Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Sebagai penggemar Formula 1, saya benar-benar bahagia dengan dua lomba pertama musim 2021. Sejauh ini berlangsung sesuai dugaan dan harapan, terjadi persaingan supersengit di depan sampai belakang. Entah berapa lama sudah saya tidak bisa bilang begini: Formula 1 lebih seru dari MotoGP.

Grand Prix Emilia Romagna di Imola Minggu lalu (18 April) tidak perlu saya tulis lengkapnya. Full action dari awal sampai akhir. Lebih full action dari lomba pembuka dari Bahrain, yang sebenarnya juga berlangsung mendebarkan sampai akhir.

Dari segala keseruan GP Imola itu, sebagai penggemar berat sisi manusia dari F1, ada satu poin yang mungkin bisa relevan untuk semua manusia. Penggemar F1 maupun bukan. Yaitu tentang mental champion sejati seorang Lewis Hamilton. Tentang bagaimana itu terlihat dari satu lomba yang penuh tantangan bagi pembalap andalan Mercedes tersebut.

Hamilton tidak juara di Imola. Ia harus melewati berbagai tantangan dan cobaan untuk finis di urutan kedua. Ia harus menunjukkan kelas aslinya sebagai seorang juara dunia tujuh kali. Plus, lomba itu juga menunjukkan kalau Hamilton memiliki "faktor x" seorang juara, yaitu "champion's luck."

Penggemar F1 mungkin sudah lupa kalau Hamilton itu salah satu yang terbaik dalam sejarah. Mungkin sudah terlalu bosan melihat ia jadi juara dunia enam kali dalam tujuh tahun terakhir. Mungkin sudah terlalu terbiasa melihat ia menang mudah, memimpin dari start sampai finis.

Dominasi Mercedes mungkin sedikit mengaburkan betapa hebat seorang Hamilton yang sebenarnya.

Tahun ini, dengan munculnya Red Bull-Honda sebagai unggulan (tipis), Hamilton harus lebih kerja keras untuk meraih hasil maksimal. Harus mengerahkan segala ilmunya untuk terus berada di puncak.

Di Imola, itu yang kelihatan.

Di atas kertas, Hamilton seharusnya tidak meraih pole position. Tapi ia tetap mampu memaksimalkan segala kemampuan, sehingga mampu merebutnya dengan selisih waktu hanya 0,1 detik dari para pembalap Red Bull. Ini bukan pertanda Mercedes lebih cepat. Ini menunjukkan pasangan Red Bull yang gagal memaksimalkan kendaraan.

Start dari posisi terdepan, di atas aspal basah, Hamilton kalah cepat dari Max Verstappen (Red Bull) yang start di urutan tiga. Di tikungan Tamburello (tempat Ayrton Senna tewas 1994), ia mencoba melawan tapi malah mengalami kerusakan minor pada sayap depan. Sudah lama Hamilton tidak di-pressure seperti itu di awal lomba.

Setelah itu, Hamilton harus kerja keras supaya tidak ditinggal oleh Verstappen. Setelah ronde pit stop pertama, posisi tidak berubah, dan keduanya harus bekerja ekstra untuk menyalipi pembalap-pembalap lain yang lebih lamban.

Hamilton tampaknya terlalu nafsu pada putaran 31 (dari total 64). Dengan ban kering yang masih baru dan "dingin," ia mencoba menyalip George Russell (Williams-Mercedes) dengan mengambil sisi lintasan yang basah. Alhasil mobilnya tergelincir. Untung ia hanya "mencium" pagar pengaman, kerusakannya hanya pada sayap depan. Mobilnya tidak mati, dan ia bisa memilih gir mundur dan kembali ke lintasan. Tidak ada penalti, karena ia dianggap melakukan itu dengan aman.

Kemudian, hadirlah "champion's luck."

Karena harus ganti hidung, seharusnya Hamilton sudah kesulitan finis di lima besar. Apalagi naik podium. Eh, tidak lama kemudian, pada putaran 34, terjadi kecelakaan besar antara rekan setimnya, Valtteri Bottas, dengan Russell. Lomba harus dihentikan sementara. Semua mobil harus masuk jalur pit. Menunggu jadwal restart setelah sirkuit dibersihkan.

Kalau ini main Monopoli, Hamilton seperti dapat kartu keluar dari penjara. Ia tidak perlu lagi mengejar jauh. Saat restart, ia kembali berdekatan dengan para pesaing di depan. Tinggal bagaimana ia menggunakan kehebatan mobil Mercedes, dan menunjukkan kemampuan overtaking, untuk meraih posisi finis sebaik mungkin.

Hamilton pun menunjukkan sisi "keji" seorang juara dunia. Tidak ada ampun bagi siapa pun di depannya. Verstappen mungkin sudah terlalu jauh untuk dikejar, tapi semua yang lain masih dalam "jarak tangkap."

Satu per satu dia salip. Termasuk pasangan Ferrari, Carlos Sainz dan Charles Leclerc. Terakhir, di urutan dua, adalah bintang muda Inggris, Lando Norris (pembalap favorit saya dalam dua tahun ini). Itu pun lewat.

Verstappen sudah terlalu jauh, apakah upaya Hamilton sudah cukup sampai di sini? Tidak. Ia juara dunia tujuh kali. Ada yang masih bisa ia kejar. Yaitu fastest lap lomba. Kalau ia bisa mencatat waktu terbaik satu putaran, maka ia akan mendapatkan bonus satu poin. Itu berarti, walau finis kedua, ia tetap akan memimpin klasemen pembalap.

Benar saja. Hamilton meraih satu poin itu. Setelah dua lomba, ia dan Verstappen sama-sama menang sekali, runner-up sekali. Tapi Hamilton unggul 44-43 di klasemen karena satu poinnya di akhir balapan di Imola.

Dengan potensi persaingan yang begitu ketat, satu poin ini bisa jadi sangat mahal di akhir musim nanti. Dalam sejarah panjang F1, juara dunia ditentukan oleh satu poin sudah berkali-kali terjadi. Bahkan pernah selisih setengah poin pada 1984, saat Niki Lauda mengalahkan rekan setimnya di McLaren waktu itu, Alain Prost.

Hamilton tahu betul mahalnya satu poin itu.

Pada 2008, Lewis Hamilton --masih di McLaren-Mercedes-- jadi juara dunia untuk kali pertama hanya unggul satu poin atas Felipe Massa (Ferrari).

Setahun sebelumnya, Hamilton gagal jadi juara dunia juga setelah kalah hanya satu poin dari Kimi Raikkonen (Ferrari)!

Sekali lagi, Hamilton tahu betul mahalnya satu poin itu.

Jangan-jangan, di akhir 2021 nanti, Max Verstappen akan menangisi hilangnya satu poin itu!

Inilah kelasnya seorang juara dunia sejati. Tidak ada kata mundur, tidak ada tampil mengendur. Gas terus, kalau ada kesempatan hajar dan ambil. Dan kalau terus berusaha, keberuntungan bisa datang mengiringi. (azrul ananda)

Comments (19)

Catatan Rabuan

Wajib Nonton Formula 1 Lagi

Sulit menggambarkan betapa terhiburnya saya menonton Grand Prix Bahrain 2021, lomba pembuka musim baru Formula 1. Sudah...

Rivalry Era Medsos

Persaingan hanya dua kandidat ternyata memang seru. Apalagi kalau ada kontroversinya. Bisa membuat sesuatu jauh lebih he...

Rest In Peace Suara Inspirasi

Ada satu suara yang menjadi inspirasi saya sekaligus jutaan orang di berbagai penjuru dunia. Yaitu suara seorang Murray...

Tuhan Adil, Pierre Gasly

Saya benar-benar harus menulis tentang Pierre Gasly. Juara kejutan Grand Prix Italia di Sirkuit Monza, Minggu lalu (6 Se...