Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Ah, sudah lama saya tidak menonton tayangan Oscar. Senin pagi kemarin WIB (Minggu malam waktu Los Angeles), saya juga tidak sempat menonton. Sedang ada acara di Semarang. Tapi kemudian, teman-teman saya banyak yang heboh dengan kejadian di panggung Oscar itu...

Anda tahu yang mana. Yang ketika Will Smith naik ke atas panggung, lalu menampar Chris Rock. Yaitu setelah sang komedian me-roasting Jada Pinkett Smith, istri Will. Menyebut kepala gundul Jada dan mengaitkannya dengan film G.I. Jane.

Karena tidak menonton acaranya, dan belum sempat menonton cuplikan kejadiannya, saya langsung punya asumsi sendiri: Jangan-jangan itu aksi disengaja.

Pertama, karena pamor Oscar dalam beberapa tahun terakhir sangat melorot. Sebelum pandemi sudah tidak lagi jadi tontonan wajib, dan berbagai kontroversi sering menerpa. Khususnya terkait ketidakadilan sosial, khususnya menyinggung kulit hitam.

Kedua, kejadian penamparan itu dilakukan oleh aktor kulit hitam. Kepada pria kulit hitam pula. Sehingga kontroversi terkait ras tidak akan melebar. Jadi, kalau Oscar ingin ada kontroversi, ini yang paling "aman." Tidak menyakiti perempuan, tidak ada persinggungan ras.

Plus, seperti mengutip omongan teman saya: Pelaku dan korbannya adalah aktor/bintang kelas dunia. Yang sangat bisa melakukan itu secara sangat meyakinkan. Bahkan bisa menang Piala Oscar.

Eh, memang setelah itu, Will Smith mendapatkan Piala Oscar. Bukan untuk penamparan, melainkan untuk performanya di film King Richard.

Beberapa jam berlalu. Sehari berlalu. Will Smith di panggung --saat menerima piala-- hanya mengucapkan maaf kepada penyelenggara dan seluruh tamu. Baru sehari kemudian lewat media sosial mengucapkan maaf kepada Chris Rock. Pada dasarnya, semua mengeluarkan pernyataan senada. Bahwa dalam hal apa pun, kekerasan bukanlah jawaban.

Jadi, apakah disengaja? Ataukah beneran?

Entahlah. Tampaknya memang beneran. Walau bisa saja itu disengaja untuk menciptakan buah bibir di seluruh dunia.

Dan memang, gara-gara penamparan itu, Oscar jadi trending di seluruh dunia. Semua pernah membahasnya. Muncul di semua media. Mungkin muncul di semua grup WA.

Oscar kembali terkenal luar biasa. Kembali jadi perbincangan. Dan tahun depan, kemungkinan Oscar akan kembali jadi tontonan besar. Orang menunggu bakal ada kontroversi apa lagi di sana...

Sambil menunggu tahun depan. Rekaman kejadian penamparan itu akan terus ditonton dan diulang.

Saya sendiri, saat menonton ulang, yang saya perhatikan adalah reaksi dari Chris Rock. Wow, dia benar-benar jago. Tetap tenang. Tetap terlihat sangat profesional. Menanggapinya dengan sangat lihai.

Pembaca kolom Rabuan saya ini mungkin tahu, saya ini penggemar berat standup comedy. Saya bukan penggemar berat Chris Rock, tapi Rock dan saya sama-sama penggemar berat George Carlin. Dan, banyak sekali teman-teman saya --yang seangkatan-- adalah penggemar berat Chris Rock. Baik itu kulit hitam, kulit putih, Jepang, keturunan Vietnam, maupun dari Indonesia.

Rock memang meraih kejayaan terbesarnya di era 1990-an. Era saya masih gaul. Materi-materinya banyak menyindir ketidakadilan sosial, serta perilaku laki-laki dan perempuan. Provokatif, tapi banyak benarnya. Atau, banyak omongannya merupakan impian beneran orang yang tak berani tersampaikan secara jujur.

Saya ingat, zaman kuliah dulu, ada satu kutipan Rock yang jadi "pegangan" saya dan teman-teman laki-laki lain. Terkait hubungan laki-laki dan perempuan.

Kata Chris Rock, kalau mau jujur, hanya ada tiga hal yang diinginkan laki-laki dari perempuan idamannya: Makanan, seks, dan ketenangan. "Feed me, f*ck me, and shut the f*ck up," begitu celetuknya.

Kasar? Iya. Provokatif? Sangat! Berani menyampaikan itu terang-terangan ke pasangan? Tidak! Tapi, itu impian bawah sadar banyak laki-laki. Mungkin semua laki-laki. Wkwkwkwk...

Bagaimana dengan sebaliknya? Kata Chris Rock, perempuan punya kemauan jelas dari laki-laki idamannya: Everything! Perempuan menginginkan segalanya. Laki-laki jauh lebih simple. Wkwkwk...

Dalam Oscar barusan ini, Rock memang kena batu gara-gara menyindir perempuan. Will Smith mengaku harus melakukan itu untuk melindungi perempuan yang dia cintai.

Tapi, kejadian penamparan itu juga mengingatkan pada petikan omongan Chris Rock dalam acara spesialnya tahun 1996, berjudul Bring the Pain. Kebetulan, waktu itu dia bicara tentang boleh atau tidaknya memukul seseorang karena alasan tertentu.

"Anda pasti pernah dengar ucapan ini: 'Tidak ada alasan apa pun untuk memukul seorang perempuan.' Terus terang, selalu ada alasan untuk memukul SEMUA ORANG. Kita hanya tidak boleh melakukannya. Bahkan, pasti ada alasan untuk mendorong seorang kakek hingga jatuh dari tangga. Tapi kita tak boleh melakukannya. Jadi, pasti ada alasan untuk MEMUKUL SEMUA ORANG!"

Disengaja atau tidak, di Oscar barusan ini, Will Smith menemukan alasan untuk menampar Chris Rock. Dan dia melakukannya... (azrul ananda)

Comments (15)

Catatan Rabuan

Welcome To Happy Wednesday 2.0

Sudah lebih dari setahun saya tidak menulis Happy Wednesday, sebuah kolom hari Rabu di mana saya bisa menulis sesuka hat...

Setelah Mobil Listrik... (Visi Transportasi)

Lima sampai sepuluh tahun ke depan kita akan menjadi saksi revolusi transportasi dunia.

Customer Belum Tentu Pintar

Emangnya kita pasti benar? Jangan-jangan kita sebenarnya tidak tahu apa-apa. Atau, jangan-jangan, kita ini sebenarnya se...

Masker Akal Sehat

Hidup tanpa masker. Bukan mimpi. Saya sudah merasakannya selama hampir tiga pekan di Amerika. Hebatnya, saya merasa aman...