Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Semi lockdown alias PPKM sudah mulai mengendur. Mulai lagi saya bepergian Surabaya ke Jakarta dan sebaliknya. Tetap saya memilih jalur darat. Toh door to door hanya sekitar delapan jam. Kalau naik pesawat, walau terbangnya hanya kisaran satu jam, prosedur sebelum dan sesudahnya bisa menumpuk, sehingga door to door-nya bisa lima jam. 

Ya, delapan jam lebih lama dari lima jam. Tapi dalam delapan jam itu masih bisa "bekerja" alias telepon dan internet masih aktif. Serta bisa berhenti di mana saja.

Belakangan, ada sesuatu yang membuat perjalanan darat itu makin menyenangkan. Mendengarkan rekaman lawakan lama Warkop DKI! Di iTunes ada, di Spotify ada lagi. Disambung ke audio mobil, selesai. Pada perjalanan terakhir, rahang ini sampai kemeng (kaku sakit) gara-gara tertawa terus.

Semuanya adalah rekaman lama. Rasanya dibuat 1980-an akhir atau 1990-an awal. Di salah satu episodenya, parodi belajar di sekolah, Indro sebagai guru bertanya kepada para murid, siapa presiden Amerika Serikat. Jawabannya "Ronald Reagan," presiden era itu.

Dan ketika ada candaan tentang nama anak paduan ras, maka anak orang Sunda dan Rusia namanya adalah "Cecep Gorbacep."

Terus terang, saya kali pertama tahu ada rekaman lama Warkop DKI ini waktu di Amerika Juni lalu. Saat kami ke mana-mana jalan darat sebelum dan sesudah mengikuti balap sepeda Unbound Gravel di Kansas.

Biasanya, saya memutar radio satelit, memilih channel lagu-lagu 1990-an atau 2000-an. Atau, rekaman standup comedy barat. Rekan saya yang punya selera humor antik, Johnny Ray, lantas menyambungkan iPhone-nya ke audio mobil dan memutar dua episode Warkop DKI ini. Masing-masing 30 menitan. 

Lama sekali tidak mendengar lawakan seperti itu. Kami tertawa terpingkal-pingkal.

Pengin ketawa-ketiwi lagi di jalan, saat road trip Surabaya-Jakarta dan sebaliknya itu, Warkop DKI pun jadi andalan.

Untungnya, di Spotify ada beberapa "episode" lain yang bisa menghibur. Jadi saat perjalanan, yang harus istirahat adalah rahang kami. Karena terlalu sering tertawa!

Bagi yang penasaran, coba dengarkan yang di Spotify. Saya merekomendasikan yang judulnya Melek Hukum. Walau ini sudah direkam puluhan tahun lalu, di saat situasi pemerintahan dan hukum masih seperti itu, ada banyak sindirannya yang mengena. Dan rasanya masih relevan sampai sekarang, di saat situasi dan hukum seperti ini.

Indro berperan jadi mahasiswa fakultas hukum (yang belum kelar), keliling ke masyarakat. Diberi tugas oleh Pak RT untuk melakukan penyuluhan hukum. Dia mengingatkan warga kalau ada LBH alias Lembaga Bantuan Hukum. Yang kemudian disambut dengan pertanyaan dari Kasino, "Kalau BH ukuran L pak?"

Jawabannya: "Mak loe King Kong kali!"

Kemudian, ada begitu banyak gurauan yang terasa mengena walau didengar di tahun 2021 ini. Masih bicara soal koruptor, yang oleh trio kocak itu disebut sebagai singkatan dari "korban ulah pikiran kotor."

Soal keadilan hukuman koruptor juga disinggung. Karakter Kasino menyebut dirinya pernah dihukum penjara dua bulan karena tertangkap mencuri ayam, yang kemudian dia jual dengan harga Rp 5.000.

Kemudian, dia membaca di koran, kalau ada koruptor Rp 10 miliar yang dihukum 15 tahun. Lalu Kasino berteriak, "Tidak adil Paaaak!"

Menurut hitungan Kasino, yang mengaku menggunakan sempoa, kalau sang koruptor dihukum 15 tahun, maka seharusnya hukuman dia tidak sampai dua bulan. "Mustinya saya 5.000 cuman empat menit (ditahan). Katanya mau adiiiiillll," celetuknya. 

Indro, sebagai karakter mahasiswa fakultas hukum, bingung menanggapinya. "Saya mah belum bisa ngitungnya..."

Entah mengapa, saya pada akhirnya bolak-balik memutar rekaman-rekaman Warkop DKI itu. Termasuk saat di mobil bersama anak-anak saya, yang sama sekali tidak kenal Dono-Kasino-Indro yang asli.

Mereka sama sekali tidak tertawa mendengar rekaman-rekaman itu. Hanya yang paling besar, yang kelas 2 SMP, yang sesekali senyum.

Saya sendiri tidak ingat Warkop DKI selucu ini. Mungkin karena dulu saya masih terlalu kecil juga untuk memahami "nuansa" di sekitar gurauannya. Paling hanya ingat film-film mereka, yang harus diakui memang ada seronoknya.

Soal Warkop DKI Reborn, sampai hari ini saya belum pernah menontonnya. Walau kata istri saya lucu sekali.

Beruntunglah sekarang ada iTunes, ada Spotify. Rekaman-rekaman lama itu kembali bisa dinikmati. Saya saja yang mungkin agak terlambat mengetahuinya.

Rekaman-rekaman itu sekaligus mengingatkan, bahwa dunia boleh berubah, zaman boleh berubah, pemerintahan sudah berkali-kali berganti. Namun permasalahan yang sama masih ada dan nyata. Perjuangan menuju lebih baik belum pernah berakhir.

Masih ada gak ya mahasiswa hukum melakukan penyuluhan hukum ke masyarakat? Seperti yang diucapkan oleh karakter Indro, mengapa dia melakukan penyuluhan hukum itu. Bahwa hukum harus ditaati, harus ditakuti. 

"Kenapa kita mempelajari, atau harus tahu tentang hukum?" ujar Indro, "Karena negara kita itu adalah negara hukum."

Ucapan itu langsung disangkal oleh Kasino: "Negara kita negara apa? Bukan negara Indonesia?" (Azrul Ananda)

Comments (24)

Catatan Rabuan

Welcome To Happy Wednesday 2.0

Sudah lebih dari setahun saya tidak menulis Happy Wednesday, sebuah kolom hari Rabu di mana saya bisa menulis sesuka hat...

Back to New Normal, Back to Work

Pilkada telah usai, waktunya kembali ke new normal. Kembali bekerja...

Hati Alesi

Saya termasuk orang yang kurang memedulikan ulang tahun. Namun 11 Juni selalu membuat saya ingat sesuatu. Itu ulang tahu...

Polisi Brutal Lebah

Segala video rekaman yang muncul, dari berbagai sudut dan sumber, tetap masih hanya memberikan sebagian gambaran. Belum...