Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Kalau keliling, saya suka memperhatikan ini: Bagaimana sebuah kawasan, khususnya kawasan yang "tidak dianggap," bisa eksis dan menjadi "sesuatu." Apalagi kalau itu hasil dari upaya dan kreativitas sendiri. Baik oleh pemerintah/pengelolanya, atau dari masyarakatnya.

Tulisan ini sebenarnya sudah lama ingin saya tulis. Karena dampak pandemi --baik pada sekeliling maupun pada saya sendiri-- terpaksa ditunda. Saya ingin menulis tentang kota Emporia di Kansas. Kota tempat saya dan beberapa teman kunjungi awal Juni lalu. Saat mengikuti ajang balap sepeda gravel terkondang di dunia, Unbound Gravel.

Tapi kali ini, saya tidak ingin fokus ke event sepedanya. Karena ternyata, Emporia ini punya dua gelar "ibu kota dunia." Yang pertama ibu kota gravel, seperti yang sudah saya rasakan. Yang satu lagi adalah ibu kota disc golf. Ya, disc golf. Seperti bermain golf, tapi menggunakan piringan plastik ala frisbee.

Turnamen disc golf terbesar dunia ada di sana. Sejumlah lapangan disc golf juga bertebaran di dalam kota dan sekitarnya.

Ini membuat saya takjub dengan warga Emporia dan pemerintahnya. Karena jujur, serius, ini kota tidak punya apa-apa!

Kota Emporia ini letaknya di kawasan timur negara bagian Kansas, yang bentuknya hampir persegi panjang. Penduduknya tidak sampai 25 ribu orang. Bayangkan, kalau seluruh penduduknya dikumpulkan, hanya bisa mengisi separo tribun Gelora Bung Tomo di Surabaya.

Hidup masyarakatnya dari apa? Peternakan, khususnya sapi, merupakan bagian besar hidup masyarakat di kawasan itu. "Perusahaan" terbesar di sana adalah Emporia State University, sebuah universitas negeri.

Sebelumnya, perusahaan pengepakan daging Tyson adalah yang terbesar, memberi kontribusi hingga 10 persen dari total ekonomi kota. Tapi sejak 2008 Tyson sudah memindahkan sebagian besar operasionalnya ke kawasan barat Kansas.

Cerita kota seperti ini tentu banyak di Indonesia pula. Bagaimana sebuah perusahaan besar ada di situ, tapi kemudian mengakibatkan dampak ekonomi besar ketika pindah ke kota atau kawasan lain.

Karena itulah, sebenarnya tidak ada alasan untuk ke sana bagi "turis umum." Kotanya gaya kota lama, bangunan-bangunan di jalan utamanya berdinding batu. Ada sejumlah hotel bermerek, tapi letaknya di pinggiran kota. Lebih untuk menservis Highway 35 (jalan tol) yang melewati daripada kotanya. Waktu kami ke sana, ada sebuah hotel besar barusan bangkrut, terkena dampak dari pandemi.

Karena "tidak punya apa-apa" itu, Emporia pun seolah jadi kreatif. Mereka tidak butuh bersaing dengan kota-kota besar. Mereka menciptakan identitas sendiri, melayani market khusus.

Tidak perlu punya ajang balap berlisensi dunia? Bikin sendiri balapan kategori baru, gravel, yang kemudian justru mendunia dari Emporia. Tidak punya padang golf kelas dunia? Bikin banyak taman disc golf, sehingga punya market sendiri yang minim pesaing.

Unbound Gravel, ajang balap gravel yang kami ikuti, memang pionir sedunia. Sebuah komunitas sepeda di Emporia pada 2006 menyelenggarakan event, menjalani rute yang biasa mereka lewati. Yaitu jalan-jalan kerikil berbatu di sekeliling Emporia. Melewati kawasan perbukitan menantang yang dikenal dengan nama Flint Hills. Melindasi bebatuan "flint" yang keras dan tajam, yang oleh suku asli Amerika dulu digunakan sebagai bahan membuat mata panah.

Bermula dari ratusan peserta, kini hampir 3.000 orang ikut dari berbagai penjuru dunia. Itu berarti, setiap weekend Unbound Gravel, mungkin ada sekitar 5.000 orang datang ke Emporia. Penduduknya bertambah seperlima. Jumlah yang datang itu sama dengan total jumlah mahasiswa/i di Emporia State University.

Tentu saja, hotel-hotelnya tidak cukup. Walau harga bisa melonjak 2-4 kali lipat per malam. Rumah-rumah warga jadi sasaran disewa. Bukan hanya yang di kota, tapi juga yang di pedesaan di sekeliling kota. Bahkan desa-desa kecil di sekeliling Emporia kecipratan rezekinya.

Saat Unbound Gravel Juni lalu, Wali Kota Emporia Rob Gilligan dengan santai dan ramah menyapa semua peserta dan pengunjung. Ia menegaskan betapa pentingnya event ini bagi kotanya. "Event ini mendatangkan pemasukan hingga USD 5,5 juta untuk kota kami," ucapnya.

Itu bukan nilai yang spektakuler, tapi itu nilai yang penting bagi kota kecil seperti Emporia. Bagi masyarakatnya, bagi bisnis-bisnis di kota itu. Lumayan buat sebuah event yang diprakarsai oleh sebuah komunitas gowes lokal!

Supaya tidak hanya satu weekend, pada momen-momen lain di bulan lain, event-event sepeda lebih kecil diselenggarakan di Emporia. Misalnya pada 25 Juli ini, akan ada event rutin Lunar Ride. Orang bisa gowes di malam hari, di rute gravel di sekitar Emporia, di bawah terangnya sinar bulan purnama!

Sayangnya, saya dan teman-teman begitu fokus pada event gravel itu, sehingga tidak sempat mengunjungi lapangan-lapangan disc golf dan mencoba memainkannya.

Dan terus terang, saya tidak main golf. Mertua saya maniak golf, tapi saya bukan. Duluuu, saya pernah mencoba main. Baru dua hole, saya sudah pulang. Tidak betah. Buat penggemar golf, maafkan saya. He he he...

Tapi, Emporia memang berani mengklaim diri sebagai "Disneyland"-nya disc golf. Ada banyak lapangan 18-hole tersedia di sana. Baik milik kota, swasta, maupun universitas. Ada yang memberi tantangan pepohonan, danau-danau buatan, dan lain-lain. Layaknya lapangan golf konvensional.

Pada 2021 ini, kejuaraan dunia disc golf dijadwalkan berlangsung di Emporia. Tepatnya pada akhir Agustus mendatang. Selain itu, setiap tahun, Emporia juga menyelenggarakan turnamen disc golf terbesar dunia, bernama Glass Blown Open, yang mendatangkan 1.600 atlet lebih dari berbagai penjuru dunia.

Saya sampai penasaran, apa itu disc golf. Sempat beberapa hari nonton terus video-videonya di YouTube, yaitu waktu isolasi mandiri lalu. Ternyata mainnya memang mirip golf konvensional. Awalnya "tee off" melempar disc sejauh mungkin mendekat ke hole, yang berupa keranjang rantai di tengah tiang besi. Kemudian berupaya sesedikit mungkin melempar sebelum memasukkan disc ke dalam keranjang.

Kalau golf konvensional punya berbagai macam stik, kalau disc golf ada berbagai macam disc. Ada untuk jarak jauh, jarak dekat, melengkung, dan lain-lain. Seru juga, unik juga, lucu juga. Kapan-kapan, kalau ada kesempatan, penasaran juga nonton turnamennya.

Balapan gravel, turnamen disc golf. Keduanya mungkin bukan olahraga terpopuler di dunia. Tapi Emporia tidak butuh yang terpopuler. Tidak perlu bersaing dengan kota-kota yang lebih besar. Yang penting punya identitas sendiri. Kotanya boleh kuno, boleh disebut "kampungan." Tapi mereka bisa memaksimalkan alam dan lingkungannya. Sehingga dalam hal balap gravel dan disc golf, mereka dengan bangga bisa bilang nomor satu di dunia! (azrul ananda)

Comments (14)

Catatan Rabuan

Kota Ajaib Bentonville

Dalam perjalanan dari Texas ke Kansas, saya dan teman-teman tidak "langsung lurus" ke arah utara. Road trip sempat kami...

New Year Asyik Nggak Ngapa-Ngapain

Liburan pergantian tahun 2019 ke 2020 ini memang kami --saya dan keluarga-- niati untuk tidak ngapa-ngapain. Mencari tem...

Paspor Biologis

Saking sebalnya lihat berita, buat saya berita terbaik pekan ini adalah dibuka kembalinya Shanghai Disneyland di Tiongko...

Rasisme Itu Senyap

Rupanya orang capek juga bicara soal virus. Kemudian bicara soal kerusuhan. Kemudian menyinggung soal rasisme. Ada yang...