Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Saya sudah nonton Batman v Superman di bioskop tiga kali. Pelajaran paling berharga: Mengapa kita butuh Batman yang sudah capek, yang sudah 20 tahun berusaha membasmi kejahatan?

***

SUDAH nonton Batman v Superman: Dawn of Justice? Kalau belum, mungkin setelah membaca tulisan ini Anda akan pengin menonton.

Kalau sudah, Anda akan membaca tulisan ini lebih mudah. Atau, setelah membaca tulisan ini, Anda akan memahami film itu secara lebih mendalam.

Bagi pembaca yang bukan penghobi film, atau terlalu tua untuk memahami konsep film modern, atau mungkin masih muda tapi cara berpikirnya tua, mungkin harus tahu dulu gambaran besar film ini (dan industri film global sekarang).

Film zaman sekarang dibuat bukan hanya untuk ditonton di bioskop. Film zaman sekarang dibuat beriringan dengan elemen-elemen lain yang terjadi di luar bioskop. Film zaman sekarang juga dirancang supaya punya kaitan lain setelah beredar di bioskop.

Semua punya tujuan untuk membuat kita terhibur dan bisa berasyik-asyik ria dengan film tersebut dan dunia seputarnya. Dan, semua punya tujuan utama untuk menghasilkan duit sebesar-besarnya (Ya iya lah! Teman saya pernah bilang: Emang hidup pakai cinta doang?).

Film Batman v Superman ini salah satu contoh yang paling kompleks.

Kenal Batman? Mungkin iya. Kenal Superman? Mungkin iya. Kenal Wonder Woman? Mungkin iya. Kenal dunia komik mereka? Mungkin iya.

Pertanyaan selanjutnya: Kenal Batman versi yang mana? Kenal Superman versi yang mana? Kenal Wonder Woman yang seperti apa? Lalu, kenal berapa variasi komik dari para superhero tersebut?

Kalau tidak punya pemahaman kompleks soal pertanyaan-pertanyaan di atas, mungkin kalau nonton Batman v Superman justru bakal merasa bingung.

Kok Batman-nya begitu? Apa yang terjadi pada Superman? Kenapa jalan ceritanya begitu? Nanti ceritanya mau dibawa ke mana?

Saya termasuk penggemar komik. Saya sudah dicekoki bacaan sejak masih TK, dan memang suka membaca apa saja sejak masih TK juga.

Jadi, walau mungkin pemahaman saya tentang Batman dan Superman tidak sedetail penggemar asli, saya masih bisa mengikuti perkembangan dan sejarah perkembangan tokoh-tokoh itu.

Di Batman v Superman, jujur saya paling terpikat sama Wonder Woman (hehehe…). Malah mungkin siap menonton untuk kali keempat, hanya untuk menonton Gal Gadot memerankan sang superhero.

Tapi soal karakter, paling ’’dapat feeling’’-nya sama Bruce Wayne alias Batman versi Ben Affleck (Batfleck).

Mungkin tidak banyak yang sadar, dan tidak banyak yang paham (karena tidak memahami dialog film, termasuk terjemahannya), kalau Batman di film ini adalah Batman tua.

Batman yang sudah berusia di atas 40 tahun, yang sudah lebih dari 20 tahun mencoba membasmi kejahatan.

’’Even you’ve got too old to die young (Bahkan Anda pun telah menjadi terlalu tua untuk mati muda),’’ begitu sindir Alfred, pembantu Batman, yang diperankan Jeremy Irons.

Bruce Wayne pun mengakui dia sudah tua. Menyampaikan kepada Alfred, bahwa dia sudah lebih tua daripada ayahnya dulu ketika dibunuh (dan menginspirasi Wayne untuk menjadi pembasmi kejahatan).

Saking lamanya pula waktu berlalu, Batman versi ini sudah kehilangan banyak teman.

Termasuk Robin yang sudah tewas (kostumnya terlihat dipajang dengan coretan ledekan dari sang pembunuh, The Joker).

Mungkin karena sudah tua dan terlalu lama mencoba membasmi kejahatan, Batman versi film ini seperti sudah capek. Sudah jutek. Sudah tidak mau basa-basi lagi.

Hajar! Tembak! Tusuk! Tabrak!

Keren!!!!

Karena seberapa keras pun dia berusaha, yang namanya penjahat tidak pernah berhenti bermunculan.

’’Dua puluh tahun di (Kota) Gotham. Kita sudah melihat betapa tidak berartinya janji-janji. Berapa banyak orang baik yang tersisa? Berapa banyak yang tetap menjadi baik?’’ ucap Batfleck.

’’Penjahat itu seperti rumput, Alfred. Cabut satu, penggantinya tumbuh di tempat yang sama,’’ ucapnya di adegan lain.

Karena toh bakal terus ada yang jahat, ya sudah. Batman yang ini benar-benar tidak banyak berpikir dalam membasmi.

Hajar! Tembak! Banting! Patahkan! Ledakkan!

Keren!!!!!

Bagi anak muda, yang hidupnya belum panjang dan belum gampang lelah, mungkin sulit memahami apa yang dirasakan Batman versi film ini.

Sedangkan bagi banyak orang dewasa yang telah menghabiskan banyak waktunya melakukan dan memperjuangkan sesuatu, mungkin kita bisa memahami mengapa Batman jadi begitu jutek.

Satu koruptor ditangkap, yang lain muncul. Kadang di tempat yang sama. Satu penjambret ditahan, yang lain muncul. Kadang beraksi di tempat yang sama.

Satu pejabat yang meresahkan diganti, yang lain muncul. Kadang di tempat yang sama.

Apa pun regulasinya, apa pun hukumannya, tidak membuat unsur jera. Bikin banyak orang capek membaca beritanya, capek mendengar perkembangannya, capek membayangkan kelanjutannya.

Sayang, tidak ada Batman beneran di sekitar kita. Batman yang berani dan rela mengambil langkah ’’ekstra legal’’ (baca: ilegal) untuk membasmi kejahatan.

Khususnya Batman yang sudah capek seperti Batfleck. Yang tidak butuh banyak dialog, diskusi, basa-basi, dalam menyelesaikan masalah.

Batman yang tidak membuang banyak waktu karena segalanya harus diselesaikan secara bermusyarawah.

Hajar! Tangkap! Borgol! Tembak! Tabrak! Ledakkan! Hancurkan!

Keren!!!!!! (Azrul Ananda)

Comments (2)

Catatan Rabuan

Welcome To Happy Wednesday 2.0

Sudah lebih dari setahun saya tidak menulis Happy Wednesday, sebuah kolom hari Rabu di mana saya bisa menulis sesuka hat...

Setelah Mobil Listrik... (Visi Transportasi)

Lima sampai sepuluh tahun ke depan kita akan menjadi saksi revolusi transportasi dunia.

Customer Belum Tentu Pintar

Emangnya kita pasti benar? Jangan-jangan kita sebenarnya tidak tahu apa-apa. Atau, jangan-jangan, kita ini sebenarnya se...

Masker Akal Sehat

Hidup tanpa masker. Bukan mimpi. Saya sudah merasakannya selama hampir tiga pekan di Amerika. Hebatnya, saya merasa aman...