Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Tahun 2014, saya dan sejumlah teman ikut trip gowes ke Italia, mengikuti rute Giro d'Italia, salah satu lomba terbesar di dunia. Perjalanan dimulai dari Venice, menyusuri pegunungan Dolomiti, dan berakhir dengan menonton etape penutup lomba di Trieste.

Kata pemandu kami, kita ini sudah berdekatan dengan negara lain. Kota Trieste itu berbatasan langsung dengan Slovenia. Katanya.

Waktu itu, kami menganggap itu sebagai informasi biasa saja. Semua sudah lelah, berhari-hari gowes naik turun gunung. Begitu lomba selesai, kita semua tak sabar mengakhiri perjalanan dan pulang ke Indonesia.

Sekarang, tahun 2020, Slovenia semakin bergaung ke seluruh dunia. Khususnya dunia olahraga. Di arena basket, salah satu bintang muda terbaik NBA adalah Luca Doncic. Usia masih 21 tahun, sudah terpilih jadi All-Star, dan digadang-gadang sebagai bintang utama basket dunia dalam beberapa tahun ke depan.

Timnya, Dallas Mavericks, memang sudah tereliminasi di NBA Playoff 2020 ini. Tapi setelah itu, masih ada lagi satu pemain Slovenia jadi pembicaraan. Dia adalah Goran Dragic. Di usia 34 tahun, Dragic seolah semakin bersinar. Membantu timnya, Miami Heat, berjuang menuju final NBA saat ini.


Luca Doncic dan Goran Dragic saat membela timnas Slovenia.

Lalu, dalam tiga pekan terakhir. Slovenia, Slovenia, Slovenia terus diucapkan di salah satu ajang olahraga terbesar di dunia: Ajang balap sepeda Tour de France.

Minggu lalu, 20 September, pembalap muda Slovenia mencatat sejarah superlangka. Tadej Pogacar, yang baru berusia 22 tahun sehari kemudian, menjadi juara overall lomba itu. Dia adalah pemenang yellow jersey termuda di Tour de France sejak 1904! Lebih dari seratus tahun!


Tadej Pogacar setelah menjadi juara overall Tour de France 2020.

Bukan hanya itu, Pogacar juga meraih gelar pembalap muda terbaik (white jersey) dan raja tanjakan (polkadot). Orang pertama sejak Eddy Merckx pada 1969 yang mampu meraih tiga jersey sekaligus di Tour de France.

Di lomba yang berlangsung 21 etape selama tiga pekan, menempuh rute lebih dari 3.500 km itu, Pogacar mampu memenangi tiga etape untuk skuad UAE Team Emirates.

Oh ya, asal tahu saja, ini adalah kali pertama Pogacar ikut Tour de France!

Pembalap yang dia kalahkan? Namanya Primoz Roglic. Usianya 30 tahun. Dan dia juga dari Slovenia. Jadi, di Tour de France 2020 ini, pembalap Slovenia finis 1-2!


Primoz Roglic dan Tadej Pogacar.

Sukses manusia tentu menyeret popularitas tempat dia berasal. Orang jadi penasaran, ada apa dengan Slovenia?

Sama seperti kebanyakan orang, informasi pertama saya dari Wikipedia. Seberapa banyak sih penduduk negara itu? Ternyata, jumlahnya hanya 2 juta orang lebih sedikit. Ibu kotanya, Ljubljana, penduduknya "hanya" 280 ribu orang.

Berarti, dari jumlah manusia, Slovenia itu kurang lebih sama seperti Sidoarjo di Jawa Timur. Sedangkan penduduk total Ljubljana lebih sedikit dari Kecamatan Rungkut di Surabaya.

Sebagai negara, Slovenia baru merdeka pada 1991. Walau masyarakatnya disebut gila olahraga, sukses di dunia itu bisa dibilang baru didapat pada 2000. Waktu Slovenia untuk kali pertama meraih medali emas Olimpiade. Mereka sukses di cabang dayung, menembak, dan judo.

Olahraga "global" masih sulit dikejar. Kata mereka, karena penduduknya hanya 2 juta orang, susah mencari 11 orang yang sangat jago main sepak bola.

"Kami tak pernah percaya dengan diri kami sendiri. Kami tidak percaya bahwa kami bisa menjadi negara juara," ucap Samo Peter Medved, wakil wali kota Maribor, seperti dilansir Wall Street Journal.

Waktu berlalu, dan Slovenia menggila di dunia olahraga. Pada 2017, Doncic dan Dragic membantu negaranya meraih gelar juara Eropa, mengalahkan "negara superpower basket" Eropa, Serbia.

Sekarang, tentu saja, mereka adalah penguasa dunia balap sepeda.

Dua-duanya olahraga global, di panggung terbesar masing-masing olahraga itu.

Saya bukan pakar politik dunia, saya bukan pakar ekonomi, tapi bahwa sebuah negara kecil seperti Slovenia bisa kondang tentu terus menggelitik.

Selama ini, kita seharusnya sudah harus heran dengan Australia. Penduduknya hanya sekitar 20 juta, kurang lebih sama dengan Jabodetabek, tapi punya banyak "manusia bintang" yang meraih pencapaian di tingkat dunia, di berbagai bidang.

Tapi ternyata, 20 juta itu kebanyakan. Slovenia hanya punya 2 juta manusia. Dari bacaan saya di Wikipedia, ada satu data yang memikat: Bahwa pendidikan di Slovenia disebut sebagai yang terbaik ke-12 di dunia, keempat terbaik di Uni Eropa.

Mungkin, itu ada kaitannya. Karena pendidikan yang baik akan menghasilkan manusia yang berkualitas. Manusia yang berkualitas akan menghasilkan lingkungan yang berkualitas.

Kalau melihat Slovenia, seharusnya dari Kabupaten Sidoarjo saja cukup untuk menemukan juara dunia. Kalau melihat Kota Ljubljana, Kecamatan Rungkut di Surabaya saja seharusnya sudah cukup untuk menghasilkan juara kecamatan, eh, juara dunia.

Rasanya tidak perlulah negara berpenduduk ratusan juta, untuk mencari 11 pemain sepak bola saja, harus mendatangkan manusia dari negara lain. Tak perlu bermimpi ingin jadi superpower. Cukup bermimpi jadi Slovenia saja.

Satu hal lagi: Slovenia bukan hanya punya bintang NBA, bukan hanya punya juara Tour de France. Slovenia juga punya orang berpengaruh di Gedung Putih, di pucuk pemerintahan Amerika Serikat.

Melania Trump, istri Donald Trump, nama aslinya adalah Melania Knavs. Dia asli Slovenia... (azrul ananda)

Comments (31)

Catatan Rabuan

Hidup Nyaris

Yang tidak saya sangka, semua event akhir pekan itu menjadi pengingat betapa mengerikannya dunia balap. Betapa besarnya...

Olahraga (Industri) yang Sehat

Olahraga bisa bikin badan kita sehat. Jiwa kita juga kuat. Jadi pengurus olahraga di Indonesia mungkin bisa punya efek b...

Semua Kalah dengan Super Bowl (1) - Harga Tiket Rata-Rata Rp 130 Juta

Fakta: Sepak bola adalah olahraga paling populer di dunia. Fakta: Premier League (Inggris) adalah liga sepak bola dengan...

Tuhan Adil, Pierre Gasly

Saya benar-benar harus menulis tentang Pierre Gasly. Juara kejutan Grand Prix Italia di Sirkuit Monza, Minggu lalu (6 Se...