk Ibu Paling Tangguh

Hari Ibu segera tiba. Tanggal 22 Desember. Saya tidak tahu, apakah ini masih jadi hari penting di Indonesia. Dan apakah...

Star Wars: The Rise of Skywalker: Belajar Jaga Nama Baik Keluarga

Beruntunglah kita di Indonesia, bisa melihat Star Wars: The Rise of Skywalker beberapa hari sebelum penggemar di negeri...