Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Tulisan tentang Hari Ayah ini mungkin seharusnya ditayangkan Selasa, 12 November 2019 lalu. Tapi tidak apa-apa lah, lagipula Hari Ayah tidak sekondang Hari Ibu, dan tulisan ini seharusnya tetap relevan walau momen sudah lewat sedikit.

Normalnya, saya akan mendedikasikan tulisan ini untuk ayah kandung yang memang manusia ajaib. Manusia yang diberi berkah kekuatan fisik luar biasa, sehingga seumur hidupnya bisa tahan hanya tidur empat jam sehari. Sehingga dia masih bisa “menyala” di saat orang lain sudah kelelahan.

Manusia yang saya rasa juga diberi berkah khusus, mampu melewati cobaan-cobaan dan ujian-ujian yang juga tidak normal.

Atau, saya mendedikasikannya untuk ayah angkat saya di Kansas, yang sangat berperan membentuk saya menjadi seperti sekarang. Orang yang punya passion begitu hebat untuk anak muda, dan untuk menjadi seorang pendidik. Yang begitu sabar meladeni anak-anak muda bandel, mengantarkan mereka untuk menantang batas kemampuan, lalu menembusnya.

Tapi tidak. Untuk Hari Ayah 2019 ini, saya ingin mendedikasikannya untuk “ayah” yang membuat saya (dan jutaan) orang tertawa terpingkal-pingkal. “Ayah” yang begitu apa adanya, tidak munafik, jago meledek, tahan menghadapi begitu banyak cobaan. “Ayah” yang mungkin punya sejuta alasan untuk meninggalkan keluarganya sendiri, tapi akhirnya tetap bersama mereka sampai akhir.

Maksudnya, sampai cerita keluarga mereka berakhir.

“Ayah” yang saya maksud ini adalah Al Bundy, sosok ayah di serial komedi Married.. with Children, yang tayang di Amerika selama sebelas musim, antara 1987 hingga 1997.

Walau tidak pernah “meledak” popularitasnya, serial komedi 30 menitan ini termasuk salah satu yang terpanjang dalam sejarah. Bahkan, mendekati akhir masa tayangnya, survei harian USA Today pernah menyebut Al Bundy sebagai “Ayah TV paling populer kedua” setelah Bill Cosby-nya The Cosby Show.

Dan meski Married… with Children sudah berakhir 12 tahun lalu, serial ini masih memiliki jutaan pengikut loyal sampai sekarang. Dan Al Bundy terus dikenang sebagai salah satu karakter ayah paling kondang dalam sejarah.

Bagi yang tidak familiar, tolong pahami dulu kalau Happy Wednesday bukanlah kolom Rabuan yang normatif. Jadi, jangan berharap mendapatkan penjelasan kalau Al Bundy ini ayah ideal yang patut dicontoh. Dia sama sekali bukan ayah seperti di kisah Keluarga Cemara. Sama sekali jauh dari itu, walau secara overall keloyalannya terhadap keluarga sangat patut diacungi jempol.

Saya ceritakan dulu background-nya.

Saat SMA, Al Bundy adalah atlet football (American football) luar biasa. Mengantarkan sekolahnya di Chicago, Polk High School, meraih juara kota dengan menjadi pahlawan di pertandingan penentu. Masa depannya sangat cerah, karena tawaran beasiswa atlet universitas banyak menanti.

Khas hidup Al Bundy, di mana ada puncak kesuksesan, puncak “kesusahan” menyusul. Dia mengalami cedera kaki parah. Pacarnya, Peg, mengandung. Dia pun menikah muda.

Pada kelanjutannya, Al bekerja seumur hidupnya di toko sepatu murah untuk perempuan, dengan upah minimum. Istrinya “Si Rambut Merah” digambarkan sangat “rumahan” tapi pemalas. Tidak mau bekerja. Tidak mau memasak. Dan terus merongrong Al.

Putri pertamanya, Kelly (si cantik Christina Applegate), merupakan stereotypicalbeautiful but stupid blonde.” Cantik, seksi, pirang, tapi sama sekali tidak pintar dan cenderung “gampangan.”

Putra kedua, Bud, juga bukan anak ideal. Walau tergolong pintar, dia pendek dan “horny”-an. Peruntungannya juga jelek, menurun dari sang ayah.

Dengan kehidupan penuh tekanan itu, wajar bila Al Bundy menjadi sosok yang suka mengomel dan mengejek. Tapi tidak dengan cara yang menyebalkan. Ed O’Neill, sang aktor, mampu menjadikan sosok Al Bundy ini tetap layak diberi simpati.

Ledekan-ledekan Al Bundy sangatlah legendaris dalam sejarah televisi. Apalagi kalau sudah mengejek perempuan (khususnya yang gemuk). Dia –bersama suami-suami lain-- sampai membentuk organisasi NO MA’AM, yaitu National Organization of Men Against Amazonian Masterhood (organisasi nasional laki-laki melawan penindasan perempuan).

Acara televisi favoritnya juga menggambarkan dampak kehidupannya. Yaitu Psycho Dad (Ayah Gila) yang suka menembak dan membunuh keluarga sendiri (lagunya kocak, bukan kejam).

Al Bundy rajin kampanye supaya laki-laki tidak menikah. Bahkan punya lagu “anti istri” yang kocak luar biasa. Liriknya:

My wife will never cook or clean, still my money spent.
Who knew when I first chose my mate, that she would put on that much weight.
The sex we like for sure, if it only weren’t with her.
Please K-I-L-L K-I-L-L me me meeee…

Di zaman itu, gurauan-gurauan seperti itu masih “aman” di televisi. Di zaman “kesadaran sosial” seperti sekarang, sulit membayangkan Married… with Children bisa selamat dari hujatan.

Ironis. Mengingat media sosial membuat dunia semakin terbuka, gurauan-gurauan sarkastik justru menjadi lebih tersensor. Padahal di balik gurauan-gurauan itu banyak kritik sosialnya.

Lagi pula, sejelek apa pun ledekan Al Bundy kepada keluarga dan perempuan, pada akhirnya dia tetap menjadi ayah yang (pasrah) menjalankan kewajibannya.

Harus ditegaskan, dia sama sekali tidak munafik. Dia tak pernah berhenti meledek (kocak) istri dan anak-anaknya. Misalnya, saat Peg bertanya “Do you miss me?”, jawaban Al adalah “With every bullet so far…”

Dia punya slogan tentang hidupnya yang bunyinya jelas-jelas menyesali keluarganya sendiri: “Life sucks, get married. Marriage sucks, have a kid. Kid sucks, have another…”

Meski demikian, dia tak pernah meninggalkan keluarganya. Dia tetap tidak selingkuh, walau berkali-kali dapat kesempatan untuk melakukan itu. Dia akhirnya dicopot dari pimpinan (dan “gereja”) NO MA’AM gara-gara ketahuan masih mau mengajak istri ber-romantis-ria merayakan ulang tahun pernikahan.

Salah satu episode yang paling menegaskan itu: Ketika seorang perempuan cantik dan kaya raya kesengsem pada Al dan ingin mengajaknya pergi keliling dunia.

Al, dengan penuh kesedihan (kocak), memilih kembali ke rumah. Duduk di sofa jeleknya, di depan keluarganya. Lalu dia berkata pasrah:

“Saya menyadari, bahwa segala hal yang saya lakukan sampai saat ini. Baik itu mandi, sikat gigi, ganti kaus kaki, bersikap baik kepada orang lain, mencoba meraih kesuksesan, semua itu tidak ada gunanya. Semua itu didesain untuk memikat. Buat apa saya harus memikat orang lain? Saya ini married with children (sudah menikah dan punya anak)…”

Benar-benar ucapan yang tidak munafik. Terang-terangan menyesal dan meledek, tapi tetap setia. Daripada pura-pura baik, tapi ternyata zig-zag ke sana-ke mari. Wkwkwkwk

Terima kasih Al Bundy, sudah menjadi ayah yang paling menghibur dalam hidup saya… (azrul ananda)

 

CATATAN TAMBAHAN:

Ed O’Neill, pemeran Al Bundy, terus berkarya sampai sekarang. Meneruskan sukses di serial komedi hebat lain, Modern Family. Ironisnya, Bill Cosby yang pernah “mengalahkannya” sebagai “Ayah TV” nomor satu, dan dulunya dianggap sebagai ayah ideal, sekarang justru banyak dihujat dan diserang. Karena terlibat dalam begitu banyak kasus pelecehan seksual. (*)

 

 
Comments (16)

Catatan Rabuan

Welcome To Happy Wednesday 2.0

Sudah lebih dari setahun saya tidak menulis Happy Wednesday, sebuah kolom hari Rabu di mana saya bisa menulis sesuka hat...

Seeing is (Not) Believing

Banyak ungkapan atau istilah yang mungkin sudah ketinggalan zaman. Misalnya, “kuli tinta” untuk menggambarkan wartawan....

Kembali Masuk Dalam Gua

Semua manusia memang benar-benar memulai hidup dari dalam gua. Segala hal yang kita kenal dan persepsikan berdasarkan da...

Ilmu Generasi Pepsi

Saya dapat banyak ilmu dari Pepsi. Banyak langkah-langkah saya dalam berkarir terinspirasi dari Pepsi. Bahwa Pepsi tidak...