Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Akhirnya saya bisa menikmati lagi Song For Pride. Empat kali malah. Saat menyaksikan Going Strong Game, Persebaya melawan PSIM Jogjakarta, Minggu, 17 Juli lalu.

Yang pertama sebelum pukul 17.00, saat bersama tamu dan keluarga di sisi lapangan Gelora Bung Tomo. Waktu itu pas Sara Fajira, bintang tamu pertandingan itu, melakukan sound check di tengah lapangan. Wow, suaranya powerful, dan menyanyikannya begitu "pas," saya sampai merinding. Saya menunjukkan lengan saya ke Fiona Hoggart, Konsulat Jenderal Australia di Surabaya, menunjukkan rasa merinding itu.

Saya menyampaikan kepada Sara, tidak semua bintang tamu bisa menyanyikan lagu itu secara "powerful." Bukan masalah kualitas atau karakter suara. Tapi ada "faktor X" yang membuat makna lagu itu begitu terasa. Sara memang berasal dari Surabaya (arek Kenjeran), tapi tidak semua penyanyi asal Surabaya bisa membawakan Song For Pride seperti itu.

Tentu saja, Sara lantas menyanyikannya lagi di hadapan --dan bersama-- puluhan ribu bonek, sebelum launching team Persebaya.

Kemudian, lagu itu dinyanyikan lagi saat pertandingan dimulai. Saya di atas bersama para tamu-tamu VIP, termasuk Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya, Takeyama√ā¬†Kenichi.

Dan sekali lagi setelah pertandingan berakhir, saat para pemain berdiri melingkar di tengah lapangan. Saya mengajak serta waktu itu dua putri saya, Alesi dan Andretti, serta dua keponakan saya, Aqila dan Aliqa. Juga keluarga Angie, sahabat saya di Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya, yang setelah tiga tahun di Kota Pahlawan akan segera pindah tugas ke Paris, Prancis.

Bagi suporter Persebaya di Surabaya, ini memang bukan pertandingan pertama "setelah pandemi" (karena secara resmi belum berakhir). Juni lalu sudah ada pertandingan pula melawan Persis Solo di Gelora Bung Tomo. Tapi sejujur-jujurnya saya minta maaf kepada semua, saya benar-benar tidak sempat menikmati dan menghayati Song For Pride waktu itu. Ada begitu banyak tamu, ada begitu banyak kepala daerah hadir. Fokus dan perhatian saya benar-benar ke sana ke mari.

Sejak mulai mengelola Persebaya pada 2017, saya langsung merasakan kalau Song For Pride memang benar-benar "sesuatu." Lirik sederhana, tapi makna sangat dalam. Menunjukkan totalitas, kecintaan sepenuh hati, memberikan segalanya untuk berjuang meraih yang terbaik dan tertinggi.

Selama ini, image bonek memang masih belum baik di mata sejumlah orang. Tapi seandainya orang-orang itu bisa berdiri di stadion bersama bonek, lalu mendengarkan bonek menyanyikan Song For Pride, hatinya pasti tersentuh!

Sayang momen-momen dan warna "menyentuh" seperti ini jarang ditampilkan di layar televisi. Tayangan selama ini begitu monoton. Hanya pertandingannya saja. Andai bonek menyanyikan Song For Pride diberi perhatian kamera (juga berlaku untuk klub lain dan suporternya), mungkin akan ada "sisi lain" suporter kita yang bisa tersampaikan secara lebih utuh.

Tentu saja, bukan hanya perubahan soal kualitas tayangan televisi yang diharapkan publik sepak bola Indonesia. Semua berharap musim 2022-2023 ini akan berlangsung lebih megah lagi, setelah dua tahun sebelumnya tanpa kompetisi lalu kompetisi secara bubble tanpa penonton.

Tidak terasa, hanya menghitung hari, pada 23 Juli nanti Liga 1 dimulai. Semua suporter saya yakin sudah menunggu.

Klub-klub pun juga menunggu. Semua menunggu finalisasi detail-detail, finalisasi kejelasan hak komersial, serta finalisasi-finalisasi lain. Pada liga modern lain, semua itu seharusnya sudah ada sejak tahun lalu. Kebetulan saja di liga kita kepastian-kepastian itu belum bisa didapat seminggu sebelum pertandingan pembuka.

Saya dan teman-teman di manajemen Persebaya sekarang tiap hari hanya bisa geleng-geleng kepala menunggu kepastian-kepastian dan kejelasan-kejelasan. Saya yakin tim-tim lain banyak yang sama, tapi mungkin tidak sevokal atau tidak disoroti seperti Persebaya.

Dan beberapa bos tim juga mengontak saya, sama-sama hanya bisa geleng-geleng kepala. Pegang klub sepak bola di Indonesia memang besar tantangannya. Tantangan terbesar sejauh ini, saya rasa, bukanlah untuk memenuhi tuntutan suporternya. Tantangan terbesarnya justru ini: Berjuang mengembalikan akal sehat dan logika, bahwa perusahaan liga itu bekerja untuk klub-klubnya sebagai pemilik mayoritas. Bukan seolah justru menjadikan klub-klub sebagai sapi perahan.

Dari dulu saya percaya prinsip ini: Liganya baik, maka klub-klubnya akan baik. Klub-klubnya baik, maka pemain-pemainnya akan baik. Ini bisa dilanjutkan lagi: Kalau pemain-pemainnya baik, maka timnasnya akan baik. Kalau mau sehat dan kuat, urutannya seperti itu, tidak bisa dibolak-balik.(azrul ananda)

Foto: Dokumentasi Persebaya

Comments (12)

Catatan Rabuan

Liga "Arms Race" Masa Depan

Survival of the fittest. Yang mampu akan tetap mampu. Yang kurang mampu bisa semakin terpuruk. Yang tengah jadi terjepit...

Bawa Equity ke Liga 1

Nah, sekarang, menyikapi pertanyaan-pertanyaan orang tentang efek klub-klub baru ini di Liga 1. Saya selalu menggunakan...

Bismillah Era Liga Baru

Sekarang waktunya untuk bicara. Soal sepak bola kita. Soal liga kita. Sekarang adalah momen untuk semua menjadi lebih me...

Untuk Sepak Bola Surabaya

Jangankan berkolaborasi, berkomunikasi dengan Pemkot Surabaya bahkan berlanjut jadi sesuatu yang sulit. Saya pernah bert...