Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Zach Laszkiewicz, of Westchester, terpleset setelah mencoba field goal Cody Parkey Challenge pada event Goose Island Beer Co. Foto: John J. Kim / Chicago Tribune

Terima kasih media sosial. Cukup lewat jempol, segala frustrasi, kemarahan, isi kepala, bisa kita luapkan tanpa harus berpikir panjang. Juga relatif tanpa biaya.

Tidak suka melihat sesuatu. Tinggal gunakan jempol kita, ketik segala pesan amarah dengan segala sumpah serapah. Toh kita tidak harus bertatap muka. Toh kita tidak perlu mengetahui cerita di balik layar. Toh kita tidak perlu mengetahui fakta yang sebenarnya.

Tidak peduli kalau kita pun mungkin tidak bisa melakukan apa yang kita sumpah serapahi itu.

Pokoknya tidak suka, jempol langsung beraksi di layar gadget.

Mungkin benar kata Lady Gaga, saat ditanya soal gosip hubungan khusus dengan co-star-nya di film A Star is Born, Bradley Cooper. Sang penyanyi bilang, tidak perlu dipedulikan. Semua harus menyadari apa itu media sosial. Lady Gaga bilang: “Media sosial adalah toiletnya internet.”

Dan “toilet” ini tampaknya memang paling seru digunakan di ajang olahraga. Pemain basket gagal memasukkan free throw? Toilet langsung penuh berisi. Penjaga gawang gagal menepis tembakan? Toilet langsung bertumpahan.

Di Amerika Serikat, si empunya “toilet internet,” juga sama. Hanya saja, di sana mungkin orang sudah lebih dewasa dalam menyikapinya.

Saya ingin menulis tentang satu contoh. Bagaimana sebuah kesalahan di eksekusi olahraga yang begitu menyakitkan, begitu memenuhi “toilet internet,” tapi kemudian menghasilkan solusi “terapi” yang unik dan kocak. Dan menyembuhkan!

Di Indonesia, olahraga yang penggemarnya paling banyak menggunakan “toilet internet” tentu adalah sepak bola. Tantangan pelatih, pemain, dan klub bukan hanya dalam bekerja dan bertindak profesional. Tantangannya juga menghadapi penggemar yang belum tentu dewasa.

Kalau di Amerika, olahraga yang seperti ini adalah American Football. Liganya National Football League(NFL). Tidak ada olahraga yang perputaran uang dan penontonnya sebanyak ini di Amerika. Basket (NBA) tidak ada apa-apanya.

Cerita seru itu terjadi pada klub Chicago Bears. Tim ini lolos ke babak playoff, tapi tidak lolos bye dan harus bertanding melalui babak wild card atau eliminasi awal. Mereka jadi tuan rumah, melawan Philadelphia Eagles.

Sistemnya single game elimination (gugur). Kalau menang lolos, kalau kalah harus menunggu lagi musim selanjutnya.

Pertandingan berlangsung superketat. Dengan hanya sepuluh detik tersisa, Philadelphia Eagles unggul satu angka, 16-15. Tapi bola adalah milik Chicago Bears.

Mereka mampu memasuki wilayah lawan, dapat kesempatan melakukan field goal. Seorang kicker akan menendang bola yang berbentuk lonjong itu. Mencoba melayangkannya di tengah-tengah gawang tinggi selebar sekitar 5,5 meter.

Kalau gol, maka Bears akan mendapatkan tiga poin, memenangkan pertandingan 18-16. Kalau tidak gol, maka pertandingan bubar dan Eagles yang menang.

Di atas kertas, jarak menendangnya waktu itu tidak dekat, tapi juga tidak jauh. Yaitu 43 yard atau sekitar 39 meter.

Tampil sebagai algojo adalah Cody Parkey.

Di belakang perlindungan benteng pemain Bears, Parkey berhasil melesatkan tendangan keras melambung. Sekilas, bola akan masuk, walau mepet dengan tiang sebelah kiri di hadapannya.

Bola terus melambung… Seolah akan gol.

Ternyata, bola menghantam tiang lalu memantul balik ke lapangan.

Tidak gol!

Bears pun kalah di kandang sendiri. Gagal melanjutkan langkah di babak playoff.

Bisa dibayangkan, betapa sedih dan marahnya penggemar Chicago Bears. Dan banyak penggemar American Football ini mulut dan kelakuannya tidak beda jauh dengan penonton sepak bola di Indonesia. Walau mungkin tidak sampai melempar-lempar.

Seluruh kota Chicago sedih. Juga marah berkelanjutan. Cody Parkey jadi bahan bully-an luar biasa.

Kemudian, muncul ide gila dari sebuah produsen bir lokal di Chicago. Namanya Goose Island Beer Co. Mereka menyelenggarakan event bernama “Cody Parkey Challenge.” Siapa saja boleh ikut. Tantangannya, melakukan apa yang gagal dilakukan oleh Cody Parkey. Menendang bola 43 yard di antara dua tiang gawang.

Hadiahnya, paket perjalanan nonton pertandingan NFL di mana pun pemenang mau. Semua dibayar. Mulai pesawat, tiket nonton, hotel, dan lain-lainnya.

Ternyata sambutannya meriah. Bar itu sampai membatasi peserta hingga hanya 100 orang. Hawanya dingin, tapi American Football selalu diselenggarakan di musim gugur dan dingin. Main saat salju turun juga sudah biasa.

Penonton event ini meriah luar biasa.

Hasilnya? Ternyata sulit membuktikan ketikan jempol.

Tidak satu pun peserta berhasil melakukan tembakan 43 yard itu. TIDAK SATU PUN.

Padahal, saat kontes, tidak ada barisan pemain lawan mencoba menerkam. Ya, lokasi menendang licin, tapi peserta bisa tenang menendang. Tidak ada yang mengganggu dan berusaha menjatuhkan.

Malah peserta jatuh-jatuh sendiri. Ada yang saking parahnya, bola yang ditendang justru menghantam selangkangan petugas penjaga.

Karena tidak ada pemenang, maka Goose Island pun mendonasikan uang USD 20 ribu ke organisasi sosial yang dipilih oleh Cody Parkey. Sang pemain pun memilih untuk menyumbangkannya ke sebuah rumah sakit anak-anak.

Kontes ini berhasil membalik amarah dan kesedihan menjadi sesuatu yang positif.

“Saya rasa fans Chicago Bears sedang sangat membutuhkan terapi, dan kami berhasil menyediakannya. Sekarang, orang kembali banyak tersenyum di jalanan,” kata Todd Ahsmann, presiden Goose Island Brewery, seperti dilansir ESPN. “Keren rasanya melihat warga Chicago bisa ringan hati tentang segala hal. Tanpa event ini, mungkin kami semua akan menghadapi depresi selama sebulan,” lanjutnya.

Dengan Cody Parkey Challenge ini, penggemar pun jadi lebih memaklumi kegagalan sang kicker.

“Tugas dia adalah menggolkan tendangan itu. Sangat mengecewakan ketika dia gagal melakukannya. Tapi saya kira, kita bisa memberinya waktu untuk memperbaiki kemampuan saat masa liburan, sehingga bisa membalaskan kekecewaan tahun depan. Bahkan mungkin saya dan dia bisa berteman,” komentar Zach Laszkiewicz, penggemar Bears.

Wow, cerita dari Chicago ini benar-benar luar biasa. Energi negatif jempol terpatahkan oleh kegiatan fisik yang seru dan menghibur.

Event ini mengingatkan kita semua, bahwa semudah apa pun melampiaskan amarah dan kesedihan di “toilet internet,” tetap ada kenyataan bahwa kita pun belum tentu mampu melakukan apa yang kita tuntutkan.

Juga mengingatkan bahwa kita semua adalah manusia yang tidak luput dari kesalahan dan kegagalan.

Dan kita semua harusnya belajar dari omongan Natasha Romanoff alias Black Widow, di film Avengers: Endgameyang sekarang sedang menghebohkan dunia. Dia pada dasarnya mengatakan, orang harus dinilai secara keseluruhan. Bukan lewat satu tindakan.

Kata Romanoff: “Saya tidak menilai orang dari kesalahan terbesar yang dia lakukan…” (azrul ananda).

Comments (0)

Catatan Rabuan

Welcome To Happy Wednesday 2.0

Sudah lebih dari setahun saya tidak menulis Happy Wednesday, sebuah kolom hari Rabu di mana saya bisa menulis sesuka hat...

Shazam dan Tom Hanks

Maklum, sudah lama tidak pacaran. Sabtu malam lalu (30 Maret), istri saya seret pergi ke bioskop. Nonton Midnight. Tapi,...

Tergila-gila BlackPink

Yap. Tergila-gila K-Pop. Yap. Tergila-gila BlackPink.

The Big Bang Theory: Memperbaiki Keturunan dan Mentoleransi Teman

Resmi sudah. Mulai Mei 2019 ini, saya sudah kehabisan serial komedi favorit. The Big Bang Theory, sitkom favorit terakhi...