Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Di tahun 2019, sebuah album lagu progressive/art metal berhasil menjadi nomor satu di daftar Billboard 200. Sebuah lagu yang panjangnya 10 menit dan 27 detik. Termasuk yang terpanjang dalam sejarah. Oleh sebuah band yang drummer-nya sudah berusia 58 tahun. Oleh sebuah band yang sudah 13 tahun tidak mengeluarkan album!

Hebatnya lagi, sepertiga penjualan albumnya masih dalam bentuk CD. Sebuah box set yang harga normalnya USD 45 atau sekitar Rp 650 ribu. Box set itu sekarang sudah sold out, jadi kalau mau beli harus ke tangan kedua dan harganya dengan mudah mencapai USD 100 atau lebih.

Isinya hanya tujuh lagu, tapi panjangnya dimaksimalkan untuk kapasitas CD. Yaitu 86 menit!

Sudah “kuno,” lagunya sedikit, mahal pula.

Tapi masih nomor satu!

Album itu judulnya Fear Inoculum. Band itu bernama TOOL.

Band favorit saya sepanjang sejarah. Jadi alangkah bahagianya saya dengan kabar ini. Hari-hari saya belakangan banyak diisi dengan mendengarkan lagu-lagu terbaru TOOL. Saya tidak peduli itu bikin pusing atau mabuk orang-orang di sekitar.

Sebenarnya, saya sudah agak lama ingin menulis soal ini. Toh saya pernah beberapa kali menyinggung di tulisan kalau TOOL adalah band favorit saya.

Album Fear Inoculum sudah dirilis sejak 30 Agustus 2019 lalu. Lagu pertama berjudul sama bahkan sudah mulai diputar sejak 7 Agustus.

Yang bikin makin luar biasa, saat TOOL menjadi nomor satu, yang mereka geser bukanlah penyanyi sembarangan. Yang mereka geser adalah seorang Taylor Swift! Gara-gara band “tua” TOOL, untuk kali pertama dalam satu dekade Taylor Swift gagal berada di puncak Billboard untuk dua pekan berturut-turut!

Berdasarkan data Nielsen, Fear Inoculum terjual hingga setara dengan 270 ribu kopi hanya di Amerika Serikat. Dari jumlah itu, 88 ribu-nya dalam bentuk CD (yang mahal itu). Sisanya via download atau streaming. Dan itu, bagi TOOL, adalah sejarah baru.

Ini band benar-benar kolot. Walau dunia streaming dan download (dan iTunes) sudah ada bertahun-tahun, mereka sebelum ini benar-benar tidak mau menjual lewat jalur “modern” itu.

Album terakhir mereka, 10,000 Days, dirilis pada 2006 dalam bentuk CD (juga nomor satu). Dan sejak saat itu sampai Agustus 2019 ini tidak satu pun lagu TOOL dijual di jalur streaming atau download.

Sebagai penggemar TOOL, saya termasuk bangga dengan kenyataan ini. Saya yakin banyak penggemar TOOL lain merasakan hal yang sama.

TOOL, walau kondang luar biasa, masih terasa “eksklusif.” Betapa senangnya ketika bertemu orang lain yang “kenal” TOOL. Karena memang kalau saya bilang band favorit saya adalah TOOL, biasanya banyak orang hanya menanggapinya dengan bingung atau melongo. TOOL? Band apa itu?

Banyak pembaca tulisan ini mungkin juga bingung.

Ini semua mungkin gara-gara saat sekolah dan kuliah di Amerika saya tidak banyak dikelilingi orang Indonesia lain. Kebanyakan lingkungan dan pergaulan saya dengan bule. Dan 1990-an menurut saya adalah era terbaik dalam hal musik. TOOL adalah salah satu yang lahir di era itu.

Terus terang, saya dulu bukan “anak metal” murni. Saya anak rock, alternatif, dan musik-musik lain yang “jedar-jeder.” Saya suka warna-warni rambut (atau sekalian gundul). Saya suka gonta-ganti warna lensa kontak. Saya suka pakai baju gaya “alternatif.” Misalnya kaus dibalik alias label di luar, celana jins bolong-bolong sampai di pantat (serius!). Tidak ketinggalan pakai anting di kiri.

Kalau melihat saya zaman itu, Abah hanya bisa geleng-geleng tapi tak pernah melarang. Ibu hanya bisa elus dada tapi membiarkan (walau akhirnya menjahiti celana-celana saya yang bolong).

Dari sekian banyak band yang saya suka waktu itu, TOOL memang paling menghipnotis. Zaman belum ada penjualan online, saya dan teman perempuan waktu itu rela antre berjam-jam buat beli tiket konsernya. Kaus konser itu masih saya simpan sampai sekarang.

Tapi waktu itu pun, banyak teman yang heran kok saya bisa suka TOOL. Rata-rata bingung bagaimana cara mendengarkan lagu-lagunya. Dari dulu, TOOL memang aneh sendiri. Lagu bisa delapan menit, sembilan menit, atau lebih!

Lagu-lagu TOOL kebanyakan memang poliritmik. Lagu-lagunya sulit diikuti bernyanyi. Iramanya juga kadang bikin bingung. Album-album awal mereka (sekarang total lima album) masih lebih “normal.” Dengan lagu-lagu yang “masih bisa didengar normal.”

Misalnya album Aenima yang dirilis 1996, dan meraih penghargaan Grammy. Lagu-lagunya mungkin masih bisa dipahami.

Setelah itu, makin eksperimental. Juga sebenarnya makin terasa jenius. Contoh konkret, lagu Lateralus (2001). TOOL membuat lagu ini menggunakan konsep matematika, Fibonacci Sequence (silakan googling, kepanjangan dibahas di sini). Ketukannya, silabel liriknya, mengikuti urutan angka Fibonacci. Arti lagunya pun mengikuti konsep itu. Bagaimana manusia selalu ingin terus mengembangkan diri untuk lebih dalam dalam memahami segala hal. Asli jenius!

Setelah membaca tulisan ini, Anda mungkin penasaran ingin menjajal mendengarkan lagu-lagu TOOL. Silakan mencoba. Saran saya, cari ruangan yang tenang, jauhkan dari gangguan, lalu mendengarkannya dengan fokus. Sekilas memang seperti jedar-jeder biasa, tapi kalau diperhatikan, lagu-lagu TOOL sangat kaya detail.

Cobalah mendengarkan lagu-lagu TOOL seperti mendengarkan musik jazz atau musik klasik. Tapi metal.

Masing-masing personel selalu menunjukkan kelas masing-masing, mendapat tempat untuk bereksporasi di setiap lagu. Drummer Danny Carey adalah favorit saya, dan dia banyak disebut sebagai drummer terbaik dunia. Sekarang umurnya sudah 58 tahun. Kemudian ada Adam Jones, 54, bermain gitar. Justin Chancellor, 47, pegang bass. Dan keempat adalah Maynard James Keenan, 55, vokalis dan penulis lirik.

Dalam sejarahnya, keempat personel ini sangat jarang muncul secara publik. Dulu, mereka hampir tak pernah mau difoto di majalah-majalah. Apalagi di album. Cover dan isinya selalu artwork. Bahkan klip video pun bermain animasi (buatan Adam Jones, yang juga seorang animator handal).

Kalau konser, mereka juga tidak pernah aneh-aneh. Kadang, Maynard sebagai vokalis justru berdiri di belakang. Seolah menunjukkan dia hanyalah satu dari empat personel TOOL. Tidak seperti kebanyakan vokalis yang biasanya menonjolkan diri atau sengaja ditonjolkan. Pernah, kata seorang teman, dia menonton langsung TOOL dengan seluruh personelnya membelakangi penonton sepanjang konser!

Uniknya, di album baru Fear Inoculum, keempat personel ini justru tampil. Di dalam buklet yang included di dalam box set album, ada lukisan keempatnya. Sendiri-sendiri di empat halaman berbeda. Dalam lagu-lagu di album itu, masing-masing personel juga dapat “porsi lebih” untuk tampil sendiri-sendiri.

Entah mengapa. Apa karena mereka semua sudah mulai tua? Dan jangan-jangan, ini album terakhir mereka? Kalau kita harus menunggu 13 tahun sebelum mendapatkan album baru, entah berapa lama lagi kita harus menunggu album baru setelah ini. Andai tiga tahun saja, maka Danny Carey sudah berusia di atas 60 tahun. Fisiknya luar biasa, bisa bermain drum serumit itu di usia 58 tahun. Tapi sampai kapan

Entahlah.

Terus terang, saya –dan kebanyakan fans TOOL-- tidak menyangka kalau masih ada album baru pada 2019 ini. Kami pikir TOOL sudah “selesai” setelah 10,000 Days pada 2006 lalu.

Dan dengan prestasi menjadi nomor satu dengan cara “kuno” pada 2019, rasanya sulit bagi TOOL untuk mencatat prestasi lebih hebat lagi di tahun-tahun kemudian.

Jadi, kami nikmati saja dulu Fear Inoculum. Album yang isinya secara umum mengajak kita untuk jadi diri sendiri, jangan terganggu oleh omongan atau anggapan orang di luar.

Sebagai penutup, saya ingin mohon maaf kepada teman-teman dan keluarga. Khususnya yang kepalanya bakal pusing ikut mendengarkan lagu-lagu baru TOOL. Karena saya mungkin akan terus memutarnya minimal dalam beberapa pekan ke depan! (azrul ananda)

Comments (29)

Catatan Rabuan

Welcome To Happy Wednesday 2.0

Sudah lebih dari setahun saya tidak menulis Happy Wednesday, sebuah kolom hari Rabu di mana saya bisa menulis sesuka hat...

Seeing is (Not) Believing

Banyak ungkapan atau istilah yang mungkin sudah ketinggalan zaman. Misalnya, “kuli tinta” untuk menggambarkan wartawan....

Kembali Masuk Dalam Gua

Semua manusia memang benar-benar memulai hidup dari dalam gua. Segala hal yang kita kenal dan persepsikan berdasarkan da...

Ilmu Generasi Pepsi

Saya dapat banyak ilmu dari Pepsi. Banyak langkah-langkah saya dalam berkarir terinspirasi dari Pepsi. Bahwa Pepsi tidak...