Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Super Bowl yang berlangsung Minggu lalu (7 Februari, Senin pagi WIB) bukanlah pertandingan yang menyenangkan buat saya. Tim favorit saya kalah he he he... Tampa Bay Buccaneers mengalahkan Kansas City Chiefs, 31-9.

Pesta olahraga terakbar itu sepertinya juga tidak berhasil menyuguhkan halftime show yang mengesankan. Penampilan The Weeknd memang tidak jelek, apalagi dengan koreografi dan teknologi yang digunakan. Namun juga tidak terlalu dipuji. Tidak seperti duet J.Lo dan Shakira yang menggetarkan tahun lalu.

Untungnya, ada satu hal yang tetap membuat Super Bowl edisi ke-55 ini super menghibur. Yaitu iklan-iklannya. Bahkan, bisa dibilang iklan-iklannya jauh lebih menghibur dari tahun lalu. Salah satu tahun paling kreatif, paling menyentuh hati, paling lucu. Tema pandemi, dengan segala konsekuensi dan sudut pandangnya, mendominasi iklan-iklan tersebut.

---
Baca juga: Amerika Marah Mobil Listrik
---

Total, ada 40-50 iklan muncul di Super Bowl ini. Semua iklan mahal tentunya, supaya sepadan dengan biaya memasangnya, yang mencapai Rp 80 miliar per 30 detik!

Sebagai orang yang dulu punya cita-cita jadi pembuat iklan, ada beberapa yang sangat berkesan. Salah satunya, Norway No Way dari General Motors, sudah saya bahas panjang lebar di tulisan edisi 119 (link di sini). Berikut beberapa iklan lain yang saya suka dan kenapa saya menyukainya:

1. Doritos, Flat Matthew

High concept dan lucunya sederhana, tapi sangat kena. Doritos, produsen camilan itu, memperkenalkan produk baru Doritos 3D (keripik kembung) menggunakan bintang kondang Matthew McConaughey. Tapi, entah karena apa (mungkin karena pandemi), Matthew digambarkan sedang "flat" alias kempis tipis. Sehingga kesulitan menikmati kehidupan sehari-hari.

Saat berjalan, dia melihat vending machine menjual Doritos 3D. Karena tipis, dia bisa menyelinap ke dalamnya. Membuka satu bungkus dan ngemil di dalam. Hasilnya, camilan itu membuatnya jadi "3D" lagi. Masalahnya, dia masih berada di dalam mesin. Dia pun jadi tergencet di dalamnya! Anak kecil pun bisa menikmati iklan ini!

  

2. Scotts Miracle-Gro, Keep Growing

Lagi-lagi iklan efek pandemi, di mana orang jadi lebih banyak di rumah dan mengisi keseharian dengan berkebun (Ya, orang Amerika juga seperti kita di sini). Kali ini, sejumlah selebriti digambarkan sedang menikmati kebun atau halaman rumah masing-masing.

Secara umum, ini iklan "biasa." Tapi dapat perhatian istimewa karena menampilkan John Travolta berdansa TikTok bersama anaknya. John Travolta memang sudah tidak seperti waktu masih zaman film Grease atau Saturday Night Fever dulu, tapi dia masih memukau saat berdansa!

 

3. Toyota, Upstream

Iklan ini bermain-main dengan perasaan, saya yakin membuat banyak orang menitikkan air mata. Toyota menampilkan kisah hidup Jessica Long, perenang Paralympic, pemenang 13 medali emas. Bagaimana Jessica dulu diadopsi dari sebuah panti di Siberia.

Calon orang tua angkatnya diberi peringatan bahwa anak ini kedua kakinya harus diamputasi, dan hidupnya tidak akan mudah. Jessica Long tetap mereka adopsi, dan kemudian menjadi seorang champion. Sulit menemukan contoh cinta dan ketulusan hati lebih besar dari ini!

 

4. Bud Light Lemonade, Last Year's Lemons

Di Amerika ada sebutan, kalau sesuatu sedang buruk, mereka menyebutnya sebagai "lemon" alias kecut. Merek bir satu ini sangat menyadari, bahwa 2020 adalah "tahun lemon" bagi hampir semua umat manusia. Bagaimana pandemi membuat begitu banyak rencana hancur, begitu banyak kegiatan tertunda, bahkan menghalangi aktivitas sehari-hari. Disimbolkan dengan hujan lemon menghancurkan banyak hal, dari orang bersepeda hingga pernikahan.

Di Amerika, ada pula ungkapan inspiratif: "When life gives you lemon, you make lemonade." Minuman bir Bud Light Lemonade disimbolkan sebagai salah satu karya yang muncul dari tahun buruk itu...

 

5. Jeep, The Middle

Sangat sulit menggunakan tema politik untuk iklan, apalagi setelah pemilihan presiden yang begitu heboh di Amerika. Namun kali ini, Jeep seolah benar-benar menemukan "jalan tengah." Mengambil tempat di sebuah gereja kecil di Kansas, yang merupakan titik tengah beneran daratan Amerika. Bintangnya The Boss, Bruce Springsteen.

Dia menyampaikan betapa sulitnya menemukan jalan tengah di era sekarang ini, antara yang negara bagian biru dan merah, antara pemerintah dan warga, antara kemerdekaan dan rasa takut. Springsteen menegaskan bahwa kita semua butuh berada di tengah.

Iklan ini ditutup dengan tulisan yang sangat relevan di era pemerintahan baru Amerika: "To The ReUnited States of America" (Untuk Amerika yang Kembali Bersatu).

 

6. Anheuser-Busch, Let's Grab a Beer

Di Indonesia, kalau ada perselisihan atau masalah, sering dicoba diakhiri dengan "Ngopi yuk." Di Amerika, ekuivalennya adalah "Let's get a beer." Iklan perusahaan bir ini kembali mengambil inspirasi dari pandemi, di mana banyak orang mengalami kesulitan hidup. Ada rekan kerja yang barusan di-PHK? Ajak dia ngebir. Sama-sama nyangkut di bandara tanpa kejelasan kelanjutan penerbangan? Ngebir bareng. Dan lain sebagainya.

 

7. Tide, Jason Alexander Hoodie

Yang ini mungkin sulit dipahami bagi yang tidak tahu latar belakangnya. Tide mungkin sudah banyak dikenal, ini merek detergen populer. Jason Alexander adalah aktor kondang, populer lewat perannya sebagai George Costanza di sitkom Seinfeld pada 1990-an.

Iklan ini menampilkan seorang remaja mengenakan hoodie bergambar wajah Alexander. Ekspresinya berubah-ubah setiap kali ada kotoran atau hal tidak diinginkan menerpa pakaian tersebut. Sekilas hoodie itu tidak kelihatan kotor, tapi itu pasti kotor. Sang ibu memaksa anak itu untuk mencucinya (pakai Tide), untuk minta maaf kepada Jason Alexander.

Nah, iklan ini memakai lagu Greatest American Hero. Bagi penggemar berat Seinfeld seperti saya, pasti ingat lagu itu dari salah satu episodenya. Di episode itu, George Costanza menyanyikannya sebagai pengisi suara answering machine telepon di apartemennya.

Maaf bagi yang tidak paham, tapi buat saya --dan penggemar sitkom 1990-an-- ini lucu luar biasa!

 

8. Budweiser, Bigger Picture (Tidak Masuk Super Bowl)

Yang satu ini sebenarnya tidak muncul di sepanjang tayangan Super Bowl. Malah, di iklan ini, Merek bir Budweiser menegaskan bahwa mereka tahun ini absen dari Super Bowl, mengalokasikan dananya untuk membantu mempromosikan penanganan pandemi dan mendorong vaksinasi.

Tapi, ini iklan dimunculkan di sekitar Super Bowl, dan di YouTube yang menonton sampai belasan juta. Dan iklan ini memang sangat inspiratif. Pandemi memberi tantangan luar biasa bagi kehidupan sehari-hari, namun itu bukan berarti hidup harus berakhir. Ada "bigger picture" atau makna lebih besar dari segala permasalahan ini. Bahwa manusia masih bisa melakukan apa saja.

Sama-sama lock down di rumah? Pagar pembatas diubah jadi meja untuk duduk ngobrol bersama tetangga. Nenek kesepian ulang tahun di rumah? Anak cucunya bisa melakukan pesta "drive by," masih di dalam mobil melewati rumah sang nenek. Pertandingan tanpa penonton? Efek dan gaungnya masih tetap bisa dinikmati di seluruh penjuru dunia. Bosan antre? Kenapa tidak berdansa di antrean.

Iklan ditutup dengan penyuntikan vaksin. Lalu pernyataan Budweiser, yang untuk kali pertama dalam 37 tahun tidak pasang iklan di Super Bowl, mengalokasikan dananya untuk promosi mengatasi pandemi.

Serius, ini iklan yang inspiratif sekali. Tentu saja, ini tetap saja iklan Budweiser. Ya, mereka tidak memasangnya di Super Bowl. Namun ini tetap iklan Super Bowl-nya Budweiser.

Ada yang berkomentar, ini seperti orang menyerahkan uang ke pengemis sambil ber-selfie ria. Tetap saja berpromosi.

Terserah komentar apa, sebagai orang yang dulu bercita-cita bikin iklan, karya-karya seperti inilah yang selalu jadi impian saya! (azrul ananda)

Comments (15)

Catatan Rabuan

Tiket Termurah Rp 120 Juta

Harga tiket termurah? Per lembar USD 8.550 atau sekitar Rp 120,5 juta. Itu untuk duduk di pojok ujung atas. Itu harga PA...

Amerika Marah Mobil Listrik

Norwegia lebih dulu paksakan mobil listrik, memimpin dunia dalam penjualannya secara per kapita. Orang Amerika marah dan...

Blackpink 6W 1H

Saya benar-benar jadi minoritas di rumah. Pada dasarnya, saya hanya punya kendali di ruang hobi/kerja saja. Mau nonton a...

Corona What's Next?

Mungkin karena saya pernah lama di industri media. Belakangan, banyak teman bertanya soal rekomendasi sumber bacaan yang...