Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Judul di atas benar-benar kami jalani. Serius. Antre (hampir) tujuh jam untuk makan barbeque. Tepatnya mulai pukul 07.20 pagi, lalu baru dapat makanannya pukul 14.05. Tepatnya antre enam jam dan 45 menit.

Ini rekor pribadi saya antre untuk makan. Ini rekor dua sahabat saya, John Boemihardjo dan Johnny Ray, yang kalau traveling suka cari makanan kondang. Tentu rekor buat Emka Satya, kru foto/video dari DBL Indonesia yang ikut bersama kami. Yang pasti, ini mengalahkan segala pengalaman mengantarkan anak kami antre wahana di Disneyland mana pun.

Antre di Disneyland jadi terasa sangat gampang. Walau kadang butuh lebih dari dua jam untuk antre sebuah wahana.

Terus terang, pagi itu saya sudah siap antre lama. Bayangan saya, bakal antre tiga sampai empat jam. Saya tidak menyangka sampai hampir tujuh jam!

Saya memang benar-benar ingin ke Snow's BBQ, nama tempat makan itu. Saya sudah memimpikan pergi ke sana sejak jatuh hati pada Tootsie Tomanetz, nenek 86 tahun yang menjadi "pitmaster" alias ahli masaknya.

Tootsie, yang nama aslinya Norma Frances Tomanetz, membuat saya terharu saat kisah hidupnya ditampilkan di Chef's Table: BBQ, di Netflix. Saya pernah menulis tentang kisah itu di Happy Wednesday #103 (klik di sini).

Snow's BBQ terletak di sebuah kota kecil di tengah negara bagian Texas. Kota itu, Lexington, hanya berpenduduk 1.177 orang. Tootsie tinggal di Giddings, hanya sekitar 30 menit dari Lexington. Senin sampai Jumat, Tootsie bekerja sebagai penjaga gedung SMA di Giddings. Setiap Sabtu dini hari, pukul 01.00, Tootsie nyetir ke Lexington. Lalu langsung bekerja menyiapkan daging dan memanggangnya, untuk dijual mulai pagi harinya.

Snow's BBQ memang hanya buka hari Sabtu. Hanya empat jam. Tepatnya pukul 08.00 hingga 12.00.

Tootsie, yang hidup sendirian setelah suami dan anaknya meninggal, bekerja di situ karena diajak oleh Kerry Bexley, pemilik Snow's BBQ. Tempat ini mulai buka pada 2003. Sekitar lima tahun kemudian, tempat makan ini menjadi sensasi besar. Texas Monthly, media panutan urusan segala hal di Texas, menyebut Snow's sebagai BBQ terbaik di seluruh negara bagian.

Bagi warga Texas, itu berita besar. Karena BBQ adalah tradisi besar warga Texas. Orang di sana siap traveling dari satu kota ke kota lain, mencicipi BBQ terkenal di setiap lokasi.

Snow's terus menjaga tradisi itu. Sampai sekarang, mereka masih dinyatakan sebagai nomor satu. Padahal tidak mudah untuk merebutnya. Soal kualitas daging, semua punya akses sama, karena daging sapi Texas sangat kondang. Soal bumbu juga tidak penting, karena di Texas daging praktis hanya diluluri garam dan merica (atau rempah) lain. Saus juga tidak penting, karena di Texas saus bukan yang utama. Jenis kayu untuk memanggang juga semua punya akses sama. Yang penting adalah cara memanggangnya. Asapnya. Rahasianya ada di situ. Sepertinya sederhana, tapi sangat sulit.

Dalam video di Netflix, Tootsie menyampaikan itu. Dia dengan senang hati menjelaskan apa saja bumbu dan cara masaknya. Apakah hasilnya akan sama? Belum tentu!

Kembali ke antrean.

Kami ke Amerika untuk mengikuti balap sepeda gravel di Kansas. Kami landing-nya di Houston, Texas. Awalnya kami mengantisipasi bakal karantina tiga sampai tujuh hari. Ternyata tidak. Kami pun memilih tinggal dulu di Austin, sebelum ke Kansas. Untuk latihan dan penyesuaian cuaca.

Dari Austin, hanya satu jam naik mobil ke Lexington. Dan ternyata, ada hari Sabtu kosong yang bisa kami gunakan untuk ke sana. Sebelum melanjutkan road trip ke utara, ke Kansas.

Kami sudah membaca tentang panjangnya antrean di Snow's. Awalnya, kami akan berangkat pukul 04.00 pagi. He he he, akhirnya baru berangkat sekitar pukul 06.00. Santai, tidak tergesa. Sambil menikmati jalanan. Kapan lagi naik mobil lewat jalan kecil di tengah Texas. Melihat rumah-rumah "kampung" dan peternakan-peternakan, sapi di mana-mana.

Kami tiba di Lexington pukul 07.15. Tidak sulit mencari Snow's. Ada "keramaian" langsung terlihat. Mobil parkir berjajar jauh. John Boemhardjo yang nyetir berhenti, meminta kami turun mulai antre sementara dia mencari parkir.

Tanda-tanda antre lama sudah terlihat. Orang yang baru datang tampak membawa kursi lipat, matras, payung, dan lain-lain. Kami turun di depan restoran, antrean sudah rapat di depannya. Dan antrean itu terus memanjang, melingkar di sekeliling blok. Kami berjalan ke ujung antrean, yang ada di balik blok itu! Gile!

Hampir semua yang antre duduk di kursi lipat. Mereka tampaknya sudah siap antre lama. Kami tanya-tanya, kelompok di kelokan depan kami sudah datang sejak pukul 04.00 pagi. Berarti, yang antre di pelataran Snow's sudah datang sejak jauh sebelumnya.

Usut punya usut, yang antre pas di teras sudah datang sejak malam sebelumnya. Mereka datang pukul 22.30, lalu tidur di mobil. Begitu ada orang lain datang, mereka cepat-cepat berdiri di depan pintu restoran.

Saat antre itu, Kerry Bexley, Tootsie, dan lain-lain sudah sibuk menyiapkan menu. Ada antrean tambahan di sekitarnya. Satu untuk gerai merchandise. Selain jualan suvenir seperti kaus dan topi, juga menyediakan minuman ringan, kopi, serta donat dan camilan lain. Antre di situ juga lumayan.

Sebelahnya, ada antrean toilet (yang sangat bersih!).

Sebelahnya lagi, ada antrean bar yang menyediakan bir dan minuman alkohol lain. Bir dan minuman ini disediakan gratis buat yang antre. Cukup menaruh tips di ember yang disediakan.

Tootsie benar-benar jadi tontonan utama. Sekeliling kawasan dapur dipasangi tali merah, orang luar dilarang masuk. Aturan ini ternyata baru dibuat setelah pandemi. Supaya orang tidak berkerumun di sekitar situ.

Banyak tulisan peringatan dipasang. Khas Amerika, dengan sentuhan humor: "Tidak ada tur dapur. Tidak boleh memeluk Ms. Tootsie. Tidak boleh memeluk Kerry. Tidak boleh memeluk Clay (koki lain, Red). Tidak boleh memeluk, titik. Foto hanya boleh diambil di balik pagar. Kami tidak peduli Anda bermasker atau tidak. Gunakan zoom, jadilah orang yang kreatif. Tolong bantu kami dengan selalu mengikuti aturan sederhana ini!"

Meski demikian, semua staf Snow's dengan ramah menemui dan melayani para tamunya. Tootsie pun dengan ramah selalu mengunjungi orang yang mendekat ke dapur, melayani semua permintaan foto dan sesekali ngobrol. Kadang dari depan dapur, kadang dari belakang dapur. Sesekali pula dia duduk di kursi, tampak kelelahan. Seorang nenek yang pekerja keras tapi ramah!

Di antrean "tengah" ada pasangan asal Korea. Ketika yang laki-laki bilang Tootsie sedang melayani foto di belakang dapur, yang perempuan langsung berlari cepat ke sana. Tidak lama kemudian, dia kembali dan dengan bangga menunjukkan layar hape, fotonya bersama Tootsie.

Saat saya menyapa minta foto di depan dapur, Tootsie bertanya saya dari mana. Saya bilang "Indonesia." Dengan sangat ramah dia melayani. "Kalau tidak ada yang memotret, minta saja anak itu untuk membantu. Anak kecil selalu lebih jago," ucapnya.

Tootsie lantas memanggil seorang anak customer untuk membantu memotret kami! Rasanya memang ingin sekali memeluk nenek yang satu ini!

Kembali ke antrean.

Semua restoran BBQ di Texas sistemnya begini. Datang langsung antre. Lalu ketika sampai di dalam ruang, mengambil nampan dan memesan menu yang dimaui. Lalu ke kasir untuk menimbang daging yang dibeli dan membayar. Baru kemudian cari meja makan.

Kebanyakan antrenya cepat. Yang kondang bisa sampai satu jam. Yang superkondang bisa berjam-jam. Snow's termasuk yang paling panjang.

Karena antre berjam-jam, kami jadi akrab dengan orang-orang di sekitar antrean kami. Pasangan di depan kami datang dari kawasan Houston. Berangkat pukul 04.00 pagi, naik mobil tiga jam dari arah selatan hanya untuk ke Snow's. Depannya lagi sekelompok bapak-bapak penggemar BBQ asal Austin. Depannya lagi pasangan suami istri asal Dallas, sekitar tiga jam lagi dari arah utara.

Tahu kami dari luar Texas, mereka dengan sangat ramah, dan penuh canda, bercerita tentang pentingnya BBQ di Texas. Tahu kami akan ke arah Kansas dan akan mampir ke Kansas City, mereka dengan antusias menceritakan bedanya BBQ Texas dengan di Kansas City. Khas orang Amerika kawasan tengah. Ramah-ramah dan suka ngobrol.

"Kalau di Kansas City, saus dianggap menentukan. Dan di sana yang ditonjolkan pork-nya. Kalau di Texas, it's all about the beef (yang paling utama adalah daging sapi). Yang paling penting adalah cara mengasapnya. Saran saya, kalau nanti makan, pastikan gigitan pertama tanpa saus sama sekali!" kata salah satu dari mereka.

Mereka lantas menyarankan tempat-tempat lain untuk dikunjungi. Misalnya Franklin's di Austin. "Antrenya panjang, tapi tidak sepanjang ini. Dan mereka buka setiap hari. Saran saya, datang di hari kerja, datang sejak pukul 08.00 pagi. Kamu akan sudah selesai makan pada tengah hari," jelasnya.

Kemudian, mereka berdebat sendiri tentang daging bagian apa yang enak, lalu plus dan minus setiap menu di tempat-tempat lain itu. Benar-benar penggemar BBQ!

Sambil menunggu dan bergerak bertahap itu, Kerry sesekali berjalan menyapa orang-orang di antrean. Dengan logat khas kawasan itu. "Ngomongnya seperti Mater (karakter di film animasi Cars, Red)," celetuk Johnny Ray.

Kerry keliling untuk menghitung jumlah orang. Juga melakukan undian. Setiap orang punya nomor antrean. Yang depan ada kertas bernomornya, yang belakang seperti kami berdasarkan kejujuran. Jadi, kami antrean nomor 341. Secara berkala, Kerry melakukan undian, nomor beruntung langsung maju memotong ke depan! Seru dan lucu!

Semakin siang, Kerry keliling untuk mengingatkan dan "menghibur" mereka yang antre. Mengingatkan kalau antrean yang di belakang ini mungkin akan kehabisan menu-menu tertentu. Jadi kalau ingin menu yang itu, mungkin sia-sia untuk terus antre. Dia sangat hafal, antrean nomor sekian mungkin hanya akan dapat apa. Menu terakhir yang akan tersisa adalah daging sosis. Ayam bakal habis duluan. Sedangkan yang paling dikejar adalah ribs (iga) dan brisket (sandung lamur).

Semakin dekat kami ke depan, semakin degdegan rasanya. Takut kehabisan. Sesekali, antrean berteriak (lucu) bersama di bagian depan. Yaitu setiap kali staf Snow's menuliskan menu yang habis di papan tulis.

Pukul 11.48, semua "sides" (menu samping) seperti cole slaw dan potato salad habis. Pukul 11.58, ayam habis. Pukul 12.50, ribs habis!

Ketika kami antre di teras, makin degdegan. Benar saja, empat antrean di depan kami mengambil begitu banyak brisket. Memang tidak dibatasi mau beli apa saja dan berapa banyak.

Tapi tiga antrean depan kami ini orangnya punya solidaritas. Saling menyisakan brisket. Termasuk pada kami. Walau pada dasarnya hanya dapat sosis (pedas dan original), ketika duduk di meja, pasangan dari Dallas itu membagikan brisket mereka untuk kami. "Kalian harus ikut merasakan," kata yang perempuan.

Alangkah baik hatinya!

Seperti apa rasanya? Kami sepakat brisket-nya memang luar biasa. Empuk, juicy, dan tidak perlu saus. Dan kami punya pembanding, walau minimal. Yaitu saat makan BBQ lain di Austin beberapa hari sebelumnya.

Saat makan, kami sudah melewati fase lapar. Sudah lewat pukul 14.00. Saking lamanya antre, kami sudah melewatkan makan pagi dan makan siang. Hanya diganjal donat dan cemilan Cheetos saat antre. Jadi, sosis yang sisa kami bungkus, kami cicil makan di jalan atau di kota berikutnya. Kami memang pesan terlalu banyak sosis. Satu karena lapar mata, dua karena gelap mata.

Saat itu, Snow's sudah mulai sepi. Stafnya sudah mulai bersih-bersih.

Lain kali, kalau ke sini lagi, harus paling lambat jam 4 pagi antre. Tapi kami lantas melihat satu sama lain. Emang mau antre seperti itu lagi? Wkwkwkwk.... (Azrul Ananda) 

 

Catatan tambahan: Kalau Anda melihat di foto-foto, Anda akan menyadari hampir semua yang antre tidak memakai masker. Ini akan jadi cerita untuk di lain tulisan...


Azrul Ananda dan sosis Snow's BBQ di atasnya ada potongan brisket pemberian tamu lain.

Foto-foto: Emka Satya/DBL Indonesia

Comments (47)

Catatan Rabuan

Umur Panjang Nenek Barbeque

Kali ini, cerita "menyejukkan" itu datang dari sebuah seri tentang kuliner.

Ilmu Presenter Memancing Ikan

Memancing ikan atau presenter? Ya, tulisan ini memang akan mengawinkan dua topik yang jauh berbeda. Di satu sisi soal...

Mudik Mobile Chicane

Saat libur Lebaran, saya biasanya tidak ke mana-mana. Menikmati ketenangan Kota Surabaya. Kalau pun “mudik,” hanya seben...

Senangnya Dirampok di Kereta

Saat ke Amerika, saya paling suka kembali ke tempat yang familiar. “Pulang kampung” ke Kansas tempat dulu SMA, atau ke S...