Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Enaknya punya halaman catatan yang tidak terikat dengan siapa-siapa: Saya bisa menulis seenak udel saya. Terserah mau dibaca atau tidak. Terserah mau disukai atau tidak. Seperti pesan orang tua saya ketika beberapa tahun lalu berhenti bekerja di media: Teruslah menulis, karena itu menjaga pikiran kita tetap "bekerja" dan "waras."

Tulisan kali ini termasuk yang paling semau saya. Wkwkwk...

Soal lagu yang begitu populer dan saya sukai. Tapi sekarang, 25 tahun kemudian, kalau pemahaman saya tentang lagu itu ternyata salah.

Lagu itu, bagi angkatan saya, sangatlah populer. Judulnya Torn. Yang mempopulerkannya adalah penyanyi/aktris Australia, Natalie Imbruglia. Anda yang tidak terlalu suka musik pun mungkin tahu lagu itu.

Dan lagu ini kembali muncul di kepala saya, gara-gara secara tiba-tiba nongol di halaman YouTube saya ketika beberapa hari "libur" Lebaran kemarin. Nongolnya pun cukup menghenyakkan. Karena menampilkan video yang menegaskan kalau lagu itu bukanlah lagu yang saya kira selama ini. Selama 25 tahun ini.

Flashback dulu Sacramento 1997. Saya dan teman-teman kuliah --Indonesia semua-- sedang janjian kumpul di suatu tempat. Dua mobil beriringan. Mobil depan saya yang nyetir, berisikan beberapa orang. Mobil belakang beberapa orang lagi. Rupanya, kami memutar stasiun radio yang sama. Radio favorit kami waktu itu, memutar lagu-lagu pop rock/alternative dengan minimal bunyi mulut penyiar.

Saya tidak ingat pasti kode kami waktu itu seperti apa. Antara mobil belakang menyalakan lampu beam berkali-kali, atau teman penumpang saling memberi kode. Pada akhirnya, kedua mobil sama-sama berhenti di pinggir jalan. Teman saya yang mengemudikan mobil belakang membuka pintu. Keluar. Lalu berjalan cepat ke arah jendela saya di sisi kiri (setir kiri).

Dia tampak begitu excited!

"Bang Azrul, denger lagu itu gak? Kereeeen!", ucapnya.

Tentu saya jawab iya. Dan lagu itu memang catchy banget.

Teman-teman semua, itu adalah momen pertama dalam hidup saya mendengarkan lagu Torn. Kadang, sebuah lagu langsung memberi kesan pertama begitu hebat, sehingga momen pertama mendengarkannya menjadi mudah diingat.

Dan ya, mobil kami berhenti hanya untuk alasan itu. Saling memberi tahu ada lagu baru keren diputar di radio!

Itu kali pertama mendengar. Kali pertama melihat klip videonya lebih berkesan lagi. Satu atau dua hari kemudian, seperti biasa kami kalau tidur malam sekali, atau dini hari sekali. Saya tidak ingat pastinya, tapi waktu itu saya tertidur di sofa ruang tamu apartemen dengan TV menyala. Kalau bukan saluran MTV ya VH1. Pokoknya saluran yang terus memutar klip video.

Dini hari, sekitar pukul 02.00, saya tiba-tiba terbangun. Gara-gara lagu itu terdengar dari TV. Klip videonya nongol. Wajah imut Natalie Imbruglia, dengan rambut pendeknya, terus-menerus tersorot dari awal sampai akhir.

Telepon berdering. Teman saya menelepon. "Bang Azruuuuul. Yang nyanyi imuuuuuut." Wkwkwkwk... Gak penting ya. Tapi itulah zaman umur belum kenal capek...

Tentu saja, setelah itu kami membeli fisik CD lagu itu. Dan entah sudah berapa ribu kali mendengarkannya di berbagai medium. Ada data yang menyebut, hingga dekade terakhir, lagu itu masih termasuk yang paling banyak diputar.

Pemahaman saya, dan banyak orang, lagu itu menceritakan cewek yang sakit hati "dicampakkan" cowoknya. Puluhan tahun pemahamannya seperti itu.

Semua yang saya tahu, dan saya kira pahami, berubah total pada libur Lebaran 2022 ini. Gara-gara algoritme YouTube.

Mohon maaf kalau banyak yang sudah tahu. Dan saya benar-benar malu sebagai "anak gaul" 1990-an tidak tahu lebih cepat soal ini.

Natalie Imbruglia ternyata orang keempat yang menyanyikan lagu itu! Bukan pertama maupun kedua. Keempat! Lagu itu ternyata juga punya makna yang berbeda, kalau kita mendengarkan penjelasan pembuat liriknya, sekaligus salah satu penyanyi sebelumnya.

Saya menempeleng diri sendiri gara-gara ini.

Torn itu ciptaan Scott Cutler, Anne Preven, dan Phil Thornalley. Preven yang menulis liriknya, berdasarkan pengalaman pribadinya. Preven, yang vokalis band alternatif Ednaswap dari Los Angeles, bahkan tidak mengunggulkan lagu itu di album band-nya.

Yang merekam pertama justru penyanyi Denmark, Lis Sorensen, yang menerjemahkannya menjadi bahasa Denmark pada 1993 (menjadi Braendt alias Burned). Ednaswap baru merekamnya pada 1994. Lalu, pada 1996, lagu ini direkam lagi oleh penyanyi Norwegia Trine Rein.

Natalie Imbruglia baru mempopulerkannya pada 1997. Baru setelah Imbruglia menyanyikannya, lagu ini jadi nomor satu di mana-mana, nomor satu berminggu-minggu, menjadi lagu yang terus populer hingga sekarang.

Suara manisnya, dan penampilan memikatnya, menjadi "faktor x" yang membuat lagu Torn menjadi seperti sekarang.

Soal makna, saya baru benar-benar memahaminya setelah melihat rekaman wawancara Anne Preven dengan salah satu penyiar paling legendaris: Howard Stern. Ini wawancara tahun 2000, dan saya baru menontonnya tahun 2022! Alangkah malunya diri ini.

Preven mengakui, ketika pertama kali melihat Imbruglia menjadi superpopuler, dia sempat depresi. "Saya melihat ucapan saya keluar dari mulut orang lain, dalam situasi dan suasana yang sama sekali tidak seperti yang saya bayangkan," ungkapnya.

Tentu mau tak mau dia harus menerima kenyataan itu. Tapi, dia ingin meluruskan makna lagu itu yang sebenarnya. Karena dialah yang menulis liriknya.

"Kalian semua menganggap ini lagu tentang seorang cewek yang dicampakkan. Tapi kalau Anda mendengar liriknya, ada ucapan 'You're a little late, I'm already torn.' (Anda harus tahu) kalau cowok itu kembali padanya. Cowok itu ingin kembali padanya. Tapi justru dia yang sudah tidak lagi mau dan mencampakkannya, dia sudah kecewa," jelas Preven.

Dalam acara bersama Howard Stern itu, Preven lantas menyanyikan Torn secara akustik. Dan cara menyanyikannya menegaskan makna lagu yang sebenarnya. Dari mulut Preven, lagu ini memang terasa beda emosinya.

Gara-gara terlambat sadar soal Torn, saya jadi agak banyak mikir sendiri. Dunia sekarang lebih banyak saling berpesan via ketikan. Bukan ucapan dan tatap mata.

Jadi pengingat, kita benar-benar harus makin hati-hati dalam mengetik pesan apa pun. Karena apa yang kita ketik/tulis, bisa ditanggapi beda oleh yang membacanya. Lebih gawat lagi, bisa bermakna beda dan berbahaya ketika dibacakan dengan nada/emosi yang berbeda!

Kemudian, kesalahan sederhana itu berujung kesalahpahaman, berlanjut menjadi permusuhan yang berlangsung selama 25 tahun! (azrul ananda)

Comments (21)

Catatan Rabuan

Welcome To Happy Wednesday 2.0

Sudah lebih dari setahun saya tidak menulis Happy Wednesday, sebuah kolom hari Rabu di mana saya bisa menulis sesuka hat...

Rekor Keluar Bandara

Akhirnya saya benar-benar traveling lagi ke luar negeri. Setelah lebih dari setahun. Menurut stempel di paspor saya, kal...

Edisi 186 Tayang Rabu Malam Ini

Happy Wednesday episode 186 kali ini sengaja hadir Rabu malam (2/3). 

Jangan Ngotot, Wu Wei Saja

Ingin bekerja lebih efektif? Wu wei saja…