Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda


(Texas Monthly)

Kita sedang berada dalam "masa-masa itu." Masa-masa di mana sulit untuk mencari berita baik. Dan bukan hanya urusan pandemi yang tidak asyik. Berita ekonomi tidak asyik. Berita politik tidak pernah asyik. Berita luar negeri banyak tidak asyik. Berita olahraga nasional penuh ketidakpastian. Media, di tengah situasi orang butuh berita indah dan menyejukkan hati, seolah juga terus asyik bicara konflik.

Pemerhati catatan mingguan ini mungkin tahu, di saat seperti ini, biasanya saya suka menulis soal film. Bioskop jadi salah satu alat "escape." Masalahnya, bioskop sedang tidak ada. Film-film bagus ditunda hingga 2021, daripada hadir tanpa kepastian di tahun 2020 ini.

Tidak ada jalan lain, untuk cooling off, saya menyalakan Netflix. Ada banyak dokumenter atau docuseries seru di sana. Apalagi, belakangan saya juga didekati beberapa pihak untuk ikut develop cerita untuk saluran-saluran streaming seperti itu.

Kali ini, cerita "menyejukkan" itu datang dari sebuah seri tentang kuliner. Ha ha ha... Ini lucu juga. Saya bukan orang kuliner. Istri saya paling sebal, karena kalau traveling ke berbagai negara atau kota saya lebih suka kepraktisan fast food, bukan cari tempat tujuan populer.

Tapi saya kadang suka melirik acara kuliner. Dulu, waktu Food Channel belum hilang di TV kabel, saya suka nonton Diners, Drive-Ins and Dives. Tentang presenter Guy Fieri yang keliling kota-kota Amerika, mencari tempat-tempat makan sederhana yang enak dan seru. Yang bisa saya jadikan acuan, karena sebelum pandemi saya memang suka ke sana setahun sekali.

Salah satu yang sempat dibahas adalah sebuah Restoran Padang (ya, restoran Indonesia masakan Padang) di negara bagian Oregon.

Di Netflix juga banyak acara kuliner. Kali ini, acara yang memikat saya adalah Chef's Table: Barbeque. Episode pertamanya tentang seorang nenek berusia 85 tahun di Giddings, sebuah kota kecil di tengah negara bagian Texas. Namanya Tootsie Tomanetz.

Ini benar-benar seorang nenek yang memikat hati. Di usia 85 tahun, tinggal sendirian, masih bekerja keras sebagai penjaga sekolah. Selama total 30 jam, dari Senin sampai Jumat, dia bekerja di SMA Giddings. Membersihkan sekolah, merawat peralatan, bahkan ikut merawat lapangan football dan mempersiapkannya sebelum pertandingan setiap Jumat sore. Tradisi di Amerika, pertandingan-pertandingan sekolah biasanya memang diselenggarakan Jumat malam setelah sekolah, sebelum weekend.

Tapi, sudah bertahun-tahun Tootsie tak pernah ikut nonton pertandingan. Jumat malam dia sudah harus tidur pukul 21.00. Lalu bangun pukul 01.00 Sabtu dini hari. Dia nyetir sendiri, ke kota Lexington tak jauh dari Giddings. Mulai pukul 02.00 dini hari, dia sudah sibuk bekerja menyiapkan dapur, memasak di Snow's BBQ. Sebuah kedai sederhana di sana.

Dia terus menyiapkan makanan sampai pagi itu. Snow's BBQ buka pukul 08.00 pagi setiap Sabtu. Tapi, sejak dini hari pula, orang sudah panjang mengantre. Banyak yang datang dari luar kota, bahkan luar negeri. Banyak yang harus nyetir lebih dari tiga jam dari kota-kota besar di Texas. Hanya untuk makan di situ. Hanya untuk merasakan masakan Tootsie.


texasbbqposse

Catatan buat pembaca, makan barbeque di Texas adalah tradisi. Seperti di kebanyakan negara bagian di kawasan tengah Amerika, tapi di Texas barbeque lebih penting lagi. Seperti ritual. Ada babi dan ayam, tapi yang paling kondang adalah potongan sapinya (brisket).

Kualitas daging dan cara memasak adalah yang utama. Bukan bumbunya. Seorang koki barbeque seperti Tootsie benar-benar bisa meracik daging hanya dengan garam dan merica. Kemudian punya cara memasak yang khas. Dibakar pakai arang, dengan temperatur dan sentuhan-sentuhan khusus.

Menonton ini bikin saya kangen masa-masa SMA di Kansas, saat setiap weekend selalu ada acara barbeque. Baik di rumah, atau oleh komunitas warga dan gereja.

Tidak ada alat masak modern yang menunjukkan angka-angka. Orang seperti Tootsie hanya menggunakan sentuhan tangan untuk "merasakan" suhu yang cukup. Dia sendiri yang menggunakan sekop untuk menambah dan mengurangi arang. Hingga sekarang, di usia 85 tahun.


(Texas Monthly)

Tootsie ini, sebelum Netflix, sudah cukup legendaris. Masakannya sudah sejak 2008 disebut sebagai barbeque terbaik di Texas. Berkat Netflix, cerita hidupnya jadi mendunia. Dan cerita hidup itu ternyata luar biasa.

Tootsie lahir setelah Great Depression, masa krisis ekonomi terburuk dalam sejarah Amerika. Keluarganya sangat miskin. Harus bercocok tanam sendiri, beternak sendiri untuk kebutuhan sehari-hari. Sejak kecil, Tootsie sudah terbiasa memotong ternak dan menyiapkan makanan.

Tootsie lantas menikah dengan seorang veteran perang. Lalu membantunya bekerja di toko daging. Mereka lantas membeli toko daging itu, terus bekerja dan memasak di sana (menyediakan barbeque). Kemudian suaminya kena stroke, butuh perhatian 24 jam sehari. Mereka harus menjual toko daging itu. Tootsie hanya bekerja sehari di weekend untuk masak.

Sang suami akhirnya meninggal dunia. Tootsie kemudian ditawari bekerja di Snow's BBQ pada 2003. Anak laki-lakinya ikut bekerja di "depot" yang hanya buka di akhir pekan itu. Kemudian, anak laki-lakinya itu juga meninggal karena kanker.

Tootsie akhirnya menerima tawaran kerja Senin sampai Jumat di SMA lokalnya. Supaya tidak kesepian. Terus bertemu dengan keramaian anak-anak sekolah, juga ikut ambil bagian dalam salah satu pusat masyarakat kota. Di banyak kota kecil di Amerika, SMA bisa jadi pusat aktivitas. Pertunjukan, pertandingan/perlombaan berbagai olahraga, semua disuguhkan oleh sekolah.

Sabtunya, dia memasak.

Dan itu masih kerja sangat keras. Tootsie bisa memasak hingga 650 kilogram daging dalam sehari. Tapi dia bekerja begitu bahagia. Sekarang, semua konsumen datang ingin bertemu dengannya, berfoto dengannya. Dia tidak lagi kesepian. Dia merasa seperti punya teman dari seluruh penjuru dunia.

"Ini sesuatu yang sudah saya kerjakan seumur hidup saya, dan akhirnya saya mendapatkan pengakuan dari pekerjaan ini. Di sisi lain, segala ketenaran ini? Rasanya aneh sekali," ucapnya saat berbicara di Netflix.


(Netflix)

Kalau Anda menontonnya, Anda mungkin akan ikut merasa "hangat" ketika melihat wajah Tootsie, bagaimana dia bekerja, bagaimana dia dalam keseharian yang begitu sederhana.

Dan dia terus menegaskan kalau dia tidak punya resep khusus. Kalau ada yang tanya, dia akan selalu memberi tahu. "Kami tak punya rahasia. Bumbu kami hanya garam dan merica. Saya sulit menjelaskan seperti apa pit (dapur) kami, karena saya menggunakan feeling tangan saya. Saya tak punya alat ukur apa pun. Mungkin kalau ada alat ukurnya, saya bisa lebih presisi tanpa menggunakan tangan. Tapi saya memilih cara saya, insting saya," tuturnya.

Menonton ini, atau mengetahui cerita tentang orang-orang seperti Tootsie, tentu membuat kita selalu berpikir. Apakah kita bisa diberkati umur panjang seperti dia? Apakah kita masih bisa bekerja fisik keras seperti dia di usia 85 tahun?

Saya jadi ingat pengalaman dulu, waktu diminta Abah saya pergi ke Salt Lake City, Utah, untuk finalisasi pembelian sebuah mesin cetak. Saya masih kuliah waktu itu, bertemu dengan seseorang berusia 78 tahun yang begitu energik. Waktu itu saya heran, dan saya tanya ke dia, kenapa masih bekerja. Jawaban dia? "Azrul, if you stop work, you die" (Azrul, kalau Anda berhenti bekerja, Anda akan mati).

Tootsie ternyata punya jawaban hampir sama. Ditanya soal kenapa dia bisa berumur panjang dan terus begitu produktif, Tootsie bicara kalau ini termasuk berkah dari Tuhan.

"Saya tidak pernah sakit dalam hidup saya. Saya selalu aktif dan sibuk, itu membantu saya punya umur panjang," ceritanya dalam wawancara di Texas Monthly.


(Netflix)

Tootsie mengaku tidak pernah merokok. Hanya sesekali minum bir. Dan dia menegaskan, ini berkah dari Tuhan. "Ini bukti kalau saya masih punya tujuan hidup. Dan saya tahu, selama saya masih punya tujuan hidup, Tuhan akan terus memberkati saya dengan kesehatan, dan membiarkan saya terus hidup untuk terus memasak barbeque," pungkasnya...(azrul ananda)

CATATAN: Selama pandemi, Tootsie masih memasak. Tapi depotnya hanya melayani pesanan bawa pulang atau antar. Dan sekarang bisa dikirim ke seluruh penjuru Amerika. Tootsie masih sibuk, dan mengaku kangen dengan "keluarga BBQ"-nya, alias tamu-tamunya dari seluruh dunia!

Comments (37)

Catatan Rabuan

Friends: 25 Tahun Masih Bazoka

Pekan ini, ada dua peristiwa yang mengingatkan kalau saya mulai tua. Satu, tes darah untuk jaga-jaga dan antisipasi berb...

Welcome To Happy Wednesday 2.0

Sudah lebih dari setahun saya tidak menulis Happy Wednesday, sebuah kolom hari Rabu di mana saya bisa menulis sesuka hat...

Biasa-Biasa Aja

Sikap dan tindakan ekstrem: Benar-benar mengurung diri di rumah. Melarang orang keluar masuk rumah. Ekstrem di sisi lain...

Banjir, TOOL, Ibu Marah

Desember-Januari. Masa-masa di mana biasanya ada banyak berita bencana dan kesusahan akibat cuaca. Bedanya, bencana zama...