Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Weekend ini seharusnya jadi weekend menarik, kalau Anda sedang ingin romantis dengan pasangan. Karena ini adalah weekend Valentine.

Ya, memang ada pihak-pihak yang tidak suka dengan hari itu. Dibilang terlalu kebarat-baratan lah. Tidak sesuai agama lah. Dan lain-lain. Kalau saya sih melihatnya setara dengan hari ibu, hari ayah, hari anak, dan lain-lain yang seperti itu. Paling tidak, ada momen sehari di mana kita diingatkan untuk lebih sayang pada yayang. Dan yayangnya kan tidak harus pasangan. Bisa orang tua, saudara, atau anak.

Di zaman sekarang ini, di mana seseorang lebih punya hubungan mesra dengan handphone-nya, rasanya tidak ada salahnya ada hari yang mengingatkan untuk lebih sayang pada satu sama lain.

Terus terang, saya tidak tahu generasi anak muda sekarang merayakan hari kasih sayang dengan cara apa. Tiap generasi beda banget. Tercermin dari lagu-lagu dan film-film percintaan yang muncul pada zamannya.

Pada 1951 misalnya, tahun lahirnya Abah saya. Nat King Cole merilis lagu Walkin' My Baby Back Home. Lagu aslinya dibuat tahun 1930, tapi ngetop banget pada 1951 itu.

Romantis banget lagu itu, dengan lirik yang begitu deskriptif. Sepanjang hampir tiga menit, kita mendengarkan Nat King Cole berdendang tentang indah (dan gemetarannya) perasaan berjalan mengantarkan sang kekasih pulang.

Jalan kaki bergandengan berdua serasa romantissss banget.

Anak zaman sekarang masih bisa jalan kaki bareng gak ya?

Saya generasi 1990-an. Film-film romantis banyak sekali zaman itu. Bawaan dari 1980-an maupun keluaran 1990-an.

Dan paling-paling, weekend ini, saya akan mengajak istri nonton lagi film-film favorit saya. Entah mengapa, hampir semua film favorit saya adalah film romantis. Film Valentine banget.

Zaman itu, saya tidak akan pernah bosan menonton semua film yang dibintangi Meg Ryan. Yang waktu itu begitu imut. Apalagi kalau pas bareng aktor favorit saya (dan tokoh satu almamater di California State University Sacramento) Tom Hanks.

Ada You've Got Mail (1998), yang mencoba mengulang kesuksesan film favorit kedua dalam hidup saya: Sleepless in Seattle (1993).

Keduanya mungkin termasuk film romantis generasi terakhir yang tidak menampilkan adegan seks. Karena setelah era itu, rata-rata film "romantis" banyak yang menjual seks sebagai komponen besar.

Sleepless in Seattle misalnya, Meg Ryan dan Tom Hanks benar-benar tidak bertemu sampai adegan penutup. Kedua film itu era di mana cinta itu takdir dan takdir akan menentukan jalan untuk menemukan cinta.

Pada 2001, film Serendipity memainkan tema takdir juga. Walau tidak sehalus dan "sedewasa" Sleepless.

Sampai hari ini, kalau film-film itu muncul di saluran kabel, atau jadi pilihan tontonan saat terbang jauh di pesawat, pasti akan saya tonton. Meg Ryan benar-benar imuuuut. Pokoknya jangan lihat foto terbarunya saja, supaya kenangan Meg Ryan lama itu terjaga (wkwkwkwk).

Tapi, weekend ini, mungkin saya tidak akan menonton film-film itu. Saya sudah lama tidak menonton ulang film favorit saya sepanjang masa: Somewhere in Time (1980). Dibintangi sang Superman asli, Christopher Reeve, dan aktris yang begitu cantik, Jane Seymour. Film ini dibuat berdasarkan buku berjudul Bid Time Return, karya Richard Matheson.

Sulit dipercaya, saya kali pertama menontonnya waktu masih SMP, film ini ditayangkan oleh SCTV waktu itu. Adegan Richard Collier (Reeve) jatuh cinta setelah melihat foto kuno Elise McKenna (Seymour) begitu "dalam" dan indah. Mungkin waktu itu saya jadi instan paham apa itu "jatuh cinta."

Waktu di Amerika, pada 1994, kepingan CD pertama yang saya beli adalah soundtrack Somewhere in Time. Kepingan itu masih tersimpan rapi sampai sekarang.

Sampai hari ini, saya masih merinding di seluruh badan setiap mendengar lantunan instrumental Somewhere in Time. Juga komposisi Rhapsody on a Theme of Paganini karya Sergei Rachmaninoff, yang dimainkan di film tersebut. Hanyut, indah, tapi juga begitu menyayat hati.

Film ini, memang, agak menyayat-nyayat.

Collier adalah seorang penulis teater yang jatuh cinta dengan foto McKenna saat menyepi/cari inspirasi di Grand Hotel, sebuah hotel kondang asli yang terletak di Pulau Mackinac, negara bagian Michigan.

Dia melihat foto itu pada 1980, tapi kemudian menyadari kalau foto itu diambil pada 1912. Saking terobsesinya Collier, dia mencari cara untuk kembali ke masa lalu. Dia menemukannya lewat sebuah buku, yang menceritakan pengalaman kembali ke masa lalu dengan cara fokus dan menghipnotis diri sendiri. Dengan catatan, harus berada dalam lingkungan yang seperti masa lalu, melepaskan diri dari segala hal yang modern.

Saya tidak akan bercerita penuh. Mungkin Anda akan tergelitik untuk mencari film ini dan menontonnya. Bukan sesuatu yang sulit di era digital dan easy access untuk segala hal.

Pada dasarnya, Collier menemukan momen indah bersama McKenna. Secara menyakitkan, dia kemudian terpisah dan kembali ke masa aslinya. Dan, meninggal karena patah hati...

Apakah ini sad ending? Saya kira, film ini tetap happy ending. Karena pada akhirnya keduanya bertemu di atas sana, bahagia selamanya.

Ya, saya baru saja menyampaikan ending-nya. Tapi dalam sebuah film romantis, ending bukanlah rahasia utama. Film ini tetap punya "pelintiran" dan itu terjadi di awal, ketika Collier menerima sebuah jam...

Juga ada momen begitu luar biasa, menceritakan bagaimana foto di dinding itu saat proses pemotretannya. Kenapa senyum di foto bisa seperti itu.

Sampai hari ini, saya selalu berpikir, kok saya bisa begitu cinta pada film ini ya? Apakah karena elemen cinta tragis tapi indah? Atau karena cinta yang terindah mungkin adalah cinta yang kadang tidak tersampaikan?

Karena Jane Seymour yang begitu cantik? Walaupun Seymour itu seumuran Abah saya. Karena saya ngefans Superman? Mungkin juga. Karena soundtrack-nya yang begitu kuat dan menyayat? Ini faktor kuat.

Entahlah. Berbagai kombinasi hal kecil membuat film ini tak tergoyahkan di puncak daftar film favorit saya sepanjang masa.

Bahkan, film ini membuat saya punya satu impian yang masuk dalam bucket list. Yaitu mengunjungi Mackinac Island, dan menginap di Grand Hotel. Ini pulau liburan yang unik tak jauh dari Chicago. Pulau itu kini benar-benar bebas dari kendaraan bermotor. Dan walau dulu dikenal sebagai tempat liburannya presiden-presiden Amerika, sekarang jadi makin terkenal gara-gara Somewhere in Time.

Saking identiknya, tiap tahun ada pesta Somewhere in Time weekend di Grand Hotel. Penggemar datang berkumpul menonton bersama film, menikmati suasana ala di film itu. Memang, film ini bukan yang terlaris atau terkondang sepanjang masa, tapi film ini memiliki cult follower yang loyal di seluruh dunia. Salah satunya saya.

Grand Hotel yang menjadi lokasi syuting dan cerita film Somewhere in Time.

 

Zaman sekarang, sudah tidak ada lagi yang membuat film seperti ini.

Hingga saat ini, jadwal selalu menghalangi impian saya untuk mewujudkan impian tersebut. Tapi saya benar-benar ingin mewujudkannya. Alangkah romantisnya nanti kalau benar-benar bisa ke sana dengan yang dicinta...

Selamat menikmati weekend kasih sayang ini. Salam indah dan bahagia untuk semua! (azrul ananda)

Comments (15)

Catatan Rabuan

Welcome To Happy Wednesday 2.0

Sudah lebih dari setahun saya tidak menulis Happy Wednesday, sebuah kolom hari Rabu di mana saya bisa menulis sesuka hat...

Friends: 25 Tahun Masih Bazoka

Pekan ini, ada dua peristiwa yang mengingatkan kalau saya mulai tua. Satu, tes darah untuk jaga-jaga dan antisipasi berb...

Love Story 1970

Dan malam itu saya dan istri dapat tontonan escapisme. Ketika buka Netflix, ternyata muncul opsi film yang sudah begitu...

Terima Kasih, Bu Moer Ku Sayang...

Kamis pagi, 20-02-2020, seperti biasa alarm saya berbunyi pukul 03.55 pagi. Seperti biasa, langsung minum air putih sa...