Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Hari Ibu segera tiba. Tanggal 22 Desember. Saya tidak tahu, apakah ini masih jadi hari penting di Indonesia. Dan apakah ini masih sangat penting di hati para anak di Indonesia, berapa pun usianya. Mengingat mungkin masih ada hari besar di mana kedekatan dengan ibu menjadi lebih "mahal." Seperti Idul Fitri. Atau Natal. Atau ulang tahun sang ibu itu sendiri.

Seumur hidup, saya sendiri termasuk yang sering "melewatkan" hari ibu. Kebetulan keluarga saya termasuk tidak normal. Sejak saya kecil, sangat jarang berkumpul bersama. Ayah supersibuk, kemudian saya dan adik sejak SMA sudah tidak di tanah air, setelah itu semua punya kesibukan masing-masing.

Dengan sabarnya, ibu saya adalah faktor konstan di antara semua itu.

Tahan dengan suami yang begitu sibuk dan aktif.

Tahan dengan anak-anak yang juga suka cari perkara.

Tahan dengan kehidupan suami dan anak-anak yang seperti ditakdirkan untuk tidak pernah tenang.

Kalau dipikir, cucu-cucunya juga tidak ada yang bisa duduk diam.

Kalau dipikir, ibu saya dulu juga anak pertama dari 12 bersaudara. Dengan ayah seorang tentara. Jadi, sejak dia muda pun sudah menghadapi banyak ujian. Sudah harus "betah" dengan segala situasi.

Saya benar-benar takjub membayangkan, betapa sulitnya jadi ibu saya.

Betapa tangguh dan tabahnya dia.

Apalagi, dia juga bukan tipe yang suka hidup bermewah-mewah. Dibelikan tas harga puluhan juta, tetap lebih suka tas "biasa." Bisa belanja di supermarket paling mewah, tetap lebih bahagia belanja sendiri di pasar tradisional. Bisa makan di restoran paling mewah kapan saja, tetap lebih enjoy masak sendiri di rumah.

Dan silakan tanya kepada siapa saja yang pernah merasakan masakan ibu saya. Tidak ada lawannya!

Seumur hidup, saya mungkin bisa menghitung dengan jari, berapa kali punya "quality time" dengan ibu.

Salah satunya, waktu ibu selama sebulan ikut tinggal bersama saya, waktu saya kuliah di Sacramento. Selama sebulan itu, urusan makan saya jadi lebih terjamin. Urusan makan teman-teman saya juga ikut terjamin!

Teman sekampus (sesama dari Indonesia), sering bertanya: "Jrul, mama kamu masak apa malam ini?"

Waktu itu, ibu di Surabaya sedang sakit pernapasan. Dikirim ke Amerika karena udaranya kering dan jauh lebih bersih. Benar saja, setelah sebulan, dia sama sekali tidak mengeluhkan sakitnya lagi. Katanya sih mungkin bukan hanya karena udaranya yang bersih. Tapi juga karena kangennya dengan anak-anak terobati. He he he...

Momen paling quality dengan ibu, unfortunately juga momen paling mendebarkan dalam kehidupan keluarga kami. Selama beberapa bulan, pada 2007, kami sekeluarga berkumpul bersama di Tianjin, Tiongkok. Menemani abah yang bersiap menjalani operasi ganti hati.

Belanja bersama, makan selalu bersama. Baru ada satu cucu (satu lagi otw), jadi benar-benar masih abah, ibu, dan dua anak (plus dua menantu).

Setelah beberapa bulan menanti, malam yang ditunggu sekaligus ditakuti pun tiba. Abah akan segera dioperasi. Robert Lai adalah manager segalanya. Ibu terus menemani abah dan berdoa. Saya, bermodal kamera poket, sebisa mungkin mengabadikan momen-momennya.

Baru-baru ini, ketika laptop lama saya pergi untuk selamanya, kami berhasil menyelamatkan isinya. Saat ditata lagi, ada folder sangat "mahal" di situ. Isinya foto-foto momen-momen sebelum, saat, dan sesudah abah dioperasi di Tianjin.

Sudah lebih dari sepuluh tahun saya tidak melihat foto-foto itu. Setelah sekian lama, memang ada perspektif baru ketika kembali memperhatikan foto-foto itu.

Abah saya memang yang dioperasi dan menjadi cerita utama, tapi ibu saya adalah bintang utamanya. Foto-foto itu saya kira mampu merangkum hidup ibu saya. Bahwa segala curahan hati dan doanya adalah untuk keluarga.

Foto-foto itu saya ikutkan di tulisan ini. Hampir semua saya yang menjepret. Sebagian lagi, yang ada saya di dalam foto, titip minta tolong orang (siapa saja yang dekat) untuk menjepret.

Ada foto saat abah menjalani persiapan akhir di kamar, sebelum dibawa ke ruang operasi. Ibu selalu ada di sisinya.

Ada foto saat abah akan masuk ruang operasi. Ibu ada di sisinya. Saya hanya berbicara singkat: "Cepet keluar ruang operasi, ditunggu cucu baru."

Waktu itu, istri saya memang mengandung Ayrton, putra pertama saya, sekaligus cucu laki-laki pertama.

Kemudian, malam itu, saya mengabadikan gerak-gerik ibu menunggu di lorong rumah sakit. Di dekat ruang operasi. Rasanya dia tidak mau menunggu di kamar. Memilih mondar-mandir di lorong, atau duduk bersila dan berdoa di pinggir lorong.

Setelah diyakinkan banyak orang, baru ibu mau balik ke kamar.

Tapi beberapa waktu kemudian, kami semua dipanggil. Rupanya, liver "orisinal" abah sudah dikeluarkan. Kami bisa melihatnya. Begitu dokter dan perawat menunjukkannya, ibu langsung bersimpuh di lantai. Dokter lantas menjelaskan kondisinya, sekaligus mengapa itu harus diganti.

Liver, seharusnya terlihat mulus. Liver asli abah sudah seperti daging steak gosong.

Kemudian, kami kembali ke kamar. Menunggu lagi. Ibu terus berdoa tanpa henti. Kabar baik lantas tiba, operasi disebut berjalan lancar. Kami hanya perlu menunggu hingga abah siuman besoknya.

Robert Lai (menunjuk) dan para dokter gembira operasi berjalan lancar.

Keesokan harinya, saya tidak ingat jam berapa, kami dipanggil. Boleh masuk ruang menengok abah. Kami sepakat saya masuk duluan. Khawatir ibu tidak kuat, karena kami tidak tahu kondisi abah seperti apa.

Saya belum sampai ke sisi ranjang, abah sudah melihat saya masuk. Saya belum sempat bicara apa-apa, abah sudah bicara duluan: "Ibu tidak boleh nangis!"

Saya pun kembali berjalan keluar. Menyampaikan ke ibu kalau it's okay untuk masuk. Lihat fotonya. Ibu menepuk-nepuk dahi abah. Masa paling mendebarkan telah lewat, walau masa kritis masih akan berlangsung agak lama.

Ibu berdebar ketika pertama kalinya akan menemui Abah setelah operasi.

Banyak sahabat keluarga hadir. Pak Alex dan Bu Melinda Tedja --bos Pakuwon Group-- merupakan yang pertama mengunjungi.

Tidak terasa, itu sudah terjadi 12 tahun lalu. Momen mendebarkan, sekaligus momen menakjubkan.

Robert Lai, Ibu, Bu Melinda Tedja, dan Pak Alex

Setelah masa itu, ibu masih harus lagi menghadapi momen-momen seru dan menakjubkan dalam kehidupan keluarga kami. Tapi dia selalu ada, menjadi elemen konstan.

Saya beruntung punya keluarga "tidak normal." Saya beruntung punya abah seorang Superman. Dan kali ini, untuk kali pertama lewat tulisan, saya ingin mengucapkan betapa bersyukurnya saya punya ibu seperti itu. Sekuat itu. Setabah itu... (azrul ananda)

---

PS: Menyambut Hari Ibu 2019, mari kita sampaikan apresiasi terbesar kita untuk ibu. Saya ingin membaca cerita-cerita pembaca, tentang pengalaman paling menakjubkan bersama ibu. Silakan tulis ceritanya di kolom komentar di bawah. Komentar wajib menggunakan nama dan email asli agar mudah dihubungi.

Sepuluh kisah akan kami pilih dan mendapatkan paket apparel AZA dari DBL Store. Hanya berlaku untuk komen yang ditulis di situs Happywednesday.id ini. Bukan situs lain atau postingan di media sosial. Pemenang akan kami umumkan khusus di situs ini juga pada Hari Ibu, 22 Desember nanti, pukul 22.00 WIB.

Comments (273)

Catatan Rabuan

Welcome To Happy Wednesday 2.0

Sudah lebih dari setahun saya tidak menulis Happy Wednesday, sebuah kolom hari Rabu di mana saya bisa menulis sesuka hat...

Love Story 1970

Dan malam itu saya dan istri dapat tontonan escapisme. Ketika buka Netflix, ternyata muncul opsi film yang sudah begitu...

Tribute untuk Ayah Penghibur

Tulisan tentang Hari Ayah ini mungkin seharusnya ditayangkan Selasa, 12 November 2019 lalu. Tapi tidak apa-apa lah, lagi...

Frozen II untuk Bapak-Bapak

Banyak bapak-bapak pergi ke bioskop sekarang ini. Mungkin akan terus banyak hingga Desember atau bahkan Januari. Mereka...