Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda


Pada akhir 2016 saya sempat mengajak sahabat dan rekan-rekan dari DBL Indonesia untuk berkunjung ke SMA saya di Ellinwood. Saya ajak mereka berlari di lintasan Track tempat saya berlatih waktu SMA 1993-1994 lalu.

Saat pertemuan finalisasi kerja sama antara Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) dengan DBL Indonesia, saya membuka pemaparan dengan sebuah pengakuan: "Latar belakang saya bukanlah basket. Ketika dapat beasiswa SMA di Amerika, saya justru ikut tim atletik. Saya kebagian nomor 2 mil (3.200 m) dan lompat tinggi."

Di akhir pertemuan itu, hasilnya sudah tersebar luas di berbagai media. Bahwa PB PASI dan DBL Indonesia berkolaborasi menyelenggarakan Student Athletics Championships (SAC) Indonesia. Kompetisi atletik pelajar. Sederhananya, DBL untuk atletik.

Sekarang tinggal finalisasi bentuk akhirnya. Tinggal memutuskan detail-detailnya. Insya Allah, kalau lancar, akhir September sudah akan terselenggara. Seperti DBL dulu, tidak langsung dibuat superbesar. Dimulai dengan sembilan kota penyelenggaraan yang menyebar di Indonesia, diakhiri dengan babak final di Jakarta. Lengkapnya tunggu saja.

Bapak Ketua Umum PB PASI, Luhut Binsar Pandjaitan, menegaskan pentingnya program secara bertahap itu. Beliau terus mengingatkan pentingnya mengerjakan sesuatu secara total, tidak banyak basa-basi, sangat profesional, kemudian mencapai tujuan yang diharapkan.

Bagi kami di DBL Indonesia, ini menjadi tantangan yang menyenangkan. Seperti mengulangi lagi apa yang kami lakukan sejak 2004. Menyelenggarakan kompetisi basket pelajar secara bertahap. Dari satu kota, menjadi sebelas pada 2008, lalu terus bertambah hingga 30 kota. Seandainya tidak terhadang pandemi, mungkin sekarang sudah ke semua provinsi.

Yang menyenangkan, kali ini kami menyelenggarakan SAC Indonesia langsung bergandengan tangan dengan federasinya. Sehingga seluruh program PB PASI bisa diselenggarakan sesuai misi dan tujuan, yang ujungnya tentu adalah prestasi Indonesia di kancah internasional.

Tugas SAC Indonesia, harus ditegaskan, bukan untuk mencapai prestasi akhir itu. Tugas SAC Indonesia nanti adalah untuk membangun fondasi olahraga atletik secara lebih meluas di kalangan anak muda. Mulai dari SD hingga SMA. Membuat olahraga ini sebagai olahraga populer, mengingatkan lagi kepada semua bahwa inilah "The Mother of All Sports."

Filosofi DBL Indonesia sudah berkali-kali saya sampaikan: "Partisipasi adalah income. Prestasi adalah cost. Kalau partisipasi terus dikembangkan, maka partisipasi akan membiayai prestasi."

Nantinya, SAC Indonesia akan menampilkan sejumlah nomor atletik yang fundamental. Dari SD hingga SMA. Nomor-nomor yang dipilih adalah hasil dari perembugan di PB PASI, untuk merencanakan seperti apa nomor-nomor yang penting dan urgent untuk dibangun fondasinya seluas mungkin.

Nantinya, kami di DBL Indonesia akan bertugas menebar jala seluas mungkin. Kemudian, tim dari PASI akan menyaring lagi hasilnya untuk tujuan yang lebih tinggi.

Sederhana konsepnya. Tentu tidak akan sesederhana itu eksekusinya. Di atas kertas, atletik sepertinya mudah. Tentu tidak semudah itu aslinya. Yang penting serius, tidak banyak basa-basi, dan profesional. Seperti pesan Pak Luhut.

Tidak sabar rasanya segera memulai SAC Indonesia. Apalagi, saat ini gairah dunia offline begitu terasa. Di saat finalisasi SAC Indonesia, kompetisi Honda DBL with KFC juga dimulai bulan ini. Dari total 30 kota yang direncanakan untuk season 2022-2023, Surabaya --kota asal liga ini-- akan jadi pembuka pada Kamis, 18 Agustus. Keesokan harinya diikuti Palembang dan Padang. Disusul kota-kota lainnya kemudian.

Tak sabar merasakan telinga saya bergetar mendengarkan teriakan penonton-penonton basket muda yang tak punya lelah itu. Dan kemudian, menyampaikan ke telinga mereka bahwa kami juga akan menyelenggarakan atletik!

Kembali ke pengakuan saya di paragraf awal.

Ketika saya datang pertama ke Amerika pada 1993, sebagai anak culun kurus kerontang, olahraga saya sebelumnya adalah sepak bola dan bulu tangkis. Di SMA saya, Ellinwood High School di Kansas, keduanya tidak ada.

Sekolah itu kecil sekali. Jadi satu dengan SMP-nya. Total muridnya hanya 136 orang, dari SMP hingga SMA, dari kelas 7 hingga 12. Maklum, kota Ellinwood penduduk totalnya juga hanya 2.800 orang.

Karena siswanya tidak banyak, semua siswanya dilibatkan di semua cabang olahraga. Saya bahkan ikutan tim American Football. Kebagian tugas sebagai kicker, mengingat saya background-nya sepak bola. Saya ikut latihan menendang, dan berkali-kali ditakut-takuti. Kalau tidak menendang dalam waktu tiga detik, maka benteng pertahanan tidak akan bisa menahan dan saya pasti akan kena tumpuk tim lawan!

Karena tim sekolah saya kalahan (semusim hanya menang sekali), saya tidak pernah dibutuhkan untuk menendang. Apalagi saya juga fotografer koran sekolah, jadi ya saya selalu bersama mereka memotret.

Itu musim gugur. Di saat bersamaan, administratur kota juga mencoba memanfaatkan "sepak bola" saya. Setiap weekend, dibuatkan program sepak bola untuk anak-anak SD kelas 1 dan 2. Saya diminta jadi pelatihnya. Lumayan, dibayar USD 15 per jam! Dan sangat menyenangkan, karena anak-anak bule gampang diaturnya! Wkwkwk...

Ketika musim dingin, olahraganya basket untuk putra, voli untuk putri. Saya sama sekali tidak bisa main basket, dan saya bukan perempuan. Saya pun jadi fotografer tim basket. Tetap ada manfaat jangka panjangnya. Benih-benih mengelola DBL dimulai di situ.

Ketika musim semi, olahraganya Track and Field (Atletik). Saya diikutkan pula di situ. Ikut tes sprint, kalah jauh. Akhirnya "dibuang" ke nomor 2 mil alias 3.200 meter, alias delapan kali keliling lapangan. Juga diikutkan lompat tinggi, karena badan saya lumayan kurus panjang (waktu itu), dan waktu SD termasuk juara lompat tinggi (lompat agak tinggi, he he he).

Jadi, ketika saya bilang saya ikut tim atletik, harus saya tegaskan bahwa saya bukan ikut karena kuat. Saya ikut karena sekolah saya kecil, jadi semua mau tak mau harus ikut!

Pada akhirnya, saya lebih berfungsi sebagai fotografer koran sekolah. Semua anggota tim sampai hari ini pasti ingat saya. Karena semua foto mereka sayalah yang menjepret!


Sekarang kembali lagi ke SAC Indonesia dan pentingnya partisipasi untuk menuju prestasi. Pengalaman saya SMA adalah kunci itu. Bayangkan, semua sekolah di Amerika memaksakan murid-muridnya terlibat dalam sebanyak mungkin kegiatan, termasuk --dan mungkin khususnya-- olahraga.

Tidak perlu program khusus untuk mencari dan membina atlet. Siapa yang spesial pasti sudah akan kelihatan sejak di sekolah. Khususnya di SMA.

Dan tidak harus berhasil jadi atlet!

Saya yang tidak tahu basket, jadi paham basket gara-gara harus ikut tim sekolah ke mana-mana jadi fotografer. Pada akhirnya saya tidak jadi pemain basket, tapi saya yakin banyak orang memahami apa yang telah kami lakukan dengan basket di Indonesia.

Saya bukan pelari tercepat (apalagi melawan bule-bule itu), juga bukan terkuat. Tapi saya merasakan senangnya berlatih tiap hari bersama teman-teman. Juga senang ikut "Track Meet" (kompetisi) walau akhirnya hanya jadi fotografer. Sekarang, saya dan teman-teman di DBL dapat kesempatan untuk menerapkannya di Indonesia.

Kami bisa membayangkan potensi SAC Indonesia kelak. Kami menarget lebih dari 22 ribu peserta di tahun pertama penyelenggaraan. Mungkin, banyak di antaranya sebelum ini tidak pernah berminat ikut event atletik. Tapi mungkin, justru mereka itulah yang kelak akan menjadi bintang terbesar di Indonesia!

Kalau pun bukan jadi atlet, karena SAC Indonesia terus mengedepankan konsep student athlete, mereka tetap akan dapat pengalaman yang luar biasa. Modal untuk menjadi profesional yang bermanfaat di segala bidang! (azrul ananda)

Comments (18)

Catatan Rabuan

Panggung Kesempatan DBL Camp

Masa seru tahunan itu kembali tiba. Salah satu masa yang paling saya tunggu setiap tahunnya. Yaitu masa berlangsungnya D...

Simon Mottram Sang Filsuf Jersey

Salah satu yang paling saya kagumi adalah Simon Mottram, founder merek apparel sepeda Rapha yang akhir November ini meng...

DBL Indonesia: Baru Lagi setelah 18 Tahun

Waktu benar-benar berjalan cepat ya. Tidak terasa, perusahaan sports management yang saya prakarsai, DBL Indonesia, suda...

Tom Brady Manusia Sempurna?

Di sinilah kekaguman utama saya pada seorang Brady. Ketika mendekati usia 40, dan setelah melewati usia 40, dia semakin...