Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Harga tiket termurah? Per lembar USD 8.550 atau sekitar Rp 120,5 juta. Itu untuk duduk di pojok ujung atas. Itu harga PALING MURAH. Mau duduk di tribun bawah, lebih dekat dengan lapangan? Kalau hoki bisa dapat tiket seharga USD 24 ribu, atau Rp 338 juta. Atau kalau mau sudut pandang enak di sekitar garis tengah lapangan: Per lembar USD 61 ribu atau Rp 860 juta!

Mau lebih mewah lagi? Ada dooong. Bisa sewa ruang suite di stadion. Salah satu suite terbaik, bisa diisi 20 orang dan termasuk layanan makanan, biayanya USD 475 ribu atau sekitar Rp 6,7 miliar. Dan kalau dipikir, ini "lebih murah" daripada duduk di tribun. Karena biaya itu dibagi untuk 20 orang.

Oh ya, jangan lupa bayar parkir. Tenang, sangat murah kalau dibandingkan dengan harga tiket nontonnya. Parkir satu mobil hanya USD 150 atau Rp 2,1 juta. Murah lah!

Semua harga di atas itu bukan fiksi atau karangan saya. Semua itu harga asli yang sekarang beredar. Berdasarkan laporan media lokal, Tampa Bay Times. Yaitu untuk nonton Super Bowl LV (55), pertandingan final National Football League (NFL) di Amerika Serikat, yang dijadwalkan berlangsung Minggu, 7 Februari ini (Senin pagi WIB).

Mohon maaf kalau saya terus menulis soal American Football. Tapi di tengah masa pandemi dan vakum event olahraga ini, saya memaksakan diri untuk terus belajar memperhatikan liga-liga dunia. Mumpung anak-anak saya sekolah daring, anggap saja saya kuliah daring liga olahraga dunia.

Dan seperti berkali-kali saya tulis, sistem pengelolaan di Amerika menurut saya memang paling sehat. Di saat klub-klub sepak bola terkaya di Eropa mengalami kerugian besar dan terancam bangkrut, yang di Amerika masih terus berjalan dan mampu menata finansial ke depan.

Kembali ke Super Bowl LV yang diselenggarakan di Raymond James Stadium, di Tampa Bay, Florida. Harga-harga itu melambung salah satunya juga karena pandemi.

Florida termasuk salah satu dari 50 negara bagian Amerika yang mengizinkan penonton di event-event olahraganya. Karena itu, Super Bowl ini tetap bisa berjalan sesuai jadwal yang telah ditentukan beberapa tahun lalu. Tentu saja, protokolnya beda. Kapasitas stadion tidak boleh dipenuhi. Hanya boleh sekitar sepertiganya.

Stadion itu berkapasitas 66 ribu penonton. Untuk Super Bowl, hanya boleh maksimal 24.700 penonton. Itu pun tidak semua dijual. Sebanyak 7.500 tiket akan dibagikan gratis kepada pekerja kesehatan, khususnya di kawasan Tampa Bay, untuk menghargai kerja keras dan pengabdian mereka di tengah pandemi ini. Tiket-tiket itu sama sekali tidak boleh diperjual belikan.

Karena itu, praktis hanya ada 17 ribuan tiket yang boleh dijual. Harga pun melambung tinggi. Hingga tulisan ini dibuat, harga tiket rata-rata di kisaran USD 14 ribu (Rp 197 juta). Itu hampir tiga kali lipat harga rata-rata tahun lalu, saat Super Bowl LIV di Miami masih boleh kapasitas penuh di Hard Rock Stadium. Tahun lalu, harga rata-ratanya di kisaran USD 5.500 (Rp 77,5 juta).

Ingat, masih ada seminggu sebelum Super Bowl berlangsung. Harga-harganya masih bisa berubah. Bisa naik lagi, walau tidak tertutup kemungkinan bisa turun juga. Kabarnya, sebuah tiket Super Bowl bisa berpindah tangan sampai empat kali sebelum benar-benar dipakai nonton di stadion!

Hebat sekali memang ajang olahraga yang satu ini. Di saat pandemi terus "menghajar" Amerika dan dunia, di saat ekonomi terus digempur cobaan-cobaan berat, demand untuk menikmati Super Bowl masih melambung tinggi.

Bagi kota Tampa Bay sendiri, Super Bowl ini seperti manis pahit. Normalnya, event sebesar ini membawa berkah ekonomi luar biasa untuk kotanya. Karena Super Bowl bukan sekadar satu pertandingan final. "Pesta"-nya sudah berlangsung sekitar dua pekan sebelumnya.


Pemandangan Kota Tampa Bay.

Normalnya, di kota tuan rumah, ada berbagai event luar biasa untuk para turis dan warga lokal. Ada festivalnya, ada konser-konsernya, dan semua menambah pemasukan bagi bisnis-bisnis lokal.

Tahun ini, karena pandemi, tidak semuanya bisa terwujud. Festival untuk fans masih diselenggarakan di pusat kota, tapi dengan protokol ketat. Pengunjung harus mengambil nomor antrean dulu secara online, lalu dibatasi waktu untuk menikmati berbagai suguhan di dalam venue.


Pendukung Tampa Bay Buccaneers menikmati festival sebelum Super Bowl LV.

Kalau membaca berita-berita lokal Tampa Bay, melihat cuplikan-cuplikan liputan TV lokalnya, pesta kotanya jadi terasa tanggung. Kasihan kotanya, sudah bertahun-tahun menanti dan mengeluarkan banyak biaya, tapi kemudian tidak bisa menikmati dampak ekonominya secara penuh.

Apalagi, tahun ini Tampa Bay mencatat sejarah. Untuk kali pertama dalam 55 tahun penyelenggaraan Super Bowl, baru kali ini ada tim tuan rumah berlaga di kandang sendiri.

Kota tuan rumah memang sudah ditentukan bertahun-tahun sebelumnya, dan selama ini belum pernah ada tim tuan rumah yang berhasil lolos ke final di kota sendiri. Baru tahun ini, saat Tampa Bay Buccaneers lolos ke final di rumah sendiri, berkat seorang jenderal lapangan berusia 43 tahun, Tom Brady.

Tom Brady sudah 20 tahun berkiprah di NFL, dan ini adalah kali kesepuluh dia lolos ke final. Sudah enam kali dia meraih juara, bersama New England Patriots (kawasan Boston). Ini adalah tahun pertamanya bersama Buccaneers, dan langsung masuk final. Brady itu seperti Michael Jordan-nya NFL. Mendapat julukan sebagai GOAT alias greatest of all time.


Tom Brady

Lawan Buccaneers tidak main-main. Juara bertahan Kansas City Chiefs dengan calon GOAT-nya sendiri: Patrick Mahomes. Pemain yang baru saja meneken kontrak sepuluh tahun bernilai lebih dari USD 500 juta, kontrak terbesar dalam sejarah profesional Amerika.

Ada yang bilang --meminjam analogi Star Wars-- ini final Yoda lawan Baby Yoda.

Bagi yang sudah lama membaca tulisan saya, Anda mungkin sudah tahu kalau Chiefs adalah tim favorit saya. Sudah favorit saya sejak 1993, sejak terdampar SMA di Kansas dulu.

Kembali ke harga tiket dan bisnis olahraga NFL. Ke depan, semua model bisnis penjualan tiket akan seperti ini. Seperti harga tiket pesawat. Naik turun sesuai hukum supply dan demand. Bahkan sebenarnya hampir semua liga olahraga yang maju sudah seperti ini.

Kelak, di Indonesia pun akan seperti ini. Bisa dalam waktu dekat, bisa agak jauh ke depan. Pasti akan terjadi, hanya tinggal menunggu waktu. Tergantung liganya bisa benar-benar berpikir profesional atau tidak, dan federasinya punya visi industri atau tidak. Tapi yang pasti akan seperti ini. Itu tidak akan terelakkan. Kita harus selalu ingat, hanya ada dua kepastian di dunia ini: Kita semua akan mati, dan harga pasti akan naik.(Azrul Ananda)

Comments (16)

Catatan Rabuan

NFL: Lawan Covid Pakai Uang

Sekarang bayangkan kalau liganya tidak sekaya NFL, tidak seprofesional NFL, dan sering plinplan dalam membuat keputusan...

Nonton, Wani Piro?

Olahraga populer memang dilematis di tengah pandemi ini. Di satu sisi, menyelenggarakannya memberikan risiko besar buat...

Iklan-Iklan "Juara" Super Bowl

Untungnya, ada satu hal yang tetap membuat Super Bowl edisi ke-55 ini super menghibur. Yaitu iklan-iklannya.

Welcome To Happy Wednesday 2.0

Sudah lebih dari setahun saya tidak menulis Happy Wednesday, sebuah kolom hari Rabu di mana saya bisa menulis sesuka hat...