Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Pekan ini, ada dua peristiwa yang mengingatkan kalau saya mulai tua. Satu, tes darah untuk jaga-jaga dan antisipasi berbagai kemungkinan masalah. Dua, perayaan 25 tahun serial komedi Friends.

Yang pertama memang mau tidak mau. Yang di Atas menentukan berapa lama kita akan berusaha untuk berbuat baik di muka bumi. Yang kedua, bisa jadi pelajaran bagaimana cara untuk bisa bertahan sangat lama. Bertahan lintas waktu dan generasi. Bertahan selamanya.

Ya, sulit dipercaya, pada 22 September ini Friends merayakan 25 tahun penayangan perdananya. Seperempat abad sudah berlalu sejak Ross, Rachel, Monica, Phoebe, Chandler, dan Joey muncul bersama untuk kali pertama di televisi.

Tentu saja, perayaannya superheboh dari New York sampai Dubai.

Di Amerika, ribuan bioskop akan memutar episode-episode pilihan Friends dalam waktu terbatas. Media-media outlet sudah pada heboh membicarakan, memberitakan, dan menyiapkan acara untuk merayakan 25 tahun Friends.

Warner Bros Studio di Hollywood pasti heboh, karena disanalah sitkom itu disyuting. Dan di sanalah replika Central Perk --kedai kopi tempat enam sahabat nongkrong-- berada.

Sebuah gedung apartemen di New York, yang selama ini ditampilkan di serial itu sebagai gedung tempat Monica tinggal, tentu makin kebanjiran turis.

Luar biasa memang. Selama ini ada ribuan orang setahun pergi ke sana hanya untuk berfoto di depannya. Berfoto di depan apartemen Friends. Padahal, syutingnya di Los Angeles!

Kebetulan saya dan istri (serta beberapa sahabat) pernah ke sana beberapa tahun lalu. Bukan hanya berfoto, tapi merasakan enaknya masakan di restoran di lantai dasarnya. Bukan, bukan Central Perk. Melainkan sebuah restoran imut bernama Little Owl.

Kalau tidak mau ke Amerika, silakan ke Dubai. Karena Central Perk juga dibuat replikanya di sana untuk waktu terbatas. Letaknya di Waterfall Atrium di The Dubai Mall. Disusul pameran khusus di The Dubai Fountain, dengan latar belakang Burj Khalifa.

Tepat pada Minggu, 22 September, pukul 20.30-21.30, Burj Khalifa dan The Dubai Fountain akan memainkan pertunjukan air dan LED menggunakan lagu I’ll Be There For You oleh The Rembrandts. Lagu tema sitkom tersebut.

Sulit dibayangkan, entah apa saja yang akan dilakukan oleh jutaan penggemar sitkom itu di seluruh dunia.

Saya? Entahlah. Mungkin sibuk membaca-baca kabar tentang kehebohan Friends pekan ini. Atau mengikuti klip-klip YouTube berkaitan dengan perayaan 25 tahun Friends.

Karena saya sebenarnya bukan masuk kategori fans superberat. Saya fans berat. Tapi bukan superberat. Bedanya tipis. Tapi beda.

Paling-paling, saya akan mengenang masa-masa waktu masih menonton Friends di televisi. Antara 1994-2004. Lalu saat menontonnya lagi berulang-ulang via VCD, DVD, serta tayangan-tayangan ulang yang sepertinya tak pernah berhenti di saluran kabel.

Sekarang pun, kalau mau menonton lagi, tidak perlu bingung. Cukup menyalakan layanan streaming Netflix, lalu pilih episode yang mana atau di-binge dari awal sampai selesai.

Koleksi VCD dan DVD saya sebenarnya masih lengkap, tapi player-nya entah ke mana (wkwkwkwk…).

Luar biasa memang. Sebuah serial televisi yang dimulai 25 tahun lalu, dan berhenti produksi 15 tahun lalu, sampai sekarang masih begitu ditonton di berbagai penjuru dunia.

Padahal, menurut saya, Friends bukanlah sitkom terbaik sepanjang masa. Soal pintar-pintaran, di era yang sama dulu ada Seinfeld. Belakangan ada The Big Bang Theory. Soal tema cerita, banyak yang lebih berbobot seperti Cheers atau Frasier.

Tapi, di antara judul-judul itu, Friends yang paling global. Dan paling awet. Mungkin karena intinya simple. Intinya universal. Enam sahabat menjalani masa dewasa bersama di New York, mengalami benturan-benturan dalam percintaan, pekerjaan, dan urusan keseharian lain. Bahwa semuanya ganteng dan cantik juga menolong.

Tidak capek bicara politik. Tidak ada tema serius. Tidak capek bicara tentang tema-tema sensitif dan kontroversial. Tidak terlalu konyol, tidak sok pintar. Just right.

Dan tema-tema ini yang membuatnya mudah diterima lintas generasi. Masalah anak muda zaman dulu, dengan masalah anak muda zaman sekarang, kurang lebih sama. Banyak energi habis untuk urusan jatuh cinta!

Di luar tema, Friends juga menunjukkan bagaimana sebuah konten yang dianggap istimewa akan bisa terus relevan. Melewati berbagai peralihan generasi.

Era TV “biasa” sudah lewat, pindah ke saluran kabel. Era DVD lewat, sekarang hidup lagi di saluran streaming. Kalau kontennya kuat, platform-nya yang akan terus memperjuangkan. Apa pun platform-nya.

Begitu hebatnya Friends ini, kabarnya untuk tahun 2019 saja, Netflix rela membayar hak tayang USD 100 juta (hampir Rp 1,5 triliun) kepada induk pemilik intelektual properti Friends, yaitu Warner Bros.

Kabarnya, di tengah persaingan ribuan konten yang ada di Netflix, serial Friends masih masuk tiga besar paling ditonton (kabarnya nomor dua).

Kontrak ini berakhir hingga penghujung 2019 saja. Setelah itu, tidak akan ada lagi Friends di Netflix. Warner Bros akan memanfaatkan sendiri kekuatan konten itu. Mulai 2020, mereka hanya akan menayangkan Friends di saluran streaming HBO Max milik mereka sendiri.

Bagi saya, ini akan menjadi penanda menarik sebuah perubahan. Semua media ada zamannya. Era televisi gratis mungkin tidak akan lama lagi. Televisi kabel juga mungkin tidak akan pernah menjadi raja utama.

Semua akan kembali bersaing konten. Banyak-banyakan konten. Kuat-kuatan konten. Siapa punya koleksi konten terbanyak belum tentu menang. Bisa kalah dengan dia yang punya koleksi konten sedikit, tapi orisinal dan berkualitas.

Konten. Konten. Konten.

Benar-benar perang konten.

Bukan jam tayang. Bukan lagi harga berlangganan.

Pada 25 tahun lalu, Friends menjadi bazoka bagi Warner Bros, dan saluran televisi gratis NBC, untuk menaklukkan pesaing. Sekarang, 25 tahun kemudian, Friends masih menjadi bazoka penting di arena peperangan saluran streaming. (azrul ananda)

Comments (19)

Catatan Rabuan

Umur Panjang Nenek Barbeque

Kali ini, cerita "menyejukkan" itu datang dari sebuah seri tentang kuliner.

Jumat WandaVision

Pandemi setahun ini benar-benar mengacak habit entertainment dan pop culture. Bioskop sampai terancam punah, stasiun tel...

Schumacher Netflix

Sebagai penggemar Formula 1 (kelas berat), setiap konten baru tentang ajang balap termewah dunia itu harus saya lahap. P...

Seinfeld Rp 7 Triliun

Bagaimana bisa sesuatu yang dibuat pada 1990-an hari ini masih bisa mendapatkan duit Rp 7 triliun.