Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Quantum Leap merupakan salah satu serial televisi favorit saya waktu remaja. Selalu penasaran dan seru melihat bagaimana Dr. Sam Beckett, seorang ilmuwan, pindah dari satu badan ke badan yang lain dalam era yang berbeda-beda (leaping), untuk mengoreksi jalan sejarah yang salah.

Beckett, diperankan Scott Bakula, harus cepat berimprovisasi ketika pindah badan. Harus siap jadi dokter, jadi penyanyi, jadi perempuan, jadi orang dengan gangguan kejiwaan, dan lain sebagainya. Sambil jalan, dia harus menemukan jalan untuk menuntaskan misi. Karena hanya dengan cara itu dia bisa melanjutkan perjalanan leaping, dengan harapan pada akhirnya kembali ke kehidupan normal yang sebenarnya.

Karena orang dan misinya beda-beda, setiap episode bisa terasa segar. Kadang misteri pembunuhan, kadang cerita horor, kadang cerita rumah sakit, dan lain sebagainya. Tidak membosankan.

Dalam setiap misinya, Beckett ditemani dan dipandu oleh sahabatnya Al Calavicci (Dean Stockewell), yang hadir dalam bentuk hologram. Mereka menggunakan supercomputer Ziggy untuk memantau sejarah, masa depan, sekaligus konsekuensi dari perubahan yang mereka lakukan.

Serial ini orisinal tayangnya 1989 hingga 1993. Sepanjang saya SMP. Tapi masih bisa saya nikmati sampai masa kuliah, karena di televisi Amerika selalu ada saluran yang menayangkannya berulang-ulang.

Ending-nya sebenarnya agak kurang "plong." Beckett tiba-tiba leap jadi diri sendiri, tapi di dalam sebuah bar di sebuah kota tambang kecil, berbicara dengan orang-orang yang pernah melintas dalam perjalanan leaping-nya.

Ada yang bilang, orang yang dia ajak bicara sebenarnya adalah Tuhan yang menyamar sebagai bartender. Menjelaskan kalau perjalanan leaping-nya bukanlah karena kesalahan teknis di Project Quantum Leap. Melainkan jalan hidup untuk menolong banyak orang.

Di akhir episode penutup, Beckett leap sekali lagi untuk menolong pernikahan sahabatnya, Al. Setelah itu, dia leaping terus entah sampai kapan. Tidak ada yang pernah tahu dia kemudian seperti apa...

Selama puluhan tahun, Quantum Leap terus dikenang. Dan penggemarnya terus menunggu kapan serial itu di-remake lagi. Akhirnya hadirlah tahun 2022.

Quantum Leap kembali nongol. Di Indonesia kita bisa menontonnya di HBO Go. Kali ini dengan sentuhan modern, dengan tokoh utama yang menjalani proses yang sama. Leaping dari satu badan ke yang lain, mencoba mengoreksi sejarah.

Bedanya, kali ini leaping-nya lebih punya tujuan. Untuk menghentikan sesuatu yang akan terjadi di masa mendatang, yang menyangkut keselamatan perempuan yang sangat dia cintai.

Ceritanya masih terkait dengan Quantum Leap yang orisinal. Hanya saja, Scott Bakula tidak ikut serta. Atau mungkin belum. Karena cerita yang baru ini melanjutkan misi proyek serial lama. Pimpinan proyeknya adalah Herbert "Magic" Williams (Ernie Hudson), yang ketika tugas militer di Vietnam dulu pernah jadi "korban leaping" alias "disusupi" oleh Sam Beckett.

Pemeran utamanya adalah Dr. Ben Song, diperankan oleh Raymond Lee. Ya, Anda tidak salah baca. Pemeran utamanya orang Asia, keturunan Korea. Secara diam-diam dia bekerja sama dengan Janice Calavicci (anak dari mendiang Al Calavicci), tidak berkoordinasi dengan rekan-rekan di timnya. Padahal, di tim itu ada tunangannya, Addison Augustine (Caitlin Bassett).

Khas film/serial era sekarang, peran pria kulit putih seolah dibatasi di sini. Tokoh utama Asia, dengan kekasih perempuan kulit putih. Pimpinan proyek kulit hitam. Kepala keamanannya perempuan Asia, Jenn Chou, diperankan Nanrisa Lee. Plus ahli teknologinya seorang transgender, Ian Wright, diperankan Mason Alexander Park.

Dengan barisan pemeran seperti itu, memang cukup aneh rasanya saat menonton beberapa episode pertama. Tapi, cara penyampaian cerita serial baru ini agak beda dengan yang lama.

Kalau yang lama, lebih bersifat episodic. Edisi pekan ini belum tentu terkait dengan pekan depan. Kalau yang sekarang, kita ikut diajak memperhatikan cerita di balik layar. Bagaimana tim di belakang Dr. Song ikut bingung mencari cara untuk membantu sang tokoh utama.

Jadi, serial baru ini lebih "serial." Kita jadi penasaran, kejutan apa lagi muncul di episode berikutnya. Termasuk penasaran, ada problem apa yang membuat Dr. Song harus mengambil risiko besar dan melakukan leaping-leaping tersebut.

Awalnya, serial ini belum dijanjikan tuntas satu musim. Baru di penghujung 2022 lalu, diputuskan diberi "umur" sampai akhir musim alias 18 episode. Awal Januari ini, muncul kabar baru lagi yang menyenangkan penggemarnya: Quantum Leap akan berlanjut hingga season kedua.

Hingga tulisan ini dibuat, sudah ada 11 episode ditayangkan. Masing-masing memberikan petunjuk bahwa akan ada klimaks seru di akhir season pertama.

Sebagai penggemar serial lama yang mulai suka serial baru, saya tentu berharap kelak Dr. Sam Beckett bisa muncul lagi. Scott Bakula sudah bilang kalau dia tidak terlibat di serial ini. Namun, seiring dengan popularitas serial baru, bukan tidak mungkin kabar bahagia itu akan muncul.

Sambil terus mengikuti dan menunggu, kita tentu bisa ikut membayangkan betapa serunya jadi leaper seperti Dr. Beckett dan Dr. Song. Mungkin pindah ke tubuh orang-orang "nggak genah" di negara kita ini di masa lalu, membantu mengubah sejarah sehingga negara ini tidak terus bisa ditertawakan oleh masyarakatnya sendiri... (azrul ananda)

Comments (7)

Catatan Rabuan

Seinfeld Rp 7 Triliun

Bagaimana bisa sesuatu yang dibuat pada 1990-an hari ini masih bisa mendapatkan duit Rp 7 triliun.

Politik dan Komedi Borat

Akhir Oktober ini, mulai Jumat, 23 Oktober lalu. Sekuel film Borat beredar. Empat belas tahun setelah seri pertama! Judu...

Cinta, Pengorbanan, dan Manuver Politik Voltus V

Power of nostalgia! Baru-baru ini saya dikirimi link video menarik dari teman seangkatan. Sebuah trailer serial baru unt...

Spider-Man Pintar Cari Duit

Spider-Man: No Way Home menunjukkan betapa pintarnya Disney (pemilik Marvel) bersama Sony untuk terus mengeruk triliun....