Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Junior college memberi kesempatan untuk siapa saja meraih pendidikan lebih tinggi, mengejar kehidupan lebih baik. Menjadi jaring pengaman bagi mereka yang kesulitan untuk langsung masuk universitas, baik karena alasan finansial atau karena dulunya tidak pernah lulus SMA.

Saya kuliah dua tahun di Sacramento City College, dari 1995 hingga 1997. Pada periode yang sama, ada cerita sukses luar biasa dari situ. Aktris Jessica Chastain juga kuliah di situ antara 1995-1997. Dia juga tidak lulus SMA, kurang minat dalam hal akademis.

Dia pun masuk junior college untuk menyalurkan hobi dan bakatnya di dunia seni, di jurusan teater. Ternyata dia brilian. Dari Sacramento, dia mendapatkan beasiswa untuk kuliah di sekolah seni paling bergengsi, Julliard di New York.

Setelah itu dia sukses meniti karir di Hollywood, bahkan meraih penghargaan Oscar!

Saya tidak kenal Jessica Chastain. Tapi "Sac City" (julukan Sacramento City College) bukan sekolah yang besar. Hampir 100 persen kemungkinan saya dan dia pernah berada di kelas yang sama dalam dua tahun tersebut!


Jessica Chastain saat meraih piala Oscar 2022, ia dinobatkan sebagai aktris terbaik lewat filmnya The Eyes of Tammy Faye.

***

Setelah junior college, saya punya dua target universitas untuk melanjutkan kuliah. Pertama, University of California di Berkeley, tidak jauh dari Sacramento. Sekolah yang punya program bisnis bergengsi dan menghasilkan banyak menteri Indonesia di era Soeharto (Mafia Berkeley).

Saya pernah mengambil ujian TOEFL saya di situ. Pemain basket favorit saya, Jason Kidd, juga alumnus Berkeley. Karena Jason Kidd pakai nomor punggung 5, sampai hari ini saya selalu pakai nomor 5 di semua olahraga.

Kedua, University of Kansas (KU). Saya sangat rindu dengan Kansas. California asyik, tapi hati saya sudah seperti orang Kansas. Sekaligus memberi kesempatan untuk kembali dekat ke John dan Chris Mohn, dan teman-teman saya di sana.

Segala persyaratan terkait pencapaian akademis sangatlah aman.Kendalanya: Itu tahun 1997.

Krisis moneter. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga di sejumlah negara Asia lain. Dollar Amerika melompat dari Rp 3.000-an ke melewati Rp 17 ribu. Banyak teman-teman saya terpaksa pulang. Tidak lagi mampu meneruskan di sana. Ada teman Indonesia yang tiba-tiba saja pulang tanpa cerita apa-apa ke siapa-siapa. Mobilnya dibiarkan mangkrak begitu saja di parkiran apartemen.

Adik saya juga jadi korban. Selesai SMP, dia juga ikut program pertukaran pelajar. Menjalani SMA setahun di negara bagian Iowa. Setelah itu, dia ikut ke Sacramento, dan saya akhirnya menemukan sebuah sekolah swasta yang bisa menerima murid internasional.

Pada 1997 itu, dia harus pulang. Dia mempercepat kelulusan SMA-nya dengan mengambil ujian GED, dinyatakan lolos dan mendapatkan ijazah setara SMA. Setelah itu pulang untuk kuliah di Indonesia.

Posisi saya nanggung. Junior college sudah selesai, sisa dua tahun bisa dapat gelar Bachelor (S1).

Akhirnya saya memutuskan untuk bertahan di Amerika, tapi memilih universitas yang lebih terjangkau secara biaya. Goodbye Berkeley, karena biayanya terlalu mahal. Puluhan ribu dollar hanya untuk tuition setahun. Goodbye KU, terlalu repot untuk pindah-pindahan ke negara bagian yang berbeda lagi, di saat uang sangat mepet.

Semua saya putuskan sendiri. Tanpa konsultasi apa pun kepada orang tua. Belakangan, waktu bicara dengan Abah soal ini, dia bilang begini: "Sebenarnya, kalau waktu itu kamu ngeyel masuk Berkeley, kita bisa saja mencari cara untuk memenuhi biayanya. Tapi ya sudah".

Saya akhirnya memutuskan untuk tetap di Sacramento. Masuk di California State University Sacramento, yang populer disebut Sacramento State atau Sac State.

Biaya SPP-nya jauh di bawah dua kampus impian saya. Tapi tetap memiliki program Bisnis yang terbilang bagus di California. Kalau dibandingkan dengan Berkeley, biayanya mungkin hanya seperempatnya.

Belum lagi biaya hidup. Tinggal di Berkeley, yang terletak di kawasan Bay Area dekat San Francisco, sedikitnya dua kali lebih mahal.

Kemudahan biaya lain: Sac State memberi toleransi kepada mahasiswanya yang berasal dari negara terdampak krisis ekonomi. Kami boleh mengangsur pembayaran.

Jadilah saya kuliah di Sac State. Jurusan Bisnis konsentrasi Marketing. Karena uang kiriman dari Indonesia turun superdrastis, saya harus menghemat biaya tinggal. Kali ini menyewa sebuah rumah bersama tiga teman lain dari Indonesia. Hemat biaya banyak.

Saya juga bekerja di kafetaria kampus. Jadi pelayan, kasir, kitchen helper (asisten koki), juga cuci piring.

Penghasilan tambahan: Jual beli koleksi mainan via eBay (waktu itu baru muncul dan booming. Khususnya action figures dan miniatur die cast.

Penghasilan tambahan lain: Mengerjakan tugas sekolah siswa internasional lain. Khususnya tugas-tugas esai Bahasa Inggris. Ini saya bisa menarik tarif lumayan. Wkwkwk...

Life must go on!

***

Salah satu cita-cita saya dulu adalah bekerja di Advertising. Bikin iklan-iklan yang kreatif. Di jurusan saya dulu, ada pecahan konsentrasinya. Marketing Advertising.

Tapi kemudian saya terpaksa "belok" ke konsentrasi International Marketing. Gara-gara ketemu profesor (dosen) yang potensi merepotkan. Wkwkwk...

Ceritanya begini. Di kelas Advertising dasar, saya merasa yakin akan dapat nilai A. Terburuk B+. Karena di sana, semua kelas sudah punya silabus jelas. Sejak hari pertama di setiap kelas, kita sudah diberi tahu harus melakukan apa untuk mendapatkan nilai terbaik. Tinggal kita mau ngotot atau tidak untuk meraih nilai ujian sesuai target, juga mau atau tidak mengerjakan tugas-tugas ekstra kredit.

Menurut hitungan saya, nilai saya antara B+ atau A. Lha di akhir semester, kok saya dapat C.

Saya yakin ada kesalahan perhitungan atau tabulasi. Saya protes lewat asisten dosen. Saya tunjukkan semua hasil ujian saya, semua tugas-tugas saya. Tidak mungkin saya dapat C. Dan selama saya kuliah, saya hampir tak pernah dapat C. Hanya dua kali saya dapat C, yaitu Akuntansi (malas menghitung) dan English Literature (berat bos!).

Ternyata, dosen tidak mau mengubah nilainya. Tak tahu kenapa.

Saya pun protes sampai ke Dekan sekolah bisnis. Pada akhirnya, "gugatan" saya dipenuhi. Nilai saya diubah jadi A-.

Masalahnya, kalau saya mau lanjut di konsentrasi Advertising, saya akan berhadapan lagi dengan dosen tersebut beberapa kali. Ampun dah. Saya pun memutuskan geser konsentrasi ke International Marketing. Daripada daripada...

***

Tahun 1999 tiba. Waktunya wisuda.

Fakta bahwa saya tidak lulus SMA semakin tidak relevan.

Saya senang sekali setiap kali masuk ke gedung fakultas bisnis. Karena di dinding selalu terpampang nama-nama anak yang masuk "Dean's List" atau "Honor Roll". Nama "Azrul Ananda" selalu ada di situ.

Saya tidak pernah lapor orang tua nilai saya berapa. Orang tua, terus terang, juga tidak pernah tanya nilai saya berapa. Wkwkwk. Yang penting lulus.

Tempat wisuda juga sangat berarti buat saya. Yaitu di Arco Arena, gedung basket kandang tim NBA, Sacramento Kings. Gedung itu sudah diratakan dengan tanah pada 2016, digantikan dengan stadion baru yang lebih megah di pusat kota. Namun, pada 1999, itu merupakan salah satu arena NBA paling kondang.

Ketika datang untuk wisuda itu, Abah saya agak terkejut. Saya dapat wisuda barisan terdepan, dengan tali tambahan mengalungi leher dan toga saya. Dia tidak menyangka anaknya lulus Cum Laude. Saking bangganya, dia sempat menulis soal itu di koran yang waktu itu dia pimpin.

Sementara ibu saya hanya ngomel melihat dandanan wisuda saya. Di balik toga, saya mengenakan jins bolong-bolong dan sepatu skate butut. Saya jelaskan ke ibu, kalau celana dan sepatu itu punya arti penting. Karena itulah celana dan sepatu yang selalu saya pakai waktu kerja di kafetaria.

Celana dan sepatu yang digunakan untuk mengelap meja, mencuci piring, bahkan pernah ikut lompat masuk kontainer pembuangan sampah untuk mengambil bak sampah yang terjatuh.

Saya juga bilang ke ibu: Masih beruntung saya pakai baju. Itu di sana ada wisudawan yang telanjang di balik toganya!

Dan yang membuat saya super bahagia, di hari wisuda itu orang tua saya datang lengkap. Selain Abah dan Ibu, ada pula John dan Chris Mohn. Abah saya sampai bercanda: "Saya ini bingung, bapak kamu yang asli itu yang mana..."

Malam itu, setelah acara makan malam, Abah saya menyampaikan ucapan terima kasih yang memorable banget. "Terima kasih kamu selama ini tidak pernah merepotkan Abah. Ada banyak teman Abah yang punya jabatan tinggi, termasuk menteri, yang harus repot ke Amerika karena anaknya bermasalah", tuturnya. "Terima kasih karena kamu juga telah memenuhi tiga hal penting. Satu, lulus kuliah on time. Dua, tidak masuk penjara. Tiga, tidak menghamili anak orang", tambahnya.

Wkwkwkwk...

Sekarang, lewat tulisan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih balasan. "Abah, terima kasih sudah bekerja keras untuk memastikan anak-anaknya punya masa depan. Terima kasih karena Abah juga tidak pernah rewel merepotkan anaknya selama kuliah. Ada banyak teman saya yang terlalu sering diteleponi orang tuanya, sampai membuat mereka merasa terganggu. Terima kasih karena hampir tidak pernah mengganggu saya, sehingga saya bisa menjadi saya seperti yang saya inginkan sendiri..."

***

Sedikit bocoran: Ikut wisuda belum berarti benar-benar lulus. Sejumlah mahasiswa yang ikut acara wisuda bersama saya sebenarnya masih punya "hutang" kredit yang harus dituntaskan. Baru ketika sisa kelas itu diselesaikan mereka bisa menerima ijazah/diploma resminya. Kampus punya kelonggaran kebijakan soal itu.

Tapi jangan khawatir. Ijazah saya sah. Ada tanda tangan gubernur California kala itu, Gray Davis.

Meski demikian, ijazah yang saya punya itu juga tidak sakral. Kalau hilang, saya tinggal hubungi pihak administrasi kampus. Tidak perlu surat polisi dan lain-lain. Bayar biaya sedikit (mungkin belasan dollar), dan mereka akan mencetak ulang ijazah tersebut dengan cepat.

Ada cerita lucu soal bisa cetak ulang ini. Tidak lama setelah angkatan saya lulus, Arnold Schwarzenegger terpilih menjadi gubernur California. Jadi, mereka yang lulus di saat itu akan mendapatkan ijazah yang bertanda tangan Sang Terminator.

Seorang teman seangkatan saya iri dengan kenyataan itu. Dan dia menemukan "celah" menarik. Kalau kita minta cetak ulang, maka ijazah pengganti akan menggunakan template terbaru. Yang menggunakan tanda tangan gubernur terkini.

Dia pun iseng cetak ulang ijazah. Waktu itu katanya bayar USD 17. Voila! Dapatlah dia lembar ijazah baru dengan tanda tangan Arnold Schwarzenegger!

Sah? Ya. Sakral? Tidak perlu.

***

Fast forward, Agustus kemarin. Agustus 2026.

Giliran istri saya yang menangis sedih. Tepatnya ketika pulang dari Kansas, usai mengantar anak pertama kami masuk kuliah.

Putra pertama kami, Ayrton, resmi menjadi mahasiswa di University of Kansas. Dia mendapatkan scholarship, masuk jurusan Media Arts di bawah School of Journalism.

Kini Ayrton yang menjalani impian ayahnya. Tidak seperti ayahnya, Ayrton masuk kuliah dengan menggunakan ijazah SMA. (azrul ananda/habis)

Comments (0)

Catatan Rabuan

Saya Tidak Lulus SMA (Seri 3)

Perjalanan SMA saya berakhir pada Juli 1994. Saya disarankan masuk junior college (juco, baca: juko) dulu, alias kampus...

Saya Tidak Lulus SMA (Seri 1)

Saya mengaku terus terang dan blakblakan: Saya tidak pernah lulus SMA. Bahkan, seumur hidup ini, saya hanya pernah setah...

Saya Tidak Lulus SMA (Seri 2)

Saya tinggal di Indonesia, jadi saya bisa bilang hanya pernah merasakan bangku SMA selama setahun. Semua karena assessme...

Guru, Tentara, dan Dokter

“Kita harus sangat menghormati guru. Kita harus memperlakukan guru seperti tentara, dan kita harus menggaji mereka seper...