Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Pandemi setahun ini benar-benar mengacak habit entertainment dan pop culture. Bioskop sampai terancam punah, stasiun televisi "normal" makin ditinggalkan, streaming semakin merajalela.

Menariknya, habit menonton streaming pun kembali diuji. Seolah-olah eksperimen sedunia sedang terjadi. Apakah kita menonton streaming sesuka hati kita, sesuai ketersediaan waktu kita? Ataukah harus mengikuti jadwal tayang seperti yang ditentukan pemilik konten, ala TV zaman "kuno"?

WandaVision, miniseri yang hadir di Disney+ (Disney+ Hotstar di Indonesia), merupakan salah satu kunci penentunya. Kalau di keluarga saya, WandaVision itu sampai membuat kami harus duduk manis bersama menontonnya setiap Jumat malam. Saya dan anak-anak semua.

Rasanya seperti dulu ketika ada acara TV khusus yang memang ditunggu semua orang... Dan ini ternyata terjadi secara global!

Dunia benar-benar akan berubah setelah pandemi ini. Dulu, ketika "TV normal" masih berjaya, kita harus mengikuti jadwal mereka. Kapan serial ini diputar, kapan tayangan ini muncul, semua TV yang menentukan.

Kemudian, kalau ada acara yang unggul di hari dan jam itu, maka acara lain menyesuaikan diri. Bisa menggeser jadwal, atau kalau berani menantangnya langsung head-to-head.

Di Amerika zaman saya tinggal di sana 1990-an dulu, NBC menguasai Kamis malam. Dengan motto "Must See TV" setiap Kamis malam. Acara andalan malam itu, yang sangat dihindari pesaing, adalah sederetan sitkom. Yang utama adalah Seinfeld.

Nonton bioskop juga menunggu jadwal. Studio-studio Hollywood terbesar menentukan jadwal hadir film unggulan masing-masing. Lalu yang lain menyesuaikan dengan cara sama. Menantang langsung atau menghindari jadwal yang sama.

Satu-satunya jenis acara yang mungkin tidak bisa digeser platform apa pun, mungkin, adalah tayangan langsung olahraga. Mau TV terestrial, mau kabel, mau streaming, semua mengikuti jadwal pertandingannya.

Sekarang ini, satu-satunya yang menahan saya untuk tidak menghentikan langganan kabel adalah tayangan Formula 1. Kalau seri balap itu sudah bisa full streaming, saya benar-benar sudah tidak punya alasan berlangganan TV kabel. Apalagi istri dan anak-anak saya juga tidak pernah lagi menggunakannya.

Dan ini hanya tinggal menunggu waktu...

Kemudian hadir Netflix. Dulunya persewaan video online, dengan kaset dikirim pakai pos. Ini mengancam dan membantu mematikan jaringan persewaan video Blockbuster, di mana kita harus datang langsung menyewa kaset videonya. Seiring perkembangan zaman, Netflix berubah jadi saluran streaming. Berisikan konten-konten yang mereka beli, plus konten-konten yang mereka produksi sendiri.

Berkat Netflix, dan yang lain, muncullah habit menonton baru: Binging atau bingeing (baca: binjing). Sekali duduk, habiskan sejumlah seri sekaligus. Ya kira-kira seperti yang dilakukan banyak perempuan penggemar Drama Korea sekarang. Sekali duduk, atau sambil berbaring, satu seri berisikan banyak episode bisa tamat. Berjam-jam betah menantikan semua berakhir.

Netflix, kalau merilis seri baru, langsung muncul komplet. Kalau empat seri, yang langsung muncul empat seri. Mau nontonnya dicicil, atau di-binging, terserah yang mau menonton.

Banyak saluran streaming lain formatnya ikut seperti ini. Misalnya Amazon Prime Video.

Kemudian muncullah "monster" entertainment dunia dengan saluran streaming-nya, Disney+. Tanpa harus ngotot, di atas kertas Disney bisa sukses di jalur bisnis ini. Bagaimana tidak, hampir semua konten keluarga mereka yang punya. Mulai princess-princess-an sampai superhero-superhero-an.

Dalam beberapa bulan terakhir, Disney+ seolah menantang gaya Netflix itu. Kalau punya serial baru, mereka tidak langsung merilisnya jadi satu. Melainkan satu seri demi satu seri, setiap hari Jumat. Kalau mau nonton, harus menunggu hari Jumat. Kalau di WIB, Jumat sore mulainya.

Strategi ini sukses lewat The Mandalorian, sebuah serial berbasiskan dunia Star Wars. Tapi belakangan semakin menancapkan keperkasaan lewat WandaVision, miniseri "kelanjutan" dari rangkaian kisah superhero Marvel. Dari namanya sudah kelihatan, ini tentang Wanda Maximoff alias Scarlett Witch dan Vision.

Menurut Parrot Analytics, seperti dilansir Forbes, inilah serial paling ditunggu dan ditonton DI DUNIA saat ini. Hingga pekan tulisan ini dibuat, WandaVision sudah menuntaskan enam seri. Sisa tiga lagi.

Enaknya format baru streaming, setiap episode tidak harus saklek 30 atau 60 menit. Ada yang 30 menit. Ada yang 42 menit. Sesuai kebutuhan keutuhan cerita yang ingin disampaikan pada episode itu. Terbebas dari kekangan jam atau iklan seperti di "TV kuno."

Wow, format itu tampaknya berhasil. Setiap Jumat, keluarga kami menantikan episode baru, menunggu setelah makan malam untuk nonton bersama. Kemudian, sama-sama senang sekaligus sebal, karena ending-nya selalu membuat kami semakin penasaran dengan apa yang akan terjadi pekan depan. Di episode berikutnya.

Dan seperti menurut artikel di Forbes itu, keluarga kami bukan satu-satunya di dunia yang seperti itu. Hari Jumat, sekarang, seolah seperti milik Disney+. Apalagi setelah WandaVision nanti berakhir, akan ada serial susulan seperti Falcon and The Winter Soldier, yang mencoba meneruskan dominasi di Hari Jumat.

Memang, sempat ada omelan online (kan online isinya emang omelan melulu?) kalau cara Disney+ ini terlalu lamban. Tapi omelan ini dibalas dengan omelan lagi. Bahwa mereka yang mengomel lamban itu sudah lupa cara menonton TV cara "kuno" dulu!

Sebagai strategi merebut dan mempertahankan pelanggan, Parrot Analytics menyebut cara Disney+ ini mungkin juga lebih berhasil. "Kalau kita menonton serial binge seperti di Netflix, biasanya pemirsa meroket pada pekan pertama. Setelah itu cepat sekali turunnya. Sedangkan kalau rilis mingguan, kita bisa melihat kalau popularitasnya justru terbangun oleh waktu. Khususnya untuk tayangan seperti The Mandalorian dan WandaVision," kata Wade Payson-Denney, analis Parrot Analytics, seperti dilansir Forbes.

Apakah format Disney+ ini akan ditiru yang lain? Kembali seperti gaya "TV kuno"? Semua saluran streaming sepertinya masih punya banyak waktu untuk mengujinya, mengingat ujung pandemi ini sepertinya juga belum dekat.

Plus, masih ada satu lagi habit hiburan yang akan segera menemukan "jalan barunya." Yaitu film-film bioskop. Masih ada beberapa studio bertahan menunggu kembali bukanya bioskop secara normal. Ada yang langsung memindahnya total ke streaming tanpa lewat bioskop. Ada pula yang merilis bareng film di bioskop dan streaming.

Warner Bros. termasuk studio terbesar yang memilih jalur terakhir itu. Semua film utamanya tahun 2021 ini akan dirilis simultan. Di bioskop dan jalur streaming yang mereka sokong: HBO Max.

Saat ini, semua jalan itu masih belum jelas mana yang "menang." Praktis semua produsen film masih ada di persimpangan jalan. Masih terus menghitung, jalan mana yang nantinya lebih menghasilkan uang. Bagaimana pun, ini adalah industri entertainment. Jalan yang menang adalah jalan uang! (azrul ananda)

Comments (21)

Catatan Rabuan

Friends: 25 Tahun Masih Bazoka

Pekan ini, ada dua peristiwa yang mengingatkan kalau saya mulai tua. Satu, tes darah untuk jaga-jaga dan antisipasi berb...

Umur Panjang Nenek Barbeque

Kali ini, cerita "menyejukkan" itu datang dari sebuah seri tentang kuliner.

Schumacher Netflix

Sebagai penggemar Formula 1 (kelas berat), setiap konten baru tentang ajang balap termewah dunia itu harus saya lahap. P...

Seinfeld Rp 7 Triliun

Bagaimana bisa sesuatu yang dibuat pada 1990-an hari ini masih bisa mendapatkan duit Rp 7 triliun.