Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Banyak bapak-bapak pergi ke bioskop sekarang ini. Mungkin akan terus banyak hingga Desember atau bahkan Januari. Mereka nonton Frozen II.

Tentu mereka tidak nonton sendirian. Mereka biasanya yang punya anak (atau anak-anak) perempuan. Sehingga terseret duduk dalam bioskop dan menonton petualangan baru kakak-adik Elsa dan Anna.

Seperti saya.

Jumat, 22 November lalu, saya ditemani istri ke Plaza Tunjungan Surabaya untuk kebutuhan emergency. Malam itu, MacBook Air tercinta saya "tutup usia" mendadak. Sehingga saya harus cepat-cepat beli laptop baru, karena ada kerjaan yang harus saya tuntaskan malam itu.

Malam itu, saya bertemu dengan teman pengusaha kondang di Surabaya. Lengkap bersama istri dan dua anak perempuannya. Ngapain? "Nonton Frozen," jawabnya.

Malam itu, kami minta jangan cerita apa-apa. No spoiler please!

Sebab, hari Minggu siangnya (24 November), adalah giliran saya untuk mengantar dua putri ke bioskop di mal yang sama. Alesi (10 tahun) yang tomboi mengenakan kaus bergambar Anna, lalu Andretti (8) yang genit mengenakan gaun Elsa. Walau seharusnya terbalik, karena karakter Alesi lebih mirip Elsa dan Andretti mirip Anna.

Terus terang, siang itu saya murni menonton untuk menemani anak-anak. Dan saya melihat, di bioskop ada begitu banyak anak perempuan antre beli makanan atau siap masuk gedung pertunjukan. Lengkap dengan ibunya, banyak yang sambil menyeret ayahnya.

Tidak terasa, film pertama Frozen keluar pada 2013 lalu. Enam tahun lalu! Film Disney itu kemudian menjadi film animasi terlaris sepanjang sejarah. Lagu-lagunya terus menjadi earworm. Sampai hari ini di telinga kadang masih terdengar "Let it goooo..."

Belum sempat melepaskan diri dari Let It Go, sekarang sudah harus siap-siap menerima earworm (sticky music syndrome) baru.

Jangan salah, saya termasuk enjoy menonton Frozen yang pertama. Bahkan entah sudah berapa ratus kali saya menontonnya, gara-gara anak memutar ulang filmnya atau melarang pindah channel ketika film itu sedang diputar di televisi.

Sebuah cerita putri-putrian yang tidak terkekang dongeng masa lalu, sehingga membuat Disney sangat merdeka untuk melanjutkan ceritanya ke arah mana saja.

Minggu siang itu, saya duduk tanpa ekspektasi. Saya yakin sekuelnya bagus. Tapi saya murni duduk sebagai pendamping anak.

Eh, sialan. Saya jadi ikut terbawa film itu...

Ceritanya mengalir. Ratu Elsa kini tidak lagi berkutat dengan menerima kenyataan diri sendiri. Dia melanjutkan evolusi pribadinya. Menggunakan kekuatannya untuk mengoreksi kesalahan keluarga di masa lalu (catat, ini penting).

Anna juga berevolusi, menjadi seseorang yang siap mengambil keputusan lebih besar, mengambil risiko untuk kebaikan lebih tinggi.

Kristoff ikut berevolusi, siap menjadi seorang suami untuk Anna.

Bahkan Olaf sang snowman ikut berevolusi. Tidak lagi sekadar snowman yang hepi-hepi. Mulai merasakan konflik dan kerumitan dunia.

Karena ini bukan murni tulisan review film, saya tidak ingin menulis terlalu detail soal ceritanya. Tapi layaknya film-film "bagus" (menurut saya) yang lain, Frozen II ini mampu memain-mainkan perasaan. Dari senang, sedih, dan lain sebagainya.

Apalagi lagu-lagunya!

Secara keseluruhan, mungkin lagu-lagunya tidak "sekuat" film pertama. Tapi kalau yang pertama dulu rata-ratanya nilai 9,5, maka sekuelnya ini lagu-lagunya masih di atas 8.

Setiap karakter dapat jatah lagu untuk menceritakan evolusi masing-masing. Elsa (Idina Menzel) dapat lagu Into the Unknown, Anna (Kristen Bell) dapat The Next Right Thing, sedangkan Olaf (Josh Gad) menyanyikan When I Am Older.

Yang sempat membuat saya terhenyak adalah lagunya Kristoff (Jonathan Groff), Lost in the Woods. Lagu pernyataan cintanya kepada Anna ini terasa begitu familiar di telinga.

Anda yang penggemar lagu-lagu rock ballad era 1980-an pasti akan suka dengan lagu ini. Karena memang diaransemen bergaya lagu-lagu rock percintaan 1980-an itu!

Saya jadi bernostalgia. Secara spesifik mengingat lagu You're the Inspiration-nya Chicago (Peter Cetera)!

Andai Peter Cetera menyanyikan lagunya Kristoff itu, pasti pas!

Saat momen itulah, saya merasa seolah para pembuat Frozen II sadar bahwa akan banyak ayah terseret menonton film tersebut. Sehingga bapak-bapak pun ikut tersentuh dan terpuaskan perasaannya saat menonton!

Anak-anak yang begitu cinta pada Elsa dan Anna ini pasti tidak kenal band apa itu Chicago dan siapa itu Peter Cetera! Wkwkwkwk...

Bicara soal bapak-bapak yang lebih muda, khususnya yang generasi 1990-an, juga dipuaskan lewat soundtrack-nya. Sewaktu masih dalam bioskop itu, saya langsung men-download album soundtrack Frozen II di hape. Saya memutarnya di mobil waktu perjalanan pulang, lalu mencoba mendengarkan satu per satu saat Senin lalu (25 November) naik pesawat pulang-pergi Surabaya-Jakarta.

Album itu membuat saya senang sebagai laki-laki penikmati musik rock/alternatif 1990-an. Atau awal 2000-an. Ada dua lagu film itu yang diaransemen ulang dan dinyanyikan oleh dua band top.

Into the Unknown dinyanyikan begitu rancak oleh Panic! At The Disco.

Lost in the Woods dinyanyikan oleh Weezer, band yang dulu saya sukai dengan lagu The Good Life dan Buddy Holly.

Tiba-tiba saja, dua lagu itu menjadi "laki banget."

Oh Disney, kalian memang hebat menyenangkan segala jenis manusia!

Kembali soal lagu, walau tidak ada yang sedahsyat Let It Go, tetap saja Frozen II menghasilkan earworm. Minimal, anak-anak saya tetap saya terus-menerus mengeluarkan bunyi-bunyian dari film itu.

Kali ini bukan lirik lagu. Melainkan bunyi panggilan semacam "Uwooo uwooo" yang sering didengar Elsa di awal film.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, telinga harus tahan mendengar anak-anak saya mendengungkan bunyi itu. Saya rasa saya bukan satu-satunya ayah yang harus tahan mendengarnya terus-terusan...

Dan terus kembali bicara soal bapak-bapak, film ini tetap memberi pelajaran tidak kalah penting untuk kita semua. Di penghujung film, kalau Anda sensitif terhadap inti ceritanya, Anda akan memahami betapa segala hal yang kita lakukan sebagai orang tua akan berdampak dahsyat pada anak cucu kita kelak.

Semua kebodohan, ketamakan, ketidakpedulian kita bisa mengakibatkan kesulitan dan memberi tugas berat kepada anak cucu kita kelak. Seperti kesalahan pendahulu yang harus diperbaiki oleh Elsa dan Anna secara ekstrem!

Jadi, sebagai penutup, Frozen II memang film animasi dengan target anak-anak. Film ini akan menghasilkan duit entah berapa miliar dolar AS untuk Disney. Tapi mungkin film ini juga mungkin dapat banyak pahala karena akan menyeret banyak orang tua ikut menontonnya. Orang tua-orang tua yang harus selalu diingatkan untuk berpikir demi anak cucunya kelak... (azrul ananda)

Comments (31)

Catatan Rabuan

Welcome To Happy Wednesday 2.0

Sudah lebih dari setahun saya tidak menulis Happy Wednesday, sebuah kolom hari Rabu di mana saya bisa menulis sesuka hat...

Seeing is (Not) Believing

Banyak ungkapan atau istilah yang mungkin sudah ketinggalan zaman. Misalnya, “kuli tinta” untuk menggambarkan wartawan....

Kembali Masuk Dalam Gua

Semua manusia memang benar-benar memulai hidup dari dalam gua. Segala hal yang kita kenal dan persepsikan berdasarkan da...

Ilmu Generasi Pepsi

Saya dapat banyak ilmu dari Pepsi. Banyak langkah-langkah saya dalam berkarir terinspirasi dari Pepsi. Bahwa Pepsi tidak...