Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda
#HAPPYWEDNESDAY 24

Warung Ijo

Azrul Ananda
Azrul Ananda bersama Sam Yu, pemilik Yuet Lee Seafood Restaurant di San Fransisco.

Lho, sudah setahun berlalu?”

Begitu sapa Penny, pelayan di Yuet Lee Seafood Restaurant, di China Town di San Francisco (SF).

“Ya, hampir setahun. Tapi tahun lalu waktu saya ke sini, kamu sedang tidak bekerja,” jawab saya.

Hari itu, saat liburan masa Lebaran lalu, saya memang mampir ke sana bersama istri dan tiga anak. Untuk kali pertama, satu keluarga lengkap makan ke sana.

Mereka yang kerja di sana sudah hafal. Bahwa saya ke sana kurang lebih setahun sekali. Jadi setiap kali habis makan, mereka selalu menyapa: “See you next year.”

Nah, tahun ini, momennya cukup istimewa. Selain untuk kali pertama satu keluarga lengkap, tahun ini kurang lebih adalah 25 tahun “perayaan” saya jadi penggemar Yuet Lee. Karena sekitar 1994 akhir, saya kali pertama diperkenalkan dengan “Warung Ijo” yang legendaris ini.

Tampak depan Warung Ijo Yuet Lee Sea Food Restaurant.

Ya, saya memang penggemar fast food. Tapi kalau ditanya apa restoran favorit saya di seluruh dunia. Maka jawabannya, tanpa pesaing terdekat, adalah Yuet Lee di San Francisco.

Khususnya menu paling kondangnya: Salt and pepper squid.

Saya kali pertama diperkenalkan dengan Yuet Lee pada 1994. Waktu pindah ke Sacramento, ibu kota California, untuk mulai persiapan kuliah. “Anak-anak” Indonesia selalu bicara soal “Warung Ijo,” sebuah restoran berwarna hijau terang, di China Town San Francisco.

Ini bukan restoran mewah. Hanya sebuah restoran simple di salah satu pojokan jalan di China Town.

Kebetulan, jarak Sacramento dengan San Francisco hanya 80 mil, atau sekitar 125 km. Kalau lancar, naik mobil tak sampai 90 menit sudah sampai.

Zaman itu, belum ada internet seperti sekarang. Belum ada Google, belum ada Yelp. Di mana makan enak, di mana tempat asyik, semua berdasarkan mulut ke mulut.

Restoran itu buka sampai dini hari. Jadi, teman-teman Indonesia senang nongkrong di sana. Yang dari luar kota sering nyetir malam-malam hanya untuk makan di sana, lalu langsung nyetir balik pulang.

Menu andalan sejak dulu sampai sekarang sama: Salt and pepper squid. Dan saking banyaknya anak Indonesia makan di situ, tinggal sebut “Kangkung” mereka langsung paham harus masak apa sebagai sayurnya.

Selama lebih dari lima tahun saya tinggal di California Utara, sering kami ke SF khusus untuk makan di situ.

Kalau orang tua datang berkunjung, landing-nya harus di SF. Jadi mampir ke sana dulu sebelum ke Sacramento. Atau kalau mau pulang libur sekolah ke Indonesia, terbangnya dari SF dan tengah malam, jadi mampir dulu ke situ.

Kalau kali pertama ketemu dengan anak Indonesia lain –atau Asia lain-- yang pernah tinggal di California Utara, “ice breaker”-nya gampang. Sebut nama “Yuet Lee,” percakapan langsung panjang lebar.

Pernah saya jadi akrab dengan seorang agen pemain NBA yang lahir di Hongkong, gara-gara dia juga penggemar Yuet Lee! Menu yang sama: Salt and pepper squid.

Menu itu benar-benar maut. Pada 2013, saya dan 17 orang teman ikut sebuah acara gowes di California. Kami mampir ke Yuet Lee. Dan kami ber-18 memesan 13 porsi salt and pepper squid.

Pernah lagi, kami bersembilan makan di sana, memesan sepuluh porsi salt and pepper squid! Satu orang satu porsi, plus satu piring lagi sebagai bonus.

Ke mana pun saya pergi, kalau makan di restoran chinese food, selalu memesan menu serupa. Tidak pernah saya menemukan yang mampu mendekati enaknya salt and pepper squid di Yuet Lee.

Suatu waktu, seorang teman memberikan tantangan. Katanya, di Portland, Oregon, ada salt and pepper squid terenak. Kebetulan kami ke sana, lalu lanjut ke SF.

Saya ikut makan di restoran di Portland itu. Saya bilang ke dia, rasanya enak. Tapi masih kalah dengan Yuet Lee.

Teman saya ini hobi kuliner, dia pun jadi super penasaran dengan Yuet Lee. Ketika akhirnya mencoba, dia pun bicara mudah: “Ini memang beda kelas bro.”

Saat itu, tahun 2015, kami makan di Yuet Lee empat kali dalam lima hari singgah di SF.

Dan sampai hari ini, kalau ada teman sedang ke SF, mereka pasti mampir ke Yuet Lee. Lalu mengirim foto salt and pepper squid ke saya.

Anda mungkin heran, kenapa saya begitu mengidolakan Yuet Lee dan salt and pepper squid-nya. Apalagi saya ini bukan pakar makanan. Anda tidak harus percaya saya, tapi saya bisa menunjukkan “bukti” lain kalau restoran itu legendaris.

Dari foto-foto, dan cerita-cerita, dan berita-berita, banyak selebriti doyan makan di sana. Aktor-aktor Hongkong atau Asia mampir ke sana kalau sedang di SF. Jackie Chan adalah pelanggan. Dari Amrik, Keanu Reeves makan di situ.

Belum lagi seleb-seleb kondang lain. Anthony Bourdain pernah menulis review, dan mengaku menggilai salt and pepper prawn (menu serupa tapi pakai udang) di Yuet Lee.

Acara-acara TV ada yang mendedikasikan program untuk menu-menu Yuet Lee.

Dinding restoran yang dipenuhi foto memorabilia para tamu

Dan sampai hari ini, restoran itu sama sekali tidak berubah. Sejak kali pertama berdiri tahun 1977 sampai sekarang (rasanya banyak hal hebat lahir tahun 1977, termasuk Star Wars).

Masih “Warung Ijo,” dengan logo “Coca-Cola” besar di atas. Foto-foto seleb yang makan di situ makin banyak. Salah satunya, pembawa acara makanan favorit saya: Guy Fieri.

Dalam liburan kemarin, sebelum terbang kembali ke Indonesia, saya dan keluarga kembali mampir ke sana. Kembali pesan salt and pepper squid. Anak-anak saya kecanduan scrambled egg with prawn (urak-arik telur pakai udang).

Kami pesan porsi tambahan untuk dibungkus. Rencana dimakan sambil menunggu boarding. Karena pesawat malam itu terbang pukul 01.40 dini hari, dan semua restoran/kafe di bandara sudah tutup sejak pukul 23.00.

Dan supaya rasa enaknya terus terasa di penerbangan!

Oh ya, tahun ini, untuk merayakan 25 tahun makan di Yuet Lee, saya minta tolong khusus di sana. Saya ingin mengabadikannya dengan foto bareng sang pemilik, Sam Yu. Masak sudah 25 tahun makan di situ tidak pernah foto bareng!

Waktu memang begitu cepat berlalu. Momen-momen seperti ini yang membuat saya harus selalu bersyukur. Saya bersyukur telah diberi kesempatan untuk menjalani hidup yang “tidak biasa” ini.

Semoga saya tidak menyia-nyiakannya. Semoga saya bisa terus berusaha untuk berbuat dan memberi manfaat untuk banyak orang. Semoga saya terus diberi kekuatan untuk menghadapi segala godaan dan cobaan, segala tantangan, termasuk berbagai jenis manusia yang rasanya tidak masuk akal.

Semakin kita bertambah pengalaman, semakin banyak kita bertemu orang yang keinginannya macam-macam. Banyak orang keinginannya berlebih-lebih. Banyak orang keinginannya tidak menginjak bumi. Banyak orang mulutnya tidak nyambung dengan potensi otaknya. Tidak pernah bersyukur, tidak kenal rasa terima kasih.

Semoga saya terus bisa konsisten. Tidak seperti itu.

Saya yakin Yang di Atas tahu betul cara berpikir saya, segala niatan saya, segala upaya saya. Saya yakin, Yang di Atas akan terus memberi saya kekuatan, dan memberi saya kesempatan untuk terus makan di Yuet Lee pada tahun-tahun ke depan… (azrul ananda)

Comments (26)

Catatan Rabuan

Welcome To Happy Wednesday 2.0

Sudah lebih dari setahun saya tidak menulis Happy Wednesday, sebuah kolom hari Rabu di mana saya bisa menulis sesuka hat...

Bumi Manusia ala Game of Thrones

Abah saya penggemar berat, bahkan mungkin tergolong penganut, Pramoedya Ananta Toer. Waktu saya masih SD, saya sudah dic...

Kembali Masuk Dalam Gua

Semua manusia memang benar-benar memulai hidup dari dalam gua. Segala hal yang kita kenal dan persepsikan berdasarkan da...

Ilmu Generasi Pepsi

Saya dapat banyak ilmu dari Pepsi. Banyak langkah-langkah saya dalam berkarir terinspirasi dari Pepsi. Bahwa Pepsi tidak...